NovelToon NovelToon
GLOW UP : SAYONARA GADIS CUPU! (MISI MEMBUATMU MENYESAL)

GLOW UP : SAYONARA GADIS CUPU! (MISI MEMBUATMU MENYESAL)

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir / Aplikasi Ajaib
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Kde_Noirsz

Hancurnya Dunia Aluna Aluna Seraphine, atau yang akrab dipanggil Luna, hanyalah seorang siswi SMA yang ingin hidup tenang. Namun, fisiknya yang dianggap "di bawah standar", rambut kusut, kacamata tebal, dan tubuh berisi, menjadikannya target empuk perundungan. Puncaknya adalah saat Luna memberanikan diri menyatakan cinta pada Reihan Dirgantara, sang kapten basket idola sekolah. Di depan ratusan siswa, Reihan membuang kado Luna ke tempat sampah dan tertawa sinis. "Sadar diri, Luna. Pacaran sama kamu itu aib buat reputasiku," ucapnya telak. Hari itu, Luna dipermalukan dengan siraman tepung dan air, sementara videonya viral dengan judul "Si Cupu yang Gak Tahu Diri." Luna hancur, dan ia bersumpah tidak akan pernah kembali menjadi orang yang sama.

Akankah Luna bisa membalaskan semua dendam itu? Nantikan keseruan Luna...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kde_Noirsz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35 : KEPULANGAN SANG BADAI KE JAKARTA

Transformasi Luna dari seorang "mangsa" menjadi "badai" sudah tuntas di Eropa, dan sekarang saatnya kita membawa ketegangan itu ke tanah air.

Jakarta bukan lagi kota masa kecil yang hangat bagi Luna, kali ini Jakarta akan terasa seperti labirin penuh duri.

Langit Jakarta menyambut jet pribadi Luna dengan rona jingga yang pekat oleh polusi dan panas yang menyengat sangat kontras dengan salju Zurich yang murni. Saat pintu pesawat terbuka, aroma tanah basah setelah hujan tropis dan kebisingan kota yang tak pernah tidur langsung menerjang indra penciuman Luna.

"Selamat datang kembali di rumah, Nona," bisik Xavier, yang kini mengenakan kacamata hitam, matanya terus memindai perimeter bandara Halim Perdanakusuma yang dijaga ketat.

Luna menghirup napas dalam-dalam. "Ini bukan lagi rumah, Xavier. Ini medan perang yang tertutup beton."

Di terminal pribadi, seorang pria paruh baya dengan batik sutra bermotif parang sudah menunggu. Ia adalah Hendrawan, pengacara lama keluarga Adrian von Hess di Indonesia yang selama sepuluh tahun menghilang dari radar. Senyumnya tampak tulus, namun di mata Luna yang sekarang, setiap senyum adalah topeng.

"Aluna... kamu tumbuh menjadi sangat mirip dengan ibumu," ujar Hendrawan dengan suara bergetar. "Kematian Adrian adalah duka terdalam bagi kami yang setia padanya di sini. Tapi Jakarta sudah berubah. Serigala-serigala yang dulu takut pada ayahmu, sekarang sudah menjadi pemilik hutan ini."

Luna tidak membalas pelukan pria itu. Ia hanya memberikan kotak logam dari Zurich. "Simpan basa-basinya, Paman Hendra. Saya ke sini bukan untuk bernostalgia. Saya ke sini untuk mencari makam tanpa nama yang disebutkan Ayah. Di mana koordinat ini sebenarnya?"

Wajah Hendrawan memucat saat melihat koordinat tersebut. "Ini... ini di pinggiran TPU Jeruk Purut. Tapi Luna, area itu sudah ditutup oleh pengembang properti besar setahun yang lalu. Grup Arwana membelinya secara paksa."

Luna menyipitkan mata. "Grup Arwana? Bukankah itu milik keluarga Baskoro? Sahabat karib Ayah?"

Hendrawan mengangguk pelan. "Dulu, iya. Sekarang? Mereka adalah pemegang kendali ekonomi politik yang paling tidak tersentuh di negeri ini. Dan mereka tidak suka ada orang yang menggali masa lalu di tanah mereka."

Malam itu juga, tanpa menunggu fajar, Luna bersikeras menuju lokasi. Di bawah sinar lampu senter yang dibawa Kevin, mereka menyusuri sisa-sisa kompleks pemakaman yang kini sudah dipagari seng tinggi, siap untuk diratakan menjadi fondasi gedung pencakar langit.

Xavier memimpin di depan, tangannya selalu berada di dekat senjata di balik jasnya. "Ada sesuatu yang aneh. Penjagaan di sini terlalu ketat untuk sekadar lahan kosong."

Benar saja, saat mereka mencapai koordinat yang tepat sebuah sudut terpencil di bawah pohon kamboja tua yang sudah kering Luna melihat sebuah batu nisan hitam polos tanpa nama. Namun, di bawah nisan itu, terdapat sebuah segel logam kecil dengan lambang yang membuat jantung Luna berhenti berdetak, Lambang Seraphine Global yang disilang dengan garis merah.

