NovelToon NovelToon
Dua Bulan Saja, Sayang

Dua Bulan Saja, Sayang

Status: tamat
Genre:Romantis / CEO / Kisah cinta masa kecil / Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: Mira K.

Naomi Liem punya satu rahasia yang tidak pernah dia ceritakan kepada siapa pun:

Dia sudah menyukai Kelvin Hartono sejak SMA.

Tapi Kelvin adalah pewaris konglomerat Hartono Group, dan Naomi? Cuma mahasiswi yang kerja sambilan di minimarket kampus, masih terjerat utang pinjol, dan punya masa lalu yang ingin dia kubur dalam-dalam.

Jadi ketika Kelvin butuh pacar palsu untuk menghindari perjodohan keluarga, Naomi melihat kesempatan — dua bulan berpura-pura pacaran, lalu dapat bayaran. Sederhana.

Yang tidak sederhana adalah:
Cara dia menatapnya terlalu lama.
Cara dia mengingat hal-hal kecil yang bahkan Naomi sendiri sudah lupa.
Cara dia bilang "Baby" — yang awalnya terdengar main-main, tapi lama-lama terasa terlalu nyata.

Dan yang paling tidak sederhana — dua bulan sudah habis. Tapi tidak ada yang bilang "selesai."

"Dulu, kamu bilang dua bulan. Sekarang, tidak ada batas waktu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Bab 25: Aku Ajari, Ya

Naomi tidak berniat bermain game malam itu.

Ia hanya duduk di sofa ruang tengah dengan laptop di pangkuan, berniat menyelesaikan terjemahan pendek sebelum tidur. Namun Felix terus menjatuhkan bola karet ke kakinya, lalu menatapnya dengan wajah menyedihkan. Setelah lemparan kelima, bola itu memantul ke bawah meja dan mengenai kaki Kelvin.

Kelvin menatap Felix.

Felix menatap balik.

"Dia bosan," kata Naomi.

"Dia selalu bosan kalau kamu sibuk."

"Kamu juga sibuk."

"Aku tidak dipilih."

Naomi hampir tertawa. "Kamu cemburu pada Felix?"

Kelvin mengangkat tablet tanpa ekspresi. "Aku hanya menyatakan fakta."

Pada saat yang sama, ponsel Kelvin berbunyi. Danny menelepon lewat video call grup. Kelvin mengangkat dengan wajah malas, mungkin karena terlalu lelah menolak.

"Kel, masuk game. Tim kurang satu," kata Danny begitu wajahnya muncul.

"Tidak."

"Please. Lawan kita anak-anak yang kemarin songong. Gue butuh orang yang bisa mikir."

"Cari Michelle."

"Michelle bilang dia punya kehidupan."

"Aku juga."

Danny tertawa keras. "Lo? Kehidupan lo sekarang namanya Naomi dan Felix."

Naomi pura-pura tidak mendengar, tapi telinganya panas.

Danny melihatnya di sudut layar. "Eh, Nao! Bisa main game?"

"Tidak," jawab Naomi cepat.

"Bagus. Kel ajarin. Biar couple bonding."

"Danny," kata Kelvin rendah.

"Apa? Ini saran sehat."

Kelvin hampir memutus panggilan, tapi Naomi tanpa sadar melirik layar game yang Danny tunjukkan. Warnanya cerah, penuh karakter kecil yang berlari dan bertarung. Sinta pernah memainkannya di kantin, tapi Naomi tidak pernah mencoba karena takut membuat tim kalah.

Kelvin menangkap lirikan itu.

"Mau coba?"

"Tidak. Saya tidak bisa."

"Aku ajari, ya."

Kalimat itu membuat Naomi menoleh.

Tidak ada nada mengejek. Tidak ada paksaan. Hanya tawaran yang seolah yakin bahwa ketidakbisaan bukan alasan untuk mundur.

Danny di layar langsung membelalak. "Wah. Gue minta diajarin combo tiga bulan, lo bilang baca tutorial. Naomi baru lihat layar langsung 'Aku ajari, ya'."

Kelvin memutus panggilan.

Naomi menahan tawa. "Kasar."

"Dia berisik."

"Tapi benar?"

"Apa?"

"Kamu tidak pernah mengajari dia?"

"Dia tidak secantik kamu."

Naomi hampir menjatuhkan laptop.

Kelvin mengambil ponsel, mengunduh game itu di perangkat cadangan, lalu menyerahkannya pada Naomi. "Pegang."

"Saya akan kalah."

"Pasti."

"Kamu tidak membantu."

"Aku belum mulai."

Mereka duduk berdampingan di sofa. Felix akhirnya puas karena dua manusia berhenti bekerja, lalu berbaring di karpet dengan bola di antara kaki. Kelvin menjelaskan tombol dasar, cara bergerak, cara menghindar, cara menyerang. Suaranya tenang. Saat Naomi salah menekan dan karakter kecilnya berjalan ke dinding, Kelvin tidak tertawa.

"Geser pelan."

"Ini sudah pelan."

"Itu panik."

"Karena dikejar."

"Kalau dikejar, jangan lari ke tembok."

"Saya tidak tahu temboknya di mana."

"Itu yang besar warna abu-abu."

Naomi menatapnya. "Kamu menyebalkan."

"Tapi benar."

Setelah tiga ronde latihan, Kelvin mengajak Naomi masuk mode dua pemain melawan bot. Naomi mati dalam satu menit pertama.

