"Saat langit robek dan dunia menjadi neraka, uang tak lagi berkuasa. Hanya satu angka yang berharga, yaitu.. Peringkatmu."
—
Hari itu dimulai dengan hawa panas yang luar biasa. Bumi Aksara, seorang pemuda 20 tahun yang bekerja sebagai kasir minimarket, hanya memikirkan bagaimana cara bertahan hidup di tengah himpitan ekonomi.
Namun, dunia punya rencana lain. Sebuah retakan hitam membelah langit, membawa ribuan monster haus darah ke permukaan bumi.
Seketika, sebuah layar sistem muncul di depan mata setiap manusia. Dunia berubah menjadi permainan maut yang kejam. Manusia diklasifikasikan ke dalam 5 Tingkatan, dan Bumi mendapati dirinya berada di kasta terendah: Tingkat 5, Posisi 5 (Neophyte).
Dengan insting tajam yang diasah oleh kerasnya hidup di jalanan, ia mulai mendaki tangga kekuatan.
Dari seorang kasir yang dihina, Bumi berubah menjadi predator yang ditakuti. Ia akan melintasi medan perang yang kejam, demi mencapai satu tujuan mutlak... Menjadi Nomor Satu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ganendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Structural Burst (Tingkat 1).
"Aku akan membuat toko ini menjadi jebakan maut."
Keheningan yang mencekam menyelimuti bagian dalam toko bangunan itu. Udara terasa pengap, campur antara debu dan logam berkarat.
Sementara itu, di luar... suara hantaman gada Baskoro pada pintu besi toko mulai mereda, berganti dengan sumpah serapah yang terus menjauh.
Namun, Bumi Aksara tahu bahwa pria itu tidak benar-benar pergi. Baskoro hanyalah predator yang sedang menunggu mangsanya keluar dari lubang persembunyiannya.
Tiba-tiba, suara derit logam yang memekakkan telinga terdengar dari arah atap. Bumi dengan cepat langsung mendongak. Di sana, di jendela ventilasi yang sempit, sebuah tangan besar terlihat sedang mencoba mencopot jeruji besi.
"Ketemu juga kau, tikus kecil!" suara Baskoro terdengar membahana dari atas, diikuti tawa jahat yang terdengar meremehkan, "Kau pikir bisa lolos dari ku, hah?!! Mencarimu itu hal yang remeh!"
Baskoro mulai menghantamkan gadanya ke bingkai jendela ventilasi. Debu dan rontokan semen jatuh menimpa wajah Bumi.
Bumi segera mengambil posisi di tengah ruangan, tepat di bawah jalur jatuhnya rak-rak besi yang sudah ia sabotase. Pemuda itu menggenggam gagang palu godamnya dengan kedua tangan. Keringat dingin mengalir di punggungnya, namun matanya menatap tajam ke arah langit-langit.
Lalu sebuah notifikasi baru muncul di layar sistemnya, sebuah misi yang muncul secara otomatis karena kondisi terdesak.
[ Misi Darurat: Survival against the Predator.
Tujuan: Bertahan dari serangan Baskoro atau Melumpuhkannya.
Hadiah Tambahan: Akses ke Skill Aktif Pertama jika berhasil memberikan 'Crushing Blow'.]
_Crushing Blow..._ Bumi membatin dengan seringai tipis. Itu adalah satu-satunya kesempatannya.
KRAAAKKKK!
Jeruji besi ventilasi di atap akhirnya jebol. Tubuh besar Baskoro melompat turun dari ketinggian empat meter, mendarat dengan dentuman keras yang membuat lantai semen retak.
Debu mengepul di sekitar pria itu. Saat debu menipis, terlihat Baskoro berdiri dengan gada besinya, matanya berkilat penuh kegilaan.
"Hahaha ayo kita mulai perburuan ini," Baskoro menyeringai, menatap palu godam di tangan Bumi dengan tatapan mengejek. "Kau pikir palu tua itu bisa menahan gadaku?"
