NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Jenius Di Rahim Ibu Angkat

Reinkarnasi Jenius Di Rahim Ibu Angkat

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Wanita / Anak Genius
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rina ylna

**Alya** adalah gadis yatim piatu yang bekerja keras demi bertahan hidup. Namun, sebuah kesalahan fatal di satu malam—akibat salah memasuki kamar hotel—mengubah takdirnya. Ia terbangun di samping **Devan Dirgantara**, CEO dingin nan kejam dari Dirgantara Group yang sangat membenci skandal.

Alya memilih melarikan diri dan merahasiakan malam itu. Namun takdir berkata lain, beberapa minggu kemudian ia dinyatakan hamil. Di sinilah keajaiban dimulai. Janin di dalam kandungan Alya ternyata bukanlah janin biasa. Sejak usia beberapa minggu, janin tersebut bisa berkomunikasi secara telepatis hanya dengan Alya!

Si "janin ajaib" ini memiliki kecerdasan luar biasa, indra keenam, dan bahkan bisa mendeteksi niat buruk orang-orang di sekitar ibunya.

Saat ibu tiri Alya mencoba meracuninya, si janin memberi peringatan. Saat Devan akhirnya mengetahui kehamilan Alya dan berniat merebut bayinya dengan kontrak dingin, si janin justru mendiktekan syarat-syarat kontrak tandingan yang membuat sang CEO jeni

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina ylna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 18

Sesuai janjinya, Baby El benar-benar tertidur lelap di dalam kandungan untuk memulihkan energi spiritualnya. Perut Alya terasa sangat damai, tanpa mual, tanpa bisikan-bisikan jenius nan angkuh yang biasanya meramaikan kepalanya. Namun, keheningan ini justru memicu masalah baru bagi Alya.

Ia bosan setengah mati.

Sebagai seorang wanita yang sejak remaja terbiasa membanting tulang demi menyambung hidup, rutinitas barunya yang hanya berkisar antara makan, tidur, membaca buku nutrisi, dan berjalan-jalan di sekitar taman hidroponik penthouse mulai terasa seperti penjara emas. Setiap kali ia mencoba menyapu lantai atau mencuci piring, Bibi Nunung—yang sudah kembali dari kampung halaman—akan langsung histeris dan merebut kemoceng atau spons dari tangannya seolah-olah Alya sedang memegang bom waktu.

"Nona Alya, demi Gusti Allah, jangan! Kalau Tuan Devan lihat saya membiarkan Nona kelelahan, saya bisa langsung dipensiunkan dini!" begitu ratapan Bibi Nunung yang selalu sukses membuat Alya urung bergerak.

Puncaknya terjadi pada Selasa malam. Devan baru saja pulang dari kantor tepat pukul delapan malam. Pria itu sudah menanggalkan jasnya, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku. Ia duduk di meja makan, menikmati sepiring tumis kangkung dan ayam bakar madu masakan Bibi Nunung.

Alya duduk di seberangnya, hanya mengaduk-aduk sup asparagus di mangkuknya dengan pandangan kosong.

Devan yang selalu pekat terhadap perubahan sekecil apa pun pada diri Alya, meletakkan sendok dan garpunya. Mata abu-abunya menatap Alya lekat-lekat. "Supnya dingin? Atau rasanya tidak enak?"

Alya tersentak, lalu menggeleng cepat. "Eh? Tidak, bukan begitu. Masakan Bibi Nunung selalu enak."

"Lalu kenapa wajahmu ditekuk seperti itu sejak aku pulang?" tanya Devan, suaranya berat namun memiliki nada kelembutan yang kini khusus disediakan hanya untuk Alya.

Alya menarik napas dalam-dalam, meremas jemarinya di bawah meja. Cincin platinum di jari manisnya terasa dingin. "Devan... aku ingin bekerja."

Keheningan seketika menyergap ruang makan yang mewah itu. Gerakan tangan Devan yang hendak meraih gelas air putih langsung membeku di udara. Pria itu menatap Alya dengan dahi yang berkerut dalam, seolah-olah Alya baru saja mengatakan ingin pergi ke bulan.