"Aku bilang saya tidak bisa."

"Sekali lagi."

Ronde kedua, ia bertahan tiga menit.

Ronde ketiga, ia berhasil mengalahkan satu lawan yang sebenarnya sudah hampir dikalahkan Kelvin lebih dulu.

"Aku menang?" Naomi menoleh dengan mata berbinar.

"Hm."

"Aku benar-benar menang?"

"Iya."

Senyumnya muncul begitu cepat sampai Kelvin sempat diam.

Ronde berikutnya, Naomi menjadi terlalu percaya diri dan langsung kalah. Kelvin tertawa pelan. Naomi memukul lengannya dengan bantal kecil.

"Jangan tertawa."

"Kamu sombong tiga puluh detik."

"Kamu yang membuat saya merasa bisa."

"Karena memang bisa. Kalau tidak lari ke tembok."

Mereka bermain hampir satu jam. Danny kembali mengirim pesan berkali-kali, meminta Kelvin masuk tim. Kelvin mengabaikannya sampai akhirnya Danny mengirim voice note.

"Gue tidak percaya. Lo memilih main tutorial romantis daripada bantu teman lama."

Kelvin memutar voice note itu keras-keras.

Naomi menutup wajah. "Jangan dengarkan dia."

"Dia iri."

"Pada apa?"

"Dia tidak pernah dapat tutorial romantis."

Naomi melempar bantal lagi. Kali ini Kelvin menangkapnya.

Akhirnya Kelvin masuk sebentar ke room yang dibuat Danny, tapi hanya dengan syarat Naomi ikut sebagai pemain latihan. Danny langsung menyambut dengan suara heboh dari voice chat.

"Oke, semua jaga Nao. Kalau dia mati, yang salah Kelvin."

"Kalau dia mati karena kamu berisik, aku mute kamu," kata Kelvin.

Naomi memegang ponsel lebih erat. "Saya belum siap main dengan orang sungguhan."

"Mereka bukan orang sungguhan. Mereka Danny dan dua temannya," jawab Kelvin.

"Gue tersinggung," suara Danny terdengar.

Ronde itu kacau. Naomi salah masuk jalur, hampir menyerang anggota tim sendiri, lalu panik ketika lawan mendekat. Namun setiap kali ia terpojok, karakter Kelvin muncul di layar, menahan serangan dan memberi jalan keluar.

"Ke kiri," kata Kelvin.

"Kiri saya atau kiri game?"

"Kiri game."

"Itu kanan saya."

Danny tertawa sampai suaranya pecah. "Kel, gue tidak pernah dengar lo sesabar ini. Biasanya kalau gue salah jalan, lo bilang uninstall."

"Karena kamu harus uninstall."

"Diskriminasi."

Naomi tidak bisa menahan tawa. Ketakutannya berkurang sedikit. Untuk pertama kalinya, kalah dalam permainan tidak terasa seperti mempermalukan diri. Kelvin tidak membiarkannya menjadi bahan tertawaan. Ia membiarkan Danny tertawa, tapi setiap instruksinya tetap jatuh tepat di tempat Naomi bisa berdiri lagi.

Pada ronde terakhir, Naomi menang.

Ia benar-benar menang, setidaknya menurut layar yang menampilkan namanya di posisi pertama. Naomi berdiri setengah dari sofa, hampir bersorak, lalu ingat bahwa ia bukan anak kecil.

"Aku menang."

"Aku lihat."

"Tanpa dibantu?"

Kelvin diam sepersekian detik terlalu lama.

Naomi langsung menyipit. "Kamu bantu?"

"Sedikit."

"Kelvin."

"Aku cuma mengurangi darah lawannya."

"Berapa banyak?"

"Cukup."

Naomi menatap layar, lalu menatapnya. "Jadi aku tidak menang?"

"Kamu menang dengan dukungan."

"Itu namanya kamu mengalah."

"Aku tidak mengalah. Aku investasi motivasi."

Naomi mengambil bantal dan memukul bahunya lagi. Kali ini Kelvin tertawa. Tawa yang jarang, rendah, dan tidak ditahan.

Naomi berhenti bergerak.

Kelvin yang tertawa terlihat berbeda. Lebih muda. Lebih dekat. Lebih berbahaya untuk hatinya.

"Kenapa berhenti?" tanya Kelvin.

Naomi duduk lagi, memeluk bantal. "Tidak apa-apa."

Mereka tidak bermain lagi setelah itu. Ponsel diletakkan di meja, layar mulai gelap. Felix tertidur di karpet, bola karet terselip di bawah dagunya.

Naomi dan Kelvin duduk berdampingan di sofa. Tidak bersentuhan, tapi jaraknya lebih dekat daripada awal malam.

Sunyi turun perlahan.

Naomi hampir bisa berpura-pura bahwa ini hanya malam biasa.

Lalu Kelvin berkata, "Sisa satu minggu."

Naomi menoleh.

Kelvin tidak melihatnya. Ia menatap layar ponsel yang sudah gelap.

"Kontrak," tambahnya, seperti penjelasan yang tidak perlu.

Naomi merasakan semua hangat malam itu menyusut sedikit.

"Iya," jawabnya.

Setelah itu, tidak ada yang bicara lagi.

1
Anonim
Kak keren ceritanya 🙏🏼👏🏼
Norma Indah
sepertinya kelvin sudah lama suka sama naomi😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!