Dibawah langit kerajaan yang berlumur cahaya mentari dan darah pengkhianatan, kisah mereka terukir antara cinta yang tak seharusnya tumbuh dan dendam masa lalu yang tak pernah padam.
Ju Jingnan, putri sulung keluarga Ju, memegang pedang dengan tangan dingin dan hati yang berdarah, bersumpah melindungi takhta, meski harus menukar hatinya dengan pengorbanan. Saudari kembarnya, Ju Jingyan, lahir dalam cahaya bulan, membawa kelembutan yang menenangkan, namun senyumannya menyimpan rahasia yang mampu menghancurkan segalanya.
Pertemuan takdir dengan dua saudari itu perlahan membuka pintu masa lalu yang seharusnya tetap terkunci. Ling An, tabib dari selatan, dengan bara dendam yang tersembunyi, ikut menenun nasib mereka dalam benang takdir yang tak bisa dihindari.
Dan ketika bunga plum mekar, satu per satu hati luluh di bawah takdir. Dan ketika darah kembali membasuh singgasana, hanya satu pertanyaan yang tersisa: siapa yang berani memberi cinta di atas pengorbanan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NurfadilaRiska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Tawa, Takdir Mulai Bergerak
Masih di hari yang sama, di taman istana yang sama, suara denting pedang akhirnya mereda.
“Bagus!!” seru Wei Yu sambil tersenyum puas, menarik pedangnya kembali ke sarungnya. Jingnan pun melakukan hal yang sama, napasnya sedikit memburu namun matanya tetap tajam.
“Paman bangga padamu,” ucap Wei Yu dengan suara mantap.
“Ini tidak seberapa, Paman,” Jingnan tersenyum kecil. “Paman masih jauh lebih baik daripada Nannan.”
Belum sempat Wei Yu menanggapi, sebuah suara tajam tiba-tiba membelah udara.
Sret!!
Sebuah anak panah melesat cepat ke arah Jingnan.
Tanpa ragu, Jingnan bergerak refleks. Pedangnya terayun dalam satu gerakan bersih—clang!—menangkis anak panah itu hingga berbelok dan menancap kuat di batang pohon tak jauh dari mereka.
Jingnan dan Wei Yu langsung menoleh ke arah datangnya panah.
“Weifeng, kau!!” Wei Yu menunjuk tajam ke arah putranya.
Weifeng berdiri santai di sana, busur masih di tangannya, wajahnya dipenuhi senyum santai.
“Maaf, Ayah,” ucap Weifeng sambil melangkah mendekat. “Aku hanya ingin menguji Nannan saja.”
“Benar-benar kau ini!!”
Suara Mei Qin tiba-tiba terdengar, dan sebelum Weifeng sempat bereaksi, telinganya sudah dijewer dengan keras.
“Ibu?!!” Weifeng terkejut setengah mati. “Ibu sejak kapan ada di sini?!”
“Kau mengangetkan kami saja,” ujar Jing Yue sambil menggelengkan kepala, meski ada senyum tipis di sudut bibirnya.
“Maaf, Ibu Suri,” kata Weifeng cepat, mencoba tersenyum manis.
“Bibi, jewer telinga Weifeng Gege lebih keras lagi!!” seru Jingnan sambil tersenyum puas.
“Nannan! Kau seharusnya membujuk Ibu agar melepaskan telingaku!” protes Weifeng.
“Kalau kau berani bertindak sembrono seperti tadi lagi, awas saja kau!” Mei Qin akhirnya melepaskan jewerannya.
Namun baru saja Weifeng menghela napas lega dan tersenyum, sebuah bayangan kecil melompat mendekat.
Tak!
Dan pukulan ringan mendarat di kepalanya.
“Mei Yin kau!!” Weifeng memegang kepalanya sendiri yang barusan dipukul.
“Wle!” Mei Yin menjulurkan lidahnya, lalu berlari cepat bersembunyi di belakang ibunya.
“Awas saja kau ya!!” Weifeng langsung mengejarnya, namun Mei Yin justru berlari mengitari Mei Qin.
