4 tahun lalu, Naomi Liem dipaksa meninggalkan satu-satunya orang yang pernah dicintainya.
Dia hampir mati karenanya.
4 tahun kemudian, Darren Wijaya kembali — pewaris konglomerat terkaya, pria dengan mata rubah yang berbahaya, dan senyum yang bisa menghancurkan dunianya.
"Aku sudah menunggu 4 tahun. Kali ini, aku tidak akan melepaskanmu."
Yang tidak Naomi ketahui: Darren sudah diam-diam mencintainya selama 10 tahun. Sejak bangku SMA. Tanpa pernah goyah.
Yang tidak Darren ketahui: Ada rahasia gelap di balik perpisahan mereka — dan musuh yang jauh lebih berbahaya dari yang mereka bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35
Bab 35
Putri Wijaya Lepas Kandang
Screenshot dari Tiffany sampai ke ponsel Darren sebelum Naomi selesai menarik napas.
Lima menit kemudian, ruang keluarga kecil sayap timur berubah menjadi ruang interogasi tidak resmi. Darren duduk di sofa dengan kaki disilangkan, Naomi di sebelahnya, Billy berdiri sambil memegang tablet, dan Giselle berdiri di depan mereka dengan jaket kulit yang sama seperti di foto.
Kacamata hitamnya masih bertengger di kepala.
"Aku bisa jelaskan," kata Giselle.
Darren mengangkat alis. "Bagus. Mulai dari alasan memakai kacamata hitam di klub malam."
Giselle membuka mulut, lalu menutupnya lagi. "Itu bagian dari konsep."
"Konsep apa?"
"Konsep orang kaya yang tidak ingin dikenali."
Naomi menunduk, menahan tawa.
Darren menatap istrinya. "Jangan tertawa. Nanti dia merasa didukung."
"Aku tidak tertawa."
"Bahu kamu bergerak."
Giselle menunjuk Naomi cepat. "Lihat? Naomi saja mengerti."
Naomi mengangkat wajah. "Aku mengerti kenapa kamu ingin keluar dari rumah ini. Aku tidak mengerti kenapa kamu memilih naik panggung sambil memegang mic di tempat yang penuh kamera."
Giselle memegang ujung jaketnya. Keberanian di wajahnya retak sedikit. "Aku tidak tahu ada yang merekam. Biasanya tempat itu aman. Aku cuma nyanyi dua lagu. Tidak mabuk, tidak berkelahi, tidak bawa nama keluarga."
"Tapi nama keluarga yang mengejarmu," kata Darren.
Pintu terbuka keras.
Helena masuk bersama Felicia dan Diana Gondokusumo. Wajah Diana pucat karena panik, sementara Helena tampak seperti menemukan senjata baru.
"Memalukan," kata Helena sebelum siapa pun menyapa. "Anak perempuan keluarga Wijaya tampil di klub murahan. Apa kurang uang sampai harus cari perhatian seperti itu?"
Giselle langsung menegang. "Aku tidak cari perhatian."
"Foto itu sudah menyebar di beberapa grup sosialita. Nama keluarga kita jadi bahan tertawaan."
Darren mengetuk meja sekali. "Tante Helena, kalau tujuan Tante masuk hanya untuk mempermalukan anak kecil, silakan keluar."
"Dia bukan anak kecil."
"Kalau begitu berhenti memperlakukannya seperti barang keluarga yang cacat."
Helena terdiam karena kalimat itu keluar terlalu tenang.
Diana akhirnya bicara, suaranya bergetar. "Giselle, Mama sudah bilang jangan keluar malam. Kalau Papa tahu..."
"Papa selalu tahu setelah semua orang marah," potong Giselle. "Tidak pernah sebelum itu."
Udara di ruangan menegang.
Naomi melihat mata Giselle memerah, tetapi gadis itu menahan diri mati-matian. Di luar, ia tampak seperti pemberontak yang tidak peduli. Di dalam, ia hanya anak perempuan yang terlalu sering disuruh diam.
"Giselle," kata Naomi lembut, "malam danau itu, kamu juga sedang keluar diam-diam, kan?"
Wajah Giselle berubah.
Helena langsung menangkap celah. "Apa maksudnya?"
