Jaka Utama adalah seorang "Antagonis" profesional. Tugasnya sederhana: menjadi tunangan jahat yang menyebalkan, dipermalukan oleh sang pahlawan, lalu mati secara tragis agar cerita berakhir bahagia. Namun, di reinkarnasinya yang ke-99, sebuah kesalahan fatal terjadi. Kalimat puitis yang ia ucapkan saat sekarat justru membuat sang Heroine (pahlawan wanita) jatuh hati padanya, membantai sang jagoan utama, dan merusak seluruh alur dunia!
Kini, Jaka terbangun kembali di Joglo miliknya untuk kesempatan ke-100—kesempatan terakhirnya. Kali ini, ia dibekali sebuah sistem baru: Buku Harian Ajaib. Cukup dengan menuliskan keluh kesah dan rencana jahatnya setiap hari, ia akan mendapatkan kekuatan luar biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wirabumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
[Sebenarnya, Naningsih itu sangat cantik.]
[Jika dia mau berdandan sedikit saja dan memakai kebaya kutubaru yang pas di badan, dia bakal jadi sangat seksi. Bahkan Ratna Menur, yang katanya kembang desa tercantik di Kota Merapi, cuma bakal terlihat seperti bocah kemarin sore di depannya.]
Naningsih terdiam.
Setelah menunggu lama dan tidak melihat ada tulisan baru yang muncul, dia merasa sedikit puas, namun otaknya mulai menganalisis.
"Munculnya buku harian ini seperti ilmu pemindahan raga atau ajian ruang hampa."
"Tapi Gusti Jaka hanyalah seorang pendekar tingkat 'Pengumpul Tenaga Dalam', dia sama sekali tidak menguasai ajian tingkat tinggi seperti itu."
"Jadi, buku harian ini... bagaimana cara dia mengirimnya sampai bisa kubaca?"
Naningsih merasa bingung. Dia mencoba menggerakkan pikirannya, dan secara mengejutkan buku harian itu menghilang. Ketika dia memikirkannya lagi, buku itu muncul kembali. Sungguh aneh!
Karena benar-benar tidak paham, dia memutuskan untuk meminta penjelasan langsung. Namun saat bersiap memanggil Jaka, dia tanpa sadar melirik kebaya ungu longgarnya sendiri. Kebaya itu memang terlihat sangat besar dan tidak membentuk badan.
Apa benar sejelek itu?
Setelah ragu sejenak, dia perlahan melepas pakaiannya….
[Wibawa +1]
[Pesona Wajah +1]
[Hadiah: Ajian Kebal Pukulan]
[Deskripsi Hadiah: Tuan selalu berpura-pura menjadi pecundang tapi tidak pernah terbunuh. Saat diserang, batalkan 50% kerusakan fisik maupun batin.]
Setelah suara sistem bergema, Jaka Utama merasakan tubuhnya dipenuhi kekuatan misterius. Jelas sekali, fisiknya telah diperkuat secara gaib.
"Membatalkan 50% kerusakan?"
"Edan!"
Jaka sangat senang sampai hampir melompat. Di dunia persilatan yang penuh klenik ini, dia sudah berkali-kali mati mengenaskan. Sebagai penjahat, pilihannya cuma dua: dipukuli atau sedang dalam perjalanan untuk dipukuli.
Sekarang, dengan tubuh yang bisa meniadakan separuh serangan, dia tidak perlu takut lagi dipukuli sampai menangis. Sangat hebat. Dan di masa depan, dia tidak perlu lagi mandi lulur pengobatan yang bau itu untuk memperkuat otot. Ini tidak hanya menghemat waktu, tapi juga menyelamatkan kas Padepokan Tanpa Beban dari pengeluaran membeli rempah-rempah langka yang mahal.
Identitas Jaka adalah pemimpin Padepokan Tanpa Beban. Tiga tahun lalu, ayah dan ibunya memimpin hampir seluruh murid padepokan ke Hutan Larangan untuk menghentikan serbuan siluman. Akibatnya, hanya orang tuanya yang selamat meski luka parah, sementara murid lainnya tewas. Setahun yang lalu, orang tuanya pun meninggal.
Jadi, Jaka secara otomatis menggantikan ayahnya sebagai Guru Besar atau Patriark. Namun, karena sifatnya yang malas dan sombong, dia tidak tahu cara mengelola tempat itu. Murid-muridnya melarikan diri setiap hari, dan padepokan itu semakin hancur.
Untungnya, dia dilindungi oleh asisten pribadinya yang sangat sakti, Naningsih. Jika tidak, Jaka yang tidak punya modal apa-apa selain wajah tampan ini pasti sudah dihabisi oleh pendekar-pendekar licik sejak lama.
Saat Jaka sedang merenungi nasibnya, pintu kamar terbuka.
“Gusti, air lulur pengobatannya sudah siap, silakan ke ruang mandi.”
