Louisa Hartono tidak pernah menyangka bahwa malam terburuk dalam hidupnya akan menjadi awal dari segalanya.
Setelah sepuluh tahun mengejar cinta yang tidak pernah berbalas, dia mabuk — dan tanpa sadar melamar seorang pria yang bahkan tidak dia kenal dengan baik.
Nathanael Susanto. CEO muda dari keluarga konglomerat Susanto. Dingin, misterius, dan... langsung bilang "iya."
Mereka menikah dengan perjanjian: satu tahun, tanpa perasaan, bisa cerai kapan saja.
Tapi Nathanael selalu pulang tepat waktu. Selalu menyiapkan bunga di meja kerjanya. Selalu tahu makanan favoritnya tanpa pernah bertanya.
Dan Louisa mulai bertanya-tanya — apakah suami kontraknya ini... sudah mengenalnya jauh lebih lama dari yang dia kira?
Sementara itu, Kevin Tanuwijaya — pria yang Louisa kejar selama sepuluh tahun — akhirnya sadar bahwa dia sudah kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mencintainya.
Tapi sudah terlambat.
Karena Nathanael Susanto sudah menunggu sepuluh tahun untuk momen ini.
Dan dia tidak akan melepaskannya.
🌹 Nikah kontrak. Cinta rahasia sepuluh tahun. Mantan yang menyesal seumur hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 003
Perjanjian Pranikah
Louisa tidak langsung menyentuh formulir itu.
Dua lembar kertas putih di atas meja tampak terlalu bersih untuk keputusan yang lahir dari malam paling berantakan dalam hidupnya. Kolom nama masih kosong. Kolom tempat lahir, tanggal lahir, agama, alamat, tanda tangan saksi, semuanya menunggu diisi.
Menunggu.
Kata itu membuat ujung jari Louisa dingin.
Ia sudah terlalu lama menunggu orang yang salah. Menunggu Kevin membalas pesan. Menunggu Kevin menoleh. Menunggu hari ketika Kevin sadar bahwa ia selalu ada. Sekarang, di hadapannya, ada jalan keluar yang justru meminta ia berhenti menunggu dan mulai memilih.
"Kalau aku tanda tangan," ucap Louisa, "apa yang sebenarnya kamu dapat?"
Nathanael menatapnya dari sofa seberang. "Status."
"Status?"
"Suami."
Jawaban itu terlalu singkat, terlalu tenang. Louisa tidak tahu harus tertawa atau takut.
"Kamu bicara seolah itu hal kecil."
"Bukan hal kecil." Nathanael menurunkan pandangan ke map. "Karena itu semua harus jelas dari awal."
Ia mengeluarkan beberapa lembar dokumen lain, lebih tebal dari formulir Catatan Sipil. Di halaman pertama tertulis draft perjanjian pranikah. Bahasa hukumnya rapi, kering, tidak romantis sama sekali.
Aneh, justru bagian itu membuat Louisa sedikit lega.
Kertas hukum tidak berjanji akan mencintainya. Kertas hukum hanya menulis apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Setelah sepuluh tahun hidup dari harapan yang tidak pernah diucapkan, sesuatu yang dingin dan jelas terasa lebih aman.
Nathanael meletakkan dokumen itu di antara mereka.
"Aku minta pengacara keluargaku menyiapkan draft dasar. Belum sah. Nanti harus dibaca notaris, lalu disesuaikan dengan keputusanmu."
"Keputusanku?"
"Pernikahan ini dimulai dari permintaanmu. Jadi syarat utamanya harus melindungimu."
Louisa menatapnya lama.
Ponselnya bergetar di meja.
Nama Kevin muncul di layar.
Kevin Tanuwijaya.
Jantung Louisa masih bereaksi. Ternyata tubuh memang lebih lambat belajar daripada pikiran. Selama bertahun-tahun, satu panggilan dari Kevin selalu membuatnya bergerak sebelum sempat berpikir. Mengangkat telepon, membuka laptop, mencatat jadwal, pergi menjemput, membatalkan urusan sendiri.