"Bekerja?" Devan mengulang kata itu dengan nada sangsi. "Untuk apa? Apakah uang bulanan yang kukirimkan ke rekeningmu kurang? Atau Kakek belum mengirimkan dana tunjangan untukmu?"

"Bukan! Sama sekali bukan karena uang," potong Alya buru-buru, takut Devan salah paham. "Uang di rekeningku bahkan sudah terlalu banyak sampai aku bingung harus diapakan. Tapi... aku bosan, Devan. Aku terbiasa aktif. Di sini, semua hal sudah diurus oleh Bibi Nunung dan timmu. Aku merasa seperti pajangan pajangan mewah yang tidak berguna."

Alya condong ke depan, matanya menatap Devan dengan pandangan memohon yang sangat tulus. "Aku tidak meminta pekerjaan yang berat. Menjadi staf administrasi biasa, kasir, atau apa saja di salah satu anak perusahaanmu juga tidak apa-apa. Yang penting aku ada kegiatan."

Devan bersandar pada kursi makannya, melipat kedua tangan di dada. Ekspresi wajahnya kembali berubah menjadi mode CEO yang dingin dan tak terbantahkan. "Tidak boleh."

"Kenapa?" Alya cemberut, rasa kecewa langsung meluap di dadanya.

"Pertama, kandunganmu baru memasuki minggu-minggu awal yang rentan. Kejadian di klinik tiga hari lalu membuktikan bahwa bahaya bisa datang dari mana saja. Di luar penthouse, aku tidak bisa menjamin keamananmu seratus persen setiap detik," jelas Devan dengan logis dan tegas. "Kedua, apa yang akan dikatakan media jika mereka melihat Nona Muda Dirgantara bekerja sebagai staf biasa atau kasir? Mereka akan mengira aku menelantarkanmu atau Dirgantara Group sedang berada di ambang kebangkrutan."

"Tapi—"

"Tidak ada tapi, Alya. Ini demi keselamatanmu dan anak kita," pungkas Devan, menutup diskusi malam itu dengan otoritas absolutnya.

Alya hanya bisa mengembus napas berat, menunduk dalam-dalam dengan perasaan dongkol. Sisi keras kepala Devan terkadang benar-benar sulit ditembus jika sudah menyangkut masalah prinsip dan keamanan.

---

Keesokan paginya, Devan sudah berangkat ke kantor sejak pukul tujuh. Alya terbangun dengan perasaan yang masih sedikit kesal. Ia berjalan ke ruang tamu, berniat untuk kembali mengurung diri dengan buku-buku tebalnya. Namun, di atas meja kopi marmer, ia menemukan sebuah map kulit berwarna hitam dengan secarik memo kecil berlogo Dirgantara Group di atasnya.

Alya mengambil memo tersebut. Tulisan tangan di atasnya tampak rapi, tegas, dan sangat maskulin.

> *'Jika kamu benar-benar bosan, pelajari dokumen di dalam map ini. Mulai hari ini, kamu adalah Direktur Utama dari Dirgantara Creative Foundation—yayasan non-profit yang bergerak di bidang beasiswa pendidikan untuk anak-anak kurang mampu. Seluruh operasional bisa kamu pantau dari penthouse. Rapat koordinasi akan diadakan di sini setiap hari Kamis.'*

> *- Devan.*

Alya membelalakkan matanya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia membuka map kulit tersebut. Di dalamnya terdapat dokumen legalitas yayasan, laporan keuangan, serta daftar ribuan anak asuh yang membutuhkan bantuan dana pendidikan di seluruh pelosok negeri. Di lembar paling depan, nama **Alya Putri Dirgantara** sudah tercetak rapi sebagai pemegang otoritas tertinggi yayasan tersebut.

