perjalanan seorang remaja yang mencari ilmu kanuragan untuk membalaskan dendam karena kematian kedua orang tuanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Tiga Iblis
Puncak Gunung Api yang indah kini menjadi pemandangan yang mengerikan, mayat berserakan keagungan Gunung kini tiada lagi terlihat, karena menjadi gelanggang maut yang diselimuti hawa kematian. Kabut belerang yang kuning pekat bercampur dengan bau amis darah yang menyengat. Para pendekar kelas rendah dan menengah telah mundur, menyadari bahwa nyawa mereka hanya akan menjadi butiran debu di tengah badai tenaga dalam yang sedang mengamuk.
Kini, yang tersisa di bibir Kolam Naga hanyalah para pentolan rimba persilatan. Di sisi utara, berdiri Si Tangan Tembaga, tokoh aliran hitam yang ditakuti karena kulitnya tidak mempan ditembus senjata tajam. Di sisi timur, ada Pendekar Pedang Tanpa Bayangan yang gerakannya sulit diikuti mata telanjang. Dan di beberapa sudut lainnya, nampak tokoh-tokoh tua yang sudah puluhan tahun mendekam di dalam gua demi menyempurnakan ilmu mereka, kini keluar demi satu tujuan: Sisik Naga Emas.
Badra, Sunar, dan Ludira—Tiga Iblis Gunung Kunyit—masih mendekam di balik bongkahan batu besar, sekitar lima puluh tombak dari pusat kerumunan. Mereka bernapas dengan sangat teratur, menekan hawa murni agar tidak terdeteksi oleh radar sensorik para tokoh sakti tersebut.
"Lihat itu, Kakang," bisik Ludira dengan suara bergetar. "Si Tangan Tembaga baru saja meremukkan kepala seorang pendekar dari Partai Matahari dengan satu remasan. Jika kita maju sekarang, kita hanya akan jadi sasaran empuk."
Badra menyeringai licik. "Biarkan saja. Mereka semua adalah monster yang haus kekuasaan. Biarkan para monster itu saling memakan. Fokuslah pada cahaya di tengah kolam itu."
Cahaya keemasan dari Sisik Naga Emas semakin terang seiring dengan munculnya bulan merah di puncak cakrawala. Air kolam yang mendidih mulai membentuk pusaran raksasa.
glogak
Roaaaar
Tiba-tiba, bumi bergetar hebat. Getarannya jauh lebih kuat dari sebelumnya, hingga beberapa pendekar yang sedang bertarung terpaksa melompat mundur untuk menjaga keseimbangan. Dari dasar kolam yang paling dalam, terdengar suara geraman yang berasal dari zaman kuno. Suara itu bukan sekadar bunyi, melainkan gelombang suara yang mengandung tenaga dalam murni, membuat dada para pendekar terasa sesak.
BYAARRRR!
Air kolam yang mendidih meledak ke atas, membentuk pilar air setinggi sepuluh tombak. Di tengah ledakan itu, muncullah sosok yang melegenda: Naga Api Penjaga Sisik Emas.
Tubuhnya tertutup sisik merah tua yang keras bagaikan baja, panjangnya mencapai puluhan meter, meliuk-liuk di udara dengan sayap selaput yang lebar. Matanya kuning menyala, memancarkan kebencian mendalam kepada makhluk-makhluk yang mencoba mencuri hartanya.
"Makhluk sialan!" teriak Si Tangan Tembaga. Tanpa rasa takut, ia melesat ke udara, tinjunya yang berwarna tembaga berkilau mengeluarkan hawa panas. Ia berniat menghantam kepala sang naga.
Wuuut
Namun, Naga Api itu hanya mengibaskan ekornya dengan gerakan kilat.
wush
DUAARRR!
Hantaman ekor itu menciptakan dentuman yang memekakkan telinga. Si Tangan Tembaga, yang dikenal memiliki tubuh sekeras baja, terpental jauh menabrak dinding tebing hingga hancur berkeping-keping. Ia tewas seketika dengan tubuh remuk.
Melihat hal itu, para pentolan lainnya tidak malah mundur, melainkan semakin beringas. Mereka sadar, naga ini adalah rintangan terakhir sebelum pusaka abadi.
"Serang bersama! Hancurkan titik di bawah lehernya!" teriak Pendekar Pedang Tanpa Bayangan sambil melesatkan ribuan larik cahaya pedang yang menyilaukan mata.
hiaaaat
ciaaaat
Para pentolan rimba persilatan, yang biasanya saling bunuh, kini secara tidak sengaja bekerja sama untuk merobohkan sang naga. Berbagai jurus pamungkas dikeluarkan. Ada yang mengeluarkan jurus es untuk meredam panasnya nafas naga, ada pula yang menggunakan tali sutra baja untuk mengikat kaki makhluk tersebut.
