NovelToon NovelToon
Ayah Anakku, Ceo Amnesia

Ayah Anakku, Ceo Amnesia

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO Amnesia / Bertani / Romansa pedesaan
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Lia, gadis desa Tanjung Sari, menemukan seorang pria pingsan di pematang sawah tanpa ingatan dan tanpa identitas. Ia menamainya Wijaya, dan memberi lelaki itu tempat pulang ketika dunia seolah menolaknya.

Tekanan desa memaksa mereka menikah. Dari pernikahan sederhana itu, tumbuh rasa yang tak pernah direncanakan—hingga Lia mengandung anak mereka.

Namun Wijaya bukan lelaki biasa.

Di kota, keluarga Kusuma masih mencari Krisna, pewaris perusahaan besar yang menghilang dalam kecelakaan misterius. Tanpa mereka sadari, pria yang dianggap telah mati kini hidup sebagai suami Lia—dan ayah dari anak yang belum lahir.

Saat ingatan perlahan mengancam kembali, Lia harus memilih: mempertahankan kebahagiaan yang ia bangun, atau merelakan suaminya kembali pada masa lalu yang bisa merenggut segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Krisna Kembali

Gedung kaca itu menjulang tinggi. Krisna menarik napas panjang.

“Nak… kalau lelah bilang sama Mama, ya. Jangan dipaksakan,” ucap Ana lembut di sampingnya.

Krisna menoleh dan tersenyum tipis.

“Aku kuat, Ma.”

Kata-katanya terdengar yakin, tapi dadanya berdebar tidak karuan.

Lift membawa mereka naik. Beberapa karyawan memberi salam hormat. Nama Krisna Kusuma masih membawa wibawa, meski pemiliknya belum benar-benar pulih.

Di luar ruang direksi, Kevin sudah menunggu.

“Selamat datang kembali,” ucap Kevin singkat.

“Terima kasih sudah mengurus perusahaan sementara aku… tidak ada,” balas Krisna.

Lobi utama Kusuma Group hari itu terasa berbeda.

Lampu kristal berkilau lebih terang, karpet merah tipis digelar rapi, dan deretan karyawan berdiri membentuk barisan. Bisik-bisik kecil berlarian di udara—kagum, canggung, penasaran.

“Dia benar-benar kembali?”

“Operasi kemarin berhasil katanya…” “Kelihatannya lebih kurus, ya…”

Pintu kaca otomatis terbuka.

Krisna melangkah masuk.

Setelan jasnya masih sedikit longgar di bahu, tubuhnya belum sepenuhnya pulih.

Namun caranya berjalan—tenang, terukur—seolah insting lama memimpin tubuhnya kembali.

Di kiri kanannya, Ana dan Ardian berjalan menyertai.

Beberapa direksi sudah menunggu, berdiri tegak.

Seorang manajer senior memberi aba-aba. Tepuk tangan pecah. Tidak meriah berlebihan—tetapi padat, penuh rasa hormat dan kelegaan.

Krisna berhenti sejenak.

Ia memandang sekeliling: logo besar KUSUMA GROUP menjulang di dinding marmer, wajah-wajah para karyawan, lorong yang samar-samar terasa akrab.

Ada sesuatu bergetar di dadanya.

“Aneh,” gumamnya dalam hati. “Kaki ini hafal arah, tapi ingatan tidak.”

Ardian menepuk bahunya pelan, setengah bangga, setengah menahan haru. Ana menatapnya lama, seolah tak pernah puas memastikan anaknya benar-benar ada di hadapannya.

Seorang direktur membuka sambutan singkat.

“Selamat datang kembali, Tuan Krisna Kusuma. Kami… senang Anda kembali memimpin kami.”

Krisna mengangguk sopan.

Ia maju setengah langkah. Semua mata tertuju padanya. Mikrofon disodorkan. Ia sempat terdiam beberapa detik—bukan karena grogi, melainkan menata kata-kata.

“Saya… terima kasih karena masih menerima saya,” ucapnya pelan namun jelas.

Beberapa karyawan menahan napas.

“Saya kehilangan sebagian ingatan,” lanjutnya jujur. “Tapi saya tidak kehilangan rasa tanggung jawab terhadap perusahaan ini.”

Ardian meliriknya—tak menyangka anaknya akan berkata seperti itu.

“Saya mungkin perlu belajar ulang banyak hal,” tutur Krisna, “tetapi selama saya berdiri di sini… saya akan berusaha tidak mengecewakan kalian.”

Tepuk tangan kembali terdengar.

Di tengah keramaian itu, Krisna menoleh ke sekeliling lagi — mencari sesuatu yang bahkan ia sendiri tak mengerti.