Bumi tidak mundur. Ia justru maju satu langkah, memutar palunya dengan teknik momentum yang baru saja ia pelajari. "Ini bukan soal palunya, Baskoro. Ini soal bagaimana aku akan meruntuhkan seluruh gedung ini ke atas kepalamu."
Baskoro tertawa terbahak-bahak, namun tawanya terhenti saat ia menyadari Bumi sedang memegang sebuah kawat baja yang terhubung ke barisan rak besi di belakangnya.
"Kau..." Baskoro baru saja hendak menerjang ketika Bumi menyeringai tipis.
"Selamat datang di jebakanku, Veteran!"
Bumi menarik kawat itu dengan seluruh tenaganya, dan di saat yang sama, ia mendengar suara gemuruh monster dari arah luar pintu belakang yang tampaknya tertarik oleh suara kegaduhan di dalam toko.
Baskoro tertegun sejenak, menoleh ke arah rak yang mulai miring dan ke arah pintu belakang yang mulai digedor oleh sesuatu yang jauh lebih lapar daripada dirinya.
"Bodoh! Mereka masuk! Monster-monster itu masuk dari belakang, dan bersiap melahapmu!" teriak Baskoro senang.
Bumi berdiri di tengah kekacauan itu, terjepit di antara seorang psikopat tingkat Veteran dan sekumpulan monster kelaparan yang mulai mendobrak masuk. Ia mengangkat palu godamnya tinggi-tinggi, siap untuk melakukan taruhan terakhir dalam hidupnya.
"Kau yang bodoh Veteran! Sebelum aku tamat, kau akan hancur terlebih dahulu!" jawab Bumi cepat.
Suara derit logam yang bergesekan dengan lantai semen terdengar seperti jeritan maut. Rak-rak besi setinggi tiga meter yang penuh dengan beban ribuan baut, mur, dan perkakas berat itu mulai miring secara perlahan.
Bumi Aksara menarik kawat baja di tangannya dengan satu sentakan kuat. yang bertenaga, memanfaatkan seluruh berat tubuhnya.
"Sialan, apa yang kau lakukan hah!" Baskoro meraung. Ia mencoba melompat mundur, namun gerakannya terhambat oleh debu semen yang licin dan ruang gerak yang sempit.
BRAKKKKKK!
Rak pertama jatuh, menghantam rak di belakangnya. Puluhan benda logam tumpah ke lantai, membuat suara gemuruh yang memekakkan telinga. Baskoro terpaksa menggunakan gada besinya untuk menangkis tumpukan rak yang menimpanya. Meskipun ia seorang Veteran, tertimbun beban ratusan kilogram secara tiba-tiba tentu saja membuat pria itu takut dan kehilangan konsentrasi.
BRUAAK!
Di saat yang sama, pintu belakang toko bangunan itu hancur berantakan. Tiga ekor Scavenger Beast berukuran lebih besar dari sebelumnya melompat masuk, tertarik oleh kegaduhan di dalam ruangan.
Raungan keras menggema. Mata monster itu begitu buas saat melihat dua gumpalan daging segar yang ada di tengah ruangan.
"Yes, sekarang waktunya!" Bumi berteriak pada dirinya sendiri.
Ia tidak menyerang Baskoro secara langsung. Sebaliknya, Bumi berlari ke arah rak cat yang sudah disabotase olehnya. Dengan ayunan palu godam senjatanya, ia menghantam penyangga rak tersebut.
PYAARRRR!
Puluhan kaleng thinner dan cat minyak tumpah ruah, membasahi lantai di sekitar kaki Baskoro dan monster-monster yang baru saja masuk. Dengan cepat Bumi melemparkan korek api gas yang sudah dinyalakan ke arah genangan cairan kimia tersebut.
WUSSSHHH!
Detik itu juga api biru kemerahan berkobar hebat, menciptakan dinding api yang memisahkan ruangan. Monster-monster yang awalnya mendekat penuh nafsu langsung melolong kesakitan saat kulit licin mereka terjilat api.
Baskoro sendiri, yang masih berjuang keluar dari tumpukan rak, terbatuk-batuk karena asap hitam yang pekat mulai memenuhi bangunan itu.