“Eh, eh!!” Mei Qin refleks berputar.
“Ibu, pegang Mei Yin! Aku akan memukulnya!” seru Weifeng.
“Eits, tidak semudah itu.” Mei Yin tersenyum jahil lalu beralih berlari mengitari Ibu Suri Jing Yue.
“Mei Yin, berhentilah. Jangan lari-larian, nanti kau bisa jatuh, Nak,” ujar Jing Yue lembut.
“Tidak mau! Weifeng Gege akan menangkapku dan memukulku!” Mei Yin tertawa riang, dan tetap berlari.
“Kau yang memulainya lebih dulu!!” Weifeng mengejar dengan kesal.
“Ayah!!”
Mei Yin tiba-tiba berlari ke arah Wei Yu dan bersembunyi di belakangnya.
“Kemari kau!!” Weifeng tetap mengejar.
“Weifeng, berhenti,” Wei Yu menahan. “Jangan terus mengejar adikmu.”
“Jie!!”
Kini Mei Yin berpindah lagi, berdiri tepat di belakang Jingnan.
“Mei Yin!!” Jingnan menoleh.
“Jie, lindungi aku!!” Mei Yin bersembunyi setengah badan.
“Tidak mau. Enak saja,” jawab Jingnan sambil melipat kedua tangannya dan ekspresi datar.
“Aaaaa…” Mei Yin cemberut—dan detik berikutnya, Weifeng berhasil menangkapnya.
“Kau ini benar-benar!!” Weifeng mendengus.
Jing Yue, Mei Qin, dan Wei Yu hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan kedua anak itu.
“Hais…” Jingnan menghela napas.
“Weifeng Gege, jangan memarahinya lagi.” Jingnan melirik Mei Yin sekilas.
“Tapi Nannan, dia—” Belum sempat Weifeng menyelesaikan kalimatnya, Jingnan langsung menarik tangan Mei Yin dari genggamannya.
“Aku dan Mei Yin akan berjalan-jalan bersama Xiao Bai,” ucap Jingnan sambil menarik Mei Yin pergi.
“Hehehe.” Mei Yin tertawa kecil, lalu menoleh ke belakang ke arah Weifeng
“Wle~” Ia kembali menjulurkan lidah dengan ekspresi konyol, jelas mengejek weifeng.
“MEI YIN!!”
Teriakan Weifeng menggema di taman istana.
......................
Di tempat lain, jauh dari hiruk-pikuk istana, Jingyan, Ling An, dan Qing Lang telah tiba di sebuah rumah kecil yang tersembunyi di dalam hutan. Rumah itu sederhana—dinding kayunya mulai memudar dimakan usia, atapnya ditumbuhi lumut, namun suasananya terasa sunyi dan terpencil, seolah terpisah dari dunia luar.
Ling An melangkah ke depan dan mengetuk pintu.
Tok!
Tok!
Tok!
Tak lama kemudian, pintu kayu itu terbuka. Seorang wanita paruh baya muncul dengan wajah ramah.
“Tabib Ling An,” ucapnya sambil tersenyum lega.
“Bibi,” jawab Ling An dengan senyum tipis.
“Silakan masuk,” ujar wanita itu sambil mempersilakan mereka.
Ling An mengangguk pelan, lalu menoleh ke belakang.
“Ayo.”
“Iya,” Jingyan mengangguk kecil dan segera mengikutinya.
Ling An, Jingyan, dan Qing Lang pun masuk ke dalam rumah, dituntun oleh wanita paruh baya itu menuju sebuah kamar kecil di bagian dalam.
Begitu mereka melangkah masuk, terlihat seorang perempuan duduk diam di tepi ranjang, membelakangi mereka. Tubuhnya tampak kaku, seolah menolak dunia di sekitarnya.
“Sudah dua tahun ini penyakit kulitnya tidak kunjung sembuh,” ucap wanita paruh baya itu dengan suara berat.
“Dan sekarang malah bernanah.”
