Sekar tidak seharusnya hidup lagi.
Di kehidupan sebelumnya, ia dikhianati oleh keluarganya sendiri — didorong dari atap gedung oleh om dan tante-nya. Dan lelaki yang diam-diam mencintainya memilih mengakhiri hidupnya setelah membalas dendamnya.
Tapi takdir memberinya kesempatan kedua.
Sekar terbangun di hari pertama kelas 12 SMA, dengan seluruh memori kehidupan lamanya masih utuh. Kali ini, ia tahu persis siapa yang harus ia lindungi — dan siapa yang harus ia cintai sebelum terlambat.
Kevin Senja Halim. Anak nakal berambut biru dengan anting perak warisan mendiang ibunya. Semua orang menjauhinya. Tapi Sekar tahu satu hal yang tidak diketahui siapa pun: di balik tatapan dinginnya, tersembunyi hati yang sanggup mati demi seseorang.
Masalahnya? Kevin punya rahasia kelam tentang siapa ayahnya — seorang konglomerat yang menginginkan Kevin untuk tujuan yang mengerikan. Dan musuh-musuh dari kehidupan lama Sekar tidak menghilang hanya karena ia terlahir kembali.
Di antara ciuman di bawah hujan, balasan dendam yang memukau, dan cinta yang membakar segalanya — Sekar harus memastikan kali ini, mereka berdua selamat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melati Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 016
Mencari Celah
Karena kali ini, Kevin tidak akan berdiri sendirian.
Kalimat itu menjadi pegangan Sekar sepanjang sore.
Bu Wati akhirnya meminta semua pihak menunggu hasil pengecekan CCTV sekolah. Adrian dibawa ke UKS untuk diperiksa. Kevin tidak dihukum hari itu, tetapi ia diminta pulang lebih dulu agar keributan tidak makin besar.
Itu terdengar seperti keputusan netral.
Namun bagi Sekar, itu tetap terasa seperti pengusiran halus.
Di gerbang samping, Kevin berdiri tanpa helm di tangan. Motornya ada di parkiran, tetapi ia tidak langsung naik. Bryan berjalan bolak-balik di sampingnya seperti orang ingin memukul sesuatu namun tidak tahu apa.
"Bro, kita cari Adrian sekarang," kata Bryan.
"Diam."
"Gue serius."
"Makanya diam."
Sekar mendekat. "Jangan cari Adrian."
Bryan menoleh cepat. "Kak Sekar, lo juga jangan bilang sabar. Gue alergi."
"Aku bukan bilang sabar." Sekar mengeluarkan ponselnya. "Aku bilang kita cari bukti."
Kevin menatapnya.
Di layar ponsel, Sekar sudah membuka catatan. Ia menulis waktu kejadian, lokasi, siapa saja yang ada di koridor, pesan pertama di grup, dan kalimat-kalimat yang Adrian ucapkan sejak hari pertama.
Yola dan Steven datang beberapa menit kemudian. Yola membawa tangkapan layar grup WhatsApp. Steven membawa satu video pendek dari siswa kelas lain yang sempat direkam dari bawah tangga.
"Videonya jelek," kata Steven. "Tapi ini yang paling cepat tersebar."
Sekar memutar video itu.
Gambar bergoyang. Suara siswa berisik. Dari sudut bawah, terlihat Kevin berdiri di tangga atas dan Adrian jatuh ke bawah. Bagian sebelum jatuh tidak terekam. Tangan Kevin tidak terlihat jelas.
Video itu tidak membuktikan Kevin bersalah.
Tetapi juga belum cukup membuktikan ia tidak bersalah.
Bryan mengumpat pelan.
"Ini yang mereka pakai buat nuduh?"
Yola menggertakkan gigi. "Mereka cuma lihat bagian yang mereka mau."
Sekar memutar video itu lagi. Lalu lagi. Pada putaran ketiga, ia menghentikan gambar tepat sebelum Adrian jatuh.
"Lihat sudut ini."
Steven mendekat. "Apa?"
Sekar menunjuk bagian ujung layar. Di dekat jendela koridor lantai dua, ada bayangan seseorang berdiri di sisi luar tangga. Tidak jelas wajahnya, hanya potongan jaket abu-abu dan sepatu hitam.
"Ada orang di sana."
Kevin melihat layar itu. "Bisa siapa saja."
"Tapi posisinya bisa melihat sisi tangga." Sekar memperbesar gambar. Buram, pecah, tetapi cukup untuk menunjukkan seseorang memang berdiri di sana. "Kalau dia melihat dari samping, dia tahu Adrian jatuh sendiri atau tidak."
Yola langsung berkata, "Kita cari."
Steven menggeleng. "Gambar terlalu buram."
Bryan mengambil ponsel, memperhatikan sepatu di layar. "Tunggu. Sepatu ini familiar."
Kevin menoleh. "Lo kenal?"
"Mungkin." Bryan menyipit. "Anak kelas sebelah yang sering nongkrong dekat gudang olahraga. Rio."
Nama itu membuat Yola mengangkat alis. "Rio Hartono?"
Steven mendesah. "Kalau benar Rio, masalahnya dia nggak suka ikut urusan orang."
"Dia lihat?" tanya Sekar.
