"Jika cinta dapat mengubah segala hal, mengapa perlu ada yang namanya memperjuangkan? Kamu tahu kenapa? Karena untuk mendapatkan sesuatu butuh usaha,dan sekarang aku tengah memperjuangkanmu dengan usaha yang sungguh-sungguh."
~Davier Galuh Pramono~
"Meski hatiku memilihmu namun apakah aku mampu untuk mempertahankanmu selamanya agar selalu bersamaku?"
~Aira Anandia Maheswari~
Aira Anandia Maheswari merupakan Mahasiswi yang terkenal pintar di fakultasnya. Bahkan hampir seluruh kampus mengenal dirinya. Masa mudanya harus berakhir dengan di jodohkan oleh orang tuanya. Dijodohkan dengan Davier Galuh Pramono yang tak lain adalah dosennya ssndiri.
Keduanya sering merasakan perasaan aneh yang terselimut di dalam dirinya. Hingga Davierlah yang menyadari lebih dulu perasaannya itu. Lalu apakah Aira akan menyadari perasaannya atau ia akan terus menepis perasaan itu dari hatinya? Akankah mereka bisa bersatu dengan hati yang tulus? Apakab mereka bisa melewati semua lika-liku yang menghalagi kebahagiaan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tia Oktavianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
~MTLY 35~ Tangis Bahagia
Setelah pelaksanaan pernikaahan dan kepulangan tamu undangan kedua keluarga pun mengistirahatkan tubuh mereka. Kedua keluarga kini tengah duduk bersama sembari beristirahat.
Davier dan Ai sedang berada di kamar Ai. Mereka membersihkan tubuh dan berganti baju dengan pakaian santai.
"Huhhh, ternyata capek juga ya padahal hanya duduk dan senyum-senyum sama tamu." umpat Ai.
"Kenapa cemberut gitu sih Ai. Ntar cantiknya hilang loh." goda Davier yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah membuat wajahnya menjadi semakin tampan.
"Kamu ih suka banget sih goda aku. Aa Rayn ajarin apa aja sama kamu?" tanya Ai ketus.
"Sayang, aku bukan pengen bikin kamu tambah kesal. Come on, ini hari bahagia kita, jangan hiasi dengan wajah cemberut ya." ucap Davier seraya menyetarakan posisi duduknya dengan Ai dan mengecup tangan Ai.
"Maaf, aku udah buat kamu kecewa di hari bahagia kita." ucap Ai.
"Ssstts, jangan minta maaf untuk kkesalahan yang ga kamu lakukan." ucap Davier.
"Makasih yaa untuk semuanya." ucap Ai. Davier hanya tersenyum seraya mengusap pucuk kepala Ai.
"Udah selesaikan, yuk kita turun. Yang lain udah pada nungguin pasti. Bentar lagi makan malam." ucap Davier.
Mereka pun turun dan menuju ke meja makan. Semua anggota keluarga sudah duduk dan bersiap untuk makan malam.
"Wahh, pengantin barunya akhirnya turun juga." ucap Arrayn.
"Ciee ada yang nungguin. Bakal ada yang rindu nih." goda Ai.
"Dasar tengil, udah buruan duduk." ucap Arrayn.
"Hahaahaha, Aa mau buat aku kesal tapi akhirnya Aa juga yang kesal." kekeh Ai.
"Sudah jangan berantem. Ai layani suami kamu." ucap Surraya dan Ai pun menurut.
"Kamu mau lauk apa?" tanya Ai.
"Apa aja yang kamu hidangkan aku makan kok." ucap Davier lembut. Ai yang mendegar balasan Davier pun nerasa malu.
"Kalo mau mesra-mesraan di pending dulu ya bro. Kasian yang jomblo ga kuat ntar imannya." ucap Arrayn.
"Ya Allah, hidayah dari manakah ini. Setelah cukup lama akhirnya Aa Rayn menyadari bahwa ia jomblo ya Allah." cerocos Ai sembari terkekeh kecil.
