Erik, Sorang pemuda dari keluarga miskin sering di hina dan bully. dia tidak taku kalo dirinya adalah orang kaya.
hingga suatu hari ayah angkatnya sakit dan memberitahu Erik kalo dirinya bukanlah anaknya dan kedua orang tuanya memberitahukan dirinya salah orang berada.
sejak saat itu kehidupan Erik berubah, diapun membalas. semua orang yang sudah menghina dan membully nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon taofik irawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 35 penyesalan
Duduk di belakang sambil mendengar kan Eza dan Radit bertengkar, Erik begitu pusing mendengar mereka.
"Ok, gue salah, gue ngaku gue sudah putuskan dia." Ucap Radit meminta maaf pada Eza.
"Tapi jangan ulangi lagi..."sahut Eza.
Merekapun baikan. Hari sudah malam, setelah jalan-jalan. Eza menoleh ke belakang.
"Rik, uang udah ada belum? gue lagi butuh."Eza menagih hutang nya.
"Za, sorry belum ada. Ini aku juga bingung."jawab Eza.
Radit menatapnya, "nanti gue bantu , sudah jangan khawatir ayo pulang..."ucapnya.
Sampai di kosannya, Eza ia pun ke luar dari mobilnya Radit.
"Besok bertanya di kampus." Ucap Rati
Radit Pun pulang, selama di perjalan Erik dia buat risih dengan radit. Dia terus meliriknya. "Lo dah punya anak, katanya Lo duda sekarang?"tanya Radit. "Iya, istri gue sekarang sudah bercerai."sahut Erik.
Radit tertawa, dia menertawai Erik yang sudah menjadi duda. "Baru kawin berapa tahu Lo sudah cerai aja. Makanya pake pengaman kalo lagi berhubungan, Lo gak tahu apa ."ucap Radit.
"Nih gue banyak kalo mau, " Radit menunjukan banyak sekali pengaman di tasnya. Erik pun kaget. Dan penasaran dengan Eza," apakah mereka sering behubungan gimana caranya ?" Fikir Erik jadi penasaran.
"Boleh tanya sesuatu."ucap Erik,
"Iya apa?" Sahut Radit sambil menyetir mobil.
"Apakah Eza dan Lo sering berhubungan. "Tanya Erik.
Radit pun tertawa, " sudah tentunya, dan Lo tahu Eza dia yang memulai duluan." Balas Radit.
Erik, dia tidak percaya Eza serendah itu. Bahkan dia kenal betul dengan Eza. Orangnya yang cuek dan pendiam dengan orang yang tidak di kenalnya.
Sampai di rumah, saat kan masuk majiannya langsung memanggil nya.
"Erik... Sini kau!" Panggil ibu nya Radit dengan suara yang keras. Erikpun beranjak mendekati nya . "Iya, Bu ada apa?" Tanya Erik berdiri di hadapannya.
'kau ya, dari mana saja! Bukan kerja malah kelayapan. Lihat itu gak di beresin main tinggal aja. Kalo gak mau kerja ya udah keluar saja. Kau fikir kau saja yang mau kerja!" Majikannya memarahinya, tapi yang salah adalah Radit dia sedang kerja langsung di ajaknya.
Dan Erik lah yang kena imbasnya, "iya, Bu maaf gak akan terulang lagi."ucapnya.
"Awas ya jika terjadi seperti ini lagi. Kau ku pecat." Ujarnya sambil berjalan kembali masuk kerumahnya.
Erik membereskan peralatan kerjanya malam itu, dan kembali ke dapur.
"Kau dari mana saja, ibu dari tadi nyari ?"tanya bibi yang sedang membersihkan sayuran malam itu.
"Di ajak Radit, aku juga gak mau tapi kalo menolak takut dia marah."sahut Nya.
"Gitu ya, bibi juga mengerti kalo begitu..."sahut bibi.
"Ya sudah bi, saya capek mau tidur. "Erik beranjak ke kamarnya. Langsung berbaring.
"Eza...Kenapa Lo begitu .."gumam Erik, sambil menutup mata Erik masih tidak menyangka dengan Eza.
***
Sementara di kampung, ibunya terus marah-marah mendengar anaknya Erik menangis terus.
"Pak...anak ini bikin aku sakit kepala. Bapak kasih saja sama orang tuanya si Mira. Dia enak-enakan kawin lagi sama orang kaya." Keluh ibunya Erik.
Ayahnya terpaksa harus menggedongnya sambil mendengar istrinya ngomel. Dia tahu ini kesalahan Erik. Tapi dia juga tidak tega melihat anaknya jika tidak ada yang ngurus.
"Sudah, lah Bu..."sahut ayahnya.
Tapi ibunya, dia tidak mau lagi bersabar. Setelah mendengar Mira menikah dengan orang kaya dan sengaja menceraikan Erik.
"Pokonya ibu gak mau lagi, pak sudah kita kasihkan saja sama keluarga Mira. Ngapain kita cepek mereka senang-senang punya menantu kaya."Ujar ibunya Erik.
