NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tak Seharusnya Ada

Cinta Yang Tak Seharusnya Ada

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Pengganti / Balas Dendam / Cinta setelah menikah
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: SunFlower

Setelah kematian istrinya, Nayla. Raka baru mengetahui kenyataan pahit. Wanita yang ia cintai ternyata bukan hidup sebatang kara tetapi ia dibuang oleh keluarganya karena dianggap lemah dan berpenyakitan. Sementara saudari kembarnya Naira, hidup bahagia dan penuh kasih yang tak pernah Nayla rasakan.
Ketika Naira mengalami kecelakaan dan kehilangan ingatannya, Raka melihat ini sebagai kesempatan untuk membalaskan dendam. ia ingin membalas derita sang istri dengan menjadikannya sebagai pengganti Nayla.
Namun perlahan, dendam itu berubah menjadi cinta..
Dan di antara kebohongan, rasa bersalah dan cinta yang terlarang, manakah yang akan Raka pilih?? menuntaskan dendamnya atau menyerah pada cinta yang tak seharusnya ada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunFlower, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#34

Happy Reading..

.

.

.

Sepulang dari kantornya, Raka bergegas memasuki rumah besar itu dengan langkah cepat. Jas kerjanya masih melekat rapi di tubuhnya, sementara di tangan kanannya menggenggam sebuah paper bag berwarna gelap dengan logo butik ternama. Wajahnya terlihat lelah, namun ada raut tekad yang jelas tergambar di sana. Tanpa berlama-lama, Raka langsung menoleh ke kanan dan kiri, mencari sosok yang sejak siang tadi mengisi pikirannya.

“Bi Sumi.” panggilnya ketika melihat sang pengasuh keluar dari arah dapur.

Bi Sumi menghentikan langkahnya. “Iya, Den?”

“Naira di mana?” tanya Raka to the point.

“Di kamar Jingga, Den. Sedari tadi menemani Jingga bermain.” jawab Bi Sumi sopan.

Raka menganggukkan kepalanya. “Terima kasih, Bi.”

Tanpa menunggu jawaban, Raka segera melangkah menuju kamar Jingga. Langkah kakinya terdengar tergesa di lorong rumah. Sesampainya di depan pintu, ia tidak mengetuk. Raka langsung memutar kenop dan membuka pintu kamar itu.

Di dalam, Naira tampak duduk di atas karpet empuk dengan Jingga yang sibuk menyusun balok warna-warni. Wajah Naira terlihat tenang, bahkan sesekali tersenyum kecil setiap kali Jingga tertawa bangga dengan hasil susunannya. Pemandangan itu membuat langkah Raka terhenti sejenak.

Mendengar suara pintu terbuka, Naira menoleh. Tatapannya langsung bertemu dengan mata Raka yang kini berdiri di ambang pintu. Tidak ada senyum di wajahnya, hanya ekspresi datar.

“Ada apa?” tanya Naira akhirnya, suaranya terdengar tenang.

Raka melangkah mendekat, lalu berhenti tepat di hadapan Naira. Ia menyodorkan paper bag yang sedari tadi ia bawa. “Aku ingin mengajak kamu pergi.” ucapnya singkat.

Naira melirik paper bag itu sekilas, lalu kembali menatap Raka dengan dahi sedikit berkerut. “Pergi ke mana?”

“Pesta.” jawab Raka. “Salah satu relasiku mengadakan acara malam ini.” Jelas Raka.

Naira terdiam beberapa detik. Ia melirik Jingga yang masih asyik bermain tanpa menyadari percakapan orang tuanya. “Apa aku harus ikut?” tanyanya kemudian, nada suaranya mengandung keraguan.

Raka menganggukkan kepalanya tanpa ragu. “Iya. Tidak mungkin aku datang sendirian. Kamu istriku.” Ucap Raka.

Jawaban itu membuat Naira menarik napas dalam. Ia menyandarkan punggungnya sedikit, seolah sedang menimbang sesuatu di dalam pikirannya. Bayangan harus berada di tengah keramaian, tersenyum pada orang-orang asing dan berdiri di sisi Raka bukanlah hal yang ia inginkan saat ini.

