Senja Liem tidak punya pilihan selain menikah dengan Rayhan Wijaya — pewaris konglomerat paling dingin di Jakarta. Pernikahan kontrak dua tahun, tanpa cinta, tanpa sentuhan. Tapi dia tidak tahu bahwa suaminya diam-diam sudah membeli dua pulau atas namanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 9
Kehidupan Berdua
Senja tiba di sanggar terlambat dua puluh menit.
Begitu membuka pintu, musik sudah mengalun. Para penari bergerak di depan cermin, mengikuti hitungan Ko Jefri. Biasanya Lara akan menoleh duluan, mengangkat alis sambil memberi isyarat agar Senja cepat bergabung.
Hari itu, Lara tidak menoleh.
Senja mengganti sepatu latihan dengan cepat, meletakkan tas di sudut, lalu masuk ke barisan belakang. Tubuhnya masih membawa sisa tegang dari Wijaya Tower. Suara Rayhan di lobi, wajah staf yang pucat, kalimat tentang tempat itu tidak perlu melihatnya ketakutan, semuanya masih menempel di kepala.
Dia mencoba mengikuti hitungan.
Satu. Dua. Tiga.
Gerakan tangannya terlambat setengah ketukan.
"Senja," panggil Ko Jefri. Musik dihentikan. "Fokusmu tertinggal di luar."
Beberapa penari menoleh. Senja menunduk. "Maaf, Ko."
"Ulang dari bagian transisi."
Senja mengangguk. Saat musik dimulai lagi, dia melihat Lara dari pantulan cermin. Wajah sahabatnya datar, matanya menghindar.
Rasa tidak enak di dada Senja bertambah.
Setelah latihan pertama selesai, Lara langsung berjalan ke pantry kecil tanpa menunggu. Senja mengikutinya.
"Lar."
Lara membuka botol minum. "Apa?"
Nada itu pendek.
Senja berhenti di ambang pintu. "Kamu marah?"
"Menurutmu?"
"Aku tidak tahu."
Lara tertawa sekali, tanpa senyum. "Tentu kamu tidak tahu."
Senja menggenggam handuk kecil di tangannya. Di luar pantry, beberapa penari lewat dan sengaja memperlambat langkah. Kabar tentang Nyonya Wijaya di sanggar memang membuat semua orang lebih penasaran daripada biasanya.
"Kita bicara di luar?" tanya Senja pelan.
"Kenapa? Takut didengar?"
Kalimat itu membuat Senja terdiam.
Lara menutup botol minumnya lebih keras daripada perlu. "Aku juga baru tahu kalau kamu datang ke arisan Serena kemarin."
"Aku..."
"Dari orang lain, Sen. Bukan dari kamu."
Senja menelan ludah. "Aku tidak ingin membuatmu khawatir."
"Atau kamu tidak ingin aku datang karena aku tidak pantas berada di lingkaran barumu?"
"Apa?"
Lara mengambil ponselnya dan membuka sebuah pesan. Dia menunjukkannya kepada Senja.
Nomor Serena.
Serena: Kasihan Lara. Dia pasti kaget ya, Senja sekarang sudah masuk dunia yang beda. Kemarin di arisan, Senja bahkan kelihatan canggung waktu orang-orang membahas teman sanggarnya.
Serena: Kamu jangan terlalu menempel padanya, Lar. Nanti dia malu.
Serena: Aku cuma mengingatkan sebagai sesama perempuan.
Senja membaca pesan itu sampai akhir. Darahnya terasa naik ke kepala.
"Itu bohong."
"Aku tahu Serena jahat," kata Lara. Suaranya bergetar. "Tapi yang bikin sakit bukan cuma pesannya. Yang bikin sakit, aku tidak tahu apa-apa tentang kemarin. Kamu pulang dari arisan itu, aku chat berkali-kali, kamu cuma bilang lelah."
"Karena aku memang lelah."
"Kamu dihina?"
Senja