Lim Meiran terbangun dengan ingatan tentang kematiannya sendiri — dan sebuah sistem misterius yang memberinya satu peluang terakhir.
"Nilai Cinta target: -80. Naikkan ke 100, atau mati."
Target-nya? Lo Hafeng. Pewaris konglomerat yang paling membencinya di dunia ini.
Di kehidupan sebelumnya, Meiran adalah "wanita jahat" yang dihancurkan oleh takdir. Kali ini, dengan Sistem Predator di tangannya, dia memilih jalan yang berbeda — bukan mengemis cinta, tapi menaklukkan pria yang seharusnya menjadi musuhnya.
Dimulai dari taruhan bodoh, dilanjutkan dengan satu bulan menjadi "majikan"-nya, Meiran perlahan mengubah kebencian Lo Hafeng menjadi obsesi yang tak bisa dia kendalikan sendiri.
Tapi Kekuatan Takdir tidak tinggal diam. Setiap kali Nilai Cinta naik, takdir membalas — krisis bisnis, kecelakaan, bahkan hilangnya ingatan.
Dan di tengah semua itu, dua pria lain datang memperebutkan hatinya.
Siapa yang akan menang — sang predator, atau takdir yang ingin menghancurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
Bab 022
Meiran membalas pesan Hafeng setelah tiga puluh detik.
`Pakai mobilku sendiri. Sari ada di bawah.`
Hafeng membaca pesan itu di kamar apartemennya.
Jawaban itu seharusnya cukup.
Ia tahu Meiran punya sopir, punya asisten, punya seluruh sistem keluarga Lim yang bisa memastikan ia pulang tanpa perlu pria mana pun. Namun matanya tetap berhenti pada kata `sendiri`.
Sendiri, tetapi baru saja makan malam dengan Kho Yanting.
Ponselnya bergetar lagi.
`Kenapa? Kamu mau jemput?`
Hafeng menatap layar.
Ia mengetik.
`Jangan mengarang.`
Lalu setelah dua detik, ia menambahkan.
`Pastikan Sari benar-benar di bawah.`
Meiran membalas dengan satu foto.
Bukan fotonya.
Foto Sari berdiri di samping mobil, mengangkat tablet dengan wajah datar. Di bawahnya, Meiran menulis:
`Laporan keamanan diterima, Pak Lo?`
Hafeng meletakkan ponsel di meja.
Ia tidak tersenyum.
Tidak.
Mungkin sedikit.
Keesokan paginya, Meiran menemukan Hafeng sudah duduk di meja dekat jendela perpustakaan.
Di depannya ada buku referensi yang sama, dua sticky note, dan dua gelas.
Satu kopi hitam panas.
Satu Americano dingin tanpa gula.
Meiran berhenti di sisi meja. "Kamu sedang membuka kantin cabang?"
"Aku beli untuk diriku."
"Dua gelas?"
"Aku berubah pikiran."
"Kepribadianmu juga ikut berubah?"
Hafeng mendorong Americano dingin ke sisi meja Meiran tanpa menatapnya. "Kopi itu menghalangi buku."
"Tentu."
Meiran duduk dan mengambil gelas itu.
Chiko lewat di belakang mereka sambil membawa setumpuk buku. Ia berhenti, melihat dua gelas di meja, lalu melihat Hafeng.
"Feng, kamu beli kopi untuk meja juga?"
"Pergi."
"Aku cuma bertanya secara akademis."
Meiran mengangkat gelas. "Ini objek penelitian baru. Judulnya: pria yang tidak peduli tapi hafal pesanan."
Chiko menepuk dadanya seolah tersentuh. "Aku akan mendanai penelitian itu."
Hafeng mengambil satu buku dan menaruhnya berdiri di antara dirinya dan Chiko. "Pergi sebelum aku laporkan kamu mengganggu area baca."
"Perpustakaan ini milik umum."
"Meja ini tidak."
Kalimat itu keluar terlalu cepat.
Chiko berhenti tersenyum hanya untuk satu detik, lalu senyumnya menjadi jauh lebih lebar.
Meiran juga berhenti dengan sedotan di bibir.
Hafeng menyadari pilihan katanya.
"Maksudku, meja ini sedang dipakai."
"Tentu," kata Meiran. "Dipakai bersama."
Chiko mundur sambil mengangkat dua tangan. "Aku pergi. Meja kalian sangat privat untuk fasilitas umum."
**【Sistem Predator】Perhatian aktif target meningkat. Pemicu: rival emosional.**
Meiran menahan senyum.
Mereka membuka buku. Selama sepuluh menit pertama, Hafeng benar-benar membaca. Ia menulis catatan, menandai paragraf, dan memperbaiki sketsa kecil di kertas buram.
Pada menit kesebelas, ia bertanya, "Kamu pulang jam berapa semalam?"
Meiran tidak mengangkat wajah. "Kamu menghitung jam tidurku juga?"
"Aku bertanya."
"Sekitar sembilan."
"Yanting mengantarmu?"
Kata itu keluar terlalu cepat.
Hafeng menyadarinya.
Meiran akhirnya menatapnya. "Ko Yanting menawarkan, tapi aku pulang dengan Sari."
"Bagus."
"Bagus?"
"Lebih aman."
"Ah. Jadi kamu peduli keselamatanku."
