Mengidap Endometriosis, bagai vonis mimpi buruk bagi wanita mana pun hingga terpaksa melakukan operasi dan proses bayi tabung, namun perceraian justru harus terjadi.
Berjuang sebagai orang tua tunggal dengan kehadiran kedua buah hati yang terlahir fraternal, membuat hari-hari Irene tidak terduga hingga pertemuan tak terduga kembali terjadi dengan Hendrik, menyisakan pertanyaan yang tanpa diketahui ada bahaya mengancam di saat kebenaran mulai terungkap.
Di saat pertemuan dan genggaman tangan itu menarikmu, apa kau akan berbalik untuk bersama atau justru meninggalkan kembali?
Ikuti kisah Irene & Hendrik selanjutnya, tak lupa Xander & Xavia yang menggemaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fidia K.R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihan 5
Menanti kehadiran akan datangnya cinta sejati, kunjung hati yang tergapai sudah setelah beberapa waktu berlalu. Ungkapan kata hati yang tak akan terbagi dan berpaling, kembali terucap indah bagai warna pelangi ketika hujan badai berakhir. Janji indah tidak akan terbagi yang lain, penerimaan akan rasa bahagia terbersit luka yang ternyata masih belum kunjung menghilang.
“Segera siapkan pesta pernikahan! Untuk apa buang waktu percuma? Segera hubungi wedding organizer terbaik!” Wiliiam menarik tangan Bastian, ketika sedang sibuk menghubungi kuasa hukum keluarga Kessler.
“Ma, jangan terburu-buru. Biarkan aku berbicara dengan Irene terlebih dahulu,” Hendrik mengambil handphone Bastian, seraya meminta mereka untuk mengerti kondisi terlebih dahulu.
“Apa yang kalian pikirkan?! Jika Irene tersadar nanti, sebagai seorang ibu, aku bisa mengerti jika Irene menolak dan marah nantinya,” Mia berucap kesal sembari terduduk lemas pada sebuah sofa yang berada di ruangan berbeda dari kamar rawat Irene.
“Apa maksudmu? Mia, apa kau tidak mendengar perkataan dokter barusan? Mereka adalah cucumu! Tentu kita harus segera menghubungi kuasa hukum untuk me—”
“Suamiku, apa kau ingin memperkeruh hubungan Irene dan Hendrik dengan mencoba mengambil hak asuh Xander dan Xavia? Bagaimana perasaan Irene? Pernahkah kalian memikirkannya?!” Mia sedikit meninggikan suaranya meminta William untuk mengerti kondisi saat ini.
Hendrik tersenyum, merangkul sang ibu penuh bangga. Tidak ada yang mengerti kondisinya dan Irene saat ini selain dirinya. Tentu bagi seorang wanita mana pun terlebih dengan status orang tua tunggal dan diceraikan, beban derita yang dialami Irene begitu besar, mengingat sangkut paut hubungan masa lalunya dengan keluarga Kessler.
Jeda waktu tatkala tangis, tawa, atau bahkan saat berada di tempat sepi atau keramaian, pernahkah diri mempertanyakan kabar dirinya yang berada di ruang waktu penyendiri? Bertanya-tanya siapa yang memberikan bahu ketika ia merasa terpuruk atau bersedih, tentu bukan ia jawabannya.
Menjaga dirinya yang terkukung dalam penjara batin penyiksaan, berusaha bersikap tegar di saat diri ketakutan di jalan setapak penuh batang berduri. Kali ini, tidak ada lagi egois diri dan tidak ada lagi saling menyalahkan. Atau jika memang itu harus terjadi, maka diri ini akan dengan lapang hati menerima penghinaan ketika ia menguraikan kata berakhiran tanpa tanda titik koma.
...***...
“Aa-apa kau bilang? Ulangi sekali lagi!” ucap Anna begitu kesal pada Sarah yang menghubunginya melalui panggilan telephone.
“Hendrik datang ke apartment Irene dan menggagalkan rencana kita lagi! Bahkan ketiga pria tidak berguna itu, Bastian serahkan ke kantor kepolisian!” balas Sarah yang juga ikut merasa kesal.
“AARRGGHH!! SIAL! SIAL!”
Anna kembali terselimut rasa kesal. Api balas dendam yang kian menjadi, membuat Anna semakin gelap mata tatkala dirinya pun belum mengetahui kebenaran sebenarnya akan kehadiran kedua buah hati penerus garis keturunan keluarga Kessler, di tengah dirinya yang sedang merencanakan sebuah serangan balasan.