[Situasi Terdeteksi: Pertempuran Multi-Pihak.
Target Terdeteksi: 3 Greater Scavenger (Level 8)
Rekomendasi: Gunakan Momentum Kehancuran! ]
Bumi merasakan adrenalinnya memuncak. Inilah saatnya. Ia melompat ke atas meja kasir, lalu menerjang ke arah monster terdekat yang sedang meraung panik api. Ia mengayunkan palu godamnya secara vertikal, memanfaatkan gaya gravitasi dari lompatannya.
"Crushing... Blow!"
KRAAAKKK!
Kepala monster itu hancur seketika. Cairan otak dan darah hitam menyemprot ke wajahnya. Setelah itu, ia berputar cepat menghantam kaki ke dua monster itu.
[Anda Mengeliminasi Greater Scavenger! +200 XP]
[Anda Mengeliminasi Greater Scavenger! +200 XP]
Setiap kali palunya menghantam sasaran, Bumi merasakan aliran energi yang semakin kuat! Layar sistem di depan matanya mulai berkedip-kedip dengan warna emas yang bersinar sangat terang.
[ Batas Pengalaman Tercapai!
[Memulai Proses Evolusi Peringkat...]
Di tengah kobaran api, dan fokus Bumi pada monster, Baskoro berhasil bangkit. Zirah motor kulitnya terbakar di beberapa bagian, dan wajahnya terlihat merah padam menahan marah. "KAU! BERANINYA TIKUS SEPERTIMU MEMBUATKU SEPERTI INI!"
Baskoro mendekat menembus api, mengabaikan panas yang membakar kulitnya. Gada besinya mengayun dengan kekuatan penuh ke arah Bumi. Bumi mencoba menangkis dengan palu godam senjatanya.
TRANGGGGG!
Benturan dua senjata kuat itu menciptakan gelombang kejut yang memadamkan sebagian api di sekitar mereka. Bumi terdorong mundur hingga punggungnya menghantam dinding, namun kali ini ia tidak terpental. Tubuhnya terasa lebih solid, lebih berat, dan lebih kuat.
Cahaya putih keperakan menyelimuti tubuhnya. Bahkan Luka sobek di lengannya menutup seketika.
[ Selamat! Peringkat Anda Naik: Adept - Posisi 5.
Status Update: Fisik: 5, Kelincahan: 5.
Skill Aktif Terbuka: Structural Burst (Tingkat 1) ]
Membaca itu Bumi mengerjap pelan. Dunia di sekitarnya kini tampak berbeda. Ia bisa melihat aliran energi di dalam senjata Baskoro, ia bisa melihat titik retak pada dinding beton di belakangnya.
"Sekarang giliranku, Baskoro," bisik Bumi.
Ia menggenggam senjatanya dengan satu tangan. Setelah sistemnya meningkat, palu miliknya itu kini terasa ringan seperti kayu. Bumi lalu mengaktifkan skill barunya: [Structural Burst]. Cahaya ungu gelap mulai menyelimuti kepala baja palu godamnya itu.
Bumi melesat maju. Kecepatannya kini setara dengan Pria bertingkat Veteran tersebut. Sebelum pria besar itu sempat mengangkat gadanya kembali, Bumi sudah menghantamkan palunya ke arah ulu hati dengan ke dua mata yang melotot, dan seringai tipis, "Rasakan ini!"
BOOOOOMM!
Ledakan energi terjadi saat palu itu bersentuhan dengan tubuh Baskoro. Pria tingkat Veteran langsung terlempar ke belakang, menabrak tembok toko hingga tembok itu jebol ke arah jalanan luar.
"Aaaaaakhhh!"
Bumi berdiri di lubang tembok yang menganga, menatap Baskoro yang terkapar di aspal jalanan, terengah-engah dengan dada yang tampak cekung ke dalam.
[ Misi Darurat Selesai!
Anda Mendapatkan Poin Reputasi: The Giant Slayer ]
"Bagus!" gumam Bumi menatap sekeliling. Ekspresinya langsung berubah serius, "Astaga! Aku lupa ---"
****