NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Konglomerat: Cinta Gila yang Tak Bisa Kulepaskan

Obsesi Sang Konglomerat: Cinta Gila yang Tak Bisa Kulepaskan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Transmigrasi ke Dalam Novel / Dark Romance
Popularitas:17.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Kiara terbangun di dunia yang bukan miliknya.

Satu detik sebelumnya, dia gadis biasa yang membaca novel romansa di ponselnya. Detik berikutnya, dia terperangkap di tubuh Kiara Tanuwijaya — aktris muda yang diperlakukan bagai sampah oleh keluarganya sendiri, difitnah oleh industri, dan ditakdirkan berakhir tragis dalam cerita.

Tapi yang paling menakutkan bukan keluarga yang membencinya, bukan pula musuh yang ingin menghancurkannya.

Yang paling menakutkan adalah Rayhan Purnawan.

Dalam novel, dia adalah villain — konglomerat kejam yang menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya. Tapi saat menatap Kiara, matanya yang dingin meleleh. Suaranya yang tajam melunak. Tangannya yang bisa menghancurkan kerajaan bisnis justru dengan lembut membelai rambutnya.

"Sayang, kamu kembali."

Kembali? Kiara baru saja tiba.

Atau... benarkah?

Di balik kelembutan Rayhan tersembunyi rahasia yang lebih gelap dari mimpi terburuknya: altar tempat dia berdoa 2352 hari, sketsa-sketsa yang tak seharusnya ada, dan sebuah obsesi yang melampaui batas dunia.

"Aku sudah menunggumu. Di dunia ini, di dunia mana pun — aku akan selalu menemukanmu."

Kiara tahu dia harus takut.

Tapi kenapa, saat dia bersembunyi di pelukan pria ini, justru rasa aman yang dia temukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Bab 019

Hari-Hari Manis

Keesokan paginya, Kiara baru membuka pintu kamar ketika ponselnya bergetar.

Koko Rayhan: Pacarku sudah bangun?

Kiara hampir menjatuhkan ponsel.

Ia menatap layar beberapa detik, lalu mengetik dengan wajah panas.

Kiara: Jangan panggil begitu pagi-pagi.

Koko Rayhan: Siang boleh?

Kiara: Tidak.

Koko Rayhan: Malam?

Kiara menutup wajah dengan satu tangan.

Di ruang makan, Wenny melihat pipi merahnya dan langsung menyipitkan mata.

"Kiara, kamu sakit?"

"Tidak."

"Wajahmu merah."

Kiara mengambil sepotong roti. "Mungkin karena Jakarta panas."

Hendra yang sedang membaca berita bisnis melirik sebentar, tapi tidak mengatakan apa pun. Sejak gala Hotel Mulia, sikapnya berubah menjadi hati-hati yang kaku. Ia masih tidak hangat, tetapi tidak lagi sembarangan memerintah. Nama Rayhan Purnawan membuat rumah itu belajar menahan suara.

Setiap pagi setelah itu, mobil Rayhan berhenti di depan rumah tepat waktu.

Tidak pernah terlambat.

Tidak pernah terlalu cepat.

Seolah ia menghitung waktu agar Kiara tidak perlu menunggu, tapi juga tidak membuat keluarga Tanuwijaya punya alasan menuduhnya mengganggu.

Hari pertama, Rayhan membawakan bubur.

Hari kedua, dimsum hangat dan susu kedelai tanpa gula.

Hari ketiga, nasi tim ayam karena Kiara sempat batuk sekali di telepon malam sebelumnya.

"Aku hanya batuk sekali," protes Kiara di mobil.

Rayhan membuka tutup wadah makanan. "Dua kali."

"Kamu menghitung?"

"Ya."

"Koko, itu menyeramkan."

"Tapi kamu tetap makan."

Kiara tidak bisa membantah karena sendok sudah ada di tangannya dan aromanya memang enak.

Di studio Gerbang Majapahit, kebiasaan baru itu menjadi rahasia yang sama sekali tidak rahasia.

Santi setiap pagi menerima pesan dari Adi berisi jadwal makan, jam minum obat, dan batas waktu Kiara berdiri saat latihan gerak. Awalnya Santi panik karena merasa diawasi. Pada hari keempat, ia sudah membalas dengan foto botol air Kiara sebagai bukti.

Santi: Sudah minum.

Adi: Baik.

Santi menunjukkan layar pada Kiara dengan wajah serius. "Kak, aku merasa seperti ikut pelatihan militer."

Kiara tertawa kecil. "Selamat. Kamu sekarang bagian dari sistem keamanan Rayhan Purnawan."

"Aku harus minta gaji tambahan."

"Minta ke Adi."

Santi langsung pucat. "Tidak jadi."

Rayhan sendiri tidak selalu masuk studio. Setelah dimarahi Gunawan berkali-kali, ia belajar berdiri di area luar atau ruang tunggu produser. Namun setiap kali jam istirahat tiba, makanan Kiara selalu sampai tepat waktu. Jika Kiara terlalu lama berdiri saat latihan gerak, Santi akan menerima pesan dari Adi. Jika Kiara lupa obat, ponselnya sendiri akan bergetar.

Koko Rayhan: Obat.

Kiara: Aku sedang latihan.

Koko Rayhan: Obat dulu.

Kiara: Kamu lebih cerewet dari dokter.

Koko Rayhan: Dokter tidak menciummu.

Kiara membaca pesan itu di tengah ruang makeup dan hampir tersedak air.

Santi menepuk punggungnya. "Kak?"

"Tidak apa-apa."