Namun pada akhirnya, Naira menghela napas panjang. “Baik.” ucapnya pelan. “Aku ikut.”

Raka menatapnya sesaat, lalu berkata singkat, “Siapkan dirimu. Kita berangkat satu jam lagi.”

Setelah itu, Raka berbalik dan melangkah keluar kamar, meninggalkan Naira yang masih duduk memandangi paper bag di tangannya. Di dalam hatinya, Naira tahu, kepergiannya malam ini bukan sekadar menghadiri pesta. Ada sesuatu yang akan terjadi dan ia belum siap sepenuhnya.

.

.

.

Raka tertegun begitu melihat Naira keluar dari kamar dengan balutan gaun yang dikenakannya malam itu. Langkahnya seolah tertahan, pandangannya tak lepas dari sosok perempuan di hadapannya. Ia memang pernah melihat Naira mengenakan gaun sebelumnya, namun entah mengapa kali ini terasa berbeda. Naira tampak jauh lebih anggun, elegan, dan memancarkan pesona yang sulit diabaikan. Gaun itu seakan dibuat khusus untuknya, menonjolkan kelembutan sekaligus ketegaran yang selama ini tersembunyi.

Naira menyadari tatapan Raka yang terlalu lama tertuju padanya. Ia berdehem pelan, berusaha menyembunyikan rasa gugup yang tiba-tiba menyeruak. “Kita.. jadi berangkat sekarang?” tanyanya hati-hati.

Raka tersentak seolah baru tersadar. Ia ikut berdehem, lalu menganggukkan kepalanya. “Iya. Kita berangkat sekarang.”

Sejujurnya, jantung Naira berdegup lebih cepat dari biasanya. Reaksi Raka barusan membuatnya merasa canggung sekaligus aneh. Ada perasaan asing yang sulit ia jelaskan, perasaan yang selama ini jarang ia rasakan, bahkan nyaris tidak pernah ia rasakan ketika bersama lelaki lain di masa lalunya.

Acara itu diadakan di salah satu hotel terbesar di Kota Surabaya. Perjalanan menuju lokasi memakan waktu hampir tiga puluh menit. Selama itu, suasana di dalam mobil terasa hening. Tidak ada percakapan, hanya suara mesin mobil dan sesekali lampu jalan yang berpendar masuk melalui kaca jendela. Naira menatap keluar, sementara Raka fokus pada jalan di depannya, meski pikirannya sama sekali tidak setenang wajahnya.

Setibanya di hotel, Raka memarkirkan mobil dengan rapi. Ia turun lebih dulu, menutup pintu lalu berjalan sedikit berlari memutari mobil untuk membukakan pintu di sisi Naira. Naira menatap Raka sejenak sebelum menerima uluran tangannya.

“Terima kasih.” ucap Naira pelan sambil menggenggam tangan Raka.

Raka mengangguk singkat. Namun, alih-alih segera melepaskan, ia justru tetap menggenggam tangan Naira. Ketika Naira hendak menarik tangannya, Raka berkata dengan nada rendah. “Biarkan saja seperti ini.”

Naira terdiam. Pada akhirnya, ia memilih menuruti. Mereka pun berjalan berdampingan memasuki gedung hotel. Begitu melangkah masuk ke dalam ruang acara, Naira bisa merasakan banyak pasang mata tertuju padanya. Tatapan-tatapan itu membuatnya tidak nyaman. Secara refleks, ia meremat tangan Raka lebih erat.

Raka merasakan perubahan itu. Ia menepuk pelan punggung tangan Naira dengan ibu jarinya. “Tenanglah..” ucapnya lirih. “Kamu tidak perlu takut. Ada aku di sini.”

