NovelToon NovelToon
Suamiku Bisa Baca Pikiranku?!

Suamiku Bisa Baca Pikiranku?!

Status: tamat
Genre:Sistem / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:20.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Kirana

Namanya Felicia. Hidupnya biasa-biasa saja — sampai dia terbangun di tubuh orang lain, di sebuah mansion yang lebih besar dari kampusnya, dengan cincin pernikahan di jari manisnya.

Suaminya? Kevin Surya — pewaris nomor tiga Surya Group, salah satu konglomerat terbesar di Indonesia. Wajah tampan yang tersembunyi di balik bekas luka. Tatapan sedingin freezer. Mulut yang tidak pernah mengucapkan lebih dari dua kalimat sekaligus.

Pernikahan mereka adalah kontrak. Tiga tahun. Tidak ada cinta, tidak ada harapan, tidak ada masa depan.

Tapi Felicia punya senjata rahasia — Sistem Kepo, AI misterius yang bersarang di otaknya dan memberinya informasi, obat-obatan ajaib, dan misi-misi gila.

Misi utama: Bantu Kevin Surya merebut kendali Surya Group. Deadline: 3 tahun. Gagal = konsekuensi fatal.

Dan Kevin? Dia punya rahasia sendiri.

Dia bisa membaca pikiran Felicia. Setiap. Kata. Yang. Dia. Pikirkan.

Termasuk saat Felicia berpikir:
"Abs-nya... ada berapa ya? Satu, dua, tiga— YA TUHAN DIA LIHAT AKU MENGHITUNG"
"Pasti gay. Pasti. Tidak mungkin cowok setampan ini straight."
"Kalau aku lempar Bola ke dia, dia bakal teriak kayak cewek tidak ya?"
"Kenapa... pelukan cowok ini sehangat ini..."

Di antara intrik mertua jahat (Madam Liem yang ingin menyingkirkan Kevin), adik tiri bermuka dua (Stella yang ingin mencuri segalanya), dan musuh dari luar negeri yang mengincar kehancuran keluarga Surya — Felicia harus bertahan, melawan, dan... jatuh cinta?

Padahal ini cuma kontrak. Kan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6

Bab 6: Bersih-Bersih Mansion

Namun malam itu, untuk pertama kalinya, Kevin menunggu suara berikutnya.

Suara berikutnya datang pukul enam pagi, tepat ketika matahari Jakarta menyelip masuk lewat celah tirai.

*Empuk... satenya jangan lari...*

Kevin membuka mata.

Felicia masih memeluk pinggangnya.

Rambut panjangnya berantakan di bantal. Satu lututnya sudah melewati wilayah perjanjian bantal yang runtuh sejak tengah malam. Wajahnya damai, seolah ia tidak sedang menempel pada pria yang kemarin masih ia sebut freezer.

Kevin menahan napas, lalu mencoba menggeser lengannya pelan.

Felicia mengerutkan dahi.

*Jangan ambil gulingku...*

"Felicia."

Perempuan itu membuka mata setengah, menatap dadanya, lalu perlahan mendongak.

Hening.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Felicia melompat mundur sampai hampir jatuh dari ranjang. "Maaf!"

Kevin duduk dengan wajah datar, walau telinganya sudah terasa panas sejak lima menit lalu.

"Kamu tidur gelisah."

"Saya biasanya tidak begitu." Felicia merapikan rambut dengan gerakan panik. "Mungkin karena ranjang baru."

*Mungkin karena aku mengira suami kontrakku sate premium. Mau mati saja rasanya.*

"Sate?" tanya Kevin tanpa sadar.

Felicia membeku.

Kevin juga membeku.

Udara pagi mendadak terlalu sunyi.

"Maksudku," Kevin berkata setelah satu detik yang terasa panjang, "kamu mau sarapan sate?"

Felicia menatapnya curiga. "Pagi-pagi?"

"Tidak jadi."

Kevin turun dari ranjang lebih cepat dari biasanya dan masuk ke ruang ganti.

Felicia menutup wajah dengan bantal.

*Kenapa hidupku begini?*

Rasa malu itu masih menempel saat ia turun ke ruang makan. Namun begitu Pak Budi membawa map laporan rumah tangga bulanan, perhatian Felicia langsung berubah.

"Ini daftar pengeluaran The Residence, Bu. Pak Kevin meminta saya menyerahkannya jika Ibu ingin memeriksa."

