NovelToon NovelToon
Rebith: Menjadi Istri Protagonis

Rebith: Menjadi Istri Protagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Time Travel / Mafia / Reinkarnasi / Cintapertama
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: raintara

"Tidak perlu kasar padaku! Jika kau memang tidak menyukai pernikahan ini, ceraikan saja aku!"

Kanaya kira, transmigrasi jiwa hanyalah ilusi belaka.

Karangan penulis yang tidak akan pernah menjadi nyata.

Namun siapa sangka, perempuan itu mengalami hal yang dia kira hanyalah ilusi itu?

Terjebak di dalam raga istri sang protagonis pria yang takdirnya dituliskan akan mati bunuh diri, karena frustasi suaminya ingin menceraikannya.

Nama figuran itu.... Kanaya Wilson. Perempuan yang begitu menggilai Kalendra Wijaya, sang protagonis pria.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. Mine

Tidur Kanaya terasa terganggu saat merasakan kecupan-kecupan ringan pada area wajahnya. Perempuan itu berganti posisi dengan posisi miring, namun hal itu tak mengubah apapun saat justru leher dan kupingnya yang menjadi sasaran.

Berganti posisi seperti semula, perlahan perempuan itu membuka matanya. Dan sungguh, betapa terkejutnya Kanaya saat mendapati Kalendra yang tengah mengukungnya, hendak membuka kancing piyama yang dia kenakan.

"Kalendra, apa yang kau lakukan?" desis Kanaya terdengar lirih.

"Shhtt, tidurlah. Aku tidak akan mengganggumu." bisik Kalendra sama lirihnya, kemudian melanjutkan kegiatan yang tertunda.

Kanaya memutar bola matanya malas, tidak mengganggu apanya. Tidaklah suaminya itu sadar, sentuhan-sentuhannya amat sangat membuat Kanaya terganggu.

"Kalendra, hentikan. Kau tahu kan, aku masih sakit?" Kanaya tahan tangan sang suami yang hendak berbuat lebih jauh.

Terdengar Kalendra mendesah. "Aku tahu." ujarnya yang kini menumpukan wajahnya pada dada Kanaya.

"Maka dari itu, aku tidak meminta itu sekarang. Aku hanya ingin bermain-main." lanjutnya dengan tangan nakalnya mulai mengelus pinggang ramping Kanaya.

"Boleh?" tanyanya penuh harap.

"Tidak. Yang ada nanti kau kebablasan." tolak Kanaya mencoba menyingkirkan Kalendra dari atas tubuhnya.

"Tidak akan. Aku janji." rayu laki-laki itu, memainkan jarinya pada pipi Kanaya.

"Kau tahu? Dulu aku tidak berani berbuat banyak karena hubungan kita yang seperti tidak mempunyai arah. Aku tidak ingin memaksamu. Sekarang, saat hubungan kita sudah jelas, aku ingin merealisasikan mimpi-mimpiku yang belum terwujud." adu Kalendra dengan tampang sedihnya, berharap Kanaya akan luluh.

Sedangkan sang istri, dia memasang ekspresi datar. Tidak mau memaksa? Tidak ingatkah laki-laki di atasnya ini, dia sering menci-um Kanaya secara paksa. Haruskah Kanaya memukul kepala Kalendra agar dia dapat mengingat semuanya.

"Sudahi sandiwaramu, Kalendra. Menyingkir dari tubuhku dan tidurlah yang tenang."

"Ck, menyebalkan. Aku kira kau tulus menyayangiku. Ternyata hanya berpura-pura agar aku senang." Kalendra mulai menjalankan trik manipulatifnya.

"A--apa?!"

Menatap netra sang istri, Kalendra mengangguk dengan memasang wajah sedih.

"Aku hanya ingin memainkan ini---

"Aww, Kalendra!" Kanaya menyeru terkejut. Tidak percaya apa yang baru saja suaminya lakukan.

"Lihatlah! Aku hanya meremas dan kau sudah marah."

Sialan laki-laki ini.

Mendesah lelah, Kanaya akhirnya memilih mengalah. Memejamkan matanya, membiarkan Kalendra berbuat sesuka hatinya. Mencoba terbang ke alam mimpi, walau rasanya itu hanya akan sia-sia karena ulah Kalendra amat sangat mengganggunya.