Seseorang.

Sebuah senyum.

Bayangan gadis desa dengan mata teduh.

Namun lorong-lorong marmer hanya memantulkan langkahnya sendiri.

Ia tersenyum tipis, menyembunyikan kekosongan kecil di dalam dadanya, lalu melangkah menuju lift eksekutif.

Di balik tepuk tangan sambutan itu…

Ada masa lalu yang hilang,

ada rahasia yang menunggu pecah, dan ada satu nama yang tidak disebut siapa pun hari itu:

Lia.

Sekilas bayangan sawah…suara tawa lembut seseorang, lalu hilang sebelum sempat ditangkap.

Ana memperhatikan perubahan wajahnya.

“Nak, kamu pusing?”

Krisna menggeleng cepat. “Tidak, Ma. Lanjut saja.”

Rapat selesai. Ruangan kembali sepi. Krisna berdiri di depan kaca besar, menatap kota.

“Aku akan pelan-pelan,” bisiknya.

“Aku akan kembali… sepenuhnya.”

Tanpa ia sadari, di kejauhan ada satu kehidupan di desa — perempuan hamil yang ia lupakan — menunggu namanya kembali terucap.

.

.

Beberapa hari kemudian, Fanya datang ke rumah Ardian.

Ia datang dengan senyum rapi seorang ibu yang hanya ingin mempercepat kebahagiaan anak. “Mas Ardian,” katanya lembut, “saya memohon satu hal. Kalau bisa, pernikahan Riri dan Krisna dipercepat.”

Ardian terdiam sejenak.

“Kenapa begitu mendadak?”Fanya menarik napas. Semua alasan yang sudah ia siapkan keluar satu per satu: Riri terlihat makin kurus, pertunangan terlalu lama jadi bahan omongan orang, orang tua semakin tua dan ingin melihat anak menikah, Krisna sudah pulih, usaha kembali stabil

Ardian menimbang. Semua alasan itu masuk akal.

“Kalau begitu,” katanya akhirnya, “kita percepat saja. Toh ini memang rencana kita sejak awal.”

Fanya tersenyum—lega tapi berat. Begitu pula dengan Ana. Dengan begitu Krisna akan segera pulih, bukankah keduanya saling mencintai?

Keputusan telah jatuh tanpa ada satu pun orang menyadari badai yang sedang mereka sembunyikan.

Di hati Riri hanya ada satu doa:

Semoga tidak ada yang menghitung tanggal.

****************

Berita itu datang tidak dengan teriakan, melainkan kalimat singkat dari Asti.

“Pernikahan mereka dipercepat.”

Kevin menghentikan langkahnya. Untuk beberapa detik, otaknya seperti tidak memproses apa pun. Dunia tetap berjalan — suara pegawai, telepon berdering, lift terbuka — tetapi semuanya terdengar jauh, seperti sedang berada di balik air.

“Pernikahan… Krisna dan Riri?” suaranya keluar lebih rendah dari yang ia kira.

Asti hanya mengangguk.

Ada sesuatu di dada Kevin yang menegang. Bukan sekadar kaget. Bukan juga cemburu. Lebih rumit dari itu — seperti benang kusut yang tiba-tiba ditarik paksa.

Gambaran itu muncul begitu saja.

Riri tertawa kecil. Riri memegang tangannya. Riri yang gemetar sesudah malam itu, berkata ia tidak akan mengulanginya lagi, meminta mereka pura-pura tidak pernah terjadi apa-apa.

Dan sekarang perempuan itu akan menikah dengan adiknya.

Rahasia itu ikut masuk ke dalam keluarga.

“Akhirnya sesuai rencana keluarga,” Asti berkata ringan, seolah hanya sedang membahas jadwal rapat.

Kevin tersenyum tipis, sopan, seperti yang selalu ia lakukan. Tetapi jemarinya mengepal di saku celana.

“Cepat sekali,” ucapnya pelan. “Krisna baru pulih.”

“Justru karena itu,” sahut Asti. “Stabilkan posisinya, stabilkan perusahaan. Riri anak baik.”

Nama itu membuat dadanya kembali mengencang.

Baik.

Kalau orang lain tahu apa yang pernah terjadi, masihkah mereka menyebutnya baik?

Kevin menoleh ke jendela, menyembunyikan sorot matanya.

Ia tidak mencintai Riri. Ia tidak pula ingin merusak apa pun. Tapi ada bayangan yang tidak mau pergi:

Bagaimana jika… sesuatu dari masa lalu mereka ternyata tidak benar-benar selesai?

Ia tidak tahu tentang kehidupan yang sedang tumbuh diam-diam di rahim Riri.

