Di beli untuk dinikahi dan disakiti adalah jalan hidup seorang gadis cantik bernama Lovita. Di usianya yang masih remaja, Rumah bordil adalah tempatnya mengadu nasib. Uang sebanyak tiga milyar yang dibayarkan lelaki tampan itu untuk menikahinya semakin membuat Lovi merasa bahwa dunia ini kejam. Semua kesengsaraannya dimulai saat perusahaan Ayahnya bangkrut. ia bisa tinggal di rumah bordil dan menjadi budak Berry untuk mencari uang karena keegoisan ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arzeerawrites, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemarahan Devan
Lovi membersihkan meja makan usai keluarga besar pemilik mansion itu menyantap sarapan mereka.
Semuanya sudah kembali ke aktifitas rutin mereka. Devan dan Raihan sudah berangkat bekerja sejak lima belas menit yang lalu. Sementara Jane menemani Rena yang berbelanja bulanan bersama dua pekerja mansion yang bertugas untuk membawa barang belanjaan mereka nantinya.
Elea mendorong kursi rodanya seorang diri seraya berteriak memanggil Lovi.
"Lovi!!"
Lovi menoleh dan menatap kedatangan Elea dengan bingung. Ia menghentikan sejenak kegiatannya untuk bertanya dengan sopan,
"Ada apa, Nona?"
"Tadi aku menumpahkan minuman di kamarku. Tolong bersihkan sekarang!" Titah Elea dengan tegas.
Lovi mengangguk kemudian bergegas ke dapur untuk mengambil kain lap bersih yang akan digunakannya untuk menghilangkan noda dari minuman yang tumpah itu.
"Cepat, Lovi!!"
Lovi yang masih berkutat mencari kain itu langsung tersentak saat Elea membentaknya. Suaranya sangat nyaring terdengar dari ruang makan. Tidak biasanya Elea berbicara keras padanya. Lovi merasa ada yang berbeda dalam diri Elea saat ini.
Ketika menemukan semua perlengkapan kebersihannya, Lovi berjalan menuju kamar Elea dan pemiliknya mengikuti Lovi dari belakang beserta kursi roda kesayangnnya.
Lovi menatap sebentar Elea untuk meminta izin membuka pintu kamarnya. Setelah mendapat jawaban dari Elea, Lovi memasuki kamar Elea kemudian mengedarkan pandangannya ke segala penjuru kamar yang sangat luas itu untuk mencari tempat dimana tumpahnya minuman yang dimaksud oleh Elea.
"Dimana letaknya, Nona?"
Tangan Elea terangkat menunjuk meja yang ada di sudut ruangan. Membuat Lovi mengangguk tanda mengerti.
Lovi membersihkannya dengan benar bahkan sampai menyingkirkan barang-barang yang ada di atas meja itu untuk sementara agar Ia lebih mudah membersihkannya dan tidak terlalu banyak barang yang menjadi kotor.
"Setelah mejanya, Jangan lupa bersihkan juga lantai di bawahnya!"
Ele mengarahkan pekerjaan Lovi. Menatap dalam diam gerakan istri dari kekasihnya itu yang sedang serius melakukan tugasnya.
Usai membersihkan dan mengembalikan keadaannya seperti semula, Lovi mengambil kain lap khusus lantai yang berdiri tak jauh darinya. Kemudian membersihkan lantai yang juga sedikit kotor.
Elea mendekati Lovi kemudian menyeringai.
"Ini belum," Tunjuknya pada lantai yang diinjak oleh roda dari kursinya.
Lovi merasa kalau Elea beberapa kali menapakkan kursi roda itu di lantai yang sudah dibersihkan oleh Lovi hingga lantai yang tadinya sudah bersih kini dipenuhi jejak roda.
"Nona, jangan diinjak lagi. bagian ini sudah aku bersihkan tadi,"
Elea berdecak kemudian memutar bola matanya seolah malas untuk mendengar ucapan Lovi.
"Lakukan saja tugasmu dengan baik! Tidak usah protes!"
Lagi-lagi Lovi dibentak oleh kekasih dari suaminya itu. Jujur Lovi sedih dengan perubahan Elea. Biasanya perempuan itu sangat baik padanya berbanding terbalik dengan Devan. Namun Lovi tidak mengerti alasan Elea menjadi kasar seperti saat ini. Lovi mencoba berpikir positif mungkin saja Elea sedang terperangkap di dalam Mood nya yang menyebalkan.
"Lakukan dengan benar, Bodoh!"
Elea berbuat sesuatu hingga Lovi menyentuh lantai di sertai alat pembersih yang juga terpelanting di samping Lovi.
"Maaf, Nona,"
"Ternyata ucapan Devan benar. Kamu adalah perempuan yang bodoh,"
Lovi menunduk saat Elea memakinya. Ia tak berani menatap kemarahan itu. Rahang Elea mengeras dengan emosi yang sangat terpancar di wajahnya.
"Cepat bangkit! Dan lanjutkan pekerjaanmu!"
