Maxwell, Daniel, Edric dan Vernon adalah keempat CEO yang suka menghambur - hamburkan uang demi mendapatkan kesenangan duniawi.
Bagi mereka uang bisa membuat mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan bahkan seorang wanita sekalipun akan bertekuk lutut di hadapan mereka berempat demi mendapatkan beberapa lembar uang.
Sampai suatu hari Maxwell yang bertemu dengan mantan calon istrinya, Daniel yang bertemu dengan dokter hewan, Edric yang bertemu dengan dokter yang bekerja di salah satu rumah sakitnya, dan Vernon yang bertemu dengan adik Maxwell yang seorang pramugari.
Harga diri keempat CEO merasa di rendahkan saat keempat wanita tersebut menolak secara terang terangan perasaan mereka.
Mau tidak mau Maxwell, Daniel, Edric dan Vernon melakukan rencana licik agar wanita incaran mereka masuk ke dalam kehidupan mereka berempat.
Tanpa tahu jika keempat wanita tersebut memang sengaja mendekati dan menargetkan mereka sejak awal, dan membuat keempat CEO tersebut menjadi budak cinta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon si_orion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 34
Dengan petunjuk dari anak buahnya yang dia perintahkan untuk mencari Olivia, Vernon sekarang tengah mengendarai mobilnya menuju lokası dimana Olivia berada.
Nafasnya berhembus lega saat melihat sang istri yang sedang duduk dikedai es krim depan rumah sakit. Setelah memarkirkan mobilnya dipinggir Jalan, Vernon segera menghampiri Olivia yang tampak asyik menikmati es krim coklat besar itu.
"Olivia Harvey."
Olivia lantas menoleh saat suara sang suami menyapa indera pendengarannya. Dengan dengusan sebal, Olivia kembali melahap es krimnya tanpa memedulikan kehadiran Vernon.
"Kau kemana saja astaga? Aku mencarimu kemana-mana, aku khawatir sungguh." omel Vernon duduk disamping Olivia.
"Kau tenang saja tuan Harvey yang terhormat. Bayimu aman bersamaku, dan kau bebas melakukan apapun dengan para wanita diluaran sana." jawab Olivia.
"Hei, apa yang kau bicarakan? Aku tidak bermain wanita." bantah Vernon.
Dengan wajah masam, Olivia melemparkan sendok es krimnya dan memilih pergi dari sana. Moodnya seketika memburuk saat melihat Vernon, apalagi jika mengingat perbuatan pria itu kemarin.
"Kau mau kemana?" Vernon menghentikan Olivia yang hendak pergi dari kedai es krim itu.
"Kemana pun bukan urusanmu, lebih baik kau pergi sana bermain bersama para wanitamu itu!" Olivia menepis lengan Vernon lalu melanjutkan langkahnya.
Vernon tak menyerah begitu saja, dia tetap mengikuti istrinya. Dia tak mungkin membiarkan wanita yang sedang hamil anaknya itu pergi sendirian. Sudah cukup kelabakan kemarin Vernon mencari Olivia saat anak buahnya mengabarkan istrinya itu kabur dari rumah.
Vernon bahkan hampir menghabisi asistennya yang telah membuat Olivia salah paham. Vernon membatalkan janji dengan koleganya dan memilih kembali pulang setelah mendapat kabar kaburnya Olivia.
Dia tidak bermain dengan pramugari itu, sungguh Vernon jujur ketika mengatakan pada Maxwell bahwa dia tidak bermain wanita lagi sejak bersama Olivia. Vernon kini hanya menyentuh istrinya saja, tidak ada lagi wanita lain, hanya Olivia satu-satunya.
"Berhenti mengikuti ku!! Atau aku akan berteriak bahwa kau adalah penguntit!" ancam Olivia yang mulai risih terus dibuntuti oleh Vernon.
Namun Vernon tak peduli itu. "Silakan, tak akan ada yang berani menangkapku, sayang."
"Pulanglah, kasihan anakku kau ajak jalan terus." lanjut Vernon tapi Olivia tak memedulikan itu.
"Olivia Harvey?!" panggil Vernon.
"Olivia Harvey?!" panggil Vernon kedua kalinya tapi tetap tak ada gubrisan dari sang pemilik nama.
"Olivia Harvey?!" Oke ini yang ketiga jadi Vernon tak bisa mentolerir lagi.
"Yak! Apa yang kau lakukan?! Turunkan aku!" Olivia berontak memukuli dada Vernon ketika pria itu menggendongnya dihadapan umum.
"Berhenti berontak atau kau akan jatuh, dan bayi kita akan terluka." Vernon berkata dengan nada yang rendah membuat Olivia seketika terdiam.
Dia menunduk malu menyembunyikan wajahnya dibahu Vernon. Sedangkan pria itu tampak cuek dan bodo amat dengan bisikan orang-orang disekitarnya. Dia tetap berjalan santai menggendong istrinya menuju tempat dimana dia memarkirkan mobilnya.
"Kau sungguh membuatku malu." bisik Olivia.
Wanita itu terus cemberut sepanjang perjalanan mereka menuju Penthouse, dia tetap diam saat Vernon tanya atau ajak bicara. Dia bahkan tak mau menatap Vernon yang sedang mengemudi disampingnya.
Vernon sudah menjelaskannya pada Olivia, tapi dia tetap tak mau percaya. Olivia sudah terlanjur marah dan kecewa sehingga apapun yang Vernon jelaskan, Olivia tak mudah untuk memaafkan.
"Sayang lihat, ada kedai makanan kau mau? Kalau kau mau kita bisa berhenti sebentar." tawar Vernon.
