Di balik tembok gedhe SMA Dirgantara, ada lima cowok paling kece dan berkuasa yang jadi most wanted sekaligus badboy paling disegani: ALVEGAR. Geng ini dipimpin Arazka Alditya Bhaskara, si Ketua yang mukanya ganteng parah, dingin, dan punya rahang tegas. Pokoknya dia sempurna abis! Di sebelahnya, ada Rangga Ananta Bumi, si Wakil Ketua yang sama-sama dingin dan irit ngomong, tapi pesonanya gak main-main. Terus ada Danis Putra Algifary, si ganteng yang ramah, baik hati, dan senyumnya manis banget. Jangan lupa Asean Mahardika, si playboy jago berantem yang hobinya tebar pesona. Dan yang terakhir, Miko Ardiyanto, lumayan ganteng, paling humoris, super absurd, dan kelakuannya selalu bikin pusing kepala tapi tetep jago tebar pesona.
AlVEGAR adalah cerita tentang cinta yang datang dari benci, persahabatan yang solid, dan mencari jati diri di masa SMA yang penuh gaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yunie Afifa ayu anggareni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Badai di Depan Gerbang
Suasana di depan gerbang SMA Dirgantara mendadak mencekam. Raungan mesin motor sport memecah keheningan siang itu. Sepuluh motor terparkir melintang, menghalangi jalan keluar. Di sana, geng Black Roses—geng motor cewek paling disegani dari SMA sebelah—sudah menunggu dengan helm di tangan dan tatapan meremehkan.
"Mana yang namanya Maura? Keluar loe! Jangan cuma berani ngumpet di ketiak ALVEGAR!" teriak Vanya, pemimpin Black Roses yang terkenal dengan tindikannya yang banyak.
Pintu gerbang terbuka. Arazka keluar paling depan, diikuti Rangga, Danis, Asean, dan Miko. Di sisi mereka, The Queens berdiri tegak. Maura melangkah maju, menyejajarkan posisinya dengan Arazka.
"Gue di sini. Mau apa loe?" suara Maura tenang, tapi tajam.
Vanya tertawa sinis. "Ooh, jadi ini cewek yang bikin heboh? Cantik sih, tapi sayang, loe udah bikin temen gue nangis gara-gara loe rebut Arazka."
"Rebut?" Maura menaikkan alisnya. "Loe dapet info dari mana? Dari pengecut yang gak berani muncul dan malah nyewa loe?"
Arazka maju satu langkah, auranya begitu mengintimidasi sampai beberapa anggota Black Roses mundur sedikit. "Vanya, loe salah alamat kalau mau cari gara-gara di sini. Balik sekarang, atau motor loe semua gue angkut ke rongsokan."
"Wah, Ketua ALVEGAR galak banget ya kalau soal pacarnya," ledek Vanya. "Gini aja, kalau Maura berani, lawan gue satu lawan satu. Kalau dia menang, gue pergi. Kalau dia kalah, dia harus putus sama loe dan minta maaf berlutut di depan temen gue."
👊 Kejutan dari The Queens
Arazka baru saja mau menolak dengan tegas, tapi Maura sudah lebih dulu melepas almamaternya dan memberikannya pada Kinara.
"Oke. Gue terima," tantang Maura.
"Maura, jangan gila!" bisik Arazka sambil menahan lengan Maura. "Loe gak perlu ngelakuin ini."
"Percaya sama gue, Arazka. Gue bukan cuma pinter teori," balas Maura mantap.
Vanya maju dengan percaya diri, dia melempar pukulan pertama. Maura dengan gesit menghindar. Tapi, yang tidak disangka-sangka, saat anggota Black Roses yang lain mencoba mengeroyok Maura, Keysha bergerak secepat kilat.
Brak!
Dengan satu tendangan memutar, Keysha menjatuhkan dua orang sekaligus.
"Siapa pun yang ikut campur urusan mereka, urusannya sama gue," ujar Keysha datar, matanya yang biasa redup kini menyala tajam.
Asean yang melihat itu langsung melongo. "Gila... Ninja gue beraksi!"
Fanila pun gak mau kalah. Dia mengambil sapu lidi dari pos satpam. "Loe pada mau ngeroyok?! Sini maju loe semua dasar cabe-cabean knalpot!" teriak Fanila sambil mengacung-ngacungkan sapu, membuat Miko malah sibuk ketawa di belakang.
🏁 Akhir yang Memalukan
Di tengah lapangan, Maura dan Vanya masih berduel. Vanya yang hanya mengandalkan tenaga mulai kelelahan, sementara Maura menggunakan teknik kuncian yang sering ia pelajari dari Keysha belakangan ini.
Maura menangkap tangan Vanya, memutarnya ke belakang, dan menekan punggung Vanya hingga gadis itu tersungkur di aspal.
"Denger ya," bisik Maura di dekat telinga Vanya. "Lain kali kalau mau disewa orang, cek dulu siapa lawan loe. Gue bukan cewek menye-menye yang bisa loe tindas."
Maura melepaskan kunciannya. Vanya berdiri dengan wajah merah padam karena malu. Dia melihat kawan-kawannya sudah ciut nyali karena diadang ALVEGAR dan ditakut-takuti Keysha serta Fanila.
"Cabut loe semua!" perintah Arazka dengan suara menggelegar.
Tanpa banyak bicara lagi, Black Roses menyalakan motor mereka dan pergi dengan perasaan malu yang luar biasa.
💖 Pelindung yang Bangga
Suasana kembali tenang. Siswa-siswi yang menonton dari jauh mulai berbisik kagum. Maura mengambil kembali almamaternya dari Kinara dengan tangan yang sedikit gemetar karena adrenalin.
Arazka menghampiri Maura. Tanpa berkata-kata, dia menarik Maura ke pelukannya—lagi. Kali ini lebih erat, di depan semua orang.
"Loe keren," bisik Arazka tulus. "Tapi jangan pernah bikin gue jantungan kayak gitu lagi."
Maura tertawa kecil di pelukan Arazka. "Ternyata loe bisa takut juga ya?"
"Gue cuma takut kehilangan lawan debat gue," dalih Arazka, meski tangannya tidak mau melepas Maura.
Miko langsung teriak, "Woy! Kasian yang jomblo nih liatin drama Korea di parkiran!"
"Diem loe, Miko!" sahut Fanila, tapi dia sendiri tersenyum melihat sahabatnya aman.
Di sisi lain, Asean mendekati Keysha. "Key, itu tendangan tadi... beneran seksi parah. Besok ajarin gue yang itu ya?"
Keysha hanya melirik Asean sekilas, lalu berjalan masuk ke sekolah. "Latihan loe aja belum lulus."
"Yah, ditolak lagi!" keluh Asean, tapi senyumnya menandakan dia makin jatuh cinta.
TO BE CONTINUED