"Di tengah kesibukan kehidupan SMA di Jakarta, Yuki dan kelompok teman terbaiknya menjalani petualangan yang mengubah hidup mereka dari merawat kakaknya yang sakit, menemukan cinta pertama, hingga membentuk tim untuk lomba bahasa asing nasional.
Dengan persahabatan sebagai dasar kuatnya, mereka menghadapi segala rintangan: perbedaan cara pandang, tantangan kompetisi, dan bahkan menemukan makna baru dalam persahabatan antar budaya. Awalnya hanya sekelompok teman biasa, kini mereka membuktikan bahwa kerja sama dan cinta bisa membawa mereka meraih kemenangan yang tak terduga termasuk kesempatan untuk menjelajahi dunia luar!"
"Siapakah mereka? Dan apa yang akan terjadi saat mereka melangkah keluar dari zona nyaman Jakarta untuk menjelajahi dunia yang lebih luas?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Kolim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 2
pagi itu langit cerah, namun suasana di kelas 2-A terasa berbeda bagi Yuki.
Sejak pertemuannya dengan Kinta di restoran roti, pikirannya sulit tenang. Setiap langkah menuju bangkunya terasa lebih lambat, seolah ia menunggu sesuatu terjadi—atau seseorang.
Saat bel masuk berbunyi, pintu kelas terbuka.
Kinta masuk.
Tanpa sadar, Yuki menoleh.
Dan kali ini, Kinta juga menoleh ke arahnya.
Tatapan mereka bertemu lebih lama dari sebelumnya.
“…Pagi,” ucap Kinta singkat.
Yuki tersentak.
“P-pagi.”
Itu saja. Namun satu kata itu cukup membuat jantung Yuki berdetak terlalu cepat.
Wali kelas datang membawa pengumuman.
“Karena ada perubahan jumlah siswa, beberapa bangku akan dipindahkan,” kata wali kelas.
Nama Yuki dan Kinta disebut berurutan.
“Mulai hari ini, Aoyama duduk di sebelah Tachibana.”
Ruangan seketika ramai oleh bisik-bisik kecil.
Yuki menegang.
Kinta hanya mengangguk pelan dan membawa tasnya ke bangku sebelah Yuki. Ia duduk, menjaga jarak yang sopan—tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh.
Namun jarak itu justru terasa terlalu sempit.
“Aku… tidak mengganggu, kan?” tanyanya kaku.
“Tidak,” jawab Yuki cepat. “Maksudku—tidak sama sekali.”
Hening lagi.
Namun keheningan itu kini terasa hangat, seperti halaman buku yang belum dibaca.
"Oke semua nya kerjakan halaman 49/51" ucap wali kelas
Saat pelajaran berlangsung, penghapus Yuki jatuh ke lantai.
Ia membungkuk bersamaan dengan Kinta yang refleks meraihnya.
Tangan mereka bertemu.
Keduanya sama-sama terdiam.
“Ah—”
“Maaf—”
Mereka berbicara bersamaan.
Yuki tertawa kecil tanpa sadar.
“Terima kasih.”
Kinta mengangguk, namun sudut bibirnya terangkat sangat tipis—nyaris tak terlihat.
Yuki menangkapnya.
Dan entah kenapa, dadanya terasa ringan.
setelah itu bel istirahat berbunyi dan yuki membuka kotak makan siangnya. Di dalamnya ada roti krim vanila.
Kinta meliriknya sekilas, lalu segera memalingkan wajah.
“…Kamu suka roti itu?” tanyanya, seolah bertanya pada udara.
Yuki menoleh.
“Iya. Dari dulu.”
Kinta terdiam.
“Dari… dulu?” ulangnya pelan.
Yuki mengangguk.
“iya aku suka roti krim vanilla ini dari kecil..."
Hening kembali menyelimuti mereka. Kali ini lebih berat.
"ohh" kata kinta ahirnya. “Entah kenapa kamu seperti seseorang yang dulu pernah ku kenal.." ucap kinta dengan suara yang kecil
Tatapan mereka bertemu. Ada sesuatu di antara kata-kata itu—sebuah kesamaan yang tidak bisa dijelaskan.
