Penasaran dengan ceritanya yuk langsung aja kita baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: Goresan yang Tersisa
BAB 32: Goresan yang Tersisa
Tekanan dari Balai Kota semakin memuncak. Meskipun kehadiran tamu internasional sempat menunda pemasangan patok, Maya tahu itu hanyalah kemenangan sementara. Surat perintah pembongkaran bagian kiri Rumah Senja sudah ditandatangani dan akan berlaku dalam tujuh hari. Di tengah keputusasaan itu, Maya kembali ke ruang kerja Aris di lantai atas, ruangan yang tetap ia biarkan berdebu persis seperti saat Aris meninggalkannya.
"Pasti ada sesuatu yang kita lewatkan, Yud," gumam Maya sambil membolak-balik buku sketsa Aris untuk yang keseratus kalinya.
Ia mencari di sela-sela halaman, berharap ada coretan hukum atau catatan lahan. Namun, yang ia temukan hanyalah sketsa-sketsa puitis tentang cahaya senja. Sampai akhirnya, perhatiannya tertuju pada sebuah gambar detail pilar utama bangunan yang tampak tidak selaras dengan pilar lainnya. Di gambar itu, Aris memberikan kode kecil: “L-12 / Verbum Sapienti”.
"Kata-kata bagi orang bijak," bisik Maya, mengingat kutipan Latin favorit Aris.
Maya segera memanggil Hendra. Mereka menuju pilar nomor dua belas di sisi utara bangunan. Pilar itu tampak biasa saja, terbuat dari bambu petung yang kokoh. Namun, saat Hendra mengetuknya, suaranya terdengar berbeda—ada rongga di dalamnya.
Dengan sangat hati-hati, menggunakan pahat kecil, Hendra membuka sambungan laminasi di bagian dasar pilar tersebut. Di dalamnya, tersimpan sebuah tabung tembaga yang tertutup rapat. Saat dibuka, Maya menemukan gulungan kertas kalkir tua dan sebuah sertifikat tanah asli dari tahun 1950-an yang sudah sangat rapuh.
"Ini bukan sekadar sertifikat," Yudha memeriksa dokumen itu dengan mata terbelalak. "Ini adalah Surat Kepemilikan Lahan di bawah hukum lama, yang menyatakan bahwa area bantaran sungai di titik ini adalah 'Tanah Wakaf Arsitektur' yang dihibahkan oleh pemilik lahan pertama kepada siapa pun yang membangun fasilitas publik di atasnya."
Ternyata, Aris telah membeli hak lahan tersebut secara diam-diam melalui sisa tabungan masa mudanya, jauh sebelum ia bergabung dengan Mahakarya. Ia tahu bahwa suatu saat pemerintah atau korporasi akan mencoba merebutnya, jadi ia mengunci status tanah tersebut dengan status hukum yang sangat kuat: Tanah Wakaf.
Di bawah hukum Indonesia tahun 2025, aset yang sudah diwakafkan untuk kepentingan publik memiliki perlindungan hukum yang jauh lebih tinggi daripada aset komersial atau bahkan proyek strategis pemerintah.
"Pak Aris sudah merencanakan ini sejak awal," ucap Hendra dengan suara bergetar. "Dia tidak hanya membangun di atas tanah, dia menanam pondasi hukum di bawahnya."
Di dalam tabung itu juga terdapat sebuah catatan terakhir yang ditulis dengan tinta hitam yang masih tegas: "Arsitektur sejati tidak hanya melindungi manusia dari hujan, tapi juga dari ketidakadilan. Gunakan dokumen ini saat senja terasa terlalu gelap. – Aris."
Maya memeluk dokumen itu di dadanya. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah. Aris, pria yang ia anggap hanya seorang pemimpi, ternyata adalah seorang petarung yang memikirkan setiap langkah seratus tahun ke depan.
Keesokan harinya, saat Anton datang kembali dengan surat perintah eksekusi, Yudha menyambutnya bukan dengan protes, melainkan dengan dokumen wakaf tersebut. Wajah Anton yang kaku mendadak berubah menjadi penuh kebingungan, lalu kekaguman yang pahit.
"Ini... ini mengubah segalanya," bisik Anton. "Tanah ini tidak bisa disentuh oleh proyek Waterway tanpa izin dari nazhir (pengelola) wakaf. Dan pengelolanya adalah... Yayasan Rumah Senja."
Kemenangan kali ini terasa mutlak. Goresan tangan Aris yang tersisa di pilar nomor dua belas telah menghentikan seluruh mesin birokrasi kota. Maya melihat ke arah sungai, merasa Aris sedang berdiri di sana, tersenyum sambil memegang pensilnya. Pertarungan atas lahan telah usai, namun babak baru untuk menjadikan Rumah Senja sebagai sekolah arsitektur rakyat baru saja dimulai.