Jodoh, rezeki dan kematian adalah hal yang memang penuh dengan misteri. Sebabnya kita memang tidak tahu siapa yang akan jadi jodoh kita kelak.
Rili Askana menjadi galau tingkat dewa, diumur yang hampir genap 30 tahun. Dia tidak kunjung menikah'. Angin segarpun datang, disaat teman kerjanya menawarkan diri untuk menikahi nya. Tapi, disaat cinta-cintanya kekasihnya itu hilang tanpa bekas.
Kesedihannya bertambah parah, disaat Dia masih galau dipaksa nikah oleh orang tuanya dengan pria yang tidak dikenalnya.
Bagaimana kisah Rili? akankah Dia bahagia dengan pernikahannya.
Temukan jawaban misterinya di Novel ini.
Ini bukan cerita horor. Ini cerita yang bisa menguras emosi dan gelak tawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak sesuai dengan harapan
Ibu Rili yang melihat ekspresi Rival yang bahagia tersebut, berdoa dalam hati semoga dalam satu bulan ini Allah membukakan pintu hati putrinya, agar mau menikah dengan Rival.
"Kalau begitu, saya pamit ya pak, Bu. Salam sama adek Rili! Oh iya, bolehkah saya meminta no ponsel Bapak atau ibu?" ucap Rival dengan tersenyum dan mengambil handponenya dari kantong celana jeansnya.
"Tentu boleh nak!" ucap mama Rili.
Merekapun akhirnya bertukar no handphone.
Rival pun pamit, dengan menyalami kedua orang tua Rili. Pria itu mengucapkan salam seraya tersenyum bahagia.
Kini Rival sedang dijalan mengendarai mobil yang direntalnya. Mobil itu sudah penyok dan lampu bagian belakang sebelah kanan hancur. Sepertinya Rili menabraknya dengan keras.
Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 90 menit, kini Rival nampak berhenti di depan sebuah Mesjid. Dia hendak menunaikan sholat Ashar.
Setelah menunaikan sholat Ashar Rival, nampak rebahan di dalam mesjid. Otaknya sedang berpikir. Satu hari ini pengeluarannya lumayan banyak juga.
Mobil rental satu hari 300 rb. Biaya memperbaiki kaca spion dan body mobil yang penyok, kurang lebih memakan biaya 500 rb, belum lagi bensin, biaya makan dan minum selama diperjalanan.
"Huuftt....!" dia menghela napas dengan kasar. "Beginikah perjuangan untuk mendapat pasangan hidup itu? syukur kalau adek Rilinya mau, kalau tidak mau? hadeuuhh.... Nasib....nasib...!" umpatnya dalam hati.
Perjalanan untuk sampai ke tempat tinggal Rival masih memakan waktu sekitar 2,5 jam lagi. Itupun kalau kenderaan melaju terus tanpa henti.
*
*
*
Pukul 20.10Wib di kediaman Rili.
Rili yang sedang nampak serius memainkan ponselnya, dikejutkan oleh mamanya yang tiba-tiba datang tanpa suara itu.
"Mama mengejutkan saja!" protes Rili saat mamanya memukul pelan pundak putrinya yang membelakanginya.
"Lagi ngapain nak? jangan bilang kamu menghubungi Nak Yasir lagi!" ucap mamanya.
"Gak koq ma, lagian mama kenapa lagi sebut-sebut nama Abang Yasir, itu sama saja mama membuatku untuk susah melupakannya. Aku lagi sms in Windi, mintain dibuatin surat izin tidak bisa masuk kerja." Ucapnya sambil meletakkan handphone di atas kasurnya dan kembali berbaring telentang.
"Mama harap, kamu mau menerima Nak Rival." Ucap mama Rili
"Mama kenapa sich? maksa Rili menikah sama dia. Keluarganya gak kita kenal ma, dan dia tinggalnya jauh dari kita. Malam ini terakhir Rili dengar mama bahas Dia lagi. Rili ngantuk ma, mau tidur. Efek obatnya mungkin." Ucap Rili ketus sambil menarik selimutnya sampai dada.
Mama Rili keluar dari kamar putrinya tanpa sepatah kata. Putrinya lagi sakit, wanita yang sudah melahirkan Rili itu tidak mau membuat putrinya banyak pikiran, kalau Dia memaksa membahas si Rival.