Yang ia tahu hanyalah satu hal:

Untuk pertama kalinya, ia berharap masa lalu benar-benar mati —

karena jika tidak, seluruh hidup mereka akan runtuh bersama-sama.

.

Lorong hotel tempat acara rapat direksi selesai masih sepi ketika langkah Riri terhenti.

Seseorang berdiri di ujung lorong, bersandar pada dinding, kedua tangan dimasukkan ke saku. Jas rapi, ekspresi tenang — terlalu tenang.

Kevin.

Mata mereka bertemu.

Sejenak, waktu berhenti.

Riri ingin berbalik, tetapi suara itu terdengar lebih dulu.

“Riri.”

Bukan panggilan keras. Justru pelan—dan karena itulah terasa lebih berat.

Ia akhirnya mendekat, berhenti beberapa langkah di depannya. Degup jantungnya tidak mau diajak kompromi. Tangannya refleks menyentuh perutnya yang belum tampak apa-apa.

“Aku dengar,” Kevin membuka suara, tatapan tak lepas darinya, “pernikahanmu dengan Kris dipercepat.”

Riri memaksakan senyum. “Iya. Tante Ana dan Om Ardian juga setuju. Itu… keputusan baik.”

“Keputusan baik?” Kevin mengulang, pelan namun menekan.

“Untuk perusahaan… atau untukmu?”

Riri menunduk. “Jangan mulai, Vin.”

Keheningan turun sesaat. Tidak ada yang bergerak. Hanya napas mereka yang terdengar.

Kevin mendekat setapak. Tatapannya berubah — tak hanya dingin, ada luka yang berusaha disembunyikan.

“Aku cuma ingin tahu satu hal,” katanya lirih. “Kamu bahagia?”

Pertanyaan itu menusuk lebih tajam dari teriakan.

Bahagia?

Bagaimana ia bisa bilang bahagia ketika setiap malam dihantui rasa takut rahasianya terbongkar — ketika kehidupan kecil di dalam dirinya bukan milik pria yang akan dinikahinya?

Air mata menggenang, tapi ia paksa tidak jatuh. “Aku… harus bahagia.”

Kevin terdiam.

Di mata Riri, ada pengakuan yang hampir melompat keluar, namun ia menelannya bulat-bulat. Ia tidak boleh goyah. Tidak boleh salah langkah. Satu kalimat salah, semuanya hancur.

“Lupakan malam itu,” ucap Riri akhirnya, pelan namun tegas.

“Anggap tidak pernah terjadi.”

Kevin menutup mata sesaat.

Andai semudah itu.

Ketika ia membuka mata lagi, suaranya lebih rendah. “Masalahnya, Ri…”

“…beberapa hal tidak mau lupa, walaupun kita memaksanya.”

Mereka berdiri berhadapan — dua orang dengan rahasia yang sama, tapi berpura-pura jadi orang lain di hadapan dunia.

Dari jauh, suara Krisna memanggil nama Riri.

Riri melangkah mundur. “Aku harus pergi.”

Ia berbalik. Tapi sebelum benar-benar menjauh, Kevin berkata pelan: “Kalau suatu hari sesuatu terjadi… kamu boleh bilang apa pun padaku.”

Riri berhenti. Tidak menoleh.

Hanya menggenggam cincin di jarinya erat-erat. “Aku harap tidak ada ‘suatu hari’, Vin,” bisiknya.

Krisna menatap sekilas kakak nya, "Ada hal penting?" tanyanya begitu Riri mendekat.

"Tidak." sahut Riri sedikit gugup.

“Kalau begitu, ayo makan siang bersamaku,” lanjut Krisna, lembut. “Bukan sebagai tuntutan keluarga… tapi sebagai permintaanku.”

Riri tersenyum—senyum yang tidak seluruhnya bahagia. “Baik. Mari kita makan siang.”

Mereka berjalan menuju parkiran.

Di luar, langit cerah.

Di dalam mobil, mereka duduk berhadapan: Seorang pria yang kehilangan sebagian hidupnya…dan seorang wanita yang menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan hidupnya kapan saja.

1
Kam1la
nggak janji yah......
Erna Wati
smga smuanya CPT trbongkar . smga Riri gk jdi nikah sama Krisna Riri sama Kevin aja
Eka Yuniar
semngat thor💪
Eka Yuniar
semangat up nya Thor yg banyak ya💪🤭
Kam1la: ok siap ! yang penting dukungannya ya Kak ... 😄😍
total 1 replies
Eka Yuniar
semangat kak up nya💪
Eka Yuniar
ditunggu up nya kak💪
Kam1la
ok, Siap ...!!
Eka Yuniar
cepet up kak eps selanjutnya 🙏😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!