NovelToon NovelToon
Pondok Mertua Tak Indah

Pondok Mertua Tak Indah

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Angst / Ibu Mertua Kejam / Tamat
Popularitas:368k
Nilai: 4.7
Nama Author: Kirana Pramudya

Giselle mengira menikah dengan Gibran adalah pilihan terbaik dalam hidupnya. Sosok pria yang mau menerima kekurangannya dan melengkapinya. Akan tetapi, semua angan dan impian Giselle berubah menjadi pahit, ketika dia tinggal satu atap dengan mertuanya.

"Jadi wanita bisanya cuma bekerja, gak tahu dapur, gak tahu kerjaan rumah tangga. Sudah begitu, kamu menikah lama dan tidak memiliki anak. Jangan-jangan kamu mandul, Sell?"

Perkataan pedas, tudingan miring, ditambah dengan ketidakberdayaan Gibran kian menambah runyam suasana. Dapatkah Giselle bertahan dengan konflik batin yang dia alami setiap harinya? Akankah pondok mertua yang tak indah ini perlahan-lahan menjadi rumah yang bisa menerimanya dan memanusiakannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Pramudya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali ke Pondok Mertua

Kembali ke rumah mertuanya lagi, tidak banyak yang Giselle harapkan. Sebab, sudah pasti kondisinya tidak akan jauh berbeda. Sudah pasti ucapan pedas dari mertuanya yang akan menyambutnya begitu sudah tiba di rumah. Akan tetapi, kali ini Giselle kembali hanya menuruti suaminya saja.

Mengemudikan mobilnya saja, Giselle sangat tahu bahwa Gibran membuntutinya dari belakang. Hingga setengah jam kemudian Giselle sudah kembali memasuki halaman rumah mertuanya. Sayangnya, di sana masih ada mobil milik Annisa. Seketika Giselle menghela napas panjang dan sudah membayangkan bahwa ucapan pedas itu akan datang bukan dari Ibu mertuanya, tapi juga dari Annisa.

Baru saja mendengarkan deru mobil, Bu Rosa dan Annisa sudah keluar dari rumah. Wajah-wajah yang seakan mengejek siap untuk menertawakan kepulangan Giselle kembali. Namun, Gibran sudah menunggu Giselle. Pria itu yang mengetuk kaca jendela mobil milik Giselle. Ketika Giselle membuka pintu mobilnya, tangan Gibran terulur dan siap menyambut Giselle untuk menautkan tangannya di genggaman tangan Gibran.

"Ayo, Sayang," ajak Gibran.

Giselle menggigit bibirnya dalam-dalam. Dia merasa tidak yakin. Hingga akhirnya, ada anggukan dari Gibran.

"Tidak perlu takut ... ada aku," ucap Gibran lagi.

Giselle pun kemudian mengulurkan tangannya, dan suaminya segera menyambutnya. Menggenggamnya dengan begitu erat. Bagi Gibran, Giselle tidak perlu takut karena dia akan selalu melindungi Giselle. Tangannya akan selalu menggenggam tangan Giselle dan tidak akan melepaskannya.

Begitu Giselle turun dari mobil dan berjalan menuju ke arah pintu masuk, sudah ada ucapan dari Bu Rosa. "Sok-sokan berkemas dan membawa koper. Kalau ujung-ujungnya pulang lagi ke rumah," ucap Bu Rosa.

"Masih punya muka untuk datang ke sini," ucap Annisa yang ikut-ikutan.

Giselle memilih untuk membalas apa pun. Dia diem seribu bahasa. Giselle menekan hatinya sendiri bahwa biarkanlah Allah yang akan mencatat dan memperhitungkan semuanya. Namun, Gibran sangat geram sekarang. Jika Ibunya yang berbicara, Gibran masih bisa menerimanya. Namun, sekali lagi Annisa bukan siapa-siapa di rumah ini. Tidak memiliki tempat dan hak di rumah ini.

"Nisa, sekali lagi kamu silakan pergi dari sini!"

Gibran berteriak keras, sampai semua yang ada di sana terkaget. Sebab, Gibran sendiri adalah pria yang sabar. Namun, sekarang justru Gibran benar-benar emosi dan berteriak.