"Eehhmmmm....!" ucap mama Rili dan mendudukkan tubuhnya di kursi tepat di sebelah suaminya yang sedang duduk di teras rumah sambil membaca buku tentang Fiqih.
"Udah ma, jangan dipaksa. Benar juga kata putri kita. Keluarga Rival, tidak kita kenal dan tempat dia tinggal juga sangat jauh. Kalau memang nak Rival jodohnya putri kita, pasti ada saja jalan untuk mereka bersatu." Ucap Ayah Rili sambil melihat istrinya.
"Tapi, nak Rival nampaknya dari keluarga baik-baik pak!"
"Iya," jawab suaminya singkat. "Ayokk, kita masuk aja ma. Nanti masuk angin lagi, kelamaan diluar." Ucap Ayah Rili sembari bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam rumah yang diikuti oleh istrinya dari belakang.
Dikamar Rili, nampak mengambil handponenya, wanita itu kembali mencoba menghubungi no ponsel Yasir. Setiap malam Rili selalu melakukan itu, sampai matanya terpejam. Entah kenapa wanita itu selalu berharap, suatu saat no ponsel Yasir bisa dihubungi. Jadi, setiap punya waktu luang sedikit saja, Dia pasti menghubungi no ponsel Yasir.
*
*
*
Di kota G, tepatnya disebuah perkampungan seorang pemuda nampak tiduran di atas bale-bale yang terbuat dari bambu, yang berada di halaman rumah mereka di bawah pohon Mangga Arum manis. Pria itu adalah Rival. Dia sedang menikmati indahnya bulan purnama, ditemani oleh suara jangkrik dan kodok yang saling bersahutan dari belakang rumah mereka.
Ya, kampung Rival sangat sepi. Di kampungnya hanya ada 15 KK. Keindahan malam yang diterangi cahaya bulan dan pemandangan indah di langit, bintang yang kerlap-kerlip tidak menenangkan pikiran dan hati pria itu.
Dia sedang melankolis malam ini, betapa dia merasa dirinya tidak beruntung. Umur sudah matang, jodoh tak kunjung datang. Harta tidak punya. Angan-angan untuk membuka usaha RM dan toko sembako kandas sudah, karena uang tabungannya di hambur-hamburkan adiknya.
Syukur dia masih punya iman. Sehingga dia masih bisa berfikir jernih, disaat bisikan putus asa melintas di hati dan pikirannya.
Harta adalah titipan dan itu akan dihisab di hari akhir. Dunia ini hanya tempat kita merantau, untuk mencari bekal tempat kita yang kekal di akhirat.
"Celupkan ujung jarimu ke dalam danau yang luas, lalu lihat, satu tetes (yang tersisa di ujung jari) itulah dunia. Yang luas (danau) ini, itulah akhirat,”
"Jadi, kalau seseorang mendapatkan yang satu tetes tersebut, jangan sombong. Pun kalau tidak dapat dunia, jangan juga sedih. Karena yang tidak didapat itu juga baru satu tetes. Dunia dan segala kenikmatannya hanyalah satu tetes dibandingkan akhirat."
“Dunia ini kita pandang seperti hanya satu tetes saja. Kita dapat, jangan sombong. Tidak dapat, jangan sedih,” Rival mengingat isi ceramah salah satu ustadz yang pernah di dengaranya sewaktu menjadi TKI di Arab Saudi.
*
*
*
Seminggu sudah berlalu, luka Rili sudah mulai nampak kering. Tapi, kaki wanita itu belum sembuh total dari terkilirnya. Dia masih sedikit pincang berjalan. Karena kakinya masih terasa sakit kalau terlalu kuat ditekan.
Selama seminggu ini, Rival tidak pernah menelpon Rili. Dia mengingat kata ibu Rili. Bahwa Rili diberi waktu berfikir selama satu bulan.
Sebenarnya Rival ingin sekali mengetahui kabar Rili, secara gara-gara Dia wanita itu jadi terluka. tapi, keinginan itu ditahannya. Dia takut Rili malah membencinya.
Rili nampak bersiap-siap, wanita itu nampak mengenakan Rok celana panjang warna hitam dipadu dengan blouse warna hitam bercampur murstad motif rantai.
