NovelToon NovelToon
Ratu dari Empat Bintang

Ratu dari Empat Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Reinkarnasi / Satu wanita banyak pria
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Iris Kartika

Felicia Winarko bukan gadis biasa.

Di kehidupan sebelumnya, dia adalah komandan pangkalan militer di dunia pasca-apokalips. Dingin, kalkulatif, dan tidak kenal takut.

Sekarang? Dia terbangun di dunia komik Mary Sue sebagai yatim piatu yang dibully di sekolah elit paling bergengsi.

Misinya: Buat empat pewaris konglomerat jatuh cinta padanya — cinta sejati, bukan sekadar tertarik.

Nathan Salim, sang ketua OSIS yang sempurna di luar tapi rapuh di dalam.
Calvin Tanuwijaya, pelukis jenius yang memanggilnya "Ci" dengan tatapan berbahaya.
Jayden Hartono, pewaris temperamental dengan tindik bibir dan hati selembut anak anjing.
Sebastian Widjaja, si jenius germaphobe yang sentuhan Felicia bisa menyembuhkan.

Empat pria. Empat bintang yang harus dinyalakan. Satu perempuan yang menolak memilih.

"Kenapa harus pilih satu? Mereka semua milikku."

Tapi di balik permainan cinta yang dia kendalikan dengan sempurna, dunia ini menyimpan rahasia yang bisa membunuh mereka semua...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 30 - Giliran Jayden

"Giliranmu."

Jayden tidak langsung bergerak.

Itu membuat Felicia sedikit puas.

Anak itu biasanya seperti api yang disiram bensin. Begitu diberi celah, ia menyambar. Namun malam ini ia berdiri dekat jendela, tangan terkepal, rahang kaku, seolah kata "giliranmu" bukan hadiah, melainkan ujian yang bisa gagal kalau ia terlalu cepat.

Nathan menunduk lebih dulu. "Aku akan urus dokumen di ruang kerja."

Calvin tersenyum tipis. "Aku menggambar di ruang sebelah. Kalau ada yang pecah, aku datang."

Sebastian melihat Jayden. "Jangan mengangkatnya tanpa izin. Jangan menekan rusuk. Jangan membuatnya tertawa terlalu keras."

"Poin terakhir nggak adil," kata Jayden.

"Kamu memang lucu tanpa sengaja."

"Seb."

Felicia mengangkat tangan. "Keluar."

Tiga pria itu keluar dengan tiga jenis keengganan. Nathan rapi, Calvin manis-gelap, Sebastian penuh catatan yang hampir terlihat di udara.

Pintu tertutup.

Jayden masih berdiri di tempat.

Felicia menatapnya. "Kamu rusak?"

"Gue lagi mikir."

"Peristiwa langka."

"Sayang."

Nada protesnya membuat Felicia hampir tertawa, tetapi ia ingat rusuknya dan hanya tersenyum.

Jayden mendekat dua langkah, lalu berhenti sendiri. "Kalau gue duduk di ranjang, boleh?"

"Boleh."

Ia duduk di tepi ranjang. Kasur turun sedikit oleh berat tubuhnya. Jayden yang biasanya memenuhi ruangan dengan gerak mendadak kini memegang lututnya sendiri seperti takut tangannya berkeliaran tanpa izin.

Felicia memperhatikan itu.

"Kamu sungguh sedang belajar."

"Gue nggak mau jadi orang yang bikin lo sakit."

"Kemarin kamu ingin membanting semua orang."

"Itu beda. Mereka pantas."

"Dan aku?"

Jayden menoleh cepat. "Lo? Gue mau..."

Ia berhenti. Wajahnya berubah merah sedikit, hal yang jarang sekali terjadi pada Jayden Hartono.

"Mau apa?" tanya Felicia.

"Mau nyentuh. Mau cium. Mau tidur di sebelah lo dan nggak keluar tiap lima menit cuma buat ngecek Ketua masih napas atau nggak."

"Nathan bernapas."

"Gue tahu. Sayangnya."

Felicia tertawa kecil. Rusuknya langsung menusuk.

Jayden panik. "Tuh! Seb bener, gue bikin lo ketawa."

"Itu bukan dosa besar."

"Tapi sakit."

"Sedikit."

"Kata 'sedikit' versi lo nggak bisa dipercaya."

Bagus. Mereka semua mulai belajar.

Felicia menunjuk gelas air di meja. "Air."

Jayden langsung mengambilnya, menyelipkan sedotan ke bibir Felicia karena tangan kirinya masih terbatas. Gerakannya tidak sehalus Nathan, tetapi sangat fokus. Ia menatap mulut Felicia terlalu lama, lalu memalingkan wajah dengan kasar.

"Kenapa?"

"Kalau gue lihat terus, gue bakal minta cium."

"Minta."

