Spion Off "Tuan Muda Amnesia"
Di hari yang seharusnya menjadi momen terindah, kabar buruk menyergap kediaman Alexander. Calon mempelai putra sulung mereka menghilang, tanpa jejak, tanpa pesan.
Namun, upacara tetap disiapkan, tamu tetap berdatangan, akan tetapi kursi di samping Liam Alexander kosong. Liam bersikeras menunggu, meski semua orang mendesaknya untuk menerima kenyataan.
Semakin lama Liam bertahan, semakin jelas bahwa ada sesuatu yang tak beres, dan hilangnya calon istrinya bukanlah kejadian kebetulan
Follow instagram @Tantye untuk informasi seputar novel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Butterfly era
Karena kecerobohan saat meeting akhirnya Liam mendarat di klik terdekat lokasi studio Arumi. Dan yap dia mendapatkan sedikit omelan di tengah rasa sakit yang ia derita. Namun alih-alih marah ia malah tersenyum melihat bagaimana cantik dan menggemaskannya Arumi ketika mode cerewet seperti sekarang.
"Besok nggak usah masuk kerja, jangan bebal kalau dibilangin!"
"Iya Sayang," jawab Liam masih dengan senyumnya.
"Jangan iya-iya saja. Mas sudah menderita selama ini, jadi jangan tambah lagi."
"Iyaaaa Sayannngggg." Kali ini suara Liam terdengar manja membuat dua manusia yang duduk tidak jauh dari mereka terkejut sebelumnya akhirnya tertawa kecil.
"Ternyata Tuan Liam bisa manja juga, aku kira cuma marah-marah doang," lirih Arthur.
"Efek di tinggal mungkin, jadi bawaannya emosi mulu. Sekarangkan bu Arumi sudah balik jadi suasana hati tuan Liam aman terkendali."
"Jadi kita baikan kan Yang?" tanya Arthur tiba-tiba.
"Nggak!" Sevia langsung berdiri dan menjauhi Arthur, bertepatan para atasan mereka tiba usai diperiksa dokter klik.
"Bagaimana kondisi tangan anda, Tuan?" tanya Arthur.
"Tulangnya tergeser lagi dan masa penyembuhannya semakin lama soalnya mulai dari awal, bahkan kata dokter lebih parah dari sebelumnya," jawab Arumi dengan nada gerutuan. Seperti seorang ibu yang perhatian tetapi kesal karena anaknya terluka sebab nakal saat bermain.
"Bisa kan jadwal mas Liam diatur kembali?"
"Bisa banget Bu, lagian tuan Liam sendiri yang ... terlalu bersemangat," Arthur mengalihkan kalimatnya ketika mendapatkan tatapan tajam dari sang atasan yang berdiri di belakang Arumi. Padahal dia ingin bilang bahwa tuan Liam yang keras kepala ingin bekerja.
"Syukurlah, sekarang kalian boleh pulang, biar mas Liam sama saya," ujar Arumi.
"Masih ada pekerjaan yang harus di selesaikan," ucap Sevia dan Arthur serempak.
"Apa?"
"Beberapa berkas belum di acc dan membutuhkan tanda tangan." Keduanya kembali berucap serempak.
Akhirnya mereka berempat kembali ke studio saat matahari baru saja tenggelam. Mereka berada di satu ruangan yang sama dengan kesibukan berbeda.
Sevia dan Arumi ada di meja kerja mendiskusikan konsep sesuai keinginan klien. Sedangkan Liam memeriksa dokumen sembari mendengarkan penjelasan Arthur, mencocokkan dengan berkas-berkas yang ada. Kadang pula keduanya bertukar pendapat apakah pengajuan tersebut masuk akal atau tidak.
"Sevia tolong ambil makanan di depan," ujar Arumi tiba-tiba setelah mendapat telepon.
Mendengar hal itu Arthur langsung berdiri dan mengikuti langkah Sevia keluar dari ruangan.
"Mereka pacaran," ujar Liam yang mendapati Arumi terus menatap pintu.
"Loh sejak kapan? Kok aku nggak tau?" Arumi mendekati Liam di sofa dan duduk tepat di samping pria itu.
"Nggak tau kapan, intinya mereka pacaran."
"Bagus deh, kayaknya Arthur baik kok."
"Iya karena bosnya baik kayak aku."
"Dih narsis."
"Tapi benar kan?"
"Iya mas Liam." Arumi tertawa, ia semakin merapatkan duduknya ketika Liam merentangkan tangan seolah memintanya mendekat. Tatapannya tertuju pada tangan kiri sang kekasih yang masih di gips.
"Masih sakit ya?"
"Sudah mendingan Sayang, jangan terlalu dipikirkan. Pasti sembuh kok."
"Tapi pergerakan mas jadi terbatas."
"Ada kamu sayang." Liam menatap wajah kekasihnya yang tampak cemberut. Merapikan anak rambut bagian depan Arumi yang sedikit berantakan. "Jangan manyung gitu nanti mas cium loh."
