NovelToon NovelToon
Suami Salah Tuduh: Fitnah Berujung Pernikahan

Suami Salah Tuduh: Fitnah Berujung Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:658
Nilai: 5
Nama Author: Oceanluv_

Zakia tak pernah membayangkan hidupnya bisa berubah total karena fitnah yang ia dapatkan. Di usia yang masih muda yakni 22 tahun, Zakia terpaksa melewati jalan hidupnya dengan cara bekerja tanpa kenal lelah, semua itu ia lakukan demi membantu keluarganya. Bahkan, keinginannya untuk melanjutkan kuliah terpaksa ia urungkan demi membantu keluarga untuk mencicil motor.

Zakia selalu menatap langit dan berharap bisa mendapatkan setitik kebahagiaan di sela-sela kesengsaraan yang ia Terima. Namun siapa sangka, harapan kecil itu terpaksa runtuh dalam satu hari. Sebuah fitnah yang tidak pernah ia bayangkan menghancurkan nama baiknya, mulut manusia lebih cepat menyebarkan fitnah dari pada fakta, hal itu membuat hidup penuh dengan penenakan.

Akhirnya, demi menyelamatkan kehormatan kedua mempelai keluarga, Zakia dan pria itu terpaksa menjalan pernikahan. Akankah mereka akan menjadi pasangan yang penuh cinta? Atau hanya menjadi pasangan suami istri di atas kertas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oceanluv_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Suasana ruangan yang ditempati Zakia pada malam ini terasa sunyi, Zakia yang tertidur, Hana yang duduk di samping Zakia, Daren yang sedang mandi dan orang tua mereka sedang ke luar membeli makanan.

Sesekali Hana mengintip Zakia apakah wanita itu terganggu, dalam kondisi Zakia yang seperti ini jalur Hana sebagai kakak langsung muncul begitu saja, walaupun Zakia adalah istri dari adiknya tapi dia akan tetap menganggap Zakia selayaknya saudara kandungnya sendiri.

Ia sedari tadi berjaga di ruangan itu, jikalau ada apa-apa maka Hana lah yang sigap membantu adik iparnya di dalam ruangan ini.

"Cepat sembuh ya Zakia, gue pengen main sama adik perempuan gue," ucapnya penuh harap. Tangan Zakia yang tidak bergerak diusap pelan, seolah-olah dalam usapan itu ada harapan baru yang muncul untuk memperkuat hubungan mereka.

Di sela-sela Hana mengelus telapak tangan Zakia, tiba-tiba saja terdengar suara pintu yang terbuka, tanpa menoleh Hana sudah tahu bahwa itu adalah keluarganya.

"Zakia, kamu udah makan?"

Lili dan Sinta masuk bersamaan dengan beberapa kantong plastik makanan di tangan mereka, Hana yang duduk di sebelah Zakia langsung tersenyum miring, inilah saatnya untuk menyantap penambah semangat hidupnya.

"Bunda, laper!" rengek Hana. Ia berdiri melangkah menuju Lili. Tangannya dengan cepat mengambil satu kantong plastik di tangan Lili dan memeriksa isinya.

"Loh, nila bakar titipan Hana mana?" Hana mengintip kembali plastik tersebut, bisa jadi mungkin ia salah lihat kan atau memang tidak dibelikan oleh sang ibu?

"Nila bakar! Dikit-dikit nila bakar! Makan lele sana lo!"

Daren tiba-tiba menyahut dari balik kamar mandi, lengkap dengan rambutnya yang basah, sepertinya pria itu baru selesai mandi.

"Apaansih!" Hana kesal. Ia mengembalikan kantong plastik itu kepada Lili dengan wajah cemberut.

"Ini kak nila bakar lo, gue yang megang soalnya pesanan kita sama." Rega menodongkan satu kantong plastik, dari jarak sekitar setengah meter saja sudah tercium bagaimana wangi nila bakar beserta dengan nasi uduk tersebut.

"Duh ngerepotin banget Ga, makasih ya."

Hana menerima kantong plastik itu dengan senang hati, senyum lebar tercetak jelas di bibirnya, apalagi saat menghirup wangi nila bakar itu, rasanya perut Hana ingin cepat diisi.

"Jam kunjungan udah mau selesai, kita kalau nginap di sini juga ga bakalan muat semua."

Pak Jamrud datang memotong obrolan anak-anak dan keluarga mereka di dalam. Dia melihat Zakia dan menghampirinya pelan. "Dia belum bangun ya?" tanya Jamrud sembari menatap mereka semua.

"Belum Pa, masih ada efek obat tidur tadi sore kayaknya," jawab Daren. Daren menggantungkan handuk kecil yang ia pakai dan ikut menghampiri istrinya.

"Duh, mudah-mudahan menantu papa cepat sembuh ya, entar kita bikin acara bakar-bakar di rumah, hitung-hitung nyambut menantu pertama," kata Jamrud.

Tangan besarnya mengusap ujung kepala Zakia, mempunyai anak perempuan membuat Jamrud tahu bagaimana seorang anak harus diperlakukan, bagi Jamrud mau itu Daren, Hana, Zakia atau pun Rega serta karyawan tokonya sudah dia anggap seperti anak sendiri. Tidak dibeda-bedakan, jika salah maka ditegur dan Jamrud akan memberikan kasih sayang semampu dirinya agar mereka semua bisa merasa nyaman.

"Terpaksa dong kita nginep di penginapan sebelah ini?" celetuk Hana.

"Iya, mau gimana lagi, biarin Daren di sini aja yang jaga, kita nginep aja, bu Sinta juga ikut sama kita biar bisa istirahat, besok kan libur Rega ga sekolah, Rega juga ikut sama mamanya kita nginep sama-sama, biar bang Daren yang jaga kak Zakia," usul Lili.

