NovelToon NovelToon
Naura, Seharusnya Kamu

Naura, Seharusnya Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Menikah Karena Anak
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Aku ingin menikah denganmu, Naura."
"Gus bercanda?"

***

"Maafin kakak, Naura. Aku mencintai Mas Atheef. Aku sayang sama kamu meskipun kamu adik tiriku. Tapi aku gak bisa kalau aku harus melihat kalian menikah."

***

Ameera menjebak, Naura agar ia tampak buruk di mata Atheef. Rencananya berhasil, dan Atheef menikahi Ameera meskipun Ameera tau bahwa Atheef tidak bisa melupakan Naura.
Ameera terus dilanda perasaan bersalah hingga akhirnya ia kecelakaan dan meminta Atheef untuk menikahi Naura.
Naura terpaksa menerima karna bayi yang baru saja dilahirkan Ameera tidak ingin lepas dari Naura. Bagaimana jadinya kisah mereka? Naura terpaksa menerima karena begitu banyak tekanan dan juga ia menyayangi keponakannya meskipun itu dari kakak tirinya yang pernah menjebaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rendra Mencari Tau

Mobil Bani melaju lebih pelan dari biasanya. Ameera duduk di kursi belakang, masih memeluk tasnya erat. Sesekali bahunya bergetar pelan.

Bani beberapa kali menoleh lewat kaca spion, hatinya terasa diremas oleh rasa bersalah.

Sesampainya di rumah, Laras yang sejak tadi menunggu langsung berdiri begitu pintu terbuka.

“Assalamu’alaikum,” ucap Bani lirih.

“Wa’alaikumussalam,” jawab Laras cepat, lalu matanya langsung tertuju pada Ameera.

“Sayang… kenapa wajah kamu pucat? Papa telat jemput ya?”

Ameera belum menjawab. Ia langsung berjalan cepat menghampiri Laras dan memeluk perut ibunya erat, seolah mencari perlindungan.

Tangannya gemetar.

Deg!

Laras langsung berlutut, memeluk Ameera erat.

“Kenapa, Nak? Kenapa gemetar begini?” suaranya mulai bergetar.

Bani menutup pintu perlahan, lalu mendekat. Nafasnya berat. “Lebih baik kita masuk dulu."

Mereka duduk di ruang tengah. Laras masih mengusap punggung Ameera lembut, mencoba menenangkannya.

“Papa… cerita ke bunda,” pinta Laras dengan mata berkaca-kaca.

Bani menghela napas panjang. “Tadi… Papa telat jemput Ameera. Waktu Papa sampai, Ameera hampir…” suaranya tercekat. “Dia hampir diculik.”

“Apa?” Laras refleks mendekap Ameera lebih erat. “Ya Allah…”

Ameera akhirnya menangis. “Tadi… ada dua om-om jahat, Bun… dia narik tangan Ameera. Ameera takut… Ameera teriak minta tolong…”

Tangisan Ameera pecah. Laras ikut menangis, mencium rambut putrinya berulang kali. “Ya Allah… Astaghfirullah… maafin bunda… maafin bunda…”

“Bukan salah bunda,” potong Bani cepat, suaranya tegas tapi penuh rasa bersalah. “Salah Papa. Papa telat.”

Ameera menyeka air matanya dengan punggung tangan kecilnya. “Tapi Bun… Ameera selamat.”

Laras mengangguk cepat. “Alhamdulillah… Alhamdulillah…”

“Siapa yang nolong kamu, sayang?”

Ameera mendongak, matanya masih basah. “Ada om baik, Bun. Om itu tiba-tiba datang. Om itu marah banget sama om jahat itu… terus mereka kabur.”

Bani menimpali,

“Ada seorang laki-laki mungkin seumuran denganku kebetulan lewat dan dengar Ameera teriak. Kalau bukan karena dia…” Bani tak sanggup melanjutkan.

Laras menutup mulutnya, air matanya jatuh. “Semoga Allah membalas semua kebaikannya…”

Ameera terdiam sejenak, lalu berkata pelan, polos, “Bun… pelukan om itu hangat. Ameera ngerasa aman. Kayak… kayak pelukan papa.”