Lovi berusaha bangkit walaupun perutnya merasakan sakit. Ia masih bisa menahannya. Lovi tidak boleh meringis seraya menyentuh perutnya. Elea mungkin terlalu pintar untuk menyadari itu nantinya.
Terlalu yakin bahwa dirinya tidak mengalami apapun membuat Lovi tidak sadar saat ini darah sedang mengalir di celah kedua kakinya yang berusaha berdiri tegak.
Dan Elea yang melihat itu pertama kali pun tersenyum. Hatinya bersorak bahagia. Mungkin saja sedang terjadi sesuatu pada kandungan Lovi.
"Jadi benar kata Vanilla kalau kamu hamil?"
Lovi tidak bisa lagi menutupi rasa terkejutnya. Wajahnya terlihat pias dan ketakutan. Rupanya Vanilla menyampaikan apa yang didengarnya kemarin? Lovi tidak menyangka kalau Vanilla akan memberi tahu Elea mengenai perihal yang kemarin dikatakannya 'tidak penting'.
Elea lebih dekat pada Lovi dan mendesis,
"Kamu hamil, Lovi? Anak siapa itu?"
Melihat Lovi yang hanya diam, membuat amarah Elea kian menyeruak ke permukaan.
"Jawab aku!"
Elea mengulangi perbuatannya tadi. Bahkan lebih kasar dari sebelumnya.
"Aku yakin itu bukan anak Devan," ucap Elea dan mengangguk yakin kalau Devan tidak mungkin mengkhianatinya. Lelaki itu terlalu baik untuk menjadi seorang pengkhianat. Elea percaya kalau Devan sangat menjaga cinta mereka. Devan tidak mungkin merusak cinta itu dengan perselingkuhan.
Elea menatap Lovi remeh dan bergedik seolah jijik dengan Perempuan yang sedang kesakitan tu.
"Kamu seorang ******. Jadi bisa saja itu anak dari lelaki lain,"
Lovi menatap Elea tajam. Harga dirinya kembali dihina. Mana mungkin anak yang di kandungnya sekarang adalah anak dari lelaki lain. Mengingat Lovi melepas semuanya pertama kali pada Devan dan selama ini juga Lovi tidak bisa bertemu dengan lelaki lain karena Devan yang terlalu menjaganya dari lingkungan luar.
"Jaga ucapan Anda, Nona! Aku tidak serendah itu. Aku memang hamil dan ini anak Tuan Devan,"
Saat rasa sakitnya kian menyerang, Lovi tidak bisa lagi menahan laju air matanya. Perutnya terasa seperti dicabik-cabik.
Elea hanya diam melihat semua penderitaan Lovi itu.
"Perempuan yang malang," Ujarnya lagi. Sedang kesakitan seperti itu tanpa ada suami di sisinya. Terlihat benar-benar pantas disebut perempuan malang.
Lovi sampai menjerit seraya menyentuh perutnya yang sangat kesakitan itu. Darah semakin banyak mengalir hingga pakaian yang digunakannya berubah warna.
Bersamaan dengan itu, hadirlah Devan yang terlihat berjalan dengan tergesa-gesa mendekat pada perempuan yang sedang membelakanginya itu
"Apa yang terjadi, Elea?"
Elea terkejut saat Devan tiba-tiba ada di sampingnya padahal Lelaki itu sudah pergi bekerja tadi. Elea hanya diam hingga Devan mengalihkan matanya ke arah lain dimana Lovi semakin memundurkan tubuhnya dengan posisi terduduk dilantai. Perempuan itu terlihat ingin menjauhinya dengan wajah ketakutan.
Matanya membulat saat melihat kaki Lovi yang sudah di penuhi darah. Devan mendekat saat naluri kemanusiaannya tiba-tiba saja muncul.
Devan berjongkok dan melihat dengan jelas Perempuan yang menangis itu.
"Apa yang terjadi padamu?"
Devan ingin meraih tubuh Lovi namun perempuan itu berteriak dan menatap Devan sangat tajam.
"Jangan sentuh aku!"
"Kamu berteriak padaku?"
Rahangnya mengeras saat niat baiknya malah ditolak mentah-mentah oleh Lovi.
"Ini semua perbuatan kekasihmu! Dia sudah mencelakai anakku!!"
Teriakan penuh amarah tiba-tiba membuat mansion bergema. Suasana menjadi sunyi beberapa saat hanya terdengar isakan tangis Lovi.
Tanpa bicara apapun Devan langsung mengangkat tubuh Lovi dan membawanya dalam dekapan. Raut wajahnya datar dengan aura marah yang memancar dari matanya.
Devan menatap Elea sejenak dan berdesis sangat mengerikan.
"Kamu melakukannya pada orang yang salah, Elea!"
**********
Ini pnjg bat sumvehhh pliss jgn pelit like, coment sm votenya. akyu kan dah baik bikin part sepanjang ini wkwk. kalo kelean pelit aku jg mo pelit ah :p
ceritanya kagak nyambung
lari sana lari sini
gak nyambung juga
biking pusing sy bacanya