Sinta menimang sebentar usulan yang diberikan Lili, sedikit banyaknya dia sedikit khawatir dengan kondisi Zakia, tapi melihat adanya Daren membuat Sinta tersadar bahwa sekarang yang menanggung jawabi Zakia bukan lagi dirinya melainkan ada suami Zakia sendiri.

"Entar bu Sinta tidur bareng bunda, Rega sama Papa biar aku sendirian, di sini juga kita ga bakal muat, ga usah khawatir kan ada Daren," sahut Hana. Yang lain ikut setuju dengan ucapan Hana, Hana juga tahu apa yang sedang dirasakan oleh ibu dari Zakia itu.

Lili memegang bahu Sinta, ia mengangguk dan tersenyum, seolah memberi keyakinan bahwa Zakia akan baik-baik saja jika ditinggal oleh mereka, karena Zakia tak benar-benar sendiri, melainkan ada Daren yang siap menjaganya.

"Kamu Daren ponselnya jangan dimatiin, biar kalau ada apa-apa gampang buat ngehubungi kita," suruh Jamrud.

"Iya," jawab Daren pelan. Sesekali kepalanya menoleh ke arah Zakia, takut jika tidur wanita itu terganggu karena mendengar suara mereka.

"Udah kan? Yok pulang," ajak Hana semangat. Dia sudah tidak sabar ingin memakan nila bakar yang sedang dipegangnya.

"Ren kita pergi dulu, kamu hati-hati ya jaga Zakia bagus-bagus, kalau ada apa-apa cepet telpon kita," peringat Lili sekali lagi.

Selesai mengatakan itu, mereka pun ke luar semua, menyisakan Daren dan Zakia di ruangan yang sunyi. Zakia yang belum bangun dari tidurnya, begitu juga dengan Daren yang sudah menggelar sajadah untuk melaksanakan sholat isya.

Mudah-mudahan doa yang selalu dipanjatkan Daren baik itu untuk dirinya, untuk rumah tangga mereka dan juga untuk keselamatan sang istri bisa terkabul.

****

Jarum jam. berdenting pelan, suasana malam terdengar sunyi, hanya ada suara ambulan yang tidak berhenti ke luar masuk, pertanda ada banyak orang yang membutuhkan keselamatan untuk menyambung hidup, walaupun terkadang hidup tidak sesuai dengan keinginan kita sendiri, tapi selagi nyawa masih ada di badan maka selama itulah kita harus menjalani kehidupan.

Sama halnya seperti Zakia, dia tetap menjalani hidup walaupun tidak sesuai dengan rencana yang sudah ia susun sedari lama. Semuanya melenceng namun mengakhiri hidup juga tidak ada gunanya, mau tak mau dia tetap menjalankan hidup di sisa usia yang ia miliki.

Pelan-pelan netra indah berwarna coklat itu terbuka, tanpa sadar setetes air mata mengalir dari sudut mata Zakia, menyadari bahwa dirinya mungkin bisa semakin parah setelah kejadian di rumah tadi dan menyadari bahwa dirinya bisa saja semakin merepotkan Daren. Walaupun Zakia tidak tahu, Daren akan merasa seperti itu atau sebaliknya.

Zakia mengedarkan pandangannya walaupun kepalanya sedikit pusing, tapi pikirannya lebih semangat mencari sang suami yang tak terlihat.

'Dia ke mana?' batin Zakia.

Zakia mengedarkan pandangannya ke bawah, ternyata di sana Daren tertidur bantal seadanya dan juga selimut tipis untuk menutupi tubuhnya, sesekali Daren menggeliat dan meringkuk, pria ini pasti merasa tidak nyaman..Tubuh pria ini bisa sakit jika seperti ini, pikir Zakia.

Zakia walaupun sedikit kesusahan, ia mengulurkan tangannya ke bawah dan menepuk pelan bahu suaminya itu. Dua tepukan membuat Daren tersadar dan langsung melihat ke atas.

Daren sudah bangun, ia mengambil ponsel dan melihat jam, pukul dua belas malam.

"Kenapa Zak? Ada perlu ya? Mau minum?" tanya Daren. Suara Daren benar-benar suara khas bangun tidur dan bahkan dia masih mengucek matanya.

"Enggak, bang Daren kenapa ga tidur di sofa? Lantainya dingin," suruh Zakia. Di samping brankar Zakia ada sofa yang menempel ke dinding.

"Ha, iya gapapa, takutnya kalau duduk di sofa kalau lo perlu apa-apa payah manggilnya, makanya gue tidur di bawah sini," jawab Daren.

Zakia berdehem sebentar, ada benarnya juga apa kata Daren, tapi sedikit rasa khawatir muncul di benak Zakia kalau suaminya ini memaksakan diri seperti ini.

"Gapapa, tidur di situ aja, gue lagi sakit, jangan karena ngurus gue yang sakit bang Daren jadi ikutan sakit," ucap Zakia.

Daren mengerjap, ia langsung menggaruk tengkuknya dan mengambil barang-barang yang ia bawa untuk tidur lalu meletakkannya di sofa, ada benarnya juga apa kata Zakia, tapi dibanding memikirkan diri sendiri Daren memang lebih memikirkan istrinya sendiri, supaya ketika wanita itu kesulitan dia tak merasa rendah diri.

SEPERHATIAN INI? SEPEDULI INI!! TAPI MASIH KETUTUPAN SAMA RASA TANGGUNG JAWAB AJA GA SIH? KIRA-KIRA DAREN INI SAYANG ATAU CUMAN SEKEDAR MAU TANGGUNG JAWAB AJ?

1
Oceanluv_
Hehehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!