"Seseorang sudah menandai tempat ini," bisik Kevin sambil memeriksa sensor laser yang tersembunyi di balik semak. "Nona, mundur! Ini jebakan!"

BIP.

Suara sensor aktif. Tiba-tiba, lampu sorot raksasa menyala dari segala penjuru, membutakan mata mereka. Suara deru mesin mobil-mobil hitam mengepung area pemakaman yang sunyi itu.

Sesosok pria muda, berpakaian kasual namun memancarkan aura otoritas yang dingin, keluar dari salah satu mobil. Itu adalah Rama Baskoro, putra mahkota Grup Arwana sekaligus teman masa kecil Luna yang dulu pernah berjanji akan melindunginya.

"Aluna," suara Rama terdengar berat, tanpa ada nada hangat di dalamnya. "Kamu seharusnya tetap di Eropa. Jakarta bukan lagi tempat bermain untuk gadis kecil yang melarikan diri. Makam itu... adalah rahasia yang bahkan ayahmu lebih memilih mati daripada mengungkapnya."

Luna berdiri tegak, tidak gentar oleh todongan senjata dari anak buah Rama. "Kalau begitu, biarkan aku melihat isinya. Jika Ayah mengubur rahasia itu di sini, maka itu adalah warisanku, bukan milik keluargamu."

Rama berjalan mendekat, hingga jarak mereka hanya satu meter. "Warisan itu bukan uang, Luna. Itu adalah daftar nama. Nama-nama pengkhianat di balik peristiwa sepuluh tahun lalu yang melibatkan ayahmu, ibumu, dan... kehancuran ekonomi negara ini. Jika makam ini dibuka, Jakarta akan terbakar."

"Biarkan ia terbakar," balas Luna dingin. "Aku sudah membakar Zurich, dan aku tidak keberatan melakukan hal yang sama pada kota ini."

Dalam keheningan yang mencekam, Xavier bergerak secepat kilat, melumpuhkan dua pengawal terdekat Rama dalam satu gerakan terukur. Kekacauan pecah. Di tengah baku tembak yang terjadi di antara nisan-nisan tua, Luna berlutut dan mulai menggali tanah di depan nisan tanpa nama itu dengan tangannya sendiri.

Jarinya menyentuh sesuatu yang keras. Sebuah kotak titanium.

Saat Luna berhasil mengangkat kotak itu, sebuah peluru melesat menyerempet bahunya. Ia terjatuh, namun tangannya tetap memeluk kotak itu erat. Rama menatapnya dengan pandangan antara kasihan dan kemarahan.

"Kamu telah membuka kotak Pandora, Luna," teriak Rama di tengah suara sirine polisi yang mulai mendekat. "Sekarang, bukan hanya The Council yang memburumu. Tapi seluruh orang berkuasa di negeri ini."

Luna bangkit, darah mengalir di bahunya, namun matanya berkilat penuh kemenangan. "Biarkan mereka datang. Aku ingin melihat siapa lagi yang berani berdiri di depanku.

Belum sempat Luna membuka kotak titanium itu di tempat yang aman, iring-iringan kendaraan taktis Brimob sudah memblokir jalan keluar dari area pemakaman. Namun, yang keluar bukan polisi biasa. Seorang pria dengan setelan safari rapi dan rambut kelabu yang disisir klimis melangkah maju.

Dia adalah Jenderal (Purn.) Wirawan, Menteri Koordinator Bidang Keamanan yang dikenal sebagai "Tangan Besi" di balik stabilitas Jakarta.

"Nona Aluna von Hess," suara Wirawan berat dan berwibawa, menggema di antara nisan-nisan. "Anda membawa barang yang merupakan aset negara yang sangat sensitif. Saya sarankan Anda menyerahkannya sekarang sebelum ini berubah menjadi insiden internasional yang memalukan."

Xavier menaruh tubuhnya di depan Luna, senjatanya masih terarah pada anak buah Wirawan. "Dia warga negara yang sah, Jenderal. Dan itu adalah barang pribadi peninggalan ayahnya."

Wirawan tertawa kecil, suara yang dingin. "Di tanah ini, apa yang dikubur di bawah tanah milik negara adalah urusan saya. Adrian von Hess bukan sekadar pengusaha; dia adalah arsitek dari sistem yang kita gunakan sekarang. Isi kotak itu bisa meruntuhkan bursa saham dalam satu malam."

Luna melangkah maju, memeluk kotak titanium itu dengan satu tangan sementara tangannya yang lain yang bersimbah darah menunjuk ke arah Wirawan. "Jika kotak ini begitu kuat hingga membuat seorang Jenderal turun ke kuburan tengah malam, maka saya baru saja menyadari betapa berharganya barang ini.