Felicia mengangkat alis. "Dia yang meminta?"

"Betul, Bu."

*Hah. Si freezer ternyata mendukung audit rumah tangga. Love language orang kaya memang aneh.*

Kevin yang baru masuk ruang makan pura-pura tidak mendengar.

Felicia membuka map. Awalnya ia hanya ingin mengenal sistem rumah. Namun setelah lima halaman, alisnya mulai turun. Setelah sepuluh halaman, sendok buburnya diletakkan. Setelah melihat invoice ketiga dari vendor bunga, ia meminta kalkulator.

Pak Budi berdiri kaku di samping meja. "Ada yang salah, Bu?"

"Pak Budi, rumah ini pakai bunga segar setiap hari?"

"Hanya di ruang tamu utama dan meja makan, Bu."

"Jumlahnya?"

"Tidak banyak. Biasanya satu rangkaian besar dan beberapa vas kecil."

Felicia membalik invoice. "Tapi di sini ditulis seolah The Residence menabur bunga di seluruh kecamatan."

Kevin mengangkat wajah dari kopi.

Felicia menarik beberapa lembar lagi. "Laundry linen, bahan dapur premium, jasa perawatan kolam, penggantian CCTV. Semua angkanya bengkak. Bukan salah hitung kecil. Ini pola."

Pak Budi pucat. "Bu, laporan pembelian biasanya dikelola Bu Mira sebelum saya verifikasi akhir. Beliau kepala administrasi rumah lama, direkomendasikan oleh Madam Liem sejak rumah ini ditempati Pak Kevin."

Madam Liem.

Nama itu cukup untuk membuat ruang makan dingin.

Felicia mengambil pulpen, mulai menandai baris demi baris.

"Kamu yakin?" tanya Kevin.

Felicia tidak mengangkat kepala. "Kamu pikir aku bodoh? Angka-angka ini bahkan anak SD bisa lihat salahnya."

Pak Budi menahan napas.

Kevin menatapnya.

*Eh, kok keluar galak banget. Tapi serius, markup bunga tiga ratus persen? Yang dibeli bunga atau kebun sekalian?*

Sudut bibir Kevin bergerak tipis.

"Adi," panggilnya.

Adi muncul kurang dari satu menit kemudian, seolah sudah menunggu di balik dinding.

"Panggil Mira. Kumpulkan semua bukti pembayaran enam bulan terakhir. Tutup akses rekening operasional rumah sekarang."

"Baik, Pak."

Felicia mengangkat tangan. "Sebentar. Jangan langsung panggil semua orang. Kalau dia tahu kita curiga, dia bisa hapus data."

Adi berhenti.

Kevin memandang Felicia. "Lanjutkan."

"Minta salinan dari bank dan vendor dulu. Jangan lewat Mira. Cek juga nomor rekening penerima. Kalau ada vendor palsu, uangnya pasti berputar ke rekening pribadi atau rekening keluarga."

Adi menoleh ke Kevin.

Kevin hanya berkata, "Lakukan."

Dua jam kemudian, ruang kerja kecil di lantai dua berubah menjadi markas audit dadakan. Pak Budi membawa map lama. Adi menghubungi bank. Felicia duduk di tengah meja dengan laptop, pulpen warna, dan teh yang sudah dingin.

Kevin berdiri di dekat jendela, lebih banyak diam, tapi setiap kali Felicia menunjuk sesuatu, ia langsung memberi perintah.

"Ini vendor bunga, CV Melati Indah. Alamatnya ruko kosong."

Adi menjawab, "Tim sudah cek. Perusahaan tidak aktif."

"Ini laundry linen. Nomor rekeningnya sama dengan supplier dapur."

"Atas nama siapa?"

"Mira Lestari."

Pak Budi menutup mata. "Astaga..."

Felicia menatap baris berikutnya. "Dan ini biaya perawatan CCTV. Padahal CCTV rumah ini dikelola langsung Phoenix Security, kan?"

Kevin mengangguk.

"Jadi invoice ini palsu."

Felicia menyandarkan punggung, lalu tersenyum tipis. "Cantik. Rapi. Tapi terlalu serakah."

*Madam Liem mungkin pikir rumah Kevin gampang diperas karena dia tidak peduli urusan domestik. Sayang sekali, sekarang ada istri kontrak pengangguran yang hobi lihat angka.*

Kevin melipat tangan di dada.

Istri kontrak pengangguran.

