Nona ketiga Xiao Xinyi di paksa menikahi Adipati Ling Yun menggantikan kakak tertuanya yang terus berusaha untuk mengakhiri hidupnya.
Siapa yang tidak tahu jika Adipati Ling Yun selalu berselisih dengan Tuan besar Xiao. Dua keluarga besar yang saling bertentangan itu di anugerahi pernikahan Kaisar Jing Hao.
Bersedia ataupun tidak salah satu wanita dari kediaman Xiao harus menikah menjadi Nyonya utama kediaman Adipati Ling Yun. Intrik dalam pernikahan yang berlandaskan politik menjadikan Nona ketiga Xiao Xinyi harus membuat rencana untuk dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan yang di rindukan
~Setelah waktu yang di tentukan berakhir. Tuan Xiao Tang di berikan hukuman penggal di alun-alun Ibu Kota. Di saksikan semua warga kota yang ingin melihat jalannya eksekusi. Dari arah kerumunan pria itu melihat putri pertamanya dan putri keduanya ada di antara kerumunan orang-orang. Dia hanya tersenyum tipis menatap kedua putrinya. Di saat itu juga hati dingin Tuan Xiao Tang merasakan perasaan bersalah yang teramat dalam. Namun semua sudah terjadi. Takdir yang sudah terlewati tidak mungkin dapat di ulang kembali. Tepat sebelum kapak menghantam lehernya air matanya menetes.~
Di masa kehamilannya, Xiao Xinyi menjadi sangat di manja. Genap sepuluh bulan Xiao Xinyi melahirkan putra kecilnya yang telah di beri nama Ling Hao Jun. Cucu kecil keluarga Ling membawa banyak kebahagiaan untuk seluruh keluarga.
Di saat Ling Hao Jun berusia dua bulan. Tuan besar Ling harus menggantikan putranya untuk pergi ke perbatasan. Karena dia tidak ingin cucu kecilnya menjadi kekurangan kasih sayang seorang ayah. Dia mengambil kesempatan untuk meruntuhkan negara musuh. Baru setelah Ling Hao Jun berusia lima tahun Adipati Ling Yun bersama istrinya melakukan perjalanan ke perbatasan ikut membantu dalam mengatasi perang.
Nyonya besar Ling dan Nyonya utama Ling juga ikut serta dalam perjalanan.
Xiao Xinyi memiliki alasan lain datang ke perbatasan timur. Dia ingin sekali saja selama hidupnya melihat wajah Ayah kandungnya. Meskipun Ayahnya tidak sadar akan kedatangannya.
Perjalanan membutuhkan waktu lebih dari dua bulan. Saat sampai di kediaman pribadi yang telah di siapkan Tuan besar Ling. Mereka langsung menata barang bawaan untuk masuk kedalam kediaman.
"Kalian akan pergi kebarak militer?" Nyonya utama Ling menatap hangat kearah menantunya juga putranya. Di dalam gendongannya masih ada cucunya yang tertidur sangat lelap.
"Ibu, kami harus segera berangkat. Sebelum pria itu lepas dari genggaman Ayah," ujar Adipati Ling Yun.
Nyonya besar Ling berjalan dengan tongkat kayunya. "Cepatlah pergi. Xinyi pasti sudah merindukannya." Menatap lembut kearah cucu menantunya.
"Baik." Adipati Ling Yun menarik tangan istrinya dengan lembut mengajaknya untuk segera keluar dari kediaman. Mereka menaiki satu kuda, "Ciahh..." Kuda di pacu sangat kencang menembus kota perbatasan. Sekitar tiga jam dari kediaman pribadi Ling. Barak militer berdiri dengan penjagaan sangat ketat. Adipati Ling Yun mengeluarkan plakat resmi agar dapat masuk kedalam barak.
"Adipati, Nyonya muda. Jenderal besar sudah menunggu," ujar salah satu prajurit yang telah menunggu kedatangan mereka.
Mereka berdua turun dari kuda di arahkan kesalah satu lapangan besar. Di ujung lapangan Tuan besar Ling duduk tenang. Di sampingnya ada pria empat puluh lima tahunan terikat kuat tali kekang.
"Ling Zhi, kita sudah bertarung selama puluhan tahun. Tapi sekarang kamu bahkan berani menculikku dan menginjak harga diriku. Kamu sangat menjijikkan tidak mau bertarung secara Terang-terangan." Pria yang masih terikat hanya bisa memaki tanpa henti.
Tuan besar Ling Zhi duduk santai menikmati teh hangat juga kacang gorengnya. "Apa maksudmu menculik? Aku hanya mengundang mu untuk menikmati matahari pagi." Menyodorkan kacang gorong kearah pria di sampingnya.
"Huh..." Mendengus kesal. "Apa ini yang kamu katakan mengundang? Tali ini bahkan memiliki ikatan mati." Berusaha memberontak tapi tali yang mengikat tubuhnya terlalu kuat. "Aku datang untuk melakukan perdamaian. Tapi kamu justru menghina harga diri ku. Setelah lepas aku pasti akan meruntuhkan negara mu."
Tuan besar Ling mengerutkan alisnya menatap kearah pria di sampingnya. "Sangat beda. Beda jauh. Tidak bisa di samakan. Mungkin informasi yang di berikan salah." Menggelengkan kepalanya dengan tatapan tidak yakin. Sifat pria di sampingnya terlalu serampangan.
Pria itu menatap tajam. "Apa? Kita bertarung sekarang. Aku pasti akan mematahkan kedua kaki mu."
