Perayaan empat tahun pernikahan Laura, seorang pemimpin perusahaan muda dirayakan begitu meriah bersama suaminya yang juga yang juga temannya saat SMA. Hubungan mereka begitu harmonis, layaknya pasangan suami istri sempurna di mata publik yang melihatnya.
Namun, kebahagiaan itu seketika di rusak oleh sebuah pesan dari seseorang misterius yang seolah tak suka dengan pernikahannya.
Dia pun mencari tahu sendiri kebenarannya, dan menguak kenyataan yang lebih mencengangkan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitri Widia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan Misterius
"Pernikahan itu bukanlah hal penting, jika kau tak menemukan pasangan yang tepat."
Tepuk tangan dan sorakan memenuhi ruangan, mendengar kalimat yang terucap dari seorang pria muda berkacamata. Dia tengah merangkul wanita di sampingnya sambil menyuapi kue dengan krim putih yang tampak lezat.
"Dan kau adalah pasangan tepat yang kutemui di waktu yang tepat," imbuhnya sembari mengecup kening sang wanita.
"Nyonya Laura sangat beruntung memiliki suami sebucin Tuan Dave!"
Semua orang tertawa bahagia, melihat kemesraan pasangan suami istri yang merayakan anniversary pernikahan mereka.
"Sayang, aku mau ke kamar belakang. Sebentar saja," bisik Laura pada Dave yang tak bisa menahan diri. Dave tertawa kecil sembari menganggukan kepalanya.
Laura segera berlari kecil menuju kamar mandi, langkahnya agak sulit karena dress yang cukup ketat dan heels yang dia gunakan agak tinggi. Wanita itu segera masuk ke kamarnya, menuju kamar mandi dan menuntaskan hajatnya.
Beberapa kali terdengar nada pesan masuk di ponselnya yang tersimpan di atas meja rias. Laura yang keluar dari kamar mandi, segera meraih ponselnya dan membuka pesan yang terkirim ke nomornya.
Dia meletakan kembali ponselnya, namun dengan raut wajah berubah. Senyum yang terus mengembang selama acara, seketika lenyap setelah melihat isi pesan itu.
Dave tersenyum melihat istrinya yang turun dari lantai dua kamar mereka. Dia meraih tangan sang istri, dan membawa istrinya menuju para undangan yang ingin melihat kemesraan mereka.
"Laura, kenapa denganmu? Apa kau pusing? Atau mengantuk?" Tanya Dave sembari menyentuh kening istrinya.
Laura tersenyum dan menepis tangan suaminya dengan lembut.
"Aku tak apa, hanya saja energiku tersedot melihat orang cukup banyak dalam waktu lama."
Dave mengerti keadaan istrinya, Laura yang introvert memang tak nyaman jika berlama di keramaian.
"Kita sudahi acara ini, lalu beristirahat."
Dave dan Laura pun berjalan menuju para undangan, lalu menutup acara dengan cukup mengesankan. Para tamu undangan terlihat puas, karena acara anniversary ini benar-benar terkonsep. Dave sengaja merayakan anniversary tahun ini dengan meriah, agar Laura terkesan padanya.
"Terima kasih, sudah menjadi istri yang baik, cantik, dan juga pandai merawatku," ucap Dave sambil terus mengecup pipi istrinya.
Laura hanya diam, dengan wajah yang terlihat lelah. Tak hanya lelah karena pesta, namun juga karena pesan yang satu jam lalu dia terima.
Pesan dari seseorang misterius itu, mengatakan jika suaminya telah mengkhianatinya. Namun dia pun meragukan pesan tersebut, karena si pengirim tiba-tiba meminta uang untuk bukti yang lebih dari sekedar perkataan.
"Aku tak sebodoh itu percaya pada pesan iseng, tapi aku juga harus hati-hati dengan Dave," gumam Laura dalam hatinya.
"Dave, besok aku ada rapat pagi di kantor. Jadi malam ini kita tunda dulu," bisik Laura menggoda suaminya.
"Sayang, ayolah hanya sebentar!"
Laura tak mendengarnya, lalu memiringkan tubuhnya membelakangi Dave. Ini pertama kalinya dia menolak melayani sang suami, setelah empat tahun menikah. Walau pesan itu dia anggap candaan, namun membuat hatinya gelisah. Dia bertekad untuk lebih berhati-hati pada suaminya sendiri.
"Selamat tidur sayang," bisik Dave yang juga tertidur sambil memeluk Laura dari belakang.
Laura belum sepenuhnya terlelap, matanya masih terjaga dengan perasaan gelisah. Walau tangan Dave melingkar memeluk tubuhnya, tapi keresahan itu tetap ada karena pesan yang dia terima.