Di ambang pintu, Naningsih berdiri diam. Penampilannya sama sekali berbeda dari sebelumnya.
Dia menata rambutnya dengan gaya konde modern yang simpel. Dia mengenakan kebaya kutubaru ungu yang ketat di badan, dan kain jarik panjangnya diganti dengan kain sebatas lutut. Sepatu sulaman jadulnya pun telah diganti dengan selop cantik berhias permata.
Kulit kuning langsatnya, lekuk tubuh yang menonjol, dan kaki panjangnya semua terpampang nyata. Benar-benar menggoda iman.
"Sial!"
Mata Jaka melotot, hampir saja mimisan. Tapi lebih dari itu, dia merasa ngeri. Setelah reinkarnasi tujuh puluh kali, dia sudah hafal luar kepala sifat Naningsih. Bahkan jumlah tahi lalat di tubuhnya pun dia mungkin tahu.
Menurut karakter asli Naningsih, bahkan jika dipaksa mati pun, dia tidak akan pernah mau berpakaian seberani ini!
Mungkinkah... karakter Naningsih melenceng?
Tapi jangan sekarang! Kalau karakternya berubah, alur ceritanya bisa kacau! Aku cuma punya satu nyawa terakhir!
"Ningsih, kamu tidak sakit, kan? Maksudku, kamu baik-baik saja?"
"Tidak sakit, Gusti. Apakah saya terlihat cantik?"
Naningsih berjalan mendekat. Langkah kakinya anggun, kainnya berayun, dan tubuhnya bergerak sangat menggoda.
"Cantik... cantik apanya! Jelek tahu! Kembali ke kamarmu dan ganti baju, cepat!"
Ekspresi Jaka saat ini sangat aneh, seperti orang yang menahan buang air besar selama berhari-hari. Dia tahu Naningsih itu dingin, kejam, dan tidak peduli penampilan. Dia tidak mungkin berinisiatif bertanya apakah dirinya cantik.
Apa reinkarnasi yang keseringan ini merusak otaknya? pikir Jaka panik.
Naningsih tidak memedulikan perintah Jaka. Dengan gerakan cepat sekelebat cahaya, dia berpindah ke belakang Jaka. Jaka mencium aroma melati yang harum, lalu merasa tubuhnya ringan. Dia digendong begitu saja oleh wanita itu dan dibawa terbang menuju ruang mandi dalam sekejap.
"Gusti, hari ini..."
Naningsih baru saja ingin bertanya langsung: Bagaimana buku harian itu bisa sampai padaku? Kenapa kamu menjelek-jelekkanku di sana? Apa kamu bosan hidup?
Namun kenyataannya, dia tidak bisa mengeluarkan suara sedikit pun! Seolah-olah ada kekuatan gaib yang membungkam mulutnya! Dia mencoba berkali-kali, tapi hasilnya nihil. Karena tidak mengerti, dia membatin: Ini pasti kehendak Sang Pencipta!
Rahasia langit tidak boleh diungkapkan.
Dia tidak berani menyelidik lebih jauh.
"Gusti, saya akan kembali nanti malam untuk mengantar Anda ke pesta ulang tahun Nona Ratna Menur."
Setelah itu, dia berbalik pergi, meninggalkan Jaka yang melongo melihat punggungnya yang seksi.
"Oke..."
Jaka masih bingung. Walaupun Naningsih agak aneh, setidaknya plotnya belum hancur. Dia tetap mandi lulur untuk memperkuat fisik dan menunggu momen dipermalukan saat pembatalan pertunangan nanti malam.
Jaka melepas pakaiannya dan melompat ke bak mandi. Sambil berendam, dia memanggil buku hariannya dan menulis lagi.
[Sial, tadi aku hampir jantungan.]
[Si Naningsih, perawan tua itu, lagi 'puber' atau gimana sih? Tiba-tiba pakai baju seksi begitu, apa dia mau menggodaku? Tolong jangan sekarang! Ini dunia novel yang sudah hampir kiamat. Aku cuma punya satu kesempatan terakhir. Aku tidak boleh merusak alur ceritanya!]
[Terima kasih sebelumnya atas kerja samanya, Ningsih.]
Di kamar tidur Naningsih...
Dia sudah berganti kembali ke kebaya ungu longgarnya yang lama, karena dia merasa risih memperlihatkan bahu dan kakinya. Tiba-tiba, hatinya bergetar. Dia memanggil buku hariannya.
Ketika melihat tulisan terbaru, seluruh tubuhnya kaku seperti tersambar petir.
Reinkarnasi?
Dunia novel?
Bagaimana mungkin!
Naningsih mengira Jaka sudah gila. Mungkin Jaka tidak kuat menahan beban karena orang tuanya meninggal dan padepokannya hancur. Namun, isi buku harian selanjutnya benar-benar meruntuhkan seluruh akal sehatnya!