"Kau memang berniat membuat aku semakin gemuk ya?! Lalu kau ada alasan untuk meninggalkanku?!" omel Olivia.
Vernon jadi merasa serba salah sekarang, dia harus apa? Bukannya Olivia memang jadi hobi makan ya sejak hamil.
"Lalu kau mau apa?" tanya Vernon frustrasi, dia sudah menawarkan segala hal pada sang istri tapı Olivia malah berakhir memarahinya.
"Berhenti!"
Beruntung Vernon memiliki skill pembalap sehingga dia bisa menanggapi permintaan tiba-tiba Olivia.
"Ada apa?" Setidaknya Vernon bisa meminimalisir kecelakaan.
Olivia tak menjawab, dia justru malah menarik Vernon pada sebuah toko pakaian khusus wanita.
Pria itu mengernyit ketika Olivia mengambil baju seksı yang berukuran besar, dia juga mengambil sepatu hak tinggi berukuran besar juga. Untuk apa semua itu? Bukankah itu terlalu besar untuk Olivia.
"Sayang kau membeli semua ini untuk siapa?"
Olivia menatap Vernon dengan mata berbinar sambil tangannya mengusap perut buncitnya.
"Kau tadi bilang akan menuruti semua yang aku maukan? Dan kau juga bilang akan melakukan apapun untuk aku dan baby perintahkan kan, daddy?"
Hmm, perasaan Vernon jadi tidak enak, apalagi dengan semua pakaian yang Olivia bawa itu. Dengan alis mengernyit dia menatap sang istri, Vernon ragu permintaan Olivia pasti akan aneh-aneh, apalagi dia sedang kesal pada suaminya itu.
Olivia akan menjadikan ini sebagai kesempatan untuk menjahili suaminya. Tunggu kejutanmu dirumah, Daddy Harvey.
***
Oh, pemandangan macam apa ini? Pulang kerja Maxwell langsung disuguhi oleh Pricilla yang sedang berduaan dengan Ray? Shiitt!!!
Maxwell kesal pada Pricilla, kenapa wanita itu tak pernah bisa bersikap baik pada Maxwell padahal Maxwell sudah berusaha sebaik mungkin mempelakukan Pricilla apalagi Zayden.
Tapi kenapa justru Pricilla malah mudah bersikap baik pada pria asing. Apa wanita itu memang berniat mencari Ayah baru untuk Zayden?
Tentu tidak akan Maxwell biarkan.
"Ekhem, kenapa kau tak membawa masuk tamumu itu, Nyonya Addison?" sindir Maxwell.
Pricilla merotasikan bola matanya. Apa-apaan itu, Nyonya Addison? Cih seenaknya dia mengganti marga Pricilla.
Ray sadar situasi, dia adalah golongan para pria peka. Meskipun dia tahu bagaimana hubungan Maxwell dan Pricilla, tapi dia tak ingin ikut campur. Hubungannya dengan Pricilla hanya sebatas teman biasa. Walaupun dia mengharapkan lebih.
"Tak perlu Tuan Maxwell, aku hanya mengantarkan bingkisan dari Ibuku untuk Pricilla dan Zayden." jawab Ray.
Maxwell menaikan alisnya, ingin dia marah tapi dia mencoba untuk menjaga image didepan saingannya itu. Saingan untuk mendapatkan Pricilla.
"Keluarga kalian sudah saling mengenal rupanya? Bahkan keluargamu mengenal 'anakku' juga? Wahh, sudah sampai mana sebenarnya hubungan kalian?"
"Eh tidak, jangan salah paham. Keluarga kami memang saling mengenal, tapi hubungan kamı hanya bersahabat." jawab Ray dengan ekspresi tak enak.
"Memangnya kenapa kalau aku salah paham? Tak perlu khawatir seperti itu, hubunganku dan Pricilla baik-baik saja meskipun ada orang ketiga keempat bahkan kelima didalamnya." jawab Maxwell dengan muka songong.
"Toh siapa pun yang dekat dengan dia, pemiliknya hanyalah Maxwell Addison." sambung pria itu.
Ray semakin tak enak berdiri diantara sepasang 'kekasih'? yang sepertinya sedang berkonflik itu. Apalagi ketika dia melihat tatapan mengintimidasi dari Maxwell untuk Pricilla, juga tatapan kesal dari Pricilla untuk Maxwell. Oke, Ray tak suka ikut campur dengan urusan orang lagi.
"Oke, aku rasa hanya itu tujuanku kemari.Sampaikan salam Ibuku juga untuk Zayden. Selamat sore." pamit Ray segera pergi menyisakan dua pasang insan yang sedang saling memberikan tatapan kematian.
"Oh, begitu ya kerjaanmu disaat aku sedang bekerja? Kau asyik berduaan dengan pria lain, bahkan dirumahku." sindir Maxwell.
"Kau tak perlu ikut campur, tuan Maxwell. Dan tenang saja aku tak akan membawa lelakiku ke dalam rumahmu." balas Pricilla, keduanya masih dalam posisi yang sama dan juga dengan kekesalan masing-masing.
Maxwell yang kesal karena Pricilla kedapatan sedang berduaan dengan Ray, dan Pricilla yang kesal karena Maxwell bersikap seenaknya didepan Ray.
"HWAAAAA....”
Keduanya langsung tersadar begitu terdengar suara tangisan Zayden yang begitu kencang dari dalam.
Pricilla dan Maxwell terpekik saat melihat anak mereka terbaring dilantai dengan posisi tengkurap.