Tak lama kemudian, Kanaya merasakan angin dingin menyentuh dadanya. Sampai perempuan itu merasakan benda kenyal menempel di sana. Terasa hangat dan basah. Istri Kalendra itu sempat mendesis tertahan kala merasakan kulit dadanya dihisap dalam.

"Milikku." ujar Kalendra nyaris seperti hembusan udara.

Kemudian kecupan demi kecupan terdengar di ruangan yang hening itu. Dari dada naik ke bahu hingga dagu.

"Milikku."

Bibir Kalendra semakin naik. Menggigit hidung Kanaya gemas, semakin naik dan mengecup kedua mata perempuan yang kini berada di bawahnya itu.

"Milikku."

Mengendus pipi sang istri penuh damba, kini, Kalendra tempelkan bibirnya pada bibir Kanaya. Lama dan menekan, sebelum akhirnya ia gerakkan bibirnya untuk melu-mat bibir sang istri. Menyesapnya penuh damba.

"Milikku."

Ahhh, ya. Kalendra tidak akan pernah puas dengan Kanaya.

"Semua yang ada pada dirimu adalah milikku. Milik Kalendra Wijaya.

Bibir Kanaya berkedut. Merasa terhibur dengan tingkah kekanak-kanakan suaminya. Baru setelah Kalendra kembali merebahkan kepalanya pada dadanya, tangan Kanaya terangkat. Membelai rambut laki-laki itu yang lebat, hingga akhirnya mereka menuju ke alam mimpi bersama.

.

.

Pagi telah tiba. Kanaya baru saja selesai mandi. Kini, perempuan itu duduk di depan meja rias dengan hanya menggunakan bathrobe, mengeringkan rambutnya menggunakan hairdryer.

Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Kalendra keluar dari sana dengan hanya menggunakan handuk putih sebatas pinggang. Menampilkan body shirtless-nya yang atletis. Dari pantulan cermin, Kanaya dapat melihat Kalendra mendekatinya. Sisa-sisa air menetes dari rambutnya, turun ke leher, menampilkan kesan yang--- se-xi.

Hanyut dalam lamunannya, Kanaya sampai tidak sadar, jika Kalendra sudah berada tepat di belakangnya. Merebut hairdryer darinya secara paksa, menyebabkan Kanaya tersentak karena ulahnya. Lantas, laki-laki itu kemudian menggantikan kegiatan sang istri yang tertunda.

"Sedang memikirkan apa?"

Kanaya tersentak. Wajahnya bersemu tanpa bisa dicegah. Memperhatikan Kalendra yang tengah fokus mengeringkan rambutnya.

"Rambutmu wangi." ujar laki-laki itu menghirup sejumput surai istrinya.

Kanaya berdehem demi bisa mengontrol kegugupannya. "Kalendra, aku bisa sendiri. Lebih baik kau berganti pakaian, sana."

"Pakaikan."

"Hah!?"

Bibir Kalendra tersungging miring. Meletakkan hairdryer pada meja rias, laki-laki itu menunduk, mendapatkan wajahnya pada Kanaya. Tangannya bertopang pada pinggiran meja, hingga terlihat seakan dia tengah mengukung Kanaya dari belakang.

"Aku sudah membantumu mengeringkan rambut. Sekarang giliranmu membantuku memakai pakaian."

Pipi Kanaya semakin memerah, kini menjalar sampai ke telinganya, membuat Kalendra yang melihatnya merasa gemas. Tak puas sampai di sana, laki-laki itu menempelkan pipinya pada pipi sang istri. Menggesekkannya nakal.

"Kau mau kan, sayang?" godanya, menatap Kanaya jenaka dari pantulan cermin.

"Ke--kenapa aku harus mau?" Kanaya menjauhkan diri.

Mengambil sisir dari tempatnya, perempuan itu lebih memilih sibuk merapikan rambutnya, daripada harus tatap-tatapan dengan Kalendra yang bisa membuatnya mati kutu.

"Hei, suamimu sudah membantumu, sudah sepantasnya sebagai istri yang baik, kau melakukan hal yang sama."

"Dan aku tidak meminta kau untuk membantu mengeringkan rambutku." tukas Kanaya tak mau kalah.