Huuuhaaaaaaa
"Assalamualaikum." ucap Pandu yang baru saja datang bersama Disti.
"Wa'alaikumussalam." jawab mereka serempak.
"Eh Pandu ayo gabung kita makan malam bareng." ucap Surraya.
"Iya sini kak gabung." ucap Ai.
Pandu dan Disti pun duduk di kursi. Disti begitu canggung. Mungkin karena suasana rumah sedang ramai. Ai yang menyadari itu pun segera meminta Disti duduk bersamanya.
"Disti sayang, duduk di sebelah Mami sini." ucap Ai dan langsung diindahkan oleh Disti.
"Vino juga mau sama tante cantik." celetuk Vino. Vina menegur Vino dengan berbagai cara nanun nihil Vino tak mendengarkan.
"Ga papa kok Mbak, Vino biar sama aku aja. Ayo sini sayang duduk bareng tante dan Disti. Kan tante udah janji mau ngenalin Vino sama anak perempuan cantik. Nah ini dia." ucap Ai.
"Yuk kita ke taman belakang." ajak Ai, Vino dan Disti pun menurut.
"Tunggu, kamu ga makan?" ucap Davier sembari mencekal pergelangan tangan Ai.
"Nanti aja, kamu makan duluan aja. Ga papa kok." Ucap Ai dan meninggalkan mereka semua.
"Cepetan nyusul kamunya, supaya Ai ada temannya." ucap Vina dan membuat Davier salah tingkah. Untungnya ia dapat menetralkan ekspresinya.
"Nanti aja, aku ga mau minta atau maksa Ai untuk cepetan punya anak. Biarin dia ngejalanin dan menghabiskan masa muda serta selesain kuliah dulu Mbak." balas Davier.
"Keputusan yang tepat." ucap Pandu spontan.
"Lo juga sependapat sama Davier Ndu?" tanya Vina.
"Apa yang Davier katakan benar adanya. Jadi ga salah." ucap Pandu.
"Sudah, jangan dipikirkan. Biarkan mereka yang menjalani rumah tangganya." ucap Hardi menengahkan.
Mereka pun melanjutkan makan malamnya tanpa membahas lebih lanjut tentang perdebatan sebelumnya.
"Kamu jadi mau pindah ke runah yang sudah kamu beli itu Davier?" tanya Arya.
"Iya jadi Ayah. Rencananya besok kami akan pindah." ucap Davier.
"Nggak kecepetan Vier?" tanya Nirmala.
"Nggak kok Ma, ini udah kesepakatan antara Vier dan Ai." ucap Davier.
"Ya sudah jika kalian sudah memutuskan." ucap Hardi.
Di Taman
Nah, kalian saling kenalan dulu ya. Vino kenalin ini Disti putri kesayangan tante. Disti kenalin ini keponakkannya Mami namanya Vino. Kalian harus berteman baik ya mulai sekarang.
"Vino boleh panggil tante Mami?" tanya Vino polos.
"Iya boleh sayang. Sini peluk Mami." ucap Ai.
"Kami sayang Mami." ucap Vino dan Disti seraya memeluk Ai.
"Mami juga sayang kalian." ucap Ai yang telah memeluk mereka.
"Nah kalian yang akur ya mainnya. Jangan berantem." ucap Ai.
"Siap bos." ucap Vino dan Disti bersamaan.
"Mami tunggu di sini ya memperhatikan kalian yang lagi main aja." ucap Ai.
Ai melihat Disti dan juga Vino bermain di taman bermain yang memang Ai persiapkan untuk Disti jika ia bermain disini.
"Gue ga tau apa Allah masih mau beri gue kesempatan untuk memiliki anak? Gue harap gue masih bisa memberikan keturunan untuk keluarga sebelum gue pergi." batin Ai.
Entah sejak kapan air mata Ai lolos membasaahi wajahnya. Vino dan Disti selesai menghampiri Ai dan melihat Ai tengah melamun dan dalam keadaan menangis.