Anda tidak akan mendapatkannya di sini, di bawah todongan senjata. Jika Anda ingin ini, kita bicara di meja perundingan, bukan di tempat pembuangan mayat."

Dengan pengawalan ketat yang lebih mirip penangkapan halus, Luna dibawa ke sebuah safe house milik pemerintah di pinggiran Jakarta, sementara Xavier dan Kevin dipisahkan di ruangan berbeda. Namun, Luna cerdik, ia telah menukar kotak asli dengan kotak tiruan di dalam mobil saat kekacauan di makam tadi, berkat kecepatan tangan Kevin.

Di dalam ruangan kedap suara, Luna membuka kotak titanium yang asli menggunakan liontin kunci yang selama ini ia pakai bukan kunci fisik, melainkan chip enkripsi yang disembunyikan di dalam liontin tersebut.

Klik.

Kotak itu terbuka. Tidak ada tumpukan uang atau dokumen kertas. Di dalamnya terdapat sebuah Hard Drive Militer dan sebuah foto lama yang sudah menguning. Foto itu memperlihatkan Adrian von Hess berdiri di depan sebuah laboratorium rahasia bersama dua orang lainnya, Hendrawan (pengacara yang menjemputnya) dan... Ibu Luna sendiri, Siti.

Luna terkesiap. Selama ini ia mengira ibunya hanyalah korban atau pelayan setia. Namun di foto itu, ibunya mengenakan jas lab dengan lencana senior.

Ia menyalakan laptop kecil yang dibawa secara sembunyi-sembunyi oleh Kevin sebelum mereka dipisahkan. Saat data terbaca, sebuah video otomatis terputar. Sosok Adrian muncul di layar, tampak lebih muda namun dengan mata yang penuh ketakutan.

"Aluna... jika kamu melihat ini, berarti sistem 'Garuda-Seraphine' telah diaktifkan. Aku tidak mati karena pengkhianatan Sophia saja. Aku memalsukan kematianku agar aku bisa menghilang ke dalam sistem ini. Aku adalah 'hantu' yang mengawasi aliran uang hitam di Asia Tenggara. Dan ibumu... dia adalah kunci enkripsinya. Carilah dia di tempat pertama kali kita bertemu, bukan di tempat dia dikuburkan."

Napas Luna tertahan. Ayahnya memalsukan kematian? Dan ibunya masih hidup?

Pintu ruangan terbuka kasar. Jenderal Wirawan masuk, diikuti oleh Rama Baskoro. Mereka melihat Luna yang terduduk lemas, namun kotak di depannya sudah kosong.

"Mana isinya, Luna?" tanya Rama dengan nada mendesak. "Kami tahu kamu sudah membukanya."

Luna mendongak, matanya kini berkilat dengan kecerdasan yang jauh lebih tajam dari sebelumnya. Ia menyadari bahwa Wirawan dan keluarga Baskoro bukan sedang melindungi negara, mereka sedang mencari cara untuk menghapus jejak kejahatan mereka yang tercatat di dalam sistem 'Garuda-Seraphine'.

"Kalian mencari data tentang 'Proyek Garuda', bukan?" Luna berdiri, melipat tangannya di dada. "Data itu sudah terkirim ke server cloud yang terenkripsi di Zurich. Jika dalam 24 jam saya tidak memasukkan kode verifikasi, seluruh daftar pejabat yang menerima suap dari Seraphine Global selama dua dekade terakhir akan rilis ke media internasional."

Wajah Wirawan memerah karena amarah, sementara Rama tampak terpukul.

"Kamu bermain api, Aluna," desis Wirawan.

"Saya sudah terbiasa dengan api, Jenderal. Di Zurich, saya membakar sebuah dinasti. Di Jakarta, saya tidak keberatan membakar seluruh sistem kalian jika itu berarti saya mendapatkan kembali orang tua saya," jawab Luna tenang. "Sekarang, beri tahu saya... di mana kalian menyembunyikan ibu saya?"

Keheningan menyelimuti ruangan. Rama menatap ayahnya, lalu kembali ke Luna. "Ibumu tidak disembunyikan oleh kami, Luna. Dia berada di bawah perlindungan 'Faksi Ketiga'. Kelompok yang bahkan lebih ditakuti oleh The Council maupun pemerintah."

Luna tersenyum tipis. "Kalau begitu, permainan baru saja dimulai."

Plot twist besar! Adrian mungkin masih hidup sebagai "hantu" digital, dan Ibu Luna ternyata seorang ilmuwan kunci!

1
azka aldric Pratama
hadir
Noirsz: hai kakak
total 1 replies
Noirsz
hihihi maafkan ya kakak🤭🤭
Panda
ada apa dengan nama dirgantara 😄

banyak yang pake ya nama itu di novel indo ..

titip jejak ya thor
Ayu Nur Indah Kusumastuti
😍😍 xavier
Ayu Nur Indah Kusumastuti
semangat author
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!