Hari ini, jarinya hanya berhenti di udara.
Nathanael tidak melihat layar. Ia menatap cangkir kosong di meja, memberi ruang seolah panggilan itu bukan urusannya.
"Kamu perlu angkat?" tanyanya.
Louisa menelan ludah. "Nggak."
Panggilan itu berhenti.
Beberapa detik kemudian, pesan masuk.
Kevin: Lulu, file vendor. Sekarang.
Louisa membaca kata terakhir itu.
Sekarang.
Tidak ada tolong. Tidak ada kamu di mana. Tidak ada semalam kamu kenapa pulang tanpa kabar.
Ia membalik ponsel hingga layarnya menghadap meja.
"Tulis syaratnya," ucap Louisa.
Nathanael mengambil bolpoin, tapi tidak langsung menulis. "Kamu yakin tidak mau istirahat dulu?"
"Kalau aku istirahat, aku mungkin kembali takut."
"Takut tidak selalu buruk."
"Tapi aku sudah terlalu sering memakai takut sebagai alasan untuk tetap di tempat yang sama."
Untuk pertama kalinya sejak ia datang pagi itu, ekspresi Nathanael berubah jelas. Ada sesuatu yang menghangat di matanya, cepat sekali lalu menghilang.
"Baik," ucapnya.
Ia menarik satu lembar kertas kosong dari map.
"Satu. Pernikahan berlangsung satu tahun. Setelah itu, kalau kamu ingin berpisah, aku akan mengurus perceraian secara baik-baik lewat Pengadilan Negeri."
Louisa mengangguk. "Kalau kamu yang ingin bercerai sebelum satu tahun?"
"Aku tidak akan mengajukan lebih dulu."
"Kenapa?"
"Karena aku yang menawarkan perlindungan. Tidak masuk akal kalau aku menariknya saat kamu belum siap."
Louisa menatap bolpoin di tangan Nathanael. Tangan itu stabil. Tidak seperti tangannya sendiri yang masih sesekali bergetar.
"Tulis saja, kedua pihak berhak mengajukan pembatalan kesepakatan kalau terjadi kekerasan, pemaksaan, atau pelanggaran berat," katanya.
"Setuju."
Nathanael menulis tanpa memperdebatkan.
"Dua," lanjut Louisa. "Pisah harta. Semua asetmu tetap milikmu. Semua penghasilanku tetap milikku."
"Aku tambahkan tidak ada kewajiban saling menanggung utang pribadi."
"Iya."
"Tiga?"
Louisa mengalihkan pandangan ke meja kerjanya. Ada sketsa setengah jadi di sana, gambar seorang perempuan berdiri di halte saat hujan. Ia membuatnya beberapa bulan lalu setelah menunggu Kevin pulang dari meeting, hanya untuk diberi tahu bahwa pria itu sudah makan malam dengan Yvonne.
"Kita pasangan nominal," katanya pelan. "Tidak perlu..."
Ia berhenti.
Kata-kata itu tersangkut di tenggorokan.
Nathanael meletakkan bolpoin. "Tidak ada kewajiban fisik apa pun tanpa persetujuan dua pihak."
Wajah Louisa panas.
"Iya. Itu."
"Aku tulis jelas."
Nathanael menulis dengan tenang, tanpa membuatnya merasa kotor karena menyebut batas tubuhnya sendiri. Louisa menatap sisi wajah pria itu. Garis rahangnya tegas, bulu matanya menurunkan bayangan tipis. Ia tampak seperti seseorang yang terbiasa memutuskan kontrak miliaran, tetapi pagi ini ia menulis kalimat paling sederhana: tidak ada sentuhan tanpa persetujuan.
Dada Louisa melunak sedikit.
"Empat," ucap Nathanael setelah selesai. "Kamu bebas bekerja, melukis, bertemu teman, dan tinggal di tempat yang kamu pilih. Aku tidak akan mengatur kehidupanmu."