Adipati Ling Yun mendekat bersama istrinya. "Ayah." Memberikan salam.
"Ayah mertua." Xiao Xinyi juga memberikan salamnya. Setelah beberapa detik pandangan matanya jatuh pada pria yang ada tepat di samping Ayah mertuanya. Senyuman hangat itu menyiratkan kerinduan yang sangat dalam.
Panglima perang Gui Jingguo menetap diam gadis cantik yang sangat mirip dengan mendiang istrinya. Gadis di depannya memiliki mata yang indah tatapan itu sangat mirip bahkan tidak ada perbedaan. Hatinya mulai bergetar. Namun semua perasaan itu tidak mungkin terjadi. Istrinya telah meninggal saat kerusuhan puluhan tahun silam. Saat dirinya tengah berada di medan perang. Dia tidak bisa menemukan jasadnya yang telah ia cari selama sisa hidupnya.
Saat air mata Xiao Xinyi akan jatuh. Gadis itu langsung memalingkan wajahnya. Dia menggenggam kuat tangan suaminya dengan bergetar. Tangannya mengusap air mata yang samakin tidak bisa di hentikan. Mulutnya seakan terkunci rapat saat melihat ayah kandungnya. Ada perasaan takut di dalam lubuk hatinya. Takut Ayahnya kandungnya tidak mengakui dirinya sebagai putri kandungnya.
"Tidak apa-apa. Jika dia tidak menerima kenyataan. Aku akan menyerahkannya kepada Yang Mulia sebagai tawanan perang," ujar Adipati Ling Yun berusaha menguatkan istrinya.
Tuan besar Ling bangkit dari tempat duduknya. Dia menatap tidak tega kearah menantu perempuannya. "Xinyi, jika kamu tidak bisa mengatakannya. Ayah bisa melakukannya untuk mu. Jangan khawatir, pedang ku siap menjadi pijakan untuk membalaskan kesedihan mu."
Panglima perang Gui Jingguo mantap aneh dengan situasi yang berbeda dari bayangannya. Dia bangkit dari tempat duduknya menatap gadis di depannya.
Xiao Xinyi memantapkan hatinya, "Ayah. Aku putri kandung mu. Ibu ku bernama Ming Qinru putri menteri kiri dari negara Huang yang saat ini telah menjadi negara Wencheng." Suaranya bergetar. Dia memperlihatkan lukisan Ibunya yang telah ia dapatkan dari kediaman Xiao. Untung saja lukisan itu masih ada dan tersimpan dengan sangat baik di dalam ruangan Tuan Xiao Tang.
Lukisan di perlihatkan.
"Qinru?" Panglima perang Gui Jingguo menatap kearah gadis yang baru saja mengatakan jika dia Putrinya.
Adipati Ling Yun memeluk erat tubuh istrinya.
"Apa yang kalian lihat. Cepat lepaskan ikatan ini. Aku ingin melihat putri ku," ujar Panglima perang Gui Jingguo tidak sabar.
"Oh... Iya." Tuan besar Ling langsung melepaskan ikatan tali mati dengan pisau yang telah ia siapkan di balik bajunya.
Semua ikatan di lepas. Panglima perang Gui Jingguo mendekat kearah putrinya. "Kamu putri ku? Putri ku dengan Qinru?"
Xiao Xinyi mengangguk yakin.
Pria itu langsung menarik tubuh Xiao Xinyi kedalam pelukannya. "Putri ku. Maafkan Ayah karena tidak pernah berusaha mencari kalian berdua. Ibu mu, bagaimana dengan Ibu mu?" Melepaskan pelukannya.
"Ibu sudah tiada."
Mendengar itu hati Panglima perang Gui Jingguo merasakan sakit dan perasaan bersalah yang teramat dalam.
"Ayah."
"Eyy... Putri ku," Mengelus lembut wajah Putrinya.
"Apa ayah bersedia berkunjung di kediaman keluarga Ling? Aku ingin memperkenalkan putra ku," ujar Xiao Xinyi.
"Aku sudah menjadi seorang Kakek?" Pria itu semakin bahagia mendengar jika dirinya telah menjadi seorang kakek.
Tuan besar Ling merangkul pundak lawannya itu. "Besan, apa kamu tetap akan mematahkan kedua kaki ku?"
Panglima perang Gui Jingguo tersenyum, "Apa aku pernah mengatakan hal itu? Hahahh... kita berdua adalah keluarga. Tidak perlu lagi terlalu kaku." Melirik kearah putrinya. Dia tentu tidak ingin citra dirinya tercoreng di depan putrinya. "Kamu pasti menantu ku. Baik sangat baik, tubuh penuh kekuatan. Wajah tampan juga perhatian."
"Keluarga Ling terbuka lebar untuk kedatangan Ayah mertua," ujar Adipati Ling Yun memberikan penyambutan.
"Tunggu apa lagi? Ayo... Aku ingin segera menggendong cucu kecil ku." Panglima besar Gui Jingguo terlihat sangat antusias. Dia menarik tubuh Tuan besar Ling untuk menunjukkan jalan.
Xiao Xinyi menatap hangat kearah suaminya. Tatapan matanya di sambut senyuman indah suaminya. "Kita juga harus kembali."
Adipati Ling Yun mengangguk setuju. "Iya."
Sehat selalu banyak rezeky nya yaaa biar lancar bikin cerita baru sm rajin up nya🥰😘❤