Tersampai pada Luke untuk melancarkan rencananya, Anna tidak ingin berlama-lama membuang waktu. Ketiga pria bertubuh kekar yang kala ini berada di kantor kepolisian pun, dibebaskan oleh Luke yang tentu dibantu oleh Mr. JK begitu berperan di belakangnya.
Tersampai pada mereka untuk kembali melakukan penuntutan balik atas kelalaian dalam bekerja, ketiga pria bertubuh besar mengumpulkan beberapa pria lainnya yang bekerja dalam proyek pembangunan PT. Loic dengan PT. Etheral, hanya untuk mencari masalah yang tidak diperlukan.
Dana pembangunan yang sempat hilang karena diberikan Hendrik hanya melalui sebuah percakapan dan tidak tercantum dalam perjanjian persetujuan, membuat Luke menuntut balik sebagai tindakan wanprestasi yang dilakukan oleh pihak PT. Etheral secara sepihak. Berbagai masalah lain yang timbul pun hadir, hanya dalam waktu kurang dari setengah hari.
“Demo buruh, perusakan fasilitas, bahkan menghadang truk pengiriman alat produksi. Apa lagi yang kulewatkan di sini?” tanya Hendrik pada Jacob, kapten di biro investigasi (FBI).
“Ketiga pria itu menuntutmu melakukan tindakan kriminal! Pemukulan dan bahkan mereka memberikan kesaksian kau mencoba membunuh salah satu diantaranya. Dengan luka itu, tentu mereka memiliki kesaksian yang kuat,” balas Jacob pada Hendrik.
“Ada yang meretas CCTV apartment Irene sehingga aku atau Jacob tidak bisa mengumpulkan bukti bahwa merekalah yang datang mengunjungi Irene,” Bastian ikut memberikan keterangan setelah seharian menghilang meninggalkan rumah sakit bersama Jacob.
“Baiklah, aku mengerti.”
“Hendrik, kau ... tersenyum? Apa otakmu baik-baik saja?” tanya Jacob kebingungan.
Tatapan Bastian seketika tertuju pada Hendrik yang kini tersenyum dengan bangganya. Mencoba mengerti akan raut wajah serta maksud dari senyumannya saat ini, Bastian bagai mendapat sedikit sinyal khusus yang mengisyaratkan bahwa dirinya harus segera bersiap-siap untuk melakukan serangan balasan bersama Hendrik.
Kepulangan Jacob kembali ke markas, tentu merasa tenang setelah Hendrik menjelaskan sedikit rencananya meski terdengar berbahaya dan konyol untuk dilakukan. Tidak tahu apakah Hendrik benar-benar berani atau pria bodoh yang sedang menantang maut.
Sebelum melancarkan aksinya, Hendrik kembali menuju kamar rawat dan terduduk tepat di samping Irene yang masih belum sadarkan diri di hari ketiganya. Banyak alasan yang diberikan dokter pada Hendrik mengenai kondisi Irene saat ini, namun bagi Hendrik hanya penyalahan dirinya sendirilah yang tidak bisa menepati janji untuk melindungi dan selalu bersama baik susah maupun senang.
“Maafkan aku ... kumohon, segeralah buka kedua matamu. Pukul atau marah lah padaku. Hinaan pun akan aku terima,” lirih Hendrik ketika mengantukkan pelan keningnya pada kening Irene.
“Apa, kau bisa memaafkanku? Irene ... kenapa kau memilih untuk menghindariku dari pada membalasku? Kau sudah begitu banyak menderita, apa kau tidak ingin mengeluarkan semua padaku atau pun keluargaku?” lanjut Hendrik terakhir kali sembari mengecup lembut kening Irene.
Belaian lembut pada wajah irene pun membuat Hendrik tidak dapat lagi menyembunyikan perasaan terdalamnya. Jika Irene membenciku, maka cincin pernikahan ini pasti dia lepaskan. Namun, dengan kau yang masih mengenakannya, Irene apa aku masih memiliki kesempatan? Gumam Hendrik dalam hati seraya menatap sendu pada Irene yang masih terlihat pucat pasi.
Luka ditubuh Irene mulai membaik. Hasil rekam medis pun memberikan hasil yang memuaskan, namun entah mengapa Irene masih saja tertidur dan belum terbangun dari mimpinya. Apakah itu indah? Ataukah mimpi buruk? Pertanyaan yang kembali ingin dikatakan namun tak dapat bersuara.
