NovelToon NovelToon
Candy Cane

Candy Cane

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Beda Usia
Popularitas:81
Nilai: 5
Nama Author: Lunea Bubble

Candelle Luna (Candy), 19 tahun, tidak pernah menyangka hidupnya berubah hanya karena… ibu tirinya takut anak kandungnya menikah dengan pria “tua, kaya, dan super pelit”.

Hasilnya?
Candy yang dikorbankan sebagai pengantin pengganti untuk Revo Bara Luneth—pria 37 tahun yang lebih dingin dari kulkas dua pintu, hemat bicara, dan hemat… segalanya.

Pernikahan ini harusnya berakhir kacau.
Tapi ternyata, gadis yang terlihat penurut itu punya lebih banyak kejutan daripada permen candy cane yang manis di luar, pedas di dalam.

"Gadis pendiam dan lembut itu… dia? Tidak mungkin." — Revo

"Astaga, hidup baru mulai, tapi sudah dilempar ke mode hard married life!" — Candy

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunea Bubble, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Obrolan Sore

Mata Revo membulat.

Kalau benar istrinya terjerat pinjol, wajar jika perempuan itu mau saja menjadi pengganti. Pasti dia sedang membutuhkan uang untuk menutup lubang yang satu dengan lubang lainnya.

"Ternyata sama saja," gumam Revo dingin.

Dia hampir saja melangkah pergi meninggalkan dapur ketika tiba-tiba suara tawa Mbok Sarah meledak, begitu keras sampai membuat langkah Revo spontan terhenti.

"Hah!" seru Mbok Sarah.

"Hahaha!"

Wanita paruh baya itu tertawa tanpa sisa, bahunya naik turun, sampai cairan bening menggenang di sudut matanya.

Rumi mengerutkan kening. Berlian dan Riora saling pandang dengan raut bingung.

"Uhuk… uhuk…!"

Tawa Mbok Sarah berakhir dengan batuk panjang.

Rumi sigap menepuk punggung Mbok Sarah, sementara Riora bergegas mengambil segelas air putih dan menyodorkannya.

"Mbok sih, ketawanya kelewat batas maksimum,” oceh Berlian. “Tuh, batuk kan jadinya."

Mbok Sarah meneguk air itu perlahan sampai napasnya kembali teratur.

"Lagian, Non Rumi ada-ada aja bilang Non Candy pinjol," ujar Mbok Sarah akhirnya.

"Kan yang berhubungan sama lingkaran setan paling masuk akal cuma pinjol, Mbok," jawab Riora santai.

Mbok Sarah menepuk pundak Riora pelan.

"Eh, siapa bilang, Non? Justru lingkaran setan pinjol itu nggak ada apa-apanya."

"Hah!"

Kali ini Rumi yang tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

"Emang ada yang lebih serem dari jeratan pinjol, Mbok?" tanya Berlian penasaran.

"Ada, Nyah," jawab Mbok Sarah cepat. "Lingkaran setan dua R."

"Dua R?" Berlian mengernyit.

Mbok Sarah mengangguk mantap. "Ranti dan Rania."

"Ya ampun, Mbok," Riora menepuk keningnya pelan.

Rumi dan Riora hanya bisa saling pandang, lalu menggeleng melihat tingkah Mbok Sarah.

Tanpa menyadari reaksi mereka, Mbok Sarah malah semakin bersemangat.

"Lha, memang iya. Mbok itu saksi hidup kekejaman mereka ke Non Candy. Kalau bahasa kerennya, mereka itu cewek manicure."

"Mbok, manicure itu kuku," jelas Rumi.

"Lho? Mbok kira itu yang bikin orang cantik tapi nyakitin."

Revo sampai tersedak mendengar istilah itu. Dadanya refleks mengeras. Untung dia cepat berjongkok dan bersembunyi di balik kursi sebelum ada yang menyadari keberadaannya.

"Hahaha!" Kini giliran Riora yang tertawa sambil memegangi perutnya.