"Mukamu merah lagi."

"Jakarta panas."

"Kita di ruangan AC."

Kiara tidak menjawab.

Hubungan resmi yang belum diumumkan itu membuat semuanya terasa manis sekaligus berbahaya. Di depan orang lain, ia masih memanggilnya Koh Rayhan jika perlu. Di dalam pesan, Rayhan tanpa malu memakai `Sayang`, `pacarku`, bahkan sesekali `Baby` yang membuat Kiara ingin melempar ponsel tapi tidak pernah benar-benar melakukannya.

Yang paling membuat Kiara goyah bukan kata-kata menggoda itu.

Melainkan detail kecil.

Rayhan tahu hari apa latihan pedangnya lebih berat, jadi malamnya ia mengirim salep untuk otot. Rayhan tahu Gunawan suka menahan aktor sampai lupa makan, jadi ia mengirim makanan cukup untuk satu meja kru agar Kiara tidak malu makan sendiri. Rayhan tahu Kiara tidak suka terlalu terang-terangan, jadi pada hari kelima ia hanya menunggu di mobil, tetapi tetap turun saat hujan mulai deras dan membuka payung sebelum Kiara keluar dari pintu studio.

Kru yang melihat itu bersorak kecil.

Gunawan berteriak dari dalam, "Rayhan! Kalau kamu masuk frame dokumentasi behind the scene, aku tagih biaya cameo!"

Rayhan menjawab tenang, "Kirim invoice ke Adi."

Satu studio tertawa.

Kiara bersembunyi di balik payung, wajahnya panas.

"Kamu membuat semua orang menertawakanku."

"Mereka iri."

"Percaya diri sekali."

"Aku pacarmu."

Kiara menginjak sepatunya pelan.

Rayhan menunduk, lalu tersenyum. "Sakit."

"Bohong."

"Ingin kamu peduli."

Kiara menatapnya, kalah lagi.

Ia mengulurkan tangan, menyentuh lengan Rayhan sebentar. "Puas?"

"Belum."

"Koko."

"Aku suka saat kamu memanggilku begitu."

Kiara cepat menunduk.

Di dalam mobil, rambut Kiara tetap terkena beberapa titik hujan. Ia baru hendak mengambil tisu ketika Rayhan sudah lebih dulu mengeluarkan sapu tangan bersih.

"Diam."

"Aku bisa sendiri."

"Aku tahu."

Meski berkata begitu, Rayhan tetap mencondongkan tubuh dan mengusap ujung rambut Kiara dengan hati-hati. Gerakannya pelan, tidak menyentuh kulit terlalu lama, tetapi cukup dekat untuk membuat Kiara mencium aroma cendana dari pergelangan tangannya.

Kiara menahan napas.

"Kamu terlalu terbiasa mengurusku."

"Aku ingin terbiasa."

Jawaban itu membuat Kiara kehilangan kata.

Rayhan menaruh sapu tangan di pangkuannya. "Ci Lucy benar. Kalau hubungan kita bocor dari foto seperti tadi, media akan menulis sesuka mereka."

"Jangan bilang kamu mau umumkan lagi."

"Aku mau."

"Koko."

"Tapi aku tidak akan."

Kiara menatapnya, curiga.

Rayhan mengangkat tangan sedikit, seolah menyerah. "Tidak sekarang. Kamu baru mulai dilihat sebagai aktris. Aku tidak mau semua pencarian namamu berubah menjadi pacar Rayhan Purnawan."

Kiara diam.

Itu adalah salah satu kalimat paling tepat yang pernah Rayhan ucapkan.

"Terima kasih," katanya pelan.

"Aku tetap ingin semua orang tahu."

"Aku tahu."

"Aku ingin Kevin tahu lebih jelas."

Kiara langsung kehilangan rasa terharu. "Koko."

"Dan Yolanda."

"Kamu bahkan sadar Yolanda melihat?"

Rayhan menatapnya seolah pertanyaan itu aneh.

"Dia melihatmu, melihatku, lalu melihat Wenny. Tentu aku sadar."

Kiara merinding kecil.

Kadang ia lupa, di balik pacar yang mengirim bubur dan mengelap rambutnya, ada pria yang membaca ruangan seperti medan perang.

"Kalau begitu jangan terpancing," ucap Kiara.

"Aku tidak terpancing."

"Kamu baru menyebut dua nama dengan nada seperti mau menutup rekening mereka."

Rayhan tersenyum tipis. "Belum."

"Belum?"

"Aku sedang belajar."

Kiara ingin marah, tapi melihat wajah seriusnya, ia malah tertawa kecil.

Rayhan menatapnya seperti suara tawa itu hadiah.

Dari kejauhan, Kevin melihat adegan itu sambil memegang naskah. Senyumnya tetap ada, tapi tangannya meremas halaman sampai sedikit terlipat. Di sisi lain, Yolanda berdiri dekat meja snack, menatap payung hitam yang menaungi Kiara dan Rayhan dengan ekspresi lembut yang hampir sempurna.

Hampir.

Ketika Kiara masuk ke mobil, Yolanda mengeluarkan ponsel.

Pesannya terkirim pada Wenny.

Yolanda: Mereka lebih dekat dari yang kamu bilang.

Balasan Wenny datang cepat.

Wenny: Makanya kamu harus bantu aku.

Yolanda menatap pintu studio yang sudah tertutup.

Senyumnya kembali lembut.

Yolanda: Tenang. Perempuan yang terlalu dilindungi biasanya paling mudah dijatuhkan saat semua orang mengira dia aman.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!