Deg!

Laras dan Bani saling pandang. Ada sesuatu yang tak terucap di udara.

Bani berdehem pelan. “Papa juga heran… Ameera langsung tenang waktu sama dia.”

Laras mengusap kepala Ameera lembut.

“Yang penting kamu selamat, Nak. Itu sudah cukup.”

Ameera mengangguk, lalu memeluk Laras lagi. “Bunda… Ameera takut tadi. Ameera gak mau papa telat jemput lagi…”

Hati Bani seperti diremas. Ia berlutut di hadapan Ameera, menggenggam tangan kecil itu. “Papa janji… gak akan pernah ninggalin Ameera sendirian lagi. Papa janji.”

Ameera mengangguk kecil.

Laras menatap Bani dengan mata penuh air mata—tak ada amarah, hanya rasa takut kehilangan yang sama.

Di luar, sore merambat pelan.

Dan tanpa mereka sadari, satu pertemuan singkat hari ini telah membuka pintu masa lalu yang selama ini terkunci rapat.

***

Ameera berdiam diri di kamarnya. Sejak sore itu, ia tak lagi keluar dari kamarnya. Entah mengapa... Pelukan itu terasa hangat, aman dan juga nyaman. Padahal Ameera baru saja bertemu dengan Om itu.

"Siapa ya Om itu? Aku ngerasa... Ingin bertemu Om itu lagi.. Pelukannya bikin aku tenang."

Laras mengetik pintu kamar Ameera perlahan, "Ameera, bunda boleh masuk?"

"Masuk aja Bunda, pintunya tidak Ameera kunci."

Laras pun membuka pintunya perlahan, Ameera menoleh sambil tersenyum.

Laras duduk di samping Ameera, "Anak bunda sedang apa? Kok kayanya dari sore gak keluar kamar, hm?"

"Ameera gapapa bunda."

"Beneran? Ameera tau kan, kalau bunda selalu siap mendengarkan setiap cerita Ameera." Laras mengelus rambut Ameera.

"Ameera cuma kepikiran Om yang nolong Ameera tadi, Bun."

"Loh kenapa?"

"Pelukan Om tadi itu terasa hangat dan membuat Ameera langsung tenang. Kalau boleh jujur.... Ameera pengen ketemu Om itu lagi, Bun."

Deg!

Entah mengapa Laras merasakan sesuatu yang tidak biasa. Tubuhnya menegang, ia takut kecurigaannya mengenai masa lalu akan hadir kembali.

"Gak usah dipikirin lagi ya, sayang. Mungkin karena Ameera tadi merasa takut terus ada Om itu yang nolong kamu jadi langsung merasa aman dan tenang."

"Hm.... Bener juga sih Bun."

"Yaudah lebih baik Ameera tidur ya. Besok sudah sekolah lagi, Oke?"

"Iya Bunda." Ameera merebahkan tubuhnya di ranjang. Laras menyelimutinya dengan selimut lembut.

***

Malam itu, Rendra tidak benar-benar tidur.

Ia berbaring telentang di kamar yang lampunya sudah dipadamkan, namun kelopak matanya menolak terpejam. Bayangan sore tadi terus datang silih berganti—wajah kecil Ameera, pelukan refleks itu, dan rasa hangat yang aneh tapi nyata.

"Kenapa aku begini…"

Rendra menghela napas panjang, satu tangannya menutup mata.

Ia sudah bertahun-tahun hidup dengan perasaan mati rasa. Kehilangan Laras, pernikahan yang ia bangun di atas kebohongan, dan anak yang tak pernah ia tahu keberadaannya—semua itu telah membentuk tembok tebal di hatinya. Ia pikir, tak ada lagi yang mampu mengguncangnya.

Namun satu pelukan anak kecil… merobohkan semuanya.

“Papa… aku takut…”

Suara itu terngiang kembali. Dadanya terasa sesak.

"Aku bukan papamu," batinnya. "Tapi kenapa rasanya… seolah aku memang seharusnya ada di sana?"

