Rama dan Ayana dulunya adalah sahabat sejak kecil. Namun karena insiden kecelakaan yang menewaskan Kakaknya-Arsayd, membuat Rama pada saat itu memutuskan untuk membenci keluarga Ayana, karena kesalahpahaman.
Dalih membenci, rupanya Rama malah di jodohkan sang Ayah dengan Ayana sendiri.
Sering mendapat perlakuan buruk, bahkan tidak di akui, membuat Ayana harus menerima getirnya hidup, ketika sang buah hati lahir kedunia.
"Ibu... Dimana Ayah Zeva? Kenapa Zeva tidak pelnah beltemu Ayah?"
Zeva Arfana-bocah kecil berusia 3 tahun itu tidak pernah tahu siapa Ayah kandungnya sendiri. Bahkan, Rama selalu menunjukan sikap dinginya pada sang buah hati.
Ayana yang sudah lelah karena tahu suaminya secara terbuka menjalin hubungan dengan Mawar, justru memutuskan menerima tawaran Devan-untuk menjadi pacar sewaan Dokter tampan itu.
"Kamu berkhianat-aku juga bisa berkhianat, Mas! Jadi kita impas!"
Mampukah Ayana melewati prahara rumah tangganya? Atau dia dihadapkan pada pilihan sulit nantinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
"Hallo, bagaimana Deril?"
"Hallo, Pak... Menurut cctv, Mbak Mawar lah yang sengaja menyenggol Mbak Ayana hingga terjebur di kolam renang!" ujar Deril di sebrang telfon.
Rama mengepalkan satu tangannya, batinnya terdengar berisik, "Kurang ajar! Mawar rupanya pelaku dari terjeburnya Ayana. Wanita itu lama-lama buat aku muak saja!"
"Oh ya, Deril... Tugas kamu sekarang, cari tahu tentang hubungan Ayana dengan Devan! Saya yakin, pasti ada sesuatu yang Devan tidak tahu tentang siapa Ayana!"
"Baik, Pak Rama!"
Panggilan terputus sepihak oleh Rama. Ia sejak tadi belum tidur, dan masih berdiam diatas balkon kamar sambil menatap dalam kearah Paviliun.
Satu notif pesan masuk dalam gawai Rama.
Mawar?
"Rama, lusa aku ingin dinner romantis dengan kamu. Aku tunggu di cafe langganan kita pukul 7 malam!"
Begitulah kira-kira pesan yang di kirimkan Mawar kepada sang kekasih.
Rama agak sedikit mengernyit. Ia merasa janggal, sebab tak biasanya Mawar datang sendiri ke cafe, jika bukan di jemput olehnya.
"Baik, Mawar." (Send)
Tak ingin larut dalam pikiran buruknya, Rama segera masuk, dan langsung merebahkan tubuh lelahnya.
*
*
Pyar!
Brak!
"Kamu benar-benar keterlaluan, Rama...." teriak Mawar frustasi sambil melempar barang-barangnya kearah dinding.
Wanita cantik itu meluruhkan tubuhnya diatas lantai dengan tangisan memilukan. Sebagai kekasih yang telah menjalin hubungan begitu lamanya, Mawar merasa semua yang terjadi beberapa jam lalu bagaikan bencana besar dalam hidupnya.
Dibalik lampu temaram itu, Mawar bagaikan sosok raga yang jiwanya sudah mati beberapa jam lalu.
Waktu-kesetiaan-perjuangan, semuanya musnah dalam kenyataan sekejab mata.
"Pantas saja kamu begitu dekat dengan bocah kecil itu. Ternyata dia anakmu sendiri, Ramaaaa....!" teriak Mawar merasa hancur. Padahal, lamaran mereka tinggal menghitung hari saja.
Di tengah keputusasaan itu, tetiba gawainya berdering.
Mawar menggapai gawai itu, lalu segera mengangkatnya.
"Hallo, bagaimana Pram?" Mawar bangkit, mencoba mengusap sisa air matanya, lalu berjalan menuju balkon.
"Hallo Non, saya sudah berhasil mendapatkan nomor yang Anda minta. Dan ternyata... Wanita itu diam-diam memiliki bisnis dengan beberapa desainer ternama."
Mawar agak mengernyit, "Maksud kamu, Pram? Dia juga seorang desainer?"