Kata-kata itu sederhana, namun cukup untuk membuat dada Naira terasa menghangat. Ingatannya sejenak melayang pada masa lalu, pada Arvino. Lelaki itu tidak pernah memberinya rasa aman. Setiap kali berada di tempat ramai, Arvino justru mudah marah bahkan tidak segan meninggalkannya sendirian di tengah kerumunan. Perbandingan itu membuat Naira tanpa sadar semakin menggenggam tangan Raka.

Selama acara berlangsung, Raka benar-benar tidak melepaskan genggaman tangannya. Ia mengenalkan Naira kepada beberapa rekan bisnisnya dengan sikap yang tenang dan penuh wibawa. Naira hanya tersenyum tipis dan mengangguk seperlunya, berusaha tetap berdiri tegak meski hatinya masih berdebar.

Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.

Tiba-tiba terdengar suara seseorang menegur dari belakang. “Naira?”

Tubuh Raka menegang seketika. Naira juga merasakannya. Mereka berdua tidak langsung menoleh, seolah berharap suara itu hanyalah perasaannya saja. Namun langkah kaki yang mendekat dan aura yang begitu dikenalnya membuat Naira menelan ludah dengan susah payah.

“Naira.” ulang suara itu, kali ini lebih dekat dan lebih tajam.

Sebelum Naira sempat bereaksi, sebuah tangan menarik paksa lengannya. Tarikan itu begitu keras hingga tubuh Naira hampir terjatuh jika saja Raka tidak segera menahan pinggangnya.

“Apa yang kamu lakukan?” bentak Arvino dengan nada tinggi.

Naira membulatkan matanya, napasnya tercekat. Tubuhnya bergetar, bukan karena dinginnya ruangan, melainkan karena trauma yang kembali menyeruak. Raka langsung berdiri di depan Naira, menghadang Arvino dengan wajah mengeras.

“Lepaskan tanganmu.” ucap Raka dingin, penuh tekanan.

Arvino menatap Raka dengan senyum mengejek. “Dia milikku.”

Ucapan itu membuat genggaman Raka semakin menguat. "Dia istriku.” balas Raka tegas, tanpa sedikit pun keraguan.

Naira berdiri di belakang Raka, jari-jarinya mencengkeram jas lelaki itu erat-erat.

Avino semakin kesal melihat tingkah Naira. "Kamu harus ikut aku. Jika tidak aku akan memberi tahu om Rico bahwa kamu ada disini. Kamu pasti tahu apa yang akan dilakukan om Rico kepadamu kan?" Ancam Arvino.

"Aku Nayla. Kamu salah orang..."

"Kamu tidak bisa membohongi aku.." Potong Arvino.

"Aku sudah bilang, dia istriku." Ulang Raka penuh penekanan sambil menggenggam tangan Arvino yang berusaha meraih tangan Naira. "Kita pulang." Ucap Raka sambil menepis tangan arvino lalu beralih meraih tangan Naira.

.

.

.

Jangan Lupa Tinggalkan Jejak..

1
Tutuk Isnawati
cinta tp genngsi😍
Tutuk Isnawati
ayo raka jujur klo dah cinta naura🤭
Tutuk Isnawati
trnyata bapakny naira yg kejam disini gila harta dan kuasa
Tutuk Isnawati
naira trauma y sring d siksa
Tutuk Isnawati
itu ayah kandung bukan sih kok teganya nyiksa ank nya. semoga raka dengerin pas naura cerita
Tutuk Isnawati
knpa g cba trima raka aja nau dia lelaki baik drpd mntn mu itu
Tutuk Isnawati
👍👍
Tutuk Isnawati
kasihan jingga
Tutuk Isnawati
berarti dua2 emg krg perhatian dan kasih sayang ortu pa jgn2 mreka bkn ank kndung
Tutuk Isnawati
iya bwa pergi aja kyanya tunangan nya nai jg jahat
chochoball: padahal raka juga jahat lohhh
total 1 replies
Tutuk Isnawati
semangat thor.
Tutuk Isnawati
trus hamil ank siapa dong naira
chochoball: Hayoooo anak siapa?
total 1 replies
Tutuk Isnawati
semangat thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!