Dada Alya mendadak bergemuruh hebat oleh rasa haru yang tak terbendung. Devan tidak benar-benar menolak keinginannya; pria itu hanya menyaring keinginan konyolnya dan mengubahnya menjadi sesuatu yang jauh lebih mulia, aman, dan berdampak besar—sebuah pekerjaan yang sangat cocok dengan latar belakang Alya yang juga tumbuh dari garis kemiskinan.

"Pria itu... benar-benar keterlaluan," gumam Alya dengan mata yang berkaca-kaca, namun sebuah senyuman kebahagiaan yang sangat lebar terukir di bibirnya.

Tepat pada saat itu, sebuah denyutan hangat yang sangat familiar kembali terasa di dalam rahim Alya, diikuti oleh suara kuapan kecil yang sangat menggemaskan di dalam benaknya.

> *[Hoaam... Selamat pagi, Ibu. Wah, aku baru saja bangun dari tidur siang spiritualku dan langsung melihat Ayah Dingin memberikan sebuah mainan baru yang sangat besar untukmu. Direktur Utama? Tidak buruk. Setidaknya jabatan itu memiliki prestise yang cukup untuk mendampingi namaku kelak.]*

Alya terkekeh, mengusap perutnya dengan sayang. "El, kamu sudah bangun? Lihatlah, Ayahmu memberikan Ibu pekerjaan untuk mengurus yayasan pendidikan."

> *[Tentu saja aku bangun, Ibu. Aroma uang dan kekuasaan dari dokumen itu terlalu kuat hingga membangunkanku. Tapi... ini adalah langkah taktis yang sangat jenius dari Ayah. Mengurus yayasan beasiswa tidak membutuhkan fisik yang lelah, tapi sangat bagus untuk membangun citra publik Ibu sebagai 'Malaikat Penolong' keluarga Dirgantara. Di masa depan, tidak akan ada satu pun konglomerat yang bisa menyerang latar belakang sosialmu lagi!]*

"Ibu tidak memikirkan soal citra, El. Ibu hanya senang karena akhirnya bisa membantu anak-anak yang bernasib sama seperti Ibu dulu," batin Alya tulus.

> *[Iya, iya, aku tahu Ibuku adalah wanita paling berhati emas di dunia ini. Karena itu, biarkan janin jeniusmu ini yang mengurus bagian strateginya. Sini, Ibu... mari kita buka laporan keuangannya. Aku melihat ada beberapa alokasi dana yang tampak agak mencurigakan di tahun lalu sebelum yayasan ini jatuh ke tanganmu. Mari kita lakukan pembersihan besar-besaran hari ini!]*

Alya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan takjub. Jiwa kaisar bisnis Baby El tampaknya langsung menyala begitu melihat angka-angka laporan keuangan.

Hari Kamis pun tiba. Untuk pertama kalinya, ruang rapat privat di Penthouse Lavender diubah menjadi ruang kerja resmi. Tiga orang manajer senior dari Dirgantara Creative Foundation datang dengan sikap yang sangat amat hormat, dipimpin langsung oleh Yudha yang bertindak sebagai pengawas eksternal atas perintah Devan.

Ketiga manajer itu awalnya mengira bahwa Alya hanyalah "istri simpanan pajangan" sang CEO yang diberi jabatan yayasan sekadar untuk mengisi waktu luang. Namun, begitu rapat dimulai, pandangan meremehkan itu seketika runtuh dalam waktu kurang dari sepuluh menit.

Setiap kali salah satu manajer mencoba memaparkan laporan dengan angka-angka yang dimanipulasi atau program yang tidak efisien, Baby El akan langsung membisikkan analisis tajam ke kepala Alya.

"Manajer Santoso," ucap Alya dengan suara yang tenang namun terdengar sangat tegas di ujung meja makan panjang. "Mengapa biaya operasional untuk penyaluran beasiswa di wilayah Indonesia Timur membengkak hingga empat puluh persen dari anggaran pokok? Berdasarkan analisis jalur logistik, seharusnya kita bisa memotong biaya tersebut dengan bermitra langsung dengan maskapai kargo lokal milik Dirgantara Group."

