Jeany adalah gadis yang tak pandai bergaul karena memiliki fobia sosial. Hidupnya tak lagi sama sejak ia kehilangan kesuciannya.
Rasa bersalah karena telah merenggut kesucian Jeany membuat Kevin ingin selalu menjaga gadis itu sebagai seorang sahabat. Tanpa disadari, perhatian yang ia berikan membuat Jeany jatuh hati padanya. Gadis itu harus tersiksa karena sakitnya cinta sepihak. Namun ia tahu tidak mungkin memiliki Kevin, yang telah menambatkan hatinya pada kekasih cantik bernama Stevi.
"Apa aku gak boleh mempertanggungjawabkan perbuatanku? Kamu tahu aku selalu dihantui rasa bersalah!" -Kevin-
"Kamu egois. Kamu cuma mau ngilangin rasa bersalahmu. Tapi aku ... di sini aku sakit!" -Jeany-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rou Hui, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kalau Randy Serius?
Dua orang asisten rumah tangga orang tua Kevin sedang berkutat di dapur. Bi Murni, perempuan yang lebih tua itu menyiapkan bahan yang akan dimasak untuk makan malam. Sedangkan perempuan satunya meninggalkan pekerjaannya menyeterika pakaian demi memenuhi rasa ingin tahunya.
"Bi, tamu yang barusan datang siapa? Ayu tenan yo." Perempuan bernama Iis itu bertanya pada rekan kerjanya yang lebih senior.
"Pacarnya Den Kevin," jawab Bi Murni sambil lalu karena masih berkonsentrasi dengan pekerjaannya.
"Ramah yo orangnya. Tadi ketemu langsung senyum. Ndak kayak babysitter baru itu!"
Mendengar komentar tidak baik Iis, Bi Murni menghentikan kegiatannya memotong sayuran. "Kamu kenapa to kok ngomong kayak gitu?"
"Kenyataan kok, Bi. Suombong orangnya. Nyuci piring bekas makan sendiri juga ndak mau."
"Non Jeany itu kan temannya Den Kevin, jadi wajar to kalau dapat perlakuan khusus."
"Ya tapi harusnya tepo seliro wong sama-sama kerja di sini."
"Sudah kerja saja yang benar. Ndak usah menjelekkan orang lain. Wong sama-sama masih punya dosa."
Bi Murni menasihati Iis yang sudah ia anggap seperti keponakannya sendiri. Ia sangat paham sifat Iis yang gemar membicarakan keburukan orang lain. Sebagai orang yang lebih tua, ia selalu berusaha mengingatkan Iis bahwa kebiasaannya itu tidak baik. Iis pun berjalan kembali ke ruangan tempat ia menyeterika pakaian dengan wajah ditekuk.
Di dalam kamar Enzo, Jeany menunggu bayi itu bangun dengan perasaan tidak menentu. Ia telah merapikan mainan Enzo dan barang lain yang berhamburan di lantai, menyimpannya kembali ke tempat semula. Kini setelah tidak ada lagi yang dilakukannya, perasaan sedih yang dirasakannya karena melihat Kevin dan Stevi berpelukan tadi kembali muncul kian menyiksa.
Sambil mendesah, Jeany mengambil ponselnya dari dalam tas. Ia sengaja menyimpannya di dalam tas, karena kalau Enzo melihat ponselnya, bayi itu pasti ingin memegangnya dan menjerit marah bila tidak diberi. Gadis itu sampai harus membaca artikel mengenai cara menangani bayi yang sedang tantrum, walaupun ia juga tidak terlalu yakin bila perilaku Enzo tersebut sudah masuk dalam kategori tantrum.
Terlihat beberapa kali panggilan tidak terjawab dari Serly. Jeany segera menelepon balik Serly karena khawatir ada hal penting yang membuat kakak kosnya itu berkali-kali menghubunginya.
"Halo, Kak Serly?"
"Ya ampun, Jeanyyy .... Lo dari mana aja sih? Sampe pegel tangan gue telpon telpon gak lo angkat!"
"Sorry, Kak tadi HP aku di dalam tas. Gak kedengeran suaranya."
"Ckck! Apa gunanya lo punya HP kalo gak bisa dihubungi?"
"Kakak telpon cuma mau ngomelin aku? Aku tutup aja ya."
Mendengar ocehan Serly, suasana hati Jeany yang memang sedari awal sudah tidak baik menjadi semakin buruk. Ia sedang tidak punya kesabaran untuk meladeni Serly.
"Waduh. Kenapa lo? Lagi dapet?"
"Engga."
"Hmm ... pasti lagi berantem sama Kevin nih." Serly mencoba menebak.
"Gak kok, baik-baik aja."
"Cie cieee yang baru go public."
"Buruan deh, Kak Serly telpon aku kenapa?"
"Idih nih anak kumat reseknya! Gue mau tanya soal foto di fb lo."
"Foto apa?"
"Lah? Lo gak buka fb lo?"
"Udah aku hapus soalnya memory HP gak cukup. Kakak kan tahu sendiri HP aku RAM-nya cuma satu."