Perempuan itu berdiri. Berjalan menghampirimu lemari, membukanya dan memilih pakaian mana yang mau dipakainya.

Dan lagi-lagi, Kanaya dibuat terkejut kala merasakan sesuatu melingkar pada perutnya. Kalendra--- laki-laki itu mengikutinya, lantas memeluknya dari belakang.

"Kau itu sangat tidak peka." keluh sang suami yang kini menumpukan dagunya pada bahu Kanaya.

"Aku hanya ingin memanjakan dan dimanjakan. Apa hal sesederhana itu juga harus kuajari?" ujarnya terdengar merajuk.

Hal itu membuat Kanaya tersenyum geli. Kalendra yang biasanya memasang wajah tanpa ekspresi dan kaku, ternyata dia juga bisa bertingkah manja seperti ini. Ahh, bukankah semalam laki-laki itu juga sangat kekanak-kanakan.

Membalikkan badan, Kanaya mengalungkan kedua lengannya pada leher Kalendra. Dapat dia rasakan, suaminya itu semakin erat merengkuhnya. Menarik tubuh kecilnya hingga jarak mereka semakin terkikis.

"Kau sangat lucu saat sedang manja."

"Lucu?" dahi Kalendra mengerut seolah tak suka.

"Suami se-sexi dan se-hot ini kau bilang lucu? Haruskah aku tunjukkan betapa perkasanya aku di atas ranjang? Setelah itu, aku ingin dengar, apa kau masih berani memanggilku dengan sebutan lucu lagi atau tidak."

Kanaya meledakkan tawanya. Terlampau gemas, dia cubit pipi Kalendra sebenarnya tidak ada tembam-tembamnya.

"Jika begitu, buktikan." tantang perempuan itu.

Wajah Kalendra menjadi sumringah dengan mata yang berbinar-binar. Meraih tangan sang istri yang masih bertengger di pipinya, laki-laki itu bertanya dengan sungguh-sungguh.

"Serius? Kita bisa melakukannya sekarang?"

"Emm." Kanaya membalas dengan mengangguk-anggukkan kepalanya. Berjinjit, dengan berani ia mengigit jakun Kalendra hingga sang empunya berdesis rendah. Mencengkram pinggang sang istri lebih kuat.

Lantas, Kanaya mengecup bekas gigitannya. Kemudian kembali menatap wajah Kalendra yang sudah dikuasai gairah.

"Kau bisa membuktikan keperkasaanmu di ranjang pada...boneka."

Kanaya meledakkan tawanya, berbanding terbalik dengan raut Kalendra yang berubah suram. Beraninya perempuan itu. Setelah memancing kini dia ingin mempermainkannya?

Tidak akan Kalendra biarkan.

"Dasar tikus kecil yang nakal!" Kalendra mengangkat tubuh Kanaya, membuat perempuan itu memekik terkejut.

Kemudian keterkejutannya berubah menjadi panik kala Kalendra membantingnya pada ranjang. Laki-laki itu seperti hendak menciumnya, namun urung saat Kanaya menahan dadanya yang tak terbungkus oleh apapun.

"Ka--Kalendra, kau lupa aku masih dalam masa pemulihan?" alibi Kanaya yang mendapat dengusan dari sang suami.

"Aku tidak peduli."

Kalendra kembali mendekat. Lantas, Kanaya semakin menghalangi.

"Kalendra, aku--

"Apa lagi?"

"Aku--- aku lapar." adu Kanaya tanpa tanpa rasa bersalah yang langsung dihadiahi umpatan frustasi oleh sang suami.

Kanaya benar-benar menguji kesabarannya.

1
Resti Rahmayani
kenapa harus berbohong, padahal untuk memulai sesuatu harus jujur walaupun sakit dan lagi pula suaminya tau walaupun hasil nguping sih ..
Ahrarara17
Lagi kak, up lagi
wwww
novel se seru ini ko sepi bgt sih 🤔 padahal bagus loh guys 👍🏻 semangat buat author nya 🫶🏻
raintara06: terhura bgt bacanya 🤧🤧tengkyu yaa🩵
total 1 replies
Ahrarara17
Ceritanya keren
Ahrarara17
Yuk, kak. Lanjut yuk, ceritanya. Ditunggu upnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!