“Ibu, keluarlah. Bawa mereka juga keluar,” ucap perempuan itu dingin, masih tanpa menoleh.
“Aku akan memeriksamu,” suara Ling An terdengar tenang namun tegas.
“Percuma,” sahut perempuan itu getir. “Tabib-tabib lain hanya mengatakan ini penyakit biasa. Tapi lihat aku sekarang—tidak pernah sembuh. Mereka hanya meminta bayaran yang banyak.”
“Aku tidak mengharapkan bayaran yang banyak,” jawab Ling An datar. “Aku hanya ingin memeriksa penyakitmu terlebih dahulu.”
“Lianmei,” wanita paruh baya itu melangkah mendekat, “biarkan Tabib Ling An memeriksamu, Nak.”
“Tidak mau,” jawab Lianmei singkat.
“Jangan keras kepala,” ujar Ling An.
“Aku tidak keras kepala!!”
Lianmei menoleh dan membetulkan posisinya, kini menghadap mereka.
Seketika itu pula, Jingyan, Qing Lang dan Ling An terdiam.
Wajah Lianmei tampak rusak oleh penyakit—nanah mengalir di pipi, tangan, leher, bahkan bagian kulit lain yang terlihat. Luka-luka itu tampak perih, seolah tak pernah diberi waktu untuk sembuh.
Ling An segera melangkah mendekat, matanya mengamati nanah di wajah dan tangan Lianmei dengan saksama.
“Jangan terlalu menatapku seperti itu!!” bentak Lianmei.
“Siapa yang menatapmu?” jawab Ling An tenang. “Aku hanya memperhatikan penyakitmu.”
Jingyan yang sejak tadi berdiri di belakang Ling An tiba-tiba merasa dadanya tidak nyaman. Entah mengapa, melihat Ling An berdiri terlalu dekat dengan Lianmei membuat hatinya terasa ganjil.
“Aku keluar dulu ya…” Jingyan berbalik hendak pergi.
Namun dengan cepat, Ling An meraih tangannya.
“Kau di sini saja.”
Sentuhan itu membuat Jingyan tertegun.
“Oooo…” Lianmei tersenyum tipis. “Ini kekasihmu, ya?”
Qing Lang yang menyaksikan Ling An memegang tangan Jingyan langsung mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras.
“Eh, tidak—tidak seperti itu…” Jingyan buru-buru menyangkal.
“Tidak usah berpura-pura,” Lianmei tersenyum kecil.
“Tapi—”
Belum sempat Jingyan menyelesaikan ucapannya, Lianmei langsung memotong.
“Baiklah, baiklah.” Ia menghela napas pelan dan tersenyum pada jingyan.
“Jadi, apa kau bisa menyembuhkan penyakitku ini atau tidak?” tanyanya sambil menatap Ling An.
“Bisa,” jawab Ling An tanpa ragu. “Bagi tabib lain mungkin penyakit ini sulit dikenali. Tapi aku tahu.”
“Beberapa hari lagi aku akan datang kembali setelah membuat obatnya,” lanjut Ling An.
“Awas saja jika kau tak kembali, dan penyakitku tidak sembuh!” ancam Lianmei.
“Kau tenang saja,” Ling An tersenyum tipis. “Setiap janjiku tidak pernah kuingkari.”
Namun di balik senyum tenangnya, bayang-bayang dendam yang selama ini dipendam kembali terlintas di benaknya—dendam yang harus segera ia tuntaskan.
Perlahan, Ling An mengepalkan tangannya.
Tenang di luar, namun di dalam hatinya… badai telah lama menunggu untuk dilepaskan.
Di satu sisi, tawa dan kehangatan keluarga menyelimuti taman istana.
Di sisi lain, luka, kecemburuan, dan dendam mulai berdenyut pelan di balik senyum yang tampak tenang.
Tak satu pun dari mereka menyadari—hari yang sama ini telah menanam benih takdir yang kelak akan berbuah darah dan air mata.
semangat teruslah aku dukung🔥❤️