"Kalau nanti kita harus terlihat sebagai suami istri?"
"Kita sepakati jadwalnya. Acara keluarga, acara publik, kebutuhan legal. Di luar itu, tidak ada paksaan."
"Kamu juga bebas."
"Aku tidak punya hubungan lain."
Jawaban itu terlalu cepat.
Louisa berkedip. "Maksudku, pekerjaan, keluarga, teman."
"Aku tahu." Nathanael menutup sedikit bibirnya, seolah sadar ia menjawab bagian yang tidak ditanya. "Iya, tulis juga untukku."
Louisa hampir tersenyum.
Ponselnya kembali bergetar. Kali ini bukan panggilan, hanya pesan berturut-turut.
Kevin: Ray bilang kamu belum kirim.
Kevin: Kamu sakit?
Kevin: Kalau sakit, kirim file dulu, nanti izin ke HR.
Kalimat terakhir itu membuat senyum yang nyaris muncul di bibir Louisa menghilang.
Nathanael akhirnya menoleh ke ponsel, bukan untuk membaca, hanya karena getarnya tidak berhenti.
"Kamu boleh memblokirnya sementara."
"Aku masih kerja di perusahaannya."
"Kalau kamu ingin resign, aku bisa bantu cari pengacara ketenagakerjaan."
"Belum." Louisa menarik napas. "Aku mau keluar dengan caraku sendiri."
Nathanael mengangguk. "Baik."
Tidak ada "aku urus saja". Tidak ada "kamu tidak perlu bekerja di sana". Tidak ada rasa memiliki yang menindih.
Hanya baik.
Louisa mengambil ponsel, membuka chat Kevin, lalu mengetik perlahan.
File vendor ada di folder kantor. Aku cuti sakit hari ini. Tolong minta Ray ambil dari server.
Ia menatap kalimat itu. Tidak ada kata maaf.
Untuk pertama kalinya, ia mengirim pesan kepada Kevin tanpa meminta maaf.
Centang dua muncul.
Louisa meletakkan ponsel lagi. Tangannya masih bergetar, tapi kali ini bukan karena takut sepenuhnya. Ada rasa asing yang kecil dan tajam, seperti udara masuk ke kamar yang terlalu lama tertutup.
"Lima," katanya. "Kita tidak perlu mengumumkan alasan pernikahan ini kepada siapa pun."
"Setuju."
"Kalau keluarga bertanya?"
"Kita bilang keputusan bersama."
"Kalau keluargamu marah?"
Nathanael berhenti menulis. "Mereka tidak akan marah."
"Kamu yakin?"
"Engkong mungkin akan terlalu senang."
Louisa tidak mengerti kenapa kalimat itu terdengar begitu aneh. Terlalu senang? Untuk cucunya yang tiba-tiba menikah dengan perempuan yang baru kemarin mabuk di lobi hotel?
Sebelum ia sempat bertanya, Nathanael sudah kembali ke dokumen.
"Ada lagi?"
Louisa membaca daftar itu dari awal. Satu tahun. Pisah harta. Tidak ada sentuhan tanpa persetujuan. Tidak saling mengatur pekerjaan dan pertemanan. Alasan pernikahan tidak diumumkan. Perceraian bisa dilakukan baik-baik setelah masa kesepakatan selesai.
Semua terdengar seperti pagar.
Pagar yang ia bangun agar tidak jatuh ke lubang yang sama.
"Kalau dalam satu tahun itu..." Louisa berhenti, lalu memaksa dirinya melanjutkan. "Kalau salah satu dari kita menyukai orang lain?"
Nathanael tidak segera menjawab.
Louisa menatapnya. Pertanyaan itu sebenarnya untuk dirinya sendiri. Ia belum benar-benar bersih dari Kevin. Bayangan pria itu masih ada di sudut-sudut kebiasaannya, di jadwal kerja, di password folder kantor, di memori hujan SMA, di bunga yang layu.