"Sudah Bu, tidur lah. Biar bapak yang urus..."ucap ayah Erik.
Ibunya mendengar cerita tetangganya, bahwa keluarga Mira sengaja menceraikan Erik supaya dapat menantu kaya, hidupnya terjamin. Karena itu ibunya Erik jadi emosi.
"Si Erik memang bodoh, mau saja di kibulin si Mira. Dia sudah senang jadi orang kaya." Ibunya terus ngomel sambil beranjak ke kamarnya.
Ayah hanya diam, menggedong anaknya Erik yang masih menangis.
Ayahnya berfikir, orang tuanya Erik sudah tidak ada. Rumah besar itu sudah lama tidak di urusnya. Hanya sesekali dirinya melihat.
"Apa aku kasih tahu sekarang saja?,"gumam ayah Erik dia dilema. Karena takut Erik berubah setelah tahu kalo dirinya orang kaya.
Ayahnya takut, Erik jadi sombong. Melupakan orang-orang yang sudah membantunya.
"Ah mungkin belum saatnya . "Ayahnya begitu dilema, tiap hari karena wasiat orang tuanya kasih surat wasiat itu saat Erik sudah dewasa dan sekarang ia sudah dewasa.
_______
POV Mira.
"Fandi, gimana sih istrimu gak bisa apa-apa. Parah sekali dia malah seperti istrimu sebelumnya bego..."keluh ibu mertua nya Mira pada suaminya.
Mira mendengar saat sedang membantu bibi di dapur. "Kau dengar, merekapun gak suka kau datang." Ucap pembantu nya.
Mira dalam hatinya menangis, bahkan pembantunya pun membencinya.
"Bu, Fandi juga terpaksa karena ayah kekeh ingin punya menantu baik, ibu tahun sendiri yang sudah-sudah malah selingkuh." Sahut Erik.
"Ibu juga bingung dengan ayah mu, kok bisa punya teman miskin. Malah nambah beban saja." Ibu mertuanya terus mengeluh dengan Mira.
Tengah malam saat Mira Kembali ke kamarnya, Fandi sedang berbaring di kasurnya. Mira datang dan duduk di sampingnya.
Dia merasa canggung, melihat fandi yang tampan dan juga begitu bersih. Mengehal nafas Fandi melihat Mira.
"Tidur lah, sini..."ucap Fandi.
Mira pun tertidur. Di sampingnya. Dan Fandi pun tertidur, Mira merasa Fandi tidak mencintainya. Mira suka dengannya tapi Fandi dia sepertinya tidak menyukai dirinya. Dia membuang Erik yang sudah mencintai demi cowok yang tidak mencintainya.
Meskipun dia ganteng dan juga kaya, Mira tidak berfikir apakah dia mencintai atau tidak kepada nya. Seperti tergesa-gesa Mira mengiyakan perjodohan ini.
Dan pada akhirnya Mira dia merasa menyesal sudah menceraikan Erik. Namun Erik dia sudah tidak mau lagi bersama Mira yang sudah menghianatinya dengan cowok lain.
Tidak bisa tidur, mira tiba-tiba menangis sendiri mengingat Erik dan anaknya. "Aku memang bodoh, kenapa ibu ku membujuk dengan iming-iming kau akan mendapat kan semua yang ku mau. Kenapa dia bilang sudah punya rumah sendiri. Dan Fandi aku mencintai tapi sepertinya dia tidak mencintaiku "gumam Mira. Sambil menangis tengah malam sendiri, di saat orang-orang sedang tidur.
Pagi hari saat Mira, menyiapkan pakaian fandi. Tiba-tiba ponselnya bunyi, Fandi yang sedang mandi langsung berjalan keluar mengambil ponselnya.
Mira melihat nya heran, dia mengangkat telponnya tidak di dekatnya. Mirapun curiga dia menguping di balik pintu kamar mandi.
"Iya, sayang nanti pulang kerja kita bareng aja gimana? Bukanya itu yang kau mau kan .."ucap nya,
Mira kaget, Fandi ternyata punya pacar, dia hanya bisa mengelus dada. Tidak bisa berbuat apa-apa.
Duduk lemas, Mira begitu menyesali berpisah dari Erik. Dia begitu baik padanya. Sekarang dia merasa di penjara.
Rupanya penikahan ini hanya keinginan ayahnya saja dan juga ayah Mira.
Fandi keluar dari kamar mandi, dia senyum sinis sambil melihat kemeja yang Mira siapkan. "Aku gak mau pake ini. Kau tidak mengerti ke sukaan ku "ucapnya, sambil melempar kemeja yang Mira siapkan.
"Mau mengerti bagaimana, kau sendiri diam terus ."jawab Mira.
Fandi langsung menghampiri Mira, dan menjambaknya. "dengar, kau fikir gue suka menikah dengan Lo hah...dasar kampungan." Bentak Fandi padanya.
Mira kaget, Fandi sifat aslinya keluar. Rupanya dia kasar. Baru kali ini Mira di Jambak orang lain. Bahkan Erik belum pernah.
Mira menangis, Hanya penyesalan dalam hatinya Sekarang.