Manajer Santoso seketika pucat pasi, keringat dingin bercucuran di dahinya. Ia tidak menyangka wanita muda yang tampak polos dan berkaos putih sederhana ini bisa langsung menemukan celah korupsi kecil yang disembunyikannya dengan sangat rapi.

"I-itu... Nyonya Muda... kami akan segera meninjaunya kembali," jawab Santoso dengan suara bergetar.

Yudha yang berdiri di sudut ruangan diam-diam tersenyum puas, sementara di dalam kepala Alya, Baby El sedang tertawa terbahak-bahak dengan penuh kemenangan.

> *[Hahaha! Rasakan itu, tikus kantor! Berani-beraninya mencoba membohongi Ibuku dengan trik akuntansi kelas teri seperti itu? Jalur spiritual bisnismu terlalu pendek, Manajer!]*

Rapat perdana itu berakhir dengan kesuksesan mutlak bagi Alya. Ketiga manajer keluar dari penthouse dengan tubuh gemetar dan rasa hormat yang mendalam kepada sang Nyonya Muda baru.

Malam harinya, ketika Devan pulang, ia menemukan Alya sedang duduk di sofa dengan laptop di pangkuannya dan wajah yang memancarkan binar kepuasan yang sangat cantik.

Devan berjalan mendekat, melonggarkan dasinya lalu duduk di samping Alya. Ia melirik layar laptop yang menampilkan bagan restrukturisasi yayasan yang sangat rapi dan profesional—sebuah hasil kerja yang bahkan setingkat dengan konsultan bisnis papan atas.

"Yudha melaporkan semuanya padaku," ucap Devan, sudut bibirnya sedikit terangkat membentuk senyuman bangga yang sangat menawan. "Kamu memecat Manajer Santoso hari ini?"

Alya menoleh, menatap Devan dengan mata berbinar. "Dia mencoba memanipulasi dana pendidikan untuk anak-anak yatim, Devan. Aku tidak bisa membiarkannya."

Devan mengulurkan tangannya, mengusap kepala Alya dengan kelembutan yang dalam, lalu tangannya turun untuk mendekap pinggang Alya, menarik tubuh mungil itu masuk ke dalam pelukan hangatnya yang protektif.

"Kamu melakukannya dengan sangat baik, Nyonya Muda Dirgantara," bisik Devan lembut di telinga Alya, membuat wajah gadis itu seketika merona merah padam.

Di dalam kehangatan pelukan malam itu, di tengah aroma maskulin Devan yang menenangkan dan detak jantung mereka yang saling bersahutan, Alya merasakan kebahagiaan yang sangat utuh. Ia tidak lagi merasa seperti pajangan. Di samping sang CEO dingin ini, dan bersama janin ajaib di dalam rahimnya, ia kini telah menemukan tempat dan kekuatan sejatinya untuk melangkah maju menghadapi dunia.

1
beybi T.Halim
yaa jgn nama juga laa.,bisa hubby,ayah.,ayang beb🤭kannn gak sopan manggil nama doank
beybi T.Halim
keren ceritanya,gak menye menya,gas poll👍
Ariany Sudjana
haha dasar pelacur murahan kamu itu Mita, suami yang kamu banggakan, ternyata kalah jauh dibanding Devan Dirgantara 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
bagus Devan, orang sombong dari masa lalu Alya, memang harus dibungkam
Miu Miu 🍄🐰
seru ceritanya 😍
Ariany Sudjana
hahaha bangkrut keluarga Alexander, kalian salah cari lawan 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
harusnya dua tikus itu dibunuh saja
Ariany Sudjana
Alya gitu lho 😂😂
Ariany Sudjana
hahaha mampus kamu Tiffany 🤣🤣😂😂
Rina ylna
buat kalian yang emang bener² suka sama ceritanya, pliss kasih like, vote dan komen lanjut Thor biar aku makin semangat nulisnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!