~Karya Original~
[Kolaborasi dari dua Author/BigMan and BaldMan]
[Update setiap hari]
Sebuah ramalan kuno mulai berbisik di antara mereka yang masih berani berharap. Ramalan yang menyebutkan bahwa di masa depan, akan lahir seorang pendekar dengan kekuatan yang tak pernah ada sebelumnya—seseorang yang mampu melampaui batas ketiga klan, menyatukan kekuatan mereka, dan mengakhiri kekuasaan Anzai Sang Tirani.
Anzai, yang tidak mengabaikan firasat buruk sekecil apa pun, mengerahkan pasukannya untuk memburu setiap anak berbakat, memastikan ramalan itu tak pernah menjadi kenyataan. Desa-desa terbakar, keluarga-keluarga hancur, dan darah terus mengalir di tanah yang telah lama ternodai oleh peperangan.
Di tengah kekacauan itu, seorang anak lelaki terlahir dengan kemampuan yang unik. Ia tumbuh dalam bayang-bayang kehancuran, tanpa mengetahui takdir besar yang menantinya. Namun, saat dunia menjerumuskan dirinya ke dalam jurang keputusasaan, ia harus memilih: tetap bersembunyi/melawan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BigMan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31 - Kegaduhan di Desa: Bagian 3
Abirama berjalan perlahan di sepanjang jalan utama desa, tangannya terlipat di balik lengan baju panjangnya. Mata tajamnya menyapu sekeliling, memastikan tak ada tanda-tanda bahaya.
Lalu, ia melihatnya.
Seorang pria berdiri di depan salah satu gerobak pedagang, mengawasi sekeliling dengan sorot mata seorang pejuang yang terbiasa hidup di ambang bahaya.
Sosok pria itu tinggi dengan bahu kekar, mantel panjang berkibar terkena angin, dan bekas luka samar di pelipisnya.
Tsumaki berdiri di sampingnya, berbicara pelan. Pria itu hanya mendengarkan tanpa banyak bicara, tetapi sesekali matanya melirik ke arah Abirama—lirikan yang tidak biasa.
Abirama tetap berjalan dengan tenang, namun seluruh indranya siaga.
Saat keduanya berpapasan, pria itu tiba-tiba berhenti dan menoleh.
“Permisi,” suaranya berat, tetapi nada bicaranya terdengar ramah. “Aku baru saja mampir ke desa ini bersama anakku. Aku sedang mencari rumah kepala desa. Bisa kau tunjukkan arahnya?”
Abirama tetap diam sejenak. Tatapan pria itu tidak seperti orang yang benar-benar kebingungan. Ada sesuatu di balik matanya—sesuatu yang menilai.
Namun, Abirama tidak menunjukkan perubahan ekspresi. Ia hanya mengangkat tangan dan menunjuk ke arah barat. “Ikuti jalan ini, lalu belok kanan setelah jembatan. Rumah kepala desa ada di ujung jalan.”
Pria itu menyipitkan mata sesaat, lalu tersenyum tipis. “Begitu ya… Terima kasih.”
Namun, ia tidak langsung pergi. Ia berdiri beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya, seolah ingin merasakan sesuatu.
Angin berhembus pelan, dan dalam keheningan itu, kedua pria ini saling mengukur satu sama lain tanpa perlu kata-kata.
Akhirnya, pria itu mengangguk kecil. “Kau penduduk desa ini?”
Abirama mengangguk. “Ya.”
Pria itu tersenyum samar, lalu melangkah pergi, diikuti oleh Tsumaki. Namun sebelum benar-benar menjauh, ia berhenti sejenak dan menoleh.
"Namaku Raito."
Abirama tidak menjawab.
Raito menghela napas kecil, lalu berkata, “Aku merasa… kita mungkin akan bertemu lagi.”
Lalu, ia melanjutkan langkahnya, menghilang di antara keramaian desa.
Abirama tetap berdiri di tempatnya, menatap punggung pria itu menjauh.
Langkah Raito dan Tsumaki perlahan menghilang di antara keramaian desa. Abirama masih berdiri diam, matanya sedikit menyipit.
Lalu, suara langkah lain mendekat.
Kouji muncul dari arah lain, bersedekap dengan ekspresi penuh selidik. “Siapa dia?”
Abirama tidak langsung menjawab. Ia melirik ke arah Raito yang sudah hampir melewati jembatan, lalu dengan gerakan kecil jari, ia memberi isyarat kepada Kouji.
“Orangnya.”
Kouji mengangkat alis, lalu menoleh ke arah yang dimaksud. Seketika wajahnya menegang. “Jadi mereka akhirnya menunjukkan diri.”
Abirama melangkah pelan, tatapannya tetap pada sosok Raito. “Bisa jadi salah satu dari mereka… atau mungkin lebih dari itu.”
Kouji mendecakkan lidah. “Apa yang kau lihat?”
Abirama diam sejenak sebelum menjawab dengan suara rendah. “Dia berbeda dari orang-orang di kedai kemarin. Gerakannya terlalu terkendali, terlalu tenang. Ia memeriksa sesuatu, bukan hanya mencari jalan.”
Kouji mengepalkan tangan. “Jadi apa rencanamu?”
Abirama menatapnya sebentar, lalu berujar, “Aku akan mengikutinya.”
Kouji mengerutkan kening. “Sendirian?”
“Lebih baik begitu.”
Kouji mendengus. “Dan aku?”
Abirama menatapnya dengan tajam. “Jaga desa. Jangan buat mereka sadar kalau kita waspada.”
