NovelToon NovelToon
Mafia'S Innocent Love

Mafia'S Innocent Love

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta pada Pandangan Pertama / Mafia / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Balas Dendam / Persaingan Mafia
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nanda wistia fitri

Xaviera Collins, gadis yatim piatu bermata hazel yang biasa dipanggil Xerra, hidup bersama bibi, paman, dan dua sepupunya.
Meski selalu diperlakukan tidak adil oleh bibinya yang kejam, Xerra tumbuh menjadi gadis ceria dan penuh semangat. Hidupnya nyaris tanpa beban, seolah ia mampu menertawakan setiap luka yang datang.

Namun, malam itu segalanya berubah.
Demi uang, bibinya menjual Xerra ke sebuah rumah bordil di pinggiran kota. Di sanalah ia pertama kali bertemu Evans Pattinson seorang mafia terkenal yang ditakuti banyak orang karena kekejamannya.

Pertemuan itu menjadi awal dari takdir gelap yang tak pernah Xerra bayangkan.
Evans, pria yang terbiasa menumpahkan darah tanpa ragu, justru mulai terobsesi padanya. Di balik tatapan dingin dan dunia yang penuh dosa, ia menemukan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, perasaan ingin memiliki dan takut kehilangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanda wistia fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Keesokan harinya, pagi di mansion Pattinson terasa lebih sunyi dari biasanya bukan karena kurangnya suara, melainkan karena kewaspadaan yang menggantung di udara.

Xerra baru saja duduk ketika Evans menarik kursi di sampingnya, lebih dekat dari hari-hari sebelumnya. Tangannya secara refleks menutup punggung tangan Xerra, seolah memastikan ia benar-benar ada di sana.

“Kau hampir tidak menyentuh sarapanmu,” kata Evans pelan.

Xerra menoleh, tersenyum tipis.

“Aku hanya masih agak lelah.”

Evans menatapnya lama, lalu mengangguk.

“Hari ini aku akan mengantarmu. Dan pulangnya juga.”

“Om... ” Xerra hendak membantah, tapi Evans sudah menggeleng.

“Bukan permintaan,” ucapnya tegas, namun nadanya lembut. “Aku perlu melihatmu masuk kelas dengan mataku sendiri.”

Gerry dan Ben yang duduk berseberangan saling pandang. Ben menyeringai kecil.

“Boss sekarang jauh lebih galak kalau soal nyonya.”

Evans meliriknya singkat.

“Dan itu tidak akan berubah.”

Setelah sarapan, iring-iringan kecil itu bergerak keluar mansion. Namun di tengah perjalanan, Xerra menoleh pada Evans.

“Kita bisa mampir sebentar ke toko bunga?” tanyanya ragu. “Aku ingin bertemu Vio dan Rose.”

Evans berpikir sejenak, lalu mengangguk.

“Sepuluh menit.”

Mobil berhenti di sebuah toko bunga sederhana di sudut jalan. Aroma mawar dan lili langsung menyambut begitu pintu dibuka.

“Xerra!” seru Vio lebih dulu, meninggalkan buket di tangannya. Rose menyusul, matanya berbinar.

“Kau baik-baik saja?” tanya Rose cemas sambil memeluk Xerra.

Xerra tersenyum, memeluk mereka bergantian.

“Aku baik Sekarang.”

Di sisi lain, Gerry dan Ben berdiri canggung. Namun mata mereka tak bisa disembunyikan,tatapan hangat, kagum, dan sedikit kikuk tertuju pada Vio dan Rose.

Ben menggaruk tengkuknya.

“Ehm… bunganya segar ya.”

Vio menahan tawa. “Kami yang merawatnya.”

Gerry tersenyum tipis, pandangannya lembut.

“Kelihatan.”

Evans memperhatikan semuanya dari dekat pintu. Tatapannya tajam, bukan cemburu melainkan menilai. Ia melihat cara Ben mendengarkan Rose dengan penuh perhatian, dan bagaimana Gerry tanpa sadar melangkah lebih dekat pada Vio, melindungi dari lalu-lalang pelanggan.

Sudut bibir Evans terangkat samar.

“Kalian,” katanya tiba-tiba, membuat Gerry dan Ben menoleh. “Jangan bermain-main.”

Gerry menegakkan badan. “Tidak akan, Boss.”

Ben mengangguk cepat. “Serius.”

Xerra menatap Evans, sedikit terkejut.

“Om memperhatikan?”

“Aku selalu memperhatikan,” jawab Evans datar.

Waktu mereka hampir habis. Xerra berpamitan, memeluk Vio dan Rose sekali lagi.

“Jaga diri kalian,” katanya tulus.

“Kau juga,” balas Rose. “Dan… selamat atas pernikahanmu.”

Saat mereka kembali ke mobil, Xerra melirik Evans.

“Kau tersenyum barusan.”

Evans menatap jalan ke depan.

“Ada hal-hal yang pantas diberi kesempatan.”

Mobil kembali melaju menuju kampus. Di kaca jendela, Xerra melihat pantulan dirinya lebih tenang, lebih kuat.

Dan ia mulai menyadari, benih cerita lain mulai tumbuh… tepat di antara buket bunga dan tatapan yang tak sengaja bertemu.

Mobil berhenti tepat di depan gedung fakultas.