Jayden membeku.

Felicia menaruh gelas kembali ke meja. "Aku bilang minta."

Ia menelan ludah. Suara itu terdengar jelas di kamar yang terlalu sunyi.

"Boleh gue cium lo, Sayang?"

"Boleh."

Jayden mencondongkan tubuh.

Ciumannya tidak seperti Nathan. Nathan datang seperti doa yang takut salah ucap. Jayden datang seperti seseorang yang sudah berlari terlalu lama dan akhirnya menemukan pintu terbuka. Ia kuat, panas, hampir terburu-buru, tetapi tangan kanannya berhenti di sisi bantal, bukan di tubuh Felicia. Tangan kirinya menggenggam seprai sampai buku jarinya memutih.

Felicia membiarkannya beberapa detik.

Lalu ia menggigit bibir Jayden pelan.

Jayden mengeluarkan suara tertahan.

"Pelan," kata Felicia di sela napas.

Jayden langsung berhenti. "Sakit?"

"Tidak. Aku memberi perintah."

Matanya menyala lagi. "Oh."

"Ulangi. Lebih pelan."

Ia menurut.

Itu bagian yang paling menarik.

Jayden bukan tidak liar. Ia tetap liar. Tetapi ketika Felicia memberi batas, keliarannya tidak memaksa keluar. Ia berputar mengelilingi batas itu, mencari cara untuk tetap terbakar tanpa membakar orang yang ia inginkan.

Ciuman kedua lebih dalam, tetapi lebih lambat. Napas Jayden panas di pipi Felicia. Lip ring-nya terasa dingin sesaat ketika menyentuh sudut bibirnya, lalu hilang oleh panas mulutnya. Ia gemetar bukan karena takut, melainkan karena menahan diri.

Felicia menyukai orang yang bisa menahan diri ketika sulit.

"Tangan," katanya.

Jayden membuka mata. "Di mana?"

"Pinggang kanan. Bukan rusuk."

Ia meletakkan tangan di tempat yang ditunjuk dengan hati-hati yang hampir canggung. Telapak tangannya besar, hangat, dan terlalu sadar pada setiap inci jarak.

"Gini?"

"Lebih dekat."

Ia mendekat.

"Masih aman."

Jayden menarik napas seperti baru lolos dari hukuman mati. "Gue kira gue bakal kacau."

"Kamu memang kacau. Tapi bisa dipakai."

Ia tertawa tertahan. "Itu pujian?"

"Untukmu, iya."

Jayden menunduk, menempelkan dahi ke sisi bantal dekat kepala Felicia, bukan ke bahunya. "Gue cemburu dari kemarin sampai rasanya mau gila."

"Aku tahu."

"Lihat Nathan keluar dari kamar lo pagi tadi... gue pengin nantang dia balapan, berantem, apa aja."

"Tapi tidak."

"Karena lo pilih dia."

Felicia menyentuh rambut hitam Jayden dengan tangan kanan. Rambutnya lebih kasar daripada Nathan, sedikit lembap karena ia mungkin mandi buru-buru sebelum masuk kamar.

"Dan sekarang aku pilih kamu."

Jayden menutup mata.

Satu kalimat itu menenangkannya lebih cepat daripada pelukan panjang.

Di kepala Felicia, Sis berbisik hati-hati, "Data emosi Jayden naik tajam. Bintang mulai bergerak dari 0% ke 4%. Belum menyala. Urutan aman."

Jayden mengangkat kepala. "Lo senyum."

"Sis memberi laporan."

"Tentang gue?"

"Kamu naik ke 4%."

Ia tampak tidak paham sebentar, lalu mengingat sistem bintang. "Cuma empat?"

"Kamu protes?"

"Gue bisa lebih."

"Tidak malam ini."

Jawaban itu langsung membuatnya mengangguk, cepat dan patuh. "Iya. Lo masih sakit."

Namun wajahnya tetap menunjukkan sedikit kecewa yang tidak sempat ia sembunyikan.

Felicia menarik ujung kausnya dengan satu jari. "Kamu ingin angka atau pengakuan?"

Jayden terdiam.

"Jawab."

"Pengakuan," katanya akhirnya. "Angka juga, tapi... kalau harus pilih, gue mau lo lihat gue. Bukan cuma Jayden yang berisik, bukan cuma yang bisa balapan atau berantem."

Felicia menatapnya, lalu menariknya turun untuk ciuman pendek.

"Aku sedang melihat."

Jayden menutup mata sebentar, seperti kalimat itu lebih keras menghantamnya daripada semua tantangan di lintasan. Tangannya di selimut bergetar, lalu perlahan terbuka, tidak lagi mengepal sekuat tadi di atas kain putih bersih.

Felicia menyipit. "Kamu benar-benar bisa diajar."

"Kalau gurunya lo."