***
"Laura, hidupmu yang sempurna itu hanya kepalsuan. Suami yang terlihat begitu mencintaimu, sebenarnya telah mengkhianatimu..."
Pesan itu terus berputar-putar di kepala Laura selama seminggu ini. Dia menyimpan keresahan ini sendirian, tanpa memberitahu Dave. Dia takut jika pesan itu benar, dan Dave berusaha menutupi perselingkuhannya.
"Nyonya, ini beberapa dokumen yang harus di tandatangani."
Laura masih diam, walau seseorang sudah menodongkan dokumen padanya. Pikirannya tak fokus, apalagi dia terjaga semalaman.
"Nyonya."
"Nyonya Laura, anda sakit?"
Laura segera menepis tangan seorang pria yang menyentuh keningnya. Pria itu tersentak, karena tepisan Laura cukup keras.
"Berani sekali kau menyentuhku!" Ucap Laura dengan amarah menggebu.
Pria itu tampak tenang, walau tatapan tajam menyorotinya.
"Saya sudah berkali-kali memanggil anda untuk menandatangani dokumen ini. Tetapi melihat anda yang melamun begitu dalam, sepertinya keadaan anda sedang tidak baik-baik saja," jelas pria itu dengan suara lembut dan tenang.
"Bukan berarti kau bebas menyentuhku, Andreas. Ini dokumennya, sekarang keluarlah!"
Andreas segera keluar dari ruangan atasannya, sebelum Laura semakin marah. Walau dia tahu wanita itu tak akan mungkin mengamuk sambil berteriak.
"Apa ada sesuatu yang membuatmu sedih?" Gumamnya sambil terdiam mematung di luar pintu ruangan Laura. Andreas yang peka tahu, jika Laura sedang menyembunyikan kesedihan.
Laura mengusap wajahnya dan meneguk air minum di hadapannya. Semakin di pikirkan, dirinya semakin tak bisa fokus bekerja. Dia pun membuka ponsel dan membuka aplikasi pemesan makanan.
Tok tok!
"Masuklah!"
Seorang gadis muda masuk ke dalam ruangan Laura sambil membawa goodie bag.
"Nyonya, ini ada kiriman untuk anda," ucapnya sambil memberikan goodie bag tersebut.
Laura mengangguk dan meminta gadis itu untuk keluar ruangannya.
"Makanan? Apa ada orang yang ingin meracuniku lewat makanan?" Gumam Laura yang tak pernah percaya pada orang lain. Sikap defensifnya membuat orang-orang di sekelilingnya segan, karena Laura yang memberikan jarak pada mereka.
"Ini makanan favoritmu, jangan bersedih lagi. Adik tingkatmu, Andreas."
Laura menggelengkan kepala sambil tersenyum getir, Andreas si pria nakal itu malah memberikan sesuatu yang cukup membuatnya senang.
"Dasar, padahal sudah ku marahi. Tapi tetap saja, kau baik padaku. Atau jangan-jangan ada hal lain yang kau inginkan?"
Mereka berdua saling bertukar pesan. Laura sudah mengenal Andreas cukup baik saat di kampus. Dia adik tingkat satu jurusan yang terkenal karena kepintarannya.
"Apa aku minta tolong saja pada Andreas, untuk melacak si pengirim pesan. Dia pandai meretas kan?"
Laura yang hendak mengirim pesan, mengurungkan niatnya. Dia tahu betul jika Andreas yang saat itu datang ke pesta anniversary pernikahannya, dan melihat kemesraannya dengan Dave.
"Tidak, tidak. Dia akan menertawakanku dan juga reputasiku. Apalagi pernikahanku cukup viral di kalangan pebisnis dan pengusaha. Nanti kalau dia membocorkan rahasia ini, maka imageku akan menjadi jelek," gumam Laura sambil menyantap kue yang Andreas kirimkan tadi.
"Ya, akan ku putuskan untuk menyelidiki semuanya sendirian. Sebelum itu, aku harus mengamankan saham ku di perusahaan Dave. Dan Dave juga harus membayar hutang padaku jika semua yang ada di pesan itu bukanlah kebohongan."
Laura begitu bersemangat, lalu meminta pengacaranya untuk membuat dokumen perjanjian pernikahan yang baru.
Dia segera meraih ponselnya saat sebuah pesan masuk. Bukanlah balasan dari pengacaranya, namun seseorang dari masa lalu yang sangat dia kenal.
terlalu lucu klo laura harus bersaing dgn gundiknya.... yg g ada levelnya
🤣🤣