"Aku peduli pada orang yang suka membuat masalah di tempat publik."
"Tempat publik seperti restoran?"
Hafeng menekan sticky note terlalu kuat sampai ujungnya terlipat.
Meiran melihatnya.
"Kamu cemburu."
"Kamu terlalu percaya diri."
"Kamu bertanya siapa yang mengantarku pulang."
"Itu pertanyaan normal."
"Untuk siapa?"
Hafeng diam.
Di meja belakang, dua mahasiswi berbisik setelah melihat mereka duduk bersama. Meiran tidak menoleh, Hafeng juga tidak, tetapi keduanya sadar bahwa janji perpustakaan mereka sudah mulai menjadi bagian dari gosip baru.
Hafeng menutup buku sedikit. "Kamu baru mengenalnya."
"Aku juga dulu baru mengenalmu."
"Itu berbeda."
"Benar. Ko Yanting tidak menabrakku di koridor."
Hafeng menatapnya tajam. "Aku tidak sengaja."
"Aku juga tidak sengaja membuatmu cemburu."
"Aku tidak cemburu."
Meiran mengambil Americano dingin dan menyesapnya. "Kalimat itu mulai kehilangan kekuatan karena terlalu sering kamu pakai."
Hafeng hendak membalas, tetapi ponsel Meiran bergetar di atas meja.
Nama `Kho Yanting` muncul di layar.
Meiran menatap Hafeng sebelum mengangkat.
"Ya, Ko Yanting?"
Hafeng langsung melihat ke buku, tetapi halaman di depannya jelas tidak lagi ia baca.
Suara Yanting terdengar samar dari ponsel. Tenang, rendah, dewasa.
"Meiran, maaf mengganggu pagi. Aku mendapat undangan makan malam keluarga di Restoran Harmony besok. Beberapa kolega desain juga hadir. Kalau kamu bersedia, aku ingin mengajakmu datang. Tidak sebagai tekanan, hanya kesempatan memperluas jaringan."
Meiran menatap Hafeng yang kini menahan pensil terlalu erat.
"Restoran Harmony?"
"Ya."
"Aku cek jadwal dulu."
"Tentu. Kabari kapan pun."
Panggilan selesai.
Hafeng berkata sebelum Meiran sempat meletakkan ponsel, "Kamu mau pergi?"
"Mungkin."
"Dengan dia?"
"Dia yang mengundang."
"Itu makan malam keluarga."
"Dan kolega desain."
"Di Restoran Harmony."
"Kamu tahu tempatnya?"
"Semua orang tahu."
Meiran memiringkan kepala. "Kamu terdengar seperti ingin ikut."
"Aku tidak."
"Sialnya."
"Aku hanya berpikir..." Hafeng berhenti, lalu menyusun alasan dengan wajah serius. "Restoran Harmony punya ruang interior yang cocok untuk referensi proyekmu. Kalau kamu perlu observasi, aku bisa datang juga."
Meiran hampir tertawa.
"Kamu mau menjadikan kecemburuan sebagai studi interior?"
"Aku bilang aku tidak cemburu."
**【Sistem Predator】Nilai Cinta target berubah.**
Nilai Cinta: 5.
**【Sistem Predator】Catatan: target secara sukarela memasuki situasi kompetisi dengan rival.**
Meiran menatap panel yang muncul di samping buku.
Lima.
Angka itu kecil, tetapi untuk Hafeng, itu sudah melewati garis yang dulu ia jaga mati-matian.
Ia menutup buku perlahan.
"Baik. Kalau aku datang ke Restoran Harmony besok, kamu boleh datang sebagai pengamat interior."
Hafeng menatapnya curiga. "Kamu serius?"
"Tentu."
"Kenapa?"
Meiran tidak langsung menjawab. Ia membuka pesan Yanting dan mengetik di depan Hafeng.
`Aku bisa datang besok. Mungkin membawa satu teman dari arsitektur untuk observasi interior. Tidak keberatan?`
Hafeng melihat kata `teman` dan rahangnya bergerak.
"Teman?"
"Kamu lebih suka aku tulis pengawas kecemburuan?"
"Hapus."
"Terlambat. Sudah terkirim."
Balasan Yanting datang tidak sampai satu menit.
`Tentu tidak keberatan. Lo Hafeng? Saya pernah melihat beberapa sketsanya di open studio. Akan menarik mendengar pendapatnya.`
Meiran memutar layar sedikit agar Hafeng bisa membaca.
"Ko Yanting bahkan tahu namamu."
"Aku tidak butuh diketahui olehnya."
"Tapi kamu tetap akan datang."
"Untuk interior."
"Tentu. Untuk interior."
Meiran tersenyum.
"Karena aku penasaran apakah desain restoran itu benar-benar lebih menarik daripada wajahmu saat cemburu."
Hafeng membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
Pena di tangannya berhenti bergerak. Ujungnya menekan sticky note sampai meninggalkan titik hitam kecil, tepat di samping nama `Kho Yanting` yang baru saja ia tulis tanpa sadar.
Di luar jendela perpustakaan, langit Jakarta cerah untuk pertama kalinya setelah beberapa hari hujan.
Tetapi di meja mereka, badai kecil baru saja dimulai.
Dan kali ini, Hafeng sendiri yang memilih masuk ke dalamnya tanpa dipanggil siapa pun lagi.