Sore hari, hujan kembali turun.
Di depan gerbang sekolah, siswa-siswi berlarian mencari payung tetapi yuki berdiri ragu, menatap langit.
“Kamu tidak bawa payung?”
Yuki menoleh. Kinta berdiri di sampingnya, memegang payung hitam.
“Tidak.”
“…Kalau begitu,” katanya ragu, “kita bisa jalan sampai persimpangan.”
Bukan ajakan pulang bersama. Hanya sampai persimpangan.
Namun Yuki mengangguk.
Mereka berjalan beriringan di bawah payung yang sama, menjaga jarak setipis mungkin. Hujan jatuh perlahan, suara langkah mereka berpadu dengan detak jantung masing-masing.
“Kinta,” panggil Yuki pelan.
“Ya?”ucap kinta
“Kita… benar-benar baru saling kenal, kan?”
Kinta terdiam sejenak.
“…Seharusnya begitu.”
Jawaban itu terasa jujur—dan menyakitkan entah kenapa.
Di persimpangan, mereka berhenti.
“Sampai sini,” kata Kinta.
“eh?"
"bawa aja payung nya"
"T-tapi.."
“…Sampai besok,” ucap kinta sambil berlari tanpa payung hanya mengandalkan tas
“Iya. Sampai besok.”
"Apa kinta akan baik-baik saja...." Ucap Yuki sambil berjalan memikirkan nya
Mereka berpisah, membawa perasaan yang sama:
bahwa jarak di antara mereka semakin dekat—
dan justru itu yang membuat segalanya terasa canggung.
"aku pulang" ucap Yuki
"aku pulang...hahh aku basah kuyup" ucap kinta
Setelah mereka berdua pulang ternyata mereka sama sama sendiri dirumah, tidak ada siapapun.
Sehabis Yuki mandi langsung tiduran sambil memikirkan kinta yang memberikan payungnya untuk Yuki.
"Kenapa kinta bersikap sangat baik.." ucap Yuki dengan pipi yang memerah.
"haaaa..." Yuki menutupi mukanya dengan bantal
pagi harinya di sekolah kinta tidak masuk.
"hmm.." Yuki merasa sangat bersalah
"Yuki" ucap guru
"i-iya ada apa?" ucap Yuki dengan terbata-bata
"habis pelajaran ini kamu jenguk kinta ya?"
"iya!" ucap Yuki dengan penuh semangat
Setelah jam pelajaran habis guru mengantarkan Yuki kerumah kinta, diperjalanan mereka berdua membeli obat untuk kinta. Sesampainya di rumah kinta guru meninggalkan Yuki dan yuki berjalan ke depan pintu rumah kinta.
Ting
"ya siapa?" ucap kinta di dalam rumah.
"a-anu...Yuki"
"silahkan masuk"
"i-iya permisi" sambil menundukkan kepalanya.
"anu...ini aku bawakan obat" ucap Yuki dengan nada yang kecil.
"ohya, terimakasih" sambil mengambil obat yang ada di tangan Yuki.
Setelah itu kinta pergi ke kamar nya.
"kinta."
"kamu sudah makan?" ucap Yuki sambil mengetuk kamar kinta
"belum, nanti aku bli sendiri sekarang kamu pulang aja" kinta meminum obat lalu tidur.
Yuki pergi kedapur untuk membuat bubur untuk kinta lalu Yuki membuat bubur itu dengan penuh kasih sayang.
"kinta.."
"aku masuk ya" Yuki membuka pintu kamar kinta secara perlahan
"eh...sudah tidur," ucap Yuki sambil menatap lama wajah kinta.
"tidur yang nyenyak kinta." sambil sedikit tersenyum dan Yuki pergi.
21.13 kinta baru terbangun setelah tertidur cukup lama. Kinta bangun menuju dapur dan melihat makanan yang Yuki buat untuk kinta.
"apa...kenapa dia.." ucap kinta sambil meneteskan air mata.
"hahh nanti pagi aku harus berterimakasih kepada Yuki.." berjalan kembali ke kamar dan tidur...