Di tempat persembunyiannya, Tiga Iblis Gunung Kunyit menyaksikan pemandangan yang mengerikan sekaligus menakjubkan itu. Naga Api tersebut menyemburkan lidah api raksasa yang seketika menghanguskan tiga pendekar sakti sekaligus hingga menjadi abu. Namun, naga itu juga mulai terluka; beberapa sisiknya terkelupas akibat gempuran senjata pusaka para pendekar.
"Ini waktunya, Kakang?" tanya Sunar, tangannya sudah berkeringat dingin memegang senjatanya.
"Belum! Lihat, naga itu sedang bersiap mengeluarkan nafas api pemungkasnya. Itu akan menguras sebagian besar tenaganya, dan para pendekar yang tersisa pasti akan mengerahkan seluruh tenaga dalam mereka untuk bertahan. Itulah titik terlemah mereka semua!" Badra memberikan instruksi dengan mata yang berkilat penuh kemenangan.
"Wooosh"
Benar saja, Naga Api itu mendongakkan kepalanya ke langit, menyerap hawa panas dari kawah gunung, lalu menyemburkan api berwarna biru keputihan ke seluruh penjuru pelataran.
BOOM!
Ledakan api itu membutakan mata. Hawa panasnya bahkan sampai membakar semak-semak tempat Tiga Iblis bersembunyi. Para pendekar di garis depan tumbang satu per satu, tenaga dalam mereka habis terpakai untuk membuat perisai pelindung.
Setelah semburan itu berakhir, naga tersebut nampak lunglai, kepalanya terkulai ke bibir kolam, napasnya memburu. Sementara itu, para pentolan yang tersisa—hanya sekitar lima orang—termasuk Pendekar Pedang Tanpa Bayangan, jatuh terduduk dengan wajah pucat pasi. Tenaga dalam mereka kosong, tubuh mereka penuh luka bakar.
"Sekarang!" teriak Badra.
Tiga Iblis Gunung Kunyit melesat keluar dari persembunyian mereka dengan kecepatan penuh. Mereka tidak menyerang naga itu, melainkan melesat melewati para pendekar yang sudah tak berdaya.
"He he he, terima kasih sudah bekerja keras untuk kami, kawan-kawan!" seru Ludira sambil menendang dada salah satu pendekar tua yang sedang mengatur napas hingga pendekar itu terjungkal ke dalam jurang.
Badra sudah berada di udara, tangannya menjangkau ke arah Sisik Naga Emas yang terapung di tengah kolam.
"Pusaka ini milikku! Dunia persilatan akan berlutut di bawah kakiku!" teriak Badra dengan tawa yang menggelegar.
Namun, tepat saat ujung jarinya hampir menyentuh cahaya emas itu, sebuah larik energi berwarna ungu melesat dari arah hutan jati di kaki gunung, memotong jalur tangan Badra.
"Jangan harap kau bisa memilikinya, Iblis Gunung Kunyit!" sebuah suara wanita yang melengking namun penuh wibawa terdengar.
Badra terpaksa menarik tangannya dan bersalto di udara untuk mendarat kembali di tanah. Di sana, di ambang pintu masuk pelataran, berdiri seorang gadis muda dengan pakaian ringkas, pedang di tangan, dan tatapan mata yang penuh dendam.
" Siapa kau?" geram Sunar. "Bagaimana mungkin seorang bocah ada di sini?"
Anggun menunjuk ke arah mereka dengan pedangnya. "Raka mungkin telah kalian singkirkan ke Jurang Neraka, tapi hari ini, akulah yang akan mengirim kalian ke neraka yang sesungguhnya!"
" Ha ha ha, jadi kau kekasih Raka yang kami jatuhkan ke jurang!" Badra tertawa keras, sedangkan Ludira menelan air liurnya melihat kemolekan tubuh Anggun
Suasana di puncak Gunung Api semakin mencekam. Di satu sisi ada naga yang sedang memulihkan tenaga, di sisi lain ada para pentolan yang sekarat, dan di tengah-tengah adalah perseteruan antara Tiga Iblis yang licik dengan Anggun yang membawa bara dendam.
" Hari ini akan menjadi kematian kalian bertiga!" geram Anggun sambil bersiap menyerang
Badra tertawa dingin. "Hanya murid kecil seperti kau? Kau hanya akan menyusul kekasihmu ke dasar jurang!" ejeknya
" Hiaaaaat"
" Wuuuut"
Tanpa banyak bicara, Anggun melesat. dengan Jurus Bidadari ke angkasa , tubuhnya bagai bayangan, Pedangnya mengarah pada titik vital anggota tubuh Tiga Iblis