"Emang HP lo isi apaan sampe buat fb gak cukup?"
"Aplikasi tumbuh kembang anak."
"Apa?! Hahaha Jeanyyy .... Lo itu kan cuma jadi babysitter, bukan jadi mamak."
"Iya tetep aja kan aku harus tahu cara menangani anak dengan tepat. Karena anak usia segitu masih dalam periode emas." Jeany mulai menjelaskan pengetahuan yang didapatnya dari aplikasi tersebut.
"Aduh iya iya! Gue belum mau punya anak, percuma lo jelasin ke gue. Hapus dulu dah itu aplikasi emak-emak. Buka dulu Fb lo. Atau buka lewat web bisa gak?"
"Kakak kirimin aja fotonya lewat WA."
"Lo liat langsung aja di Fb, biar bisa sekalian baca komen-komennya."
Perasaan Jeany jadi tidak enak. Foto apa yang dimaksud oleh kakak kosnya itu? Semoga bukan foto ketika ia bekerja di kelab malam. Atau jangan-jangan foto di malam ia dan Kevin melakukan kesalahan? Punya sesuatu yang disembunyikan membuat gadis itu selalu ketakutan bahwa suatu hari rahasia yang disimpannya rapat-rapat itu akan diketahui oleh orang lain.
"Bentar aku coba ya," jawabnya kemudian.
"Kalo udah cepetan telpon gue lagi! Jangan lupa!"
Setelah menutup panggilannya, Jeany mencoba membuka aplikasi pertemanan yang disebut oleh Serly melalui situs. Dalam hatinya ada rasa miris. Tidak ada gunanya punya banyak teman di dunia maya, kalau teman yang ia kenal di dunia nyata pun ternyata bisa menjerumuskannya. Beberapa menit kemudian ia kembali menelepon Serly.
"Gimana gimana? Buruan jelasin ke gue!" Serly langsung berkata dengan penuh semangat begitu menerima panggilan dari Jeany.
"Aku lupa password Fb aku, Kak."
"Ampun dah! Masak password sepenting itu bisa lupa?" Serly langsung berbicara dengan sewot.
"Bikinnya udah lama soalnya."
"Haizzz ya udah gue kirimin lewat WA aja."
Tidak lama kemudian, Jeany terbelalak melihat foto yang dikirim oleh Serly. Namun hatinya juga merasakan kehangatan, karena di foto itu terabadikan momen ketika Kevin berbicara di telinganya sambil tersenyum. Jeany memandangi foto itu dengan penuh cinta, tidak sedikit pun berniat menghapusnya.
Ini pasti kerjaan Jovina. Tapi kenapa Kevin gak bilang apa-apa ya? Mungkin bagi dia ini bukan hal penting ....
"Kamu kayak orang lagi jatuh cinta tahu gak, senyum-senyum sendiri." Tiba-tiba terdengar suara Kevin, membuat Jeany tersadar dari lamunannya.
Pemuda itu tidak datang sendiri. Ia naik dengan kekasihnya. Jeany cepat-cepat menekan tombol kembali di ponselnya agar tidak ada yang melihat foto yang baru saja ia pandangi. Terdengar suara nada dering ponselnya karena Serly menelepon, tetapi langsung ditolaknya.
"Randy WA kamu lagi?" tanya Kevin curiga.
"Hah? Kok jadi Randy?"
"Dulu kamu juga senyum-senyum sendiri habis Randy chat kamu."
"Engga, ini Kak Serly kok."
Randy memang beberapa kali mengirim pesan pada Jeany, tetapi gadis itu tidak pernah menanggapi.
"Wah sekarang Jeany deket ama Randy ya? Kalian cocok kok." Stevi masuk dalam pembicaraan mereka.
"Gue gak bilang gue deket ama Randy." Jeany langsung meluruskan sebelum terjadi kesalahpahaman lebih lanjut.
"Kenapa lo gak coba kasih kesempatan ke Randy? Gue lihat dia serius ama lo," kata Stevi lagi.
Mendengar ucapan kekasihnya, Kevin ingin mengatakan sesuatu untuk membantah. Namun, tidak ada yang bisa ia ucapkan.
"Gue belum melihat keseriusan dia." Jeany menjawab pertanyaan Stevi.
"Maksud kamu kalo Randy serius, kamu mau terima dia, Jean?" Akhirnya Kevin bersuara.
Jeany memandang lekat pemuda yang dicintainya itu, yang ia tahu tidak akan pernah menjadi miliknya. Ia tahu cepat atau lambat ia harus mengubur dalam-dalam perasaannya pada Kevin.
"Mungkin aja."
Kevin tidak berkata apa-apa lagi. Ia tidak tahu mengapa, tetapi jawaban Jeany menimbulkan keresahan di hatinya. Pemuda itu berharap Randy tidak benar-benar serius mendekati Jeany, agar gadis itu tidak membuka hati untuk sahabatnya.
Yeahhh, sesuka ini aku sama novelmu🫠
novel " dipaksa bercerai"
sdh berapa tahun vacun Thor, sejak corona sampai sekarang