"Bukan desainer, Non! Tapi lebih tepatnya... Dia memiliki keahlian dalam bidang desain busana. Beberapa gambar busananya, banyak di rekrut butik ternama di jakarta ini. Dan salah satunya milik Bu Mira, Tante Non sendiri," jabar Pram.
Mawar terperanjat. Kedua matanya terbuka lebar.
"Apa? Jangan-jangan... Baju lamaran yang aku pesan, itu buatan si Ayana?! Nggak, nggak! Aku harus telfon Tante Mira lebih dulu buat pasti'in."
Pram disebrang juga menimpali, "Non, wanita itu tidak memakai nama panggilannya. Dia memakai nama Neswari, sebagai bisnisnya."
"Ya sudah, Pram... Kamu segera kirim aja nomornya."
Setelah itu panggilan terputus oleh Mawar. Begitu mendapatkan nomor Ayana, ia tampak mengotak atik gawainya kembali, entah bermaksud seperti apa.
Tok!
Tok!
"Maw... Are you oke, Sayang?" Bu Imelda mengetuk pintu putrinya, sebab tadi mendengar suata benda pecah dari lantai dua.
Mawar menyudai aktivitasnya. Wanita itu segera berjalan kearah pintu, dan mengusap sisa air matanya.
"Mawar baik-baik aja, Mah! Tadi nggak sengaja Mawar nyenggol vas diatas nakas," balasnya tersenyum.
Bu Imelda tampak mengerutkan dahi, menelisik wajah putrinya. "Kamu habis nangis?"
Mawar mengerjabkan matanya, "Nggak! Mawar nggak nangis, Mah. Oh... Itu, tadi Mawar baru aja nonton drama korea terbaru. Ceritanya sedih banget," jawabnya memelas.
"Yakin? Nggak sedang ada masalah sama Rama 'kan?"
Mawar menggeleng lemah. Lalu memegang lengan Ibunya, "Nggak, Mah! Mawar sama Rama baik-baik aja kok. Udah... Mending Mamah istirahat aja, ini udah malem loh. Nanti kulit Mamah pada kendur, gimana?" kekehnya.
Bu Imelda tersenyum, "Kamu ini ngawur aja. Ya udah, kamu juga cepetan tidur! Jangan sampe malem nontonya."
"Okay, Mah!"
Begitu pintu tertutup kembali. Mawar menyandarkan tubuhnya pada pintu, sambil menghela nafas berat.
"Maafin Mawar, Mah!"
*** ***
Pagi itu, tepatnya pukul 06.30 wib.
Sebuah mobil alphard baru saja tiba di depan teras rumah utama. Seorang pria setengah baya dengan postur tubuh tinggi tegap, berparas tampan, namun rambut yang sudah sebagian memutih itu, kini turun dari mobil, menarik kerah jasnya, lalu segera berjalan masuk kedalam.
Wajahnya begitu damai, namun sorot matanya sangat kuat.
Milya yang baru saja turun dari tangga, terperanjat dan langsung memekik girang, "Papahhhh....."
Tuan Ibrahim sudah merentangkan kedua tangannya.
Gadis cantik itu segera berlari dan langsung menghambur dalam pelukan sang Papah.
"Papah... Kok pulang nggak ngabarin Milya, sih?!" gadis itu mendongak kecil, menampakan raut wajah tidak setuju.
Tuan Ibrahim mengusap kepala Milya, tersenyum lembut lalu berkata, "Papah sengaja mau buat kejutan sama kamu, Milya!"
"Milya kangen tau nggak, sama Papah!" Milya masih terus memeluk tubuh sang Ayah, melapaskan rindu yang sudah menumpuk.
"Papah juga kangen sama putri kecil Papah ini," kekeh Tuan Ibrahim.
Dan tak lama itu, dari atas tangga Rama yang sedang turun juga tersentak kaget melihat sang Papah sudah berdiri di ruang tengah bersama adiknya.
"Papah pulang? Kenapa nggak bilang sama Rama... Kan bisa Rama jemput," protesnya sambil berjalan mendekat.
Tuan Ibrahim menghela nafas lirih, lalu menepuk pelan pundak putranya. "Papah tahu kamu itu sibuk, Rama. Tadi Papah udah minta jemput sama Pak Ihsan, sekalian mampir lihat proyek baru kamu."
Rama terdiam sejenak. Kedatangan Ayahnya bagaikan ancaman besar terhadap rumah tangganya dengan Ayana.