Kedatangan Collin dan Colie setiap hari ke rumah sakit pun menjadi penawar rindu Hendrik karena dapat melihat kedua buah hatinya yang selama ini dia rindukan. Begitu dalam keinginan Hendrik yang terpendam hanya untuk sekedar ingin mengganti pakaian mereka, tertidur bersama mereka, bermain dan bercanda tawa dengan mereka.
Tidak lagi ingin berpura-pura namun menunggu Irene menyetujui niat hatinya, berbagai perasaan muncul dari dalam diri Hendrik karena Xander dan Xavia masih memanggilnya dengan sebutan yang tidak diinginkan, bahkan masih mencoba menjaga jarak dengannya. Hendrik pilu, begitu tenggelam dalam lautan hampa dengan hawa dingin yang menusuk.
“Kenapa Paman masih di sini? Apa Paman menemani Mommy?” tanya Xander sembari meminum sekotak susu coklat kesukaannya.
“Paman, kapan Mommy pulang?” Xavia menarik kemeja Hendrik yang langsung melipat kedua kakinya agar dapat sejajar dengannya. Hendrik menatap lembut pada Xavia, hingga tanpa sadar mencium kening Xavia tanpa meminta persetujuannya.
Jiwa polos tak berdosa pun merasa malu karena seorang pria tampan mencium keningnya penuh kasih dan sayang. Namun Xavia terdiam tak bergerak, sedikit pun tidak melakukan perlawanan meski beberapa detik berlalu dengan Hendrik yang masih mencium keningnya.
Seketika Hendrik mengepal salah satu tangannya seraya menghentikan tetes air mata sebelum terjatuh menyentuh wajahnya. Mencoba menarik dan menahan diri akan perasaan yang begitu dia inginkan sejak lama, sungguh tidak menduga bahwa Hendrik dapat merasakannya saat ini.
Tatapan Hendrik kini tertuju pada Xander yang mengerutkan alisnya. Terlihat jelas ketidaksukaannya pada Hendrik yang menurutnya tidak sopan karena sudah berani mencium kening Xavia. Namun Hendrik justru tersenyum karena menyadari bahwa sifatnya mengalir dalam tubuh Xander.
“Bukankah kalian setuju memanggilku Daddy? Kenapa memanggilku Paman kembali?” tanya Hendrik dengan suara parau, menatap pada Xavia dan Xander yang terdiam tak berbicara.
“Karena Paman jahat! Paman membawa wanita dan pria tua itu datang ke rumah hingga membuat grandma sakit!” balas Xander dengan tegasnya membalas pertanyaan Hendrik.
Hendrik terdiam mematung, pikirannya melayang sejenak tidak menyangka bahwa keputusannya saat itu dengan membawa kedua orang tuanya mengunjungi kediaman keluarga Farmer, justru membawa duka lara begitu memilukan hingga tanpa sadar luka kembali menoreh cukup dalam.
“Ma-maafkan aku. Maukah kalian mema—”
(KLIIKK) Suara pintu yang tertutup setelah terbuka dengan William dan Mia yang masuk ke dalam ruangan rawat inap, mencoba melihat kondisi Irene.
Seketika raut wajah Xander dan Xavia berubah. Raut wajah bagai penuh kebencian dan rasa amarah yang seharusnya tidak ada dalam diri anak berusia empat tahun, sungguh bagai tamparan keras bagi siapa pun yang melihat atau mengalaminya. Hendrik tertegun, begitu tercengang di saat kedua kembar berjalan dengan tegas menuju William dan Mia.
“MAU APA KALIAN KEMARI! KALIAN TIDAK BOLEH JAHAT KE MOMMY!” teriak Xander dengan menunjukkan jarinya dengan lantang pada William dan Mia.
“PERGI! JANGAN MASUK! PULANG! TIDAK BOLEH KE MOMMY!” teriak Xavia dengan melempar boneka barbie kesayangannya pada William dan Mia.
Tangisan Mia seketika pecah tak terbendung dengan Willian yang hanya dapat menundukkan kepalanya. Kedua permata hati mereka seketika berubah menjadi begitu membenci, tanpa mengijinkan untuk memeluk atau mengenalnya terlebih dahulu.
Sosok jiwa murni tak berdosa, bagaimana mungkin memiliki rasa dendam dan amarah seperti ini jika tidak terluka cukup dalam? Lalu, bagaimana agar mereka mau memaafkan?