Tadi pagi, Windi memberi kabar. Bahwa hari ini tepatnya hari Minggu Yasir akan datang memantau perkembangan Hotelnya yang berada di kota mereka. Selama seminggu ini Windi, menjenguk kawannya setiap 2 hari sekali setelah pulang kerja.
Ternyata Hendrik sepupunya Windi, mengabarinya bahwa kedatangan Yasir dipercepat, yang seharusnya besok.
Windi, sudah sampai di rumah Rili. Ibu Rili langsung meminta Windi untuk masuk ke kamar putrinya tersebut.
Tok...tok... Windi nampak mengetok pintu kamar Rili.
"Masuk Windi!" ucap Rili dari dalam dengan intonasi suara sedikit kencang.
Windi masuk ke kamar Rili dan langsung mendaratkan bokongnya di ranjang empuk milik Rili.
"Lama kali sich dandannnya, ayo buruan! nanti Yasir keburu pergi!" ucap Windi sedikit kesal, karena Rili belum selesai juga berhias.
"Iya bawel, ini udah selesai koq. Aku cantik gak?" tanya Rili dengan sumringah. Dia bahagia sekali hari ini, karena dia akan bertemu dengan Yasir.
"Kamu dari dulu udah cantik, kalau gak cantik mana mungkin Yasir suka samamu." Ucap Windi dan berlalu pergi duluan meninggalkan kawannya tersebut.
"Kamu tega ninggalin aku Windi, tolongin dong aku jalannnya!" ucap Rili kesal.
Mama Rili yang melihat putrinya berjalan pincang, membantu putrinya tersebut keluar dan membantunya memasuki mobil Windi. Ya, Windi bawa mobil. Secara memang Windi anak orang kaya.
Mama Rili yang mengetahui putrinya akan pergi menemui Yasir, awalnya melarang. Tapi, akhirnya Rili bisa meyakinkan mamanya. Bahwa, Dia ingin jumpai Yasir hanya ingin kepastian.
"Cepetan dong win," ucap Rili dengan melihat sahabatnya tersebut. "Kamu bilang Abang Yasir akan datang sekitar jam 9. Ini udah 08.40 Wib." Ucap Rili dengan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"kita terlambat gara-gara kamu. Tadi di telpon sudah aku bilang cepat beres-beresnya. Jangan aku lagi yang nungguin kamu." Ucap Windi dengan sedikit kesal.
"Iya, aku minta maaf ya! aku nervous banget ni Windi. Coba pegang tanganku." ucap Rili sambil meraih tangan sahabatnya tersebut
"Iya, kamu tenang ya! tarik napas dan tanganku lepasin. aku lagi nyetir ini."
Rili mengikuti instruksi Windi, wanita itu akhirnya bisa sedikit tenang, sesaat setelah wanita itu meneguk air mineral yang ada di tempat minum milik Windi.
Kini Rili dan Windi nampak berdiri di depan loby Hotel. Sesuai instruksi Hendrik. Bahwa Yasir dan asistennya akan sampai Dalam waktu lima menit. Hendrik juga nampak menunggu di depan loby Hotel, tapi posisinya berlawanan arah dengan posisi Rili dan Windi.
Hendrik pada posisi kanan tepat di pintu masuk Hotel, sedangkan Rili dan Windi berdiri disebelah kiri agak dipojok loby Hotel.
Kini nampak mobil merk Jaguar warna hitam berhenti di depan pintu loby Hotel. Hendrik nampak membuka pintu mobil tersebut dengan tersenyum.
Rili yang berdiri di sisi kiri loby Hotel, dibuat jantungan disaat dia melihat sepasang kaki yang ditutupi oleh sepatu warna hitam yang mengkilat mendarat dilantai loby Hotel. Matanya hampir keluar dari tempatnya melihat sosok pria yang keluar dari dalam mobil tersebut.
Refleks Rili berlari, kemudian wanita itu terjatuh.
Bersambung.
Mohon beri like, coment positif, vote dan jadikan novel ini sebagai favorit.
Terima gaji.
awal ny aq da gk mau melanjut kn bc..krn kesan ny terllu bertele2..lambat ..tp nth kenapa aq penasarn..
tp makin ke sini ..aq mkin mewek...😭😭😭
lanjut min...