Ia mengatakan itu tanpa bercanda.

Felicia menepuk sisi ranjang. "Duduk lebih dekat."

Jayden menurut, tetapi gerakannya masih seperti orang menahan mesin yang ingin meraung. Lututnya hampir menyentuh ranjang. Tangannya turun ke samping tubuh, mengepal, lalu membuka lagi.

"Kamu selalu secepat ini?"

"Kalau lambat, orang lain duluan."

"Dalam balapan?"

"Dalam semua hal." Jayden menatap lantai sebentar. "Rumah gue keras. Lapangan keras. Lintasan juga. Kalau gue nggak ambil duluan, gue dianggap kalah. Kalau gue bilang gue mau sesuatu, orang pikir gue cuma ngambek. Jadi gue biasanya langsung gerak."

Felicia mendengar tanpa memotong.

Jayden mengangkat mata. "Tapi sama lo, gue nggak bisa begitu."

"Karena aku cedera?"

"Karena lo bisa bilang berhenti, dan gue nggak mau jadi orang yang tetap maju setelah lo bilang berhenti."

Kalimat itu membuat Felicia menatapnya lebih lama.

Tidak buruk.

Sangat tidak buruk.

"Beri aku tanganmu."

Jayden memberikan tangan kanannya. Telapaknya besar, ada kapalan tipis dari setir, raket, dan latihan fisik. Felicia meletakkan telapak itu di atas selimut, lalu menutupnya dengan tangan kanan sendiri.

"Aturan pertama," katanya. "Kalau aku bilang berhenti, kamu berhenti."

"Iya."

"Aturan kedua. Kalau aku diam, bukan berarti lanjut. Kamu lihat napasku, lihat tubuhku, tanya."

"Iya."

"Aturan ketiga. Jangan bangga karena bisa menahan diri satu malam. Itu baru syarat minimum."

Jayden tertawa pelan. "Sadis."

"Kamu suka."

"Iya."

Ia menjawab terlalu cepat, lalu sama sekali tidak terlihat menyesal.

Felicia menggerakkan ibu jarinya di punggung tangan Jayden. "Sekarang bernapas lebih pelan."

"Serius?"

"Ini latihan."

Jayden menarik napas, terlalu besar, seperti orang baru selesai sprint.

"Bukan begitu. Ikuti aku."

Felicia menarik napas perlahan, pendek karena rusuknya masih memar, lalu mengembuskannya. Jayden mengikuti. Kali pertama gagal. Kali kedua lebih baik. Kali ketiga, bahunya turun sedikit.

Api itu tidak padam.

Ia hanya belajar bentuk.

Kamar menjadi lebih hangat.

Felicia menyuruhnya mematikan lampu utama dan menyisakan lampu tidur. Jayden melakukannya, lalu kembali ke ranjang seperti sedang mendekati garis start paling penting dalam hidupnya.

"Tidur di sini," kata Felicia. "Sisi kanan setelah Nathan. Aturan sama."

"Jangan sentuh bahu kiri, jangan tekan rusuk, jangan bikin lo ketawa."

"Yang terakhir mustahil, tapi coba."

Jayden melepas jaketnya dan meletakkannya di kursi. Tanpa jaket, ia terlihat lebih muda, lebih jujur, lebih sulit menyembunyikan seluruh perasaannya. Ia berbaring di sisi kanan Felicia, tetapi tidak langsung memeluk.

"Boleh?"

"Boleh."

Ia meletakkan lengan di pinggang kanan Felicia, lebih mantap daripada Nathan, tetapi tetap hati-hati. Tubuhnya panas, napasnya tidak setenang yang ia pura-purakan.

Beberapa menit berlalu.

Jayden tiba-tiba berbisik, "Sayang."

"Hm?"

"Kalau besok gue keliatan bahagia, mereka bakal ngeledek gue."

"Pasti."

"Lo bakal bela gue?"

"Tidak."

Ia tertawa pelan, lalu langsung berhenti. "Maaf. Rusuk."

"Terlambat."

"Sakit?"

"Sedikit."

Jayden mengusap pinggangnya sangat ringan, seolah meminta maaf lewat telapak tangan. "Gue bakal belajar lebih cepat."

Felicia menutup mata.

Di luar, mungkin Nathan sedang membaca dokumen dengan halaman yang tidak masuk ke otaknya. Calvin mungkin menggambar garis yang terlalu gelap. Sebastian mungkin menghitung waktu obat sambil pura-pura tidak memikirkan kamar ini.

Di dalam, Jayden akhirnya diam.

Untuk seseorang yang selalu bergerak, diamnya terasa seperti hadiah.

Sebelum Felicia tertidur, Jayden berkata nyaris tanpa suara.

"Gue nggak mau jadi yang paling sabar. Tapi buat lo, gue bisa coba."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!