"Lho, kok malah ketawa sih, Non?" Mbok Sarah tampak kebingungan.

Lagi-lagi Rumi menggeleng kecil.

"Cewek lagi manicure baru ada, Mbok," ujar Berlian sambil terkekeh.

"Ada, Nyah," Mbok Sarah bersikukuh. "Yang di depan sama di belakang selalu beda."

"Itu namanya manipulatif, Mbok," jelas Rumi dengan senyum tipis.

"Oh!" Mbok Sarah menepuk pahanya sendiri. "Berarti Mbok salah ucap, ya?"

"Salah ucap doang," sahut Riora sambil menahan tawa.

Mbok Sarah ikut tertawa kecil. Kali ini dia berhati-hati, tak ingin kembali 'kelewat batas maksimum' seperti sindiran nyonya barunya tadi.

"Lagian Non Candy nggak punya ponsel. Itu aja mbok paksain pakek ponsel mbok yang udah butut buat cari-cari tugas di mbah Gugel," ucap Mbok Sarah santai, seolah itu hal biasa.

Kalimat sederhana itu membuat ketiga wanita di hadapannya serentak terdiam.

Di zaman seperti ini, hampir mustahil seorang anak gadis tidak memiliki ponsel pribadi.

Pikiran mereka langsung melayang jauh.

Berlian teringat masa lalu. Saat Rumi dan Riora masih duduk di bangku sekolah dasar, mereka sudah diberi ponsel masing-masing. Awalnya untuk menunjang kegiatan belajar, lama-lama menjadi kebutuhan komunikasi.

Rumi sendiri tak pernah ragu memberikan ponsel pada si kembar. Bukan untuk memanjakan, melainkan demi keamanan dan kemudahan berkomunikasi.

Bahkan Riora pun memberikan ponsel pada Axel. Meski masih balita, bocah itu cukup bertanggung jawab. Isi ponselnya hampir seluruhnya aplikasi edukasi bahasa asing. Setiap hari selalu ada kosakata baru yang meluncur dari mulut kecilnya.

Akhirnya, ketiganya kembali menatap Mbok Sarah bersamaan.

"Gimana bisa Candy nggak punya ponsel, Mbok?" tanya mereka hampir berbarengan.

Pertanyaan yang sama juga bergaung di kepala Revo. Hanya saja, pertanyaan itu sudah terwakili.

Mbok Sarah terdiam sejenak. Wajahnya yang biasanya ceria kini berubah serius.

"Ya… bisa," ucapnya pelan. "Ranti takut Non Candy ngadu ke Tuan Adrian atau ke keluarga lain soal perlakuan mereka. Mereka juga takut Non Candy diam-diam merekam omongan dan perbuatan mereka."

Mbok Sarah menghela napas.

"Mbok nggak sengaja dengar waktu Rania yang ngasih ide itu ke Ranti."

"Kenapa Pak Adrian nggak curiga?" tanya Berlian.

"Namanya juga cewek man—"

Mbok Sarah mendadak berhenti. Alisnya berkerut, seolah ada satu kata yang menguap dari kepalanya.

"Manipulatif, Mbok," bantu Rumi.

"Nah, itu, Non," Mbok Sarah langsung menunjuk Rumi.

"Kalau teman?" Riora ikut bertanya. "Candy punya teman, kan?"

Mbok Sarah menggeleng perlahan.

"Di sekolah nggak ada yang berani berteman sama Non Candy. Mbok nggak tahu caranya gimana, tapi Mbok yakin ada campur tangan dua R itu. Nggak masuk akal dari sekolah dasar sampai sekarang nggak punya satu pun teman."

"Kasihan sekali menantuku," lirih Berlian.

"Jangan-jangan Candy juga nggak pernah pacaran," celetuk Riora tiba-tiba.

Revo menahan napas. Tanpa sadar, telinganya semakin menajam.

"Iya, Non," jawab Mbok Sarah sambil mengangguk mantap.