"Ih mas kok jadi suka cium!" protes Arumi karena tiba-tiba Liam mencuri kecupan di bibirnya, padahal tadi sang kekasih hanya mengancam.
"Jangan dekat-dekat bisa nggak sih!"
"Tapi aku kan nggak sengaja, kok sensi banget!"
Perdebatan asisten mereka mengalihkan perhatian Liam dan Arumi yang sedang bermanja. Keduanya terus memperhatikan bagaimana Arthur dan Sevia berdebat sampai tiba di sofa membawa makanan pesanan Arumi.
"Kalian kenapa?" tanya Arumi.
"Nggak tau tuh asistennya tuan Liam modus terus sama saya Bu."
"Bohong Bu, saya cuma mau bantu bawa kok soalnya dia kerepotan."
"Ya udah kalian makan malam dulu, nanti bertengkarnya setelah kenyang," celetuk Liam sembari meraih tangan Arumi agar kembali duduk.
"Tangan mas sakit, jadi nggak bisa makan sendiri," ujar Liam sembari memandangi makanan di hadapannya.
"Biar aku suapi," sahut Arumi.
Dan ucapan itu lagi-lagi membuat Arthur dan Sevia saling pandang. Namun, bagaimana pun isi pikiran mereka hanya bisa bersemayang di kepala tanpa berani untuk menganggu kemesraan para atasan.
Mereka pulang ketika jarum jam menuju angka delapan, dan tentu saja Arumi yang menyetir mobil perusahaan Liam, sebab Arthur pulang dengan Sevia. Dan sepanjang jalan leher Liam seolah dikunci stang, hanya tertoleh pada Aruminya saja.
"Mama sama papa nanya kapan baiknya kita menikah," ujar Liam.
"Setelah tangan mas sembuh saja. Lagian aku masih sibuk di studio soalnya beberapa klien balik lagi tahu aku masih hidup. Besok juga harus ke rumah sakit ...."
"Kamu sakit?"
"Bukan aku, tapi anak seorang perempuan yang mengorbankan nyawanya untukku."
"Jam berapa? Besok mas temani. Mas mau berterimakasih padanya karena ibunya sudah melindungimu."
"Nanti aku kabari mas."
Arumi memutar setir kemudi memasuki lingkungan rumah kediaman Alexander dan memarkir secara asal di depan rumah. Tanpa di suruh lagi, ia mengecup sudut bibir Liam seperti tadi siang.
"Aku pulang dulu mas."
"Tunggu!" Liam menarik tangan Arumi, kemudian dengan sigap mengecup di tempat yang sama.
"Loh kok?"
"Kan sama-sama mau turun."
"Modus!"
Arumi melambaikan tangannya dan berjalan menuju rumah orang tuanya yang tidak jauh dari kediaman Alexander, hanya dua rumah yang menjadi penghalang.
"Pulang sama siapa Nak?"
"Mas Liam Bu."
"Roman-romannya tuan muda nggak mau jauh-jauh dari putri ibu," canda Alea sambil merangkul pundak Arumi memasuki rumah.
"Iya."
"Jangan risih ya sama tingkah tuan muda. Saat mengira yang meninggal itu kamu, tuan muda seolah hidup di raga yang jiwanya sudah mati. Ibu sampai kasihan sama nyonya Liora yang sedikit-sedikit menangis melihat perubahan tuan muda."
"Ini salah Arumi ya Bu? Arumi terlalu egois ...."
"Nggak, Arumi nggak salah kok. Kan hanya dengan cara tersebut kamu bisa selamat. Orang yang terobesi terlalu bahaya untuk dibiarkan. Untungnya kamu cepat membaca situasi."
Arumi menghela napas panjang, ayah dan ibunya hanya tahu Seaven terobsesi padanya bukan pada Liam.
"Arumi ke kamar dulu Bu."
Arumi menapaki satu persatu anak tangga, hendak masuk ke kamarnya tetapi urung melihat adik perempuannya-Devina sedang berdiri di balkon lantai dua. Ia mendekat dan ikut berdiri di samping Devina.
"Liatin siapa?" tanya Arumi.
"Nggak liatin siapa-siapa kok mbak, Vina cuma cari angin saja," jawab Devina langsung memutus tatapannya. Tetapi Arumi terlanjut melihat apa yang sedang Devina perhatikan.
Yaitu sosok pria yang sedang berbicara dengan ayah Rocky di depan pagar. Sepertinya pria itu dari masjid dilihat dari pakaiannya, apalagi ada sajadah di tangan pria itu.
"Liatin Arhan kan?"
"Ih mbak sok tau, orang lagi liatin ayah."
"Beneran?"
"Iya."
"Arhan!" teriak Arumi tanpa peduli pandangan sekitar dan yap pemilik nama mendongak sebelum menunduk lagi.
"Mbak kok panggil mas Arhan sih. Aku jadi malu."
Arumi tertawa melihat semburat merah di wajah adiknya. Sepertinya ada yang sedang jatuh cinta diam-diam pada putra om Eril-saudara ayah Rocky.
....
jijik