Begitu Evans turun lebih dulu, suasana kampus yang biasanya riuh mendadak berubah. Beberapa mahasiswa terdiam, bisik-bisik menyebar cepat. Sosok Evans Pattinson memang sulit diabaikan—jas rapi, postur tenang, tatapan dingin yang seolah menilai segalanya.

Evans membuka pintu untuk Xerra.

“Masuklah. Aku menunggumu sampai kau benar-benar masuk kelas,” katanya pelan.

Xerra mengangguk sebelum masuk ke kelas,xerra mencium pipi Evans sebagai tanda perpisahan,Evans tersenyum bangga pada istri nya

*****

Mobil melaju meninggalkan area kampus, menembus jalanan menanjak menuju perbukitan di pinggiran London. Udara berubah lebih dingin ketika gerbang besi hitam menjulang terbuka perlahan.

Villa itu berdiri sunyi di atas bukit luas, tertutup pepohonan pinus, dan jauh dari jangkauan siapa pun. Bagi dunia luar, tempat itu hanyalah vila pribadi.

Bagi Evans dan orang-orangnya, itulah markas.

Begitu mobil berhenti, Gerry dan Ben turun lebih dulu, sigap seperti biasa.

“Keamanan aman,” lapor Ben singkat setelah memeriksa sekitar.

Evans mengangguk dan melangkah masuk. Langkahnya mantap, wajahnya kembali pada ekspresi dingin yang jarang Xerra lihat.

Lorong bawah tanah terasa lembap. Lampu temaram berpendar di dinding beton. Di sanalah ruang-ruang penjara berada sunyi, tertutup, dan tak mengenal belas kasihan.

Evans berhenti di depan satu sel.

Di balik jeruji besi, seorang pria paruh baya duduk bersandar ke dinding. Rambutnya memutih, wajahnya tirus, matanya cekung. Tiga tahun telah menggerogoti tubuh dan mentalnya.

Pria itu mengangkat kepala perlahan saat mendengar langkah kaki.

“…Boss,” suaranya serak.

Evans menatapnya tanpa emosi.

“Tiga tahun,” katanya datar. “Dan kau masih hidup. Itu sudah kemurahan hati ku”

Pria itu menelan ludah. “Aku… aku sudah menyesal.”

Gerry bersandar di dinding, menyilangkan tangan.

“Kau bocorkan rute pengiriman sabu ke musuh. Tiga anggota mati malam itu.”

Ben menambahkan dingin,

“Dan kau memukul istrimu sendiri. Anakmu sampai dirawat di rumah sakit.”

Wajah pria itu runtuh. Bahunya gemetar.

“Aku khilaf… aku....”

“Cukup.”

Satu kata dari Evans membuat udara seketika membeku.

Ia melangkah mendekat ke jeruji.

“Kau dihukum bukan karena kau kalah,” ucapnya tenang. “Tapi karena kau mengkhianati prinsip.”

Pria itu terdiam, air mata jatuh tanpa suara.

Evans melanjutkan, suaranya tetap rendah.

“Istrimu dan anak-anakmu aman. Mereka tidak kelaparan. Mereka tidak takut.”

Pria itu terkejut, menatap Evans dengan mata berkaca-kaca.

“Boss… kenapa…?”

“Karena dosa ayah bukan dosa anak,” jawab Evans singkat. “Dan kekerasan tidak boleh diwariskan.”

Ia memberi isyarat kecil pada Gerry.

“perketat penjaan,Jangan sampai lengah.”

Gerry mengangguk. “Siap.”

Evans berbalik tanpa menoleh lagi.

Begitu mereka naik kembali ke lantai atas, suasana berubah. Ruangan utama villa terang dan hangat, jauh berbeda dari dinginnya ruang bawah tanah.

Ben menuangkan kopi.

“Boss… sejak menikah, kau berubah.”

Evans menerima cangkir itu, menatap cairan hitam di dalamnya.

“Tidak,” katanya pelan. “Aku hanya mengingat alasan kenapa aku membangun semua ini.”

Ia menoleh ke jendela besar, ke arah kota yang jauh di bawah sana.

“Untuk melindungi,” lanjutnya. “Bukan hanya menghancurkan.”

Ben dan Gerry saling pandang.

Beberapa jam kemudian, mobil lain meluncur keluar dari villa menuju sebuah bangunan besar berpagar putih di sisi kota.

Panti asuhan milik Evans.

Begitu Evans masuk, suasana langsung hidup. Anak-anak berlari, memanggil namanya dengan tawa riang.

“Paman Evans!”

“Kau datang lagi!”

Evans berjongkok, menerima pelukan-pelukan kecil itu tanpa ragu. Wajah dingin yang tadi ada di markas lenyap sepenuhnya.

“Sudah belajar hari ini?” tanyanya pada seorang anak perempuan kecil.

“Sudah! Aku dapat nilai bagus!” jawabnya bangga.

Evans tersenyum tipis.

“Bagus. Teruskan.”

Gerry memperhatikan dari jauh, suaranya rendah saat berbicara pada Ben.

“Sulit di percaya pria yang sama memimpin dunia gelap.”

Ben mengangguk pelan.

“Boss memang seperti itu. Dunia hitam di tangannya… tapi hatinya tidak sepenuhnya gelap.”

Di saat yang sama, di kampus, Xerra duduk di kelas tanpa tahu bahwa suaminya baru saja berpindah dari ruang penjara ke tawa anak-anak.

Dua dunia itu terus berputar, beriringan, demi satu tujuan yang sama

Yaitu melindunginya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!