"Kalau dia tidak keluar malam itu," kata Naomi, menatap Helena, "mungkin aku tidak ada di sini."
Diana menutup mulut. Felicia mundur setengah langkah.
Darren tidak tersenyum. Ia sudah tahu fakta itu, tetapi membiarkan Naomi mengucapkannya di depan semua orang. Karena di Rumah Besar, seseorang baru dianggap bernilai jika jasanya terdengar cukup keras.
"Giselle yang menarikku dari danau," lanjut Naomi. "Dia bisa saja lari karena takut ketahuan keluar. Tapi dia tidak lari."
Giselle menunduk. "Aku juga panik."
"Tapi kamu tetap masuk air."
"Aku bahkan tidak berenang bagus," gumam Giselle. "Sepatuku rusak."
Naomi tertawa kecil, kali ini tidak menahan. "Kamu menyelamatkan nyawaku dan masih sempat memikirkan sepatu?"
"Sepatu itu limited edition."
Darren memijat pangkal hidung. "Prioritas generasi muda keluarga ini mengkhawatirkan."
Untuk sesaat, tekanan di ruangan pecah. Bahkan Billy hampir tertawa sebelum melihat Helena.
Diana mendekati Giselle, tetapi tangannya berhenti di udara. Ia seperti ingin memeluk putrinya, namun terlalu terbiasa menahan diri di depan keluarga besar.
Giselle melihat tangan itu, lalu pura-pura tidak melihat. "Aku nyanyi karena di panggung orang dengar suaraku sampai selesai," katanya tiba-tiba. "Di rumah ini, aku baru buka mulut saja sudah disuruh jaga nama baik."
Wajah Diana memutih.
"Aku tahu aku bikin masalah," lanjut Giselle, kali ini suaranya lebih kecil. "Tapi aku bukan barang pajangan. Aku juga bukan alarm keluarga yang baru berguna kalau ada orang jatuh ke danau."
Naomi merasakan kalimat itu menusuk lebih dalam dari yang Giselle maksudkan.
Ia tidak membela tindakan Giselle. Keluar diam-diam tetap berbahaya, apalagi setelah semua yang terjadi. Namun untuk pertama kalinya, ia mengerti kenapa gadis itu memilih lampu panggung yang bising daripada lorong marmer yang sunyi.
Helena menggertakkan gigi. "Satu kebaikan tidak menghapus skandal."
"Benar," kata Darren. "Tapi skandal ini bukan tentang Giselle menyanyi. Ini tentang siapa yang tahu jadwalnya, merekam dari sudut yang tepat, lalu mendorong narasi Putri Wijaya lepas kandang."
Billy langsung menyalakan tablet. "Bos, video pertama bukan dari pengunjung biasa. Akun yang mengunggahnya baru dibuat tiga hari lalu. Caption sudah disiapkan. Setelah lima menit, ada empat akun gosip kecil yang repost."
Giselle mengangkat kepala. "Tiga hari lalu?"
"Berarti sebelum aku ke klub."
Naomi menatap Darren.
Darren berdiri. "Siapa yang tahu kamu keluar malam ini?"
Giselle menelan ludah. "Sopir lama. Dua teman. Dan..."
"Dan?"
"Aku pernah cerita ke seseorang di chat, tapi bukan soal malam ini. Cuma bilang aku kadang nyanyi di tempat itu."
"Siapa?"
Giselle ragu.
Helena kehilangan sabar. "Jawab!"
Giselle mengeluarkan ponselnya. "Aku tidak kenal dekat. Dia bilang dia kenal Ethan. Dia sering pesan lagu waktu aku live pakai akun private."
Darren mengambil ponsel itu dengan izin lewat tatapan. Naomi melihat nama akun yang disimpan Giselle: C. Wang.
Billy membandingkan dengan data akun pengunggah. Wajahnya berubah.
"Bos," katanya pelan, "email pemulihan akun viral itu memakai nama yang sama."
Naomi merasakan dingin yang mirip saat melihat video pintu servis Arthur.
Darren menatap layar.
"Chelsea Wang," katanya.
Nama itu jatuh ke ruangan seperti pintu baru yang terbuka ke tempat lebih gelap.