Kouji mendengus kecil, tetapi kemudian mengangguk. “Baiklah… Tapi kalau kau butuh bantuan—”
“Aku akan mengatasinya.” Potong Abirama, nadanya begitu tegas dan penuh keyakinan.
Kouji tidak membantah lagi. Ia hanya menatap punggung Abirama yang mulai bergerak, tubuhnya melebur dengan bayangan di antara keramaian.
Dan seperti hantu yang tak terlihat, Abirama mulai membuntuti Raito—langkahnya nyaris tak bersuara.
Raito yang semula tampak hendak menuju rumah kepala desa, justru berbelok—diam-diam dan penuh perhitungan. Ia mengambil jalur kecil menuju sisi barat desa, jalan setapak yang menuju hutan.
Abirama tetap mengikutinya, menyatu dengan bayang-bayang pohon, tak membiarkan sedikit pun suara dedaunan mengkhianatinya.
Namun, begitu mereka memasuki kerapatan hutan, Raito perlahan berhenti. Ia memutar tubuhnya sedikit, tak terburu-buru, seolah berbicara kepada angin pagi.
“Aku tahu kau akan menyadarinya,” katanya ringan, tanpa melihat ke belakang.
Abirama diam, tak bergerak dari balik pohon. Matanya menyipit.
Raito menoleh setengah, senyum tipis tergurat di wajahnya. “Keberadaan mu nyaris tak terdeteksi… Pendekar biasa mungkin takkan menyadarinya bahkan bila kau berdiri di belakang mereka.”
Keheningan menyelimuti beberapa detik, sebelum akhirnya Abirama melangkah keluar dari persembunyiannya, perlahan namun pasti.
Abirama mendekat, masih menjaga jarak. “Apa yang kau lakukan di desa ini?”
Raito membalas tatapannya, tenang. “Hanya lewat... dan mengamati.”
“Jangan main-main.”
Raito menyeringai kecil. “Aku serius. Tapi kalau kau ingin jawaban lebih lengkap… bersabarlah.” Ia memalingkan pandangan ke arah pepohonan.
“Nanti malam… kita akan bertemu lagi. Dengan cara yang lebih terbuka." Lanjutnya, dengan nada yang santai.
Namun Abirama tak menanggapi dengan tenang. Ia tetap diam sejenak, membiarkan angin berembus di antara mereka. Lalu, perlahan, tangannya terangkat.
Suara gesekan kain.
Dari balik jubahnya, Abirama mengeluarkan sebuah pedang pendek yang ia sembunyikan. Pedang berbilah hitam pekat terhunus. Cahaya pagi memantulkan siluet tajam di sepanjang mata pedang itu.
“Aku tidak akan membiarkan itu terjadi,” ujar Abirama dingin.
Seketika, suasana berubah. Hawa di sekitar mereka menegang, seolah udara menjadi lebih berat.
Raito tetap tersenyum, tapi tatapannya sedikit berubah. Sejenak, ia hanya menatap Abirama, membiarkan sunyi di antara mereka berbicara.
Lalu—
Dari bayang-bayang pepohonan, delapan sosok muncul serempak. Mereka bergerak cepat, tapi bukan tanpa perhitungan.
Masing-masing mengenakan pakaian yang dirancang untuk bertarung, senjata tergenggam di tangan mereka.
Namun Abirama tetap diam, tak sedikit pun gentar.
Raito menelusuri wajah pria di depannya, matanya sedikit menyipit. Ada sesuatu dari Abirama yang terasa… aneh. Aura yang memancar darinya berbeda dari pendekar biasa—sangat kuat.
“Menarik…” gumam Raito pelan, lebih kepada dirinya sendiri.
Abirama tak bergerak, tapi sorot matanya berbicara banyak. Ia sudah mengetahui kehadiran mereka sejak awal. Delapan orang di sekelilingnya bukan kejutan baginya.
Salah satu pendekar di antara mereka menegang, merasakan tekanan yang mendadak muncul.
“Jangan gegabah,” kata Raito, mengangkat satu tangan sebagai isyarat. “Dia bukan lawan yang bisa diremehkan.”
Abirama tetap tak berbicara.
Raito akhirnya menghela napas, lalu ia mengangkat tangannya kembali dan menjentikkan jarinya—memberikan isyarat kepada kelompoknya untuk mundur.
Anggotanya merespon. Masih menatap Abirama waspada, tapi perlahan, mereka mulai mundur satu per satu, mengikuti isyarat pemimpinnya.
Namun, Abirama tidak membiarkan itu terjadi. Ia tidak ingin membiarkan sesuatu yang dapat mengancam desanya pergi begitu saja.
Langkah Raito baru berbalik dua kali saat suara "shuff!" tajam terdengar dari belakangnya.
Abirama sudah bergerak.
Bagaikan bayangan yang melesat menembus celah pepohonan, tubuhnya menghilang dari tempat semula dan dalam sekejap—
“Kau pikir bisa pergi begitu saja?” ucapnya dingin tepat di belakang Raito.
Clang!
Raito nyaris tak sempat bereaksi saat pedang Abirama menghantam udara hanya beberapa inci dari lehernya. Ia memiringkan tubuh ke samping, lalu melompat mundur—
"Tsumaki, mundur!!!" Teriak Raito, memerintahkan anaknya untuk menjauh.
Merespon keadaan itu, kedelapan anggotanya seketika kembali berbalik.
Salah satu dari mereka mencoba mengamankan Tsumaki, dan yang lain bergabung ke dalam pertempuran.
1. Disiplin >> Lulus.
2. .... ?
Lanjut thoorr!!! /Determined//Determined/