Mengisahkan Livia Winarti Samego, seorang wanita 30 tahun yang harus menerima nasib bahwa ia diduakan oleh suaminya, Attar Pangestu dengan wanita lain yang tidak bukan adalah Sheila Nandhita, teman baiknya. Livia harus berjuang seorang diri dalam perpisahannya dengan Attar hingga takdir mempertemukannya dengan Ayub Sangaji, seorang mahasiswa jurusan pendidikan olahraga di sebuah kampus yang tampan dan menggoda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mantan Suami yang Datang
Ia berjalan perlahan menuju ruang tengah. Cahaya lampu apartemen yang terang benderang entah mengapa tidak mampu mengusir rasa mencekam yang merayap di tengkuknya. Setiap kali ia berkedip, bayangan Sheila—dengan baju pasien putih yang kotor dan tawa histerisnya—seolah muncul di sudut-sudut gelap ruangan.
"Hanya perasaanmu saja, Livia. Dia di penjara. Dia aman di sana," bisik Livia pada dirinya sendiri, mencoba memeluk tubuhnya yang gemetar.
Ia meraih ponselnya, berniat menelpon Ayub. Namun, tepat saat jemarinya menyentuh layar, ia melihat bayangan hitam melintas di cermin besar di ruang tamu. Livia memutar tubuhnya dengan cepat, jantungnya seolah berhenti berdetak.
Kosong. Tidak ada siapa-siapa.
Namun, di udara yang sunyi itu, sayup-sayup ia mendengar suara tawa rendah yang sangat ia kenal. Tawa yang pecah, kering, dan penuh dengan racun. Livia mematung, keringat dingin mengalir di punggungnya. Ia merasa seperti mangsa yang sedang diawasi oleh predator dari balik bayang-bayang.
****
Sementara itu, di gedung Fakultas Pendidikan Olahraga, suasana sudah sangat sepi. Ayub Sangaji baru saja menyelesaikan sesi latihan di gedung olahraga dan mampir ke kamar mandi di lantai dua untuk mencuci wajahnya yang berkeringat.
Ayub menyalakan keran, membasuh kepalanya dengan air dingin, mencoba mengusir rasa penat. Namun, saat ia hendak keluar, pintu kamar mandi itu tidak bisa terbuka.
Ceklek... Ceklek...
Ayub mengerutkan kening. Ia menarik gagang pintu dengan kekuatan atletisnya, namun pintu itu terasa seperti dikunci dari luar dengan sesuatu yang sangat kokoh.
"Halo? Ada orang di luar?" teriak Ayub, suaranya bergema di dinding porselen kamar mandi yang dingin.
Tidak ada jawaban. Ayub mencoba mendobrak pintu itu dengan bahunya, namun pintu itu tetap bergeming. Ia tidak tahu bahwa di luar sana, seseorang telah menyelipkan sebuah batang besi tebal di sela gagang pintu dan kosennya—sebuah tindakan yang disengaja dan direncanakan dengan rapi.
Ayub segera meraba saku celananya untuk mengambil ponsel. Sial. Ponselnya tertinggal di dalam tas di ruang loker yang terletak di ujung koridor.
"Sialan!" Ayub memukul pintu dengan tinjunya. Perasaannya mendadak tidak enak. Ia teringat Livia. Ia telah berjanji untuk pulang sebelum jam delapan malam, dan sekarang ia terjebak di sini tanpa sarana komunikasi.
Insting perlindungannya berteriak. Ia merasa pengurungannya ini bukan sekadar kebetulan. Ini adalah bagian dari rencana untuk menjauhkan "sang pelindung" dari target yang sebenarnya.
****
Kembali ke apartemen, Livia masih berdiri kaku di tengah ruangan. Listrik tiba-tiba berkedip sekali, lalu kembali normal. Livia segera berlari menuju pintu utama, bermaksud untuk menguncinya lebih rapat atau bahkan melarikan diri ke lobi bawah.
Namun, saat ia sampai di depan pintu, ia melihat sesuatu yang membuatnya nyaris pingsan.
Sebuah pesan ditulis dengan lipstik merah menyala di permukaan kayu pintu bagian dalam:
"AKU SUDAH DI DALAM, LIVIA."
Livia menjerit tertahan, menutup mulutnya dengan kedua tangan. Bagaimana mungkin? Ia sudah mengunci pintu, dan sistem keamanan gedung ini sangat ketat. Ia memutar tubuhnya, menatap ke sekeliling apartemennya yang kini terasa seperti jebakan maut.
"Sheila! Keluar kamu! Jangan bersembunyi!" teriak Livia dengan sisa keberaniannya, meski suaranya pecah karena isak tangis yang mulai meledak.
Di luar sana, mobil Attar memacu kencang, menerobos lampu merah, sementara di kamar mandi kampus, Ayub terus mencoba menghancurkan pintu dengan sisa kekuatannya. Mereka berdua berpacu dengan waktu yang terus berdetak, sementara di dalam apartemen, sosok berbaju hitam dengan cadar yang menutupi wajahnya perlahan muncul dari balik tirai balkon yang lebar.
Wanita itu melangkah pelan, memegang sebilah pisau panjang yang berkilau terkena cahaya lampu kristal. Ia melepaskan cadarnya, menampakkan wajah yang sudah kehilangan seluruh sisa kemanusiaannya.