"Kalau dia di posisi itu, kemungkinan besar lihat." Steven menatap layar. "Tapi Rio bukan tipe yang mudah diminta jadi saksi."
Sekar menyimpan ponsel. "Aku akan bicara dengannya."
Kevin langsung berkata, "Gue ikut."
"Nggak."
Kevin menatapnya.
Sekar memegang tangannya. "Kalau kamu ikut, dia akan merasa ditekan. Sekarang semua orang sudah berpikir kamu menakutkan. Kita jangan kasih mereka alasan baru."
Kevin tidak suka. Itu jelas terlihat dari wajahnya. Namun setelah beberapa detik, ia mengangguk.
"Bryan ikut."
"Oke."
Bryan menunjuk dirinya. "Gue ikut sebagai apa?"
"Sebagai orang yang nggak membuat saksi kabur," jawab Kevin.
"Menyakitkan, tapi masuk akal."
Mereka menemukan Rio di belakang gudang olahraga, duduk di tembok rendah sambil memegang kaleng minuman. Rambutnya sedikit berantakan, seragamnya tidak terlalu rapi, dan wajahnya menunjukkan ekspresi orang yang sudah tahu mereka akan datang.
"Kalau mau tanya soal Kevin, gue nggak lihat apa-apa," kata Rio sebelum Sekar bicara.
Bryan berhenti di samping Sekar. "Belum ditanya udah jawab. Itu mencurigakan."
Rio menatap Bryan. "Lo selalu banyak omong?"
"Sebagai bakat."
Sekar melangkah maju. "Rio, aku cuma mau tahu apa kamu berada di dekat tangga saat Adrian jatuh."
Rio memutar kaleng minumannya. "Mungkin."
"Kamu lihat?"
"Kalau lihat pun kenapa?"
"Karena Kevin tidak mendorong Adrian."
Rio menatapnya untuk pertama kali dengan sungguh-sungguh. "Lo yakin banget."
"Iya."
"Karena dia pacar lo?"
"Karena aku melihat tangan Kevin tidak menyentuh Adrian. Dan karena Adrian sudah memancing sejak kemarin."
Rio diam.
Di dekat lapangan, suara siswa bermain futsal terdengar samar. Angin sore membawa bau rumput basah dan debu. Sekar menahan diri agar tidak terdengar memohon. Ia tidak ingin Rio merasa dirinya dipaksa. Ia hanya ingin satu orang yang melihat kebenaran berani mengatakan apa yang ia lihat.
"Kalau kamu tidak mau bicara, setidaknya jangan ikut menyebarkan fitnah," kata Sekar.
Rio tertawa pendek. "Lo pikir gue tukang gosip?"
"Aku pikir kamu orang yang tahu rasanya dinilai dari reputasi."
Senyum Rio menghilang.
Bryan melirik Sekar, jelas tidak menyangka kalimat itu akan mengenai sasaran.
Rio melompat turun dari tembok rendah. "Gue nggak janji apa-apa."
Sekar mengangguk. "Aku tidak minta janji."
"Tapi..." Rio memasukkan tangan ke saku. "Kalau sekolah benar-benar mau dengar saksi, suruh mereka panggil gue. Bukan Adrian. Bukan Kevin. Sekolah."
Dada Sekar terasa sedikit longgar.
"Kamu melihatnya?"
Rio berjalan melewati mereka.
Sebelum pergi, ia berhenti sebentar dan berkata tanpa menoleh, "Gue lihat cukup banyak buat tahu Kevin bukan yang jatuhin dia."
Bryan hampir bersorak, tetapi Sekar menahan lengannya.
Rio belum bersedia berdiri di depan semua orang.
Namun Sekar tidak ingin membiarkan Kevin menunggu dalam ketidakpastian lebih lama. Ia berjalan ke sisi lapangan yang lebih sepi dan meneleponnya.
Kevin mengangkat pada dering pertama.
"Sekar?"
Hanya namanya, tetapi suara itu membuat dada Sekar sakit. Kevin terdengar seperti orang yang sejak tadi menahan napas.
"Kami sudah bicara dengan Rio."
Di seberang sana, Kevin diam.
"Dia belum mau bicara di depan sekolah," lanjut Sekar, "tapi dia melihat cukup banyak. Dia bilang kamu bukan yang membuat Adrian jatuh."
Napas Kevin terdengar pelan. "Lo percaya dia?"
"Aku percaya kamu. Rio cuma membantu membuktikannya."
Sekali lagi Kevin diam. Kali ini lebih lama.
"Kev?"
"Makasih."
Suara itu rendah, hampir hilang oleh angin. Sekar menggenggam ponselnya lebih erat.
"Jangan terima kasih untuk hal seperti ini."
"Gue tetap mau."
Sekar menutup mata sebentar. Di belakangnya, Bryan pura-pura tidak mendengar, tetapi wajahnya melunak. Orang seperti Kevin jarang meminta tolong. Mungkin karena hidup terlalu sering mengajarinya bahwa tidak ada yang datang saat ia jatuh.
Kali ini, Sekar akan datang sebelum ia sempat jatuh lebih jauh.
Namun untuk pertama kalinya sejak fitnah itu meledak, Sekar melihat celah di dinding yang dibangun Adrian.