Nathanael memutar bolpoin di antara jarinya sekali.
"Kalau kamu menyukai orang lain," katanya, "kamu boleh memberitahuku. Aku tidak akan menahanmu."
"Kamu?"
"Aku tidak akan menyukai orang lain."
Louisa tertawa pelan, tidak percaya. "Kamu yakin sekali."
"Iya."
"Kenapa?"
Nathanael menatap kertas di depannya. "Aku orang yang kalau sudah memilih, sulit pindah."
Kalimat itu sederhana. Namun entah kenapa, ruangan terasa berubah. Louisa melihat wajahnya yang tenang, tangan yang menahan bolpoin, dan jeda yang terlalu panjang setelah kata memilih.
Ia tidak tahu harus menaruh kalimat itu di mana.
Akhirnya ia hanya berkata, "Tulis saja, kalau salah satu pihak memiliki hubungan serius dengan orang lain, pihak lain harus diberi tahu."
"Baik."
Mereka menyusun draft itu selama hampir satu jam.
Nathanael menghubungi notaris keluarga Susanto melalui pesan singkat, meminta jadwal konsultasi sore ini. Louisa mengirim foto KTP dan akta lahir yang tersimpan di folder digitalnya. Ia juga mencari kartu keluarga Lesmana, lalu berhenti sebentar saat melihat namanya berada di bawah nama Vincent Lesmana dan Renata Tanuwijaya-Lesmana.
Anak angkat.
Status yang sah, tapi selalu terasa seperti tanda kurung di hidupnya.
Nathanael melihat tangannya diam di atas layar.
"Kalau dokumennya belum lengkap, kita bisa tunggu."
"Lengkap." Louisa mengunci ponsel. "Aku cuma..."
"Tidak perlu dijelaskan."
Kebaikan yang tidak memaksa kadang lebih sulit ditahan daripada pertanyaan tajam.
Louisa mengambil bolpoin yang satu lagi.
"Draft sementara saja, kan?"
"Iya. Nanti notaris baca ulang. Kamu juga bisa minta Steven atau pengacara lain memeriksa."
"Aku akan minta Steven baca."
"Bagus."
Louisa membaca halaman terakhir. Di bawah daftar syarat, Nathanael menulis dua baris kosong untuk tanda tangan mereka. Bukan dokumen final, hanya kesepakatan awal yang akan dibawa ke notaris.
Namun tangan Louisa tetap terasa berat.
Jika ia menandatangani, ia tidak lagi bisa berpura-pura bahwa semalam hanya kesalahan mabuk.
Ia akan benar-benar berjalan keluar dari cerita Kevin.
Ponselnya menyala lagi.
Kevin: Sejak kapan kamu cuti tanpa lapor aku dulu?
Louisa menatap pesan itu.
Lalu ia menunduk dan menandatangani namanya.
Louisa Hartono.
Tinta hitam itu mengering cepat di atas kertas.
Nathanael menatap tanda tangan tersebut beberapa detik. Setelah itu, ia mengambil bolpoinnya sendiri.
Gerakannya berhenti tepat sebelum ujung bolpoin menyentuh kertas.
Louisa melihat jeda itu.
Untuk sesaat, ia mengira Nathanael akhirnya sadar betapa gilanya semua ini. Mungkin ia menimbang nama keluarga Susanto, reputasi PT Nusatek Mandiri, Engkong yang akan terlalu senang, dan perempuan di hadapannya yang baru kemarin patah hati karena pria lain.
"Kalau kamu mau mundur, masih bisa," ucap Louisa pelan.
Nathanael mengangkat wajah.
Matanya menatap Louisa dengan sesuatu yang tidak ia mengerti. Terlalu dalam untuk ragu. Terlalu sunyi untuk sekadar nekat.
Louisa tidak tahu, di balik jeda itu, sepuluh tahun hidup Nathanael sedang menahan napas.
Pria itu menunduk.
Lalu menulis namanya di bawah namanya.