"Hahahaha... kaget, Sayang?" suara Sheila memecah kesunyian, melengking tinggi dan mengerikan. "Ayub tidak akan datang. Dia sedang 'belajar' di kampus. Dan Attar? Dia hanya akan datang untuk melihat pemakamanmu."
Sheila tertawa histeris, tawa yang berpadu dengan suara guntur yang mulai terdengar di kejauhan, menandakan bahwa badai maut akan segera dimulai kembali.
****
Ban mobil Attar berdecit tajam saat ia mengerem mendadak di depan lobi apartemen. Tanpa memedulikan tatapan heran petugas keamanan, ia berlari kencang menuju lift. Namun, angka di atas pintu lift seolah bergerak dengan kecepatan siput. Adrenalinnya meledak. Ia beralih ke tangga darurat, memacu jantungnya hingga batas maksimal, menapaki anak tangga menuju lantai dua puluh seolah nyawanya sendiri yang sedang dipertaruhkan.
"Tolong, Tuhan... sekali ini saja, jangan biarkan aku terlambat," bisiknya di sela napas yang terasa mencekik paru-parunya.
****
Di dalam unit apartemen, atmosfer telah berubah menjadi neraka yang dingin. Sheila berdiri hanya dua langkah dari Livia. Pisau di tangannya terangkat tinggi, memantulkan cahaya lampu yang gemetar terkena getaran tangan Livia yang memegang vas bunga sebagai pertahanan terakhir.
"Hahahaha! Lihat dirimu, Livia! Kamu gemetar seperti tikus kecil!" Sheila tertawa melengking. Wajahnya yang pucat pasi tampak mengerikan dengan mata yang melotot lebar. "Setelah aku merobek wajah cantikmu ini, Attar tidak akan pernah sudi melihatmu lagi, bahkan di dalam mimpi!"
Sheila menerjang. Livia menjerit, melemparkan vas bunga itu namun meleset. Sheila mencengkeram bahu Livia, menjatuhkannya ke lantai, dan bersiap menghujamkan pisau itu tepat ke dada Livia.
BRAKKK!
Pintu apartemen hantam terbuka dengan kekuatan penuh. Attar masuk bagai badai. Matanya menangkap pemandangan yang membuat jantungnya nyaris copot. Tanpa pikir panjang, ia menyambar gagang sapu kayu yang bersandar di dekat dapur bersih di area masuk.
"SHEILA! JAUHKAN TANGANMU DARINYA!"
Sheila menoleh, namun terlambat. Attar mengayunkan gagang sapu itu dengan kekuatan penuh, menggunakan seluruh berat tubuhnya yang didorong oleh rasa bersalah dan amarah.
DUAAAK!
Gagang kayu itu menghantam sisi kepala Sheila dengan bunyi yang memuakkan. Tubuh Sheila terpental ke samping, menghantam meja makan sebelum akhirnya jatuh tersungkur ke lantai parket. Pisau di tangannya terlepas, berdenting jauh ke bawah sofa.
Sheila mengerang, memegangi kepalanya yang mulai mengucurkan darah segar. Matanya nanar, tawanya berubah menjadi rintihan yang ganjil. "Attar... kamu... kamu memukulku lagi demi dia?"
Attar tidak menjawab. Ia segera menjatuhkan sapu itu dan memeluk Livia yang terguncang hebat di lantai. "Liv! Kamu tidak apa-apa? Katakan padaku kamu selamat!" Attar memeriksa tubuh Livia dengan tangan gemetar, memastikan tidak ada luka baru yang fatal.
Livia hanya bisa menangis sesenggukan di dada mantan suaminya. Ketakutan yang luar biasa membuatnya tidak sanggup mendorong Attar menjauh. Untuk beberapa detik yang krusial, ia hanya butuh perlindungan, dan Attar ada di sana.
****
Di saat yang sama, di gedung fakultas yang sepi, Ayub sedang berjuang melawan maut versinya sendiri. Ia menyadari pintu itu mustahil didobrak dari dalam tanpa alat. Matanya beralih ke ventilasi kaca kecil di bagian atas kamar mandi—satu-satunya jalan keluar.
Ayub menumpuk beberapa tempat sampah plastik, memanjatnya dengan keseimbangan atletis yang luar biasa. Tangannya mencengkeram bingkai ventilasi yang sempit. Dengan otot lengan yang menegang hebat, ia menarik tubuhnya naik. Ruangannya sangat sempit; bahunya tergores pinggiran kaca yang tajam, meninggalkan sayatan merah di kulitnya yang kecokelatan.
"Aakh!" Ayub meringis, namun ia terus memaksakan tubuhnya keluar.
Ia melompat dari ketinggian lantai dua, mendarat dengan teknik roll di atas rumput taman kampus yang basah. Tanpa membuang waktu satu detik pun, ia berlari menuju motornya. Pikirannya hanya terisi oleh wajah Livia. Ia tahu serangan ini direncanakan untuk menjauhkannya dari Livia.
"Mbak Livia, bertahanlah!" gumamnya sambil memacu motornya membelah kemacetan Jakarta dengan kecepatan yang mengabaikan keselamatan dirinya sendiri.