Ia hampir tersenyum lagi.

Menjelang sore, Mira dipanggil. Perempuan itu berusia empat puluhan, rapi, berkacamata, dan langsung memasang wajah tersinggung saat masuk ruang kerja.

"Pak Kevin, ada masalah?"

Kevin tidak menjawab. Ia hanya menunjuk kursi.

Mira duduk, lalu melirik Felicia. "Bu Felicia juga di sini?"

Nada itu halus, tapi jelas meremehkan.

Felicia tersenyum. "Saya hanya belajar mengurus rumah."

*Dan kebetulan menemukan tikus yang makan pakai invoice.*

Kevin batuk pelan.

Adi meletakkan salinan rekening di depan Mira. "Ada tiga puluh dua transaksi operasional The Residence masuk ke rekening pribadi Anda dan dua rekening atas nama keluarga."

Wajah Mira berubah.

"Itu salah paham. Saya sering membayar vendor dulu, lalu reimburse."

Felicia mendorong satu lembar foto ruko kosong. "Vendor bunga ini alamatnya kosong. Vendor laundry punya nomor rekening sama dengan supplier dapur. Invoice CCTV palsu karena Phoenix Security tidak pernah menagih ke rekening rumah. Mau jelaskan yang mana dulu?"

Mira membuka mulut, menutupnya lagi.

Kevin bersandar di kursi. "Siapa yang menyuruhmu?"

"Tidak ada, Pak. Saya khilaf."

Felicia mengambil botol air dan meminumnya santai. "Khilaf enam bulan, tiga puluh dua transaksi, dan semua vendor palsu? Hebat. Konsisten sekali khilafnya."

Pak Budi menunduk agar tidak terlihat tersenyum.

Mira mulai berkeringat. "Saya akan kembalikan uangnya."

"Tentu," kata Kevin. "Dengan bunga. Adi, proses hukum internal. Bekukan aksesnya. Kirim laporan ke pengacara."

Mira berdiri panik. "Pak Kevin, tolong. Madam Liem yang merekomendasikan saya. Kalau beliau tahu..."

Kalimatnya putus.

Itu cukup.

Felicia dan Kevin saling menatap.

Nama yang mereka tunggu akhirnya keluar sendiri.

"Terima kasih," ujar Felicia lembut. "Kamu baru membantu audit kami."

Mira pucat.

Satu jam kemudian, akses Mira dicabut. Dua staf yang terlibat dipulangkan dengan pengawalan. Pak Budi ditunjuk mengatur ulang administrasi bersama tim Phoenix sampai sistem baru selesai.

Di halaman belakang, Felicia berdiri sambil memegang teh hangat. Hujan sudah berhenti, tapi tanah masih basah.

Kevin berdiri di sebelahnya.

"Kamu sering melakukan ini?" tanyanya.

"Membongkar markup?"

"Melihat angka."

Felicia mengangkat bahu. "Angka tidak pandai berbohong. Manusia yang berbohong, tapi jejaknya sering malas dirapikan."

Kevin menatapnya lama.

*Kalau begini, aku bisa bantu dia dari dalam rumah. Madam Liem punya orang di mana-mana. Kita bersihkan satu-satu.*

Kita.

Kevin menangkap kata itu.

Bukan kamu. Bukan dia.

Kita.

Ponsel Kevin bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor Hendrik, tetapi isinya diteruskan dari Surya Mansion.

Mama ingin kalian datang makan malam besok. Keluarga besar berkumpul.

Kevin menunjukkan layar itu pada Felicia.

Felicia membaca, lalu tersenyum manis.

"Sepertinya Madam Liem sudah tahu tikusnya hilang."

Di Surya Mansion, pada saat yang sama, Cynthia Liem menatap laporan dari anak buahnya. Cangkir teh di tangannya diletakkan terlalu keras hingga isinya tumpah ke piring kecil.

"Felicia Santoso," gumamnya dingin. "Rupanya menantu baru kita tidak sebodoh yang dikatakan orang."

1
Marmy Sugeng Harianto
good job cia
Marmy Sugeng Harianto
hahahaha panggang sekalian biar freezer nya mencair jadi hangat hangat kuku
Marmy Sugeng Harianto
mulai timbul benih benih ini
Marmy Sugeng Harianto
kebakaran jenggot
Marmy Sugeng Harianto
lanjut baca Thor kayaknya asyik ini novel ada sistem gosip juga 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!