"Mami kenapa nangis? Mami nggak papa kan? Papi Pandu, Papi ganteng, Mami lagi nangis." teriak Disti membuyarkan lamunan Ai dan sudah berlari menemui keluarga yang sedang mengobrol.
"Mami kok nangis? Mami sakit? " tanya Vino.
"Eh nggak, mata mami kelilipan debu aja nih." elak Ai.
Sedangkan Disti sudah lari kearah Pandu yang tengah mengobrol bersama kedua keluarga..
"Papi, Mami nangis di taman." ucap Disti yang membuat semua orang bingung sedang Davier langsung menyusul Ai.
"Sayang, kenapa Mami nangis?" tanya Surrwya lembut dan Disti hanya menggeleng.
"Ai, kata Disti kamu nangis. Ada apa Ai?" tanya Davier yang langsung saja duduk disebelah Ai dengan mendongakkan kepala Ai agar menatap dirinya.
"Aku ga papa kok. Disti terlalu khawatir aja sama aku." ucap Ai dengan air mata yang kembali lolos.
"Nggak papa gimana, itu kamu nangis lagi." ucap Davier sembari menghapus air mata Ai.
"Aku ga papa, kamu mah lebay deh. Mata aku kelilipan tadi." elak Ai lagi.
"Jangan coba-coba bohong sama aku Ai. Kamu sakit? Pasti kamu capek kan, kita istirahat dulu ya." ucap Davier.
"Kamu mah lebay ah, aku ga papa. Iya aku nangis terharu aja. Dulu aku masih kecil banget dan selalu dimanja sama Ayah, Bunda dan Aa. Tapi waktu berjalan cepat banget, sekarang aku udah jadi istri orang dan bakal mikul tanggung jawab lebih dan ga hanya memprioritaskan diri aku aja tapi suami aku juga." ucap Ai dan lagi-lagi air matanya lolos.
"Kamu tetap bisa manja sama mereka Ai. Apalagi kamu sekarang bisa manja juga sama aku. Jangan buat aku khawatir ya Ai. Aku ga mau kamu kenapa-napa." ucap Davier sembari mencium punggung tangan Ai berkali-kali membuat Ai tersenyum dan memeluk Davier.
"Kita jadi pindah besok kan? Terus kapan aku bisa masuk kuliah. Aku udah kangen sama suasana kelas dan dosen-dosen killer lainnya." ucap Ai merubah topik pembicaraan.
"Iya jadi sayang. Kamu bisa mulai kuliah lagi lusa ya. Tapi kok kamu malah kangen sama dosen killer yang di kampus yang di depan kamu nggak sih?" tanya Davier pura-pura cemberut.
"Hahaha, yang di depan aku ga cocok lagi di gelar dosen killer karena aslinya udah ketauan kalo kamu romantis." ucap Ai.
Mereka pun tertawa dan mengahabiskan malam berdua bersama. Malam yang menjadi saksi bisu pengerat cinta mereka.
"Makasih ya udah terus ada di samping aku dan buat aku bahagia." ucap Ai.
"Seharusnya aku yang makasih, karena kamu mau berjuang dan bertahan sejauh ini sama aku." ucap Davier seraya mencium pucuk kepala Ai.
"Bukan aku yang berjuang, tetapi kita yang selalu berusaha berjuang dan ga pernah goyah dengan badai sekencang apapun." ucap Ai.
"Terus seperti ini ya. Jangan pernah berubah." ucap Davier dan memeluk Ai dengan erat.
°°°°°
TBC
Aku mau ngucapin makasih banyak sama kalian yang udah support karya aku sampai sejauh ini. Terimakasih untuk 1.32K viewers.
Untung kedepannya aku minta tolong sebelum atau sesudah membaca jangan lupa LIKE ya supaya aku jadi makin semangat untuk update 😊😊
-----------------Next Update----------------
Minggu, 5 Juli 2020
Salam Hangat
Author Halu