"A Gibran ...."

Annisa membalas dengan terisak sekarang. Tidak menyangka bahwa Gibran bisa berteriak dan mengusirnya. Mungkin saja, dengan air mata bisa membuat Gibran luluh dan tidak mengusirnya. Akan tetapi, Annisa salah karena sekarang Gibran sudah kehabisan kesabaran sekarang.

"Pergi!"

Lagi, Gibran berteriak dan mengusir Annisa. Giselle membiarkan saja suaminya itu meluapkan emosi dalam hatinya. Toh, memang seharusnya tempat Annisa bukan di rumah ini.

"Gibran, apa-apaan kamu!" Bu Rosa kembali marah dan menyentak Gibra. Menurutnya, apa yang sudah dilakukan Gibran itu sangat tidak sopan.

"Yang Ibu lakukan itu tidak benar. Menerima wanita asing di rumah dan menyakiti hati menantunya sendiri. Maaf, Bu ... terimalah Giselle, tidak perlu membawa wanita itu. Dia hanya gulma dalam tanaman," balas Gibran.

Ya, menurut Gibran sendiri Annisa sudah seperti Gulma dalam tanaman. Gulam sendiri adalah tumbuhan yang selalu berada di sekitar tanaman yang sedang dibudidayakan. Keberadaan tanaman ini bisa mengakibatkan kehilangan hasil secara langsung pada tanaman yang sedang dibudidayakan bisa karena hama dan penyakit tanaman. Untuk itu, gulma itu harus segera dicabut hingga sampai ke akar-akarnya dan dibakar.

"Kamu sudah keterlaluan Gibran," pekik Bu Rosa.

"Nisa, jika kamu masih memiliki harga diri. Pergilah dari sini. Pergi! Sebelum aku menyeretmu keluar dari rumah ini!"

Gibran kembali membentak. Dia tidak akan main-main dengan ucapannya. Ketika Annisa tidak pergi, dia bisa menyeret Nisa untuk keluar dari rumahnya. Tidak akan memberi celah untuk Annisa. Tidak akan membiarkan wanita yang layaknya gulma itu menyakiti hati istrinya.

"Untuk istri tidak berharga seperti dia saja, kamu mengusirku, Mas," ucap Annisa dengan menangis terisak.

"Dia sangat berharga. Melebihi apa pun. Jangan pernah merendahkan istriku lagi. Pergi!"

Dengan berlinangan air mata, Annisa pun pergi. Ketika Bu Rosa hendak mempertahankan Annisa, sekarang Gibran berbicara dengan tegas kepada ibunya.

"Ibu, selama ini Gibran diam karena Gibran menghargai Ibu. Gibran menghormati Ibu. Bahkan Istri Gibran sendiri meminta Gibran untuk berbakti kepada Ibu, tidak meninggalkan Ibu. Namun, Ibu sudah salah. Menganggap kelemahan Gibran menjadi celah untuk terus-menerus menyakiti Giselle. Jangan jadikan rumah itu sebagai neraka untuk menantu Ibu sendiri. Gibran mohon, Bu," ucap Gibran yang berusaha menahan emosi. Dia berbicara dengan lembut. Bahkan air matanya saja dia tahan agar tidak berderai kala itu.

"Bran, untuk wanita seperti dia, kamu marah dan membentak orang-orang," balas Bu Rosa.

"Yang Gibran bentak adalah wanita gulma itu. Bukan Ibu. Gibran tak akan pernah membentak Ibu karena Gibran tahu, hati orang tua, hati seorang ibu akan teramat sakit dan pedih ketika anaknya membentaknya," balas Gibran.

Semarah-marahnya Gibran dia harus menahan amarahnya untuk tidak membentak Ibunya. Dia tahu kepedihan mendalam seorang ibu adalah saat anaknya membentaknya. Oleh karena itu, Gibran tidak akan melakukannya.

"Giselle kembali ke sini karena permintaan Gibran, Bu ... tapi kemungkinan besar, kami hanya akan tinggal di sini satu bulan saja. Itu juga jika Ibu selalu bersikap kasar kepada Giselle. Usai itu, Gibran akan ikut ke mana saja Giselle pergi," ucap Gibran.