"Loh, Papah? Kok pulang nggak ngabarin Mamah dulu? Kan bisa Mamah masakin kesukaan Papah kalau gitu," ucap Bu Anita saat keluar dari kamarnya.
Wanita yang sudah rapi dengan dress casualnya itu berjalan mendekat, menatap sang suami penuh damba.
"Nggak papa, mumpung kerjaan udah selesai, jadi ya... Buat kejutan anak-anak aja," balas Tuan Ibrahim acuh.
Dari arah dapur, Bik Sumi berjalan menghampiri. "Nyah... Sarapan sudah siap!" lalu pandangan Bik Sumi terhelak kearah Tuan Ibrahim, "Tuan... Baru pulang?"
"Iya, Bik Sumi! Terimakasih, sudah membantu mengurus cucu saya." Tuan Ibrahim sudah tidak sabar ingin bertemu cucu semata wayangnya. "Oh ya... Zeva sudah bangun?"
"Sudah, Tuan! Baru saja selesai dimandikan Non Aya," jawab Bik Sumi.
Setelah mengatakan itu ia kembali lagi ke dapur.
Rama terdiam kaku di tempatnya.
Tuan Ibrahim sudah tahu bagaimana tabiat keluarganya dengan menantu serta cucunya itu. Ia hanya mampu melirik sekilas, lalu berlalu menuju dapur begitu saja.
Bu Anita segara menegur putranya, "Rama, kamu lihat sendiri 'kan? Papahmu pulang itu, pasti ingin melihat lamaran kamu sama Mawar! Dan Mamah yakin, pasti sebentar lagi Papahmu juga akan mengajukan gugatan pernikahanmu dengan Ayana."
Mika yang berdiri dekat guci sudut sofa, hanya dapat bergeming menahan rasa panik perihal terbongkarnya rumah tangga sang Kakak.
Masalahnya semakin bertambah runyam, karena ialah dalang dibalik terbongkarnya rahasia itu.
"Duh... Moga aja Mbak Mawar nggak bilang sama Mas Rama dan Mamah, kalau aku yang udah bilang sama dia," batin Milya cemas.
Rama masih terdiam, larut dalam pikirannya. Hingga tak lama itu ia langsung melenggang kearah ruang makan begitu saja.
*
*
"Hallo Zeva... Selamat pagi, Sayangnya Kakek!" pekik Tuan Ibrahim di ambang pintu paviliun.
Zeva yang habis selesai mandi, dan sudah rapi, wangi itu, reflek saja menoleh.
"Kakek Jaya...." Zeva bangkit, dan langsung menghambur dalam pelukan kakeknya itu.
Meskipun terhalang oleh rapatnya status pernikahan orang tuanya, hal itu tidak menyurutkan kedekatan antara Zeva dan sang Kakek, meskipun keduanya jarang sekali bertemu.
Namun, sebagai sosok pengganti Ayahnya, Tuan Ibrahim selalu meluangkan waktu sesibuk apapun untuk bercengkrama dengan cucunya.
"Pak Ibrahim... Anda sudah pulang?" sapa Bu Ratih yang baru saja keluar dari dapur dengan kursi rodanya.
Tuan Ibrahim mengangkat cucunya untuk diajak masuk. "Bagaimana kabar Anda, Bu Rati?"
"Alhamdulillah, seperti yang Anda lihat, Pak Ibrahim. Saya sudah mulai belajar berjalan, dan masih menjalani teraphi setiap minggu."
Tuan Ibrahim mengangguk lemah, "Saya turut bahagia, Bu Ratih! Oh ya... Ayana kemana?"
"Itu... Aya baru saja selesai mandi, Pak Ibrahim!"
Dan tak lama itu Ayana keluar dengan seragam kerjanya. Ia terperanjat, melihat Mertuanya sudah tiba di rumah.
"Tuan Ibrahim...." Sapa Ayana tertunduk.
"Ayana... Kenapa kamu harus memakai seragam pelayan? Siapa yang menyuruhmu?" protes Tuan Ibrahim.
"Bukan masalah besar, Tuan! Karena saya sebagai pelayan, jadi Bu Anita memberikan saya seragam ini," jawab Ayana apa adanya.
Tuan Ibrahim memalingkan wajah menahan geram, "Anita benar-benar keterlaluan!" batinya.
Dan tak lama itu, Tuan Ibrahim bangkit sambil menggendong Zeva.
"Kakek, kita mau kemana?"