Ketiga wanita itu saling pandang, lalu tersenyum tipis.

"Kak Revo benar-benar beruntung," ucap Rumi pelan.

"Kalau sudah takdir, memang nggak bisa dilawan," sambung Berlian. "Tuhan selalu punya rencana indah untuk setiap makhluk-Nya."

"Di zaman sekarang susah banget nemuin cewek kayak gitu," ujar Riora sambil menggeleng. "Kebanyakan yang pernah aku temui sudah pacaran, nongkrong nggak jelas, peluk sana sini."

Obrolan sore itu terasa cukup bagi Revo.

Dia akhirnya mengerti.

Candy bukan perempuan yang penuh intrik. Bukan pula gadis yang bermain api demi keuntungan pribadi. Dia hanya anak perempuan yang terlalu lama hidup dalam kurungan, dijauhkan dari dunia, dan dipaksa diam.

Perempuan itu… baik.

Tidak ada salahnya mencoba membuat pernikahan ini berjalan dengan semestinya.

Meski dirinya dikenal dingin, cuek, dan menjaga jarak dari perempuan, kali ini Revo merasa berbeda. Mendengar langsung dari orang yang mengasuh Candy sejak kecil, ditambah melihat kepolosan istrinya sendiri, satu hal menjadi jelas.

Candy bukan perempuan yang pernah mengenal dunia malam atau kesenangan semu.

Dia langka. Dan untuk pertama kalinya, Revo merasa—perempuan itu layak dilindungi.

Kembali ke saat sekarang, Revo mematung, pikirannya masih terjebak pada hasil curi dengarnya tadi.

"Om, Om."

Panggilan Candy tak langsung ia sadari.

Pria itu berdiri membeku seperti patung, malah tersenyum sendiri. Pemandangan yang cukup membuat Candy khawatir. Padahal tadi dialah yang terperangah melihat Revo—kenapa sekarang justru pria itu yang bengong?

Tak mendapat respons, Candy mendekat perlahan. Ia menatap wajah Revo yang sedang termenung entah memikirkan apa.

"Modelan orang kaya emang gini kali, ya," gumam Candy. "Habis mandi bukannya pakai baju, malah bengong."

Tangannya mengibas-ngibas udara di depan wajah Revo.

"Om, Om."

Tetap tak ada jawaban.

Karena perbedaan tinggi, Candy terpaksa menarik kursi di depan meja rias, memindahkannya ke samping Revo, lalu naik dengan hati-hati.

Ia menangkupkan kedua tangannya di dekat telinga Revo dan, tanpa peringatan, berteriak sekuat tenaga, "OOOM!"

Revo refleks terkejut. Tubuhnya menyikut ke samping.

Candy ikut tersentak. Dalam sekejap, ia yakin tubuhnya akan menghantam lantai marmer. Gadis itu memejamkan mata, bersiap menerima rasa sakit.

Namun refleks Revo lebih cepat.

Pria itu menangkap tubuh Candy dan membalik posisi mereka, menjadikan punggungnya sendiri sebagai tameng.

Bruk.

Hening.

Beberapa detik berlalu.

"Kok… nggak sakit?" gumam Candy tanpa membuka mata.

Revo mendesis pelan. Hantaman di punggungnya cukup membuat wajahnya menegang, apalagi ditambah beban satu orang di atasnya.

Candy membuka mata perlahan. Tangannya meraba-raba permukaan di bawahnya—anehnya empuk, seperti tumpukan daging.

Tangannya berhenti.

"Kayak mata," gumam Candy.

Tangannya bergerak lagi.

"Kayak hidung."

Keningnya berkerut.

"Sejak kapan ubin punya mata sama hidung?"

Revo memilih diam.

Candy mengangkat kepala.

Matanya membulat sempurna.

Bagaimana bisa… Revo berada di bawahnya?

Tatapan mereka bertemu—sama-sama terkejut, sama-sama terpaku—dalam jarak yang terlalu dekat untuk diabaikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!