Bu Rosa menggeleng-gelengkan kepalanya. "Dunia benar-benar sudah terbalik. Mana ada suami yang mengikuti istrinya?"

"Itu sudah menjadi keputusan Gibran, Bu ..., walau berat," jawabnya lagi.

Usai itu Bu Rosa yang kesal memilih untuk masuk ke dalam kamarnya, dan menutup pintu kamar dengan begitu keras. Sementara Gibran mengajak Giselle untuk naik ke kamarnya.

"Ibu marah loh, Mas," ucap Giselle sekarang.

"Biarkan saja dulu, Sayang. Di sini, kamu ikut denganku. Jadi, tetaplah di sini. Tidak usah takut. Cukup berikan hormat saja kepada Ibu," ucap Gibran.

Menurut Gibran memang tidak perlu Giselle takut kepada Ibunya. Yang penting Giselle bisa menghormati Ibunya. Selebihnya, Gibran akan berusaha untuk melindungi Giselle ketika tinggal di rumahnya.

1
Safa Almira
yey
Dewi Nurani
bayinya perempuan tp yg diangkat bayi laki laki , gimanaaaa 🤦
Dewi Nurani
harusnya bu rani ikut bu rosa dulu biar tau rasa s amel
Alana
mertua lucknut ga tau diri udah di tolongin bukannya bersyukur dan berterima kasih malah nyalahin dan nyaci kaki ... ga tau ini otak dan mata hatinya di taruh dimana sih ?? KL di dunia nyata ada mertua kek gini gimana jadinya ya para mantu keknya banyak yg cerai 😩😩
Les Tary
Tanti Rani mendingan ikut kasihan mertua udh kyk pembantu biar tahu rasa itu menantunya kerjaan rmh dikerjain sndiri
Nenti
Gedeg banget sumpah 😡😡😡
Nenti
😭😭😭😭😭😭
sedih kalo berada di posisi Gisel semuanya serba salah
Alana
nenek gilakk dasar mertua lucknut
Alana
nenek gilakkk ga otak .. KL aku jd Gibran sakit hati bukan main mau punya anak bininya di ejek di hina abis²an... intinya dia ga suka dan benci SM Giselle Sampe kabar bahagia aja ga suka KL udah benci dr awal yaa bakal benci sebagus dan sebaik apapun Giselle ga akan baik di mata mertua gilaknya .. hahaa jujur Thor aku udah lelah bacanya SM nenek tua gilakk itu
Alana
ribet banget ni emak2
Alana
ehh aku aja kl LG ruwet masak makanan rasanya suka ga karuan.. apalg kek Giselle yaa punya mertua yg toxicnya ke iblis.. ehh nauzubillah KL aku jd Giselle sih udah give up angkat tangan
Les Tary
bknnya dicerita yg lain anaknya Kanaya udh ketemu Thor trus Kanaya sm dokter Bisma udh pnya anak cewek.
Alana
karyamu bagus Thor.. memang PD dasarnya berumah tangga itu berjuang bersama tp jika trs di sakiti mertua yaa jangan juga Krn istri berhak bahagia bagaiman mau hamil mental dan batinnya tertekan oleh mertuany yg toxic dan penuh kebencian PD mantunya wajar jika Giselle pergi dr rumah itu secara lakinya jg ga tegas SM ibunya .. hrsnya Gibran jg tegas dan sll menasehati baik2 ibunya sekali² yaa marah jg biar ibunya jera
Alana
mertua toxic banget yaa tuhan .. KL aku jd Giselle udah aku tempeleng itu muka si rosa
Alana
mertua lucknut ... emosi bcanya Thor aku
Alana
mertua ga tau diri udah di kasih nyela, ngehina dan ga menghargai mantu duuhh udahmah kaya benalu di ksh hati minta jantung nih emak²
Surabaya Honda
stop by Thor .. interesting story 👍
Densi dama Yanti
Karyo thor baguss banggat
Kirana Pramudya: Terima kasih banyak, Kak.. 😇
Dukung juga di karya lainnya yah. 🥰
total 1 replies
Ning Gedeona
cabein aja tu mulut mertua😀😀😀😀
eni mince
Kecewa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!