Rendra bangkit duduk, menyandarkan punggung ke kepala ranjang. Tangannya gemetar ketika teringat wajah Ameera yang menatapnya polos, tanpa curiga, tanpa takut—seperti anak yang menemukan rumahnya.

Wajah itu terlalu familiar. Bukan hanya mirip Laras.

Ada dirinya di sana. Jelas. “Tidak mungkin…” gumamnya lirih.

Tapi hatinya menolak berbohong.

Jika itu hanya kemiripan biasa, mengapa jantungnya berdebar seperti itu? Mengapa ada dorongan purba untuk melindungi, memeluk, menenangkan—tanpa berpikir?

Rendra menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Kalau… kalau dia benar anakku…"

Pikiran itu membuat napasnya tercekat. Ada ketakutan besar yang menggerogoti: bagaimana jika kebenaran itu nyata, dan selama ini ia telah melewatkan hidup seorang anak yang seharusnya ia jaga?

Jam dinding berdetak pelan. Pukul tiga dini hari.

Rendra berdiri, berjalan ke jendela, menatap lampu kota yang redup. Ada keputusan yang perlahan mengeras di dadanya.

Ia tidak bisa diam.

Bukan hanya demi menjawab rasa penasaran—tapi demi menenangkan hatinya sendiri.

Keesokan paginya, Rendra berdiri di depan gedung perusahaan milik Bani.

Gedung itu tidak asing, cukup dikenal di kalangan bisnis properti dan fashion retail. Nama Atmadja Group terpampang rapi di bagian depan.

Rendra merapikan jasnya, menarik napas dalam.

Tenang. Ini hanya urusan kerja, katanya pada diri sendiri, meski ia tahu itu setengah bohong.

Resepsionis menyambut dengan ramah. “Saya ada janji dengan Pak Bani Atmadja,” ujar Rendra tenang. “Mengenai peluang kerja sama.”

Nama itu kembali menusuk pikirannya.

Bani.

Pria yang memeluk Ameera dengan begitu penuh penyesalan dan cinta kemarin sore.

Tak lama, ia dipersilakan masuk.

Saat melangkah menuju ruang rapat, langkah Rendra terasa berat namun mantap. Ada dua tujuan dalam kepalanya—yang satu tertulis rapi di proposal bisnis, yang lain tersimpan rapat di hatinya.

Ia ingin mengenal keluarga Bani. Ingin tahu lebih jauh tentang Ameera. Tentang ibunya.

Tentang rumah tempat anak itu tumbuh. Bukan sebagai pria dari masa lalu Laras. Bukan sebagai mantan suami.

Tapi sebagai seseorang yang merasa… ada bagian jiwanya tertinggal pada seorang anak kecil bernama Ameera.

***

Pagi itu, gedung perusahaan Bani terlihat lebih sibuk dari biasanya. Rendra berdiri di depan pintu kaca besar, merapikan jasnya sekali lagi sebelum melangkah masuk. Wajahnya tenang, ekspresinya datar—seperti pebisnis pada umumnya. Tak ada yang tau, semalaman ia hampir tak memejamkan mata.

Nama Ameera terus berputar di kepalanya.

Tatapan polos itu. Pelukan kecil yang terasa begitu.... tepat.

Rendra menghela napas panjang sebelum melangkah ke resepsionis.

“Selamat pagi, saya Rendra. Saya ada janji dengan Pak Bani.”

"Baik Pak, tunggu sebentar. Saya akan konfirmasi dulu.".

Tak lama, Rendra diminta langsung ke atas, menemui Bani di ruangannya.

Dengan langkah cepat, ia sudah duduk berhadapan dengan Bani di ruang meeting yang luas dan terang. Bani menyambutnya dengan senyum ramah, sama sekali tak menunjukkan kecurigaan.

“Silakan duduk, Pak Rendra. Terima kasih sudah menyempatkan datang."

“Terima kasih kembali, Pak Bani,” jawab Rendra tenang. “Terus terang, saya tertarik dengan pengembangan lini bisnis yang Bapak jalankan. Saya melihat potensi kerja sama yang cukup besar.”

Bani mengangguk, antusias. Ia mulai menjelaskan konsep, visi, dan arah perusahaan. Rendra mendengarkan dengan saksama, sesekali mengangguk, mengajukan pertanyaan yang tepat—cerdas dan profesional.

Tak ada celah.

Tak ada yang mencurigakan.

Namun di balik ketenangan itu, batin Rendra bergolak.

Tenang, Rendra. Fokus ke bisnis. Jangan terlihat gegabah.

“Pak Bani punya dua anak, ya?” tanya Rendra tiba-tiba, nadanya santai, seolah hanya basa-basi.

Bani tersenyum ringan. “Iya. Ameera yang pertama, Naura yang kedua.”

Nama itu lagi.

Dada Rendra berdenyut pelan.

“Oh iya,” lanjut Bani tanpa curiga, “yang kemarin di TK itu Naura. Ameera sudah SD.”

Rendra mengangguk, menyembunyikan sesuatu di balik senyum tipisnya. “Putri Bapak kemarin… Ameera,” katanya pelan. “Anaknya berani.”

Bani tertawa kecil, meski ada sisa cemas di wajahnya. “Dia memang terlihat lembut, tapi sebenarnya kuat. Mungkin karena dibesarkan dengan penuh kasih.”

Kata kasih itu menusuk entah kenapa.

Rendra mengangguk lagi. “Beruntung sekali Pak Bani.”

Percakapan kembali ke angka, kontrak, dan rencana kerja sama. Semua berjalan lancar. Proposal Rendra solid. Penawarannya menguntungkan.

Bani menutup map di depannya. “Saya rasa, kerja sama ini bisa kita lanjutkan ke tahap berikutnya.”

Rendra mengulurkan tangan. “Saya senang mendengarnya.”

Mereka berjabat tangan.

Hangat. Tegas. Profesional.

Tak satu pun tau, di balik jabatan tangan itu, Rendra sedang menahan badai yang kian membesar di dadanya.

Monolog batin Rendra (saat meninggalkan gedung)

"Ameera…

Kenapa rasanya seperti kehilangan sesuatu saat aku meninggalkannya kemarin? Kenapa namanya terus terngiang, seolah aku berhak tau lebih banyak tentang hidupnya?

Ini salah. Aku sudah punya kehidupan sendiri. Aku sudah menikah. Tapi kenapa hatiku menolak diam?"

Rendra masuk ke mobilnya, menatap gedung perusahaan Bani dari balik kaca.

"Aku akan cari tau. Perlahan. Tanpa merusak apa pun. Setidaknya… aku perlu tau kenapa anak itu terasa begitu dekat dengan jiwaku."

Mesin mobil menyala.

Dan tanpa ia sadari, langkah pertamanya menuju masa lalu yang belum selesai telah dimulai.

1
Arga Putri Kediri
Naura kpn bhgiany kak thor
Nifatul Masruro Hikari Masaru
ya allah naura beban kamu berat banget.
Fegajon: akan ada pelangi setelah badai🥺
total 1 replies
Yuni Songolass
ameera ini tdk tau diri banget
Anak manis
sedih bgt jadi Naura😭
cutegirl
Naura terlalu banyak. berkorban
Arga Putri Kediri
kpn amera dpt balasNy... papanya Naura jg terlalu jahatttt....
just a grandma
kasian naura😥
anakkeren
makin seru
just a grandma
plis amira kmu jgn jahat
anakkeren
naura msh kecil gus🤭
cutegirl
happy birthday naura😍
anakkeren
makin seru
just a grandma
lanjut
just a grandma
❤️
Anak manis
lanjut
just a grandma
ceritany bikin sedih. aku srlalu menunggu up terbsru dari cerita kamu thor
cutegirl
aku yakin pasti gus atheef berjodoh dgn naura
Anak manis
seruuu tapi sedih
anakkeren
aku suka sm cerits author ini. sejauh ini ceritsnya nasih sedih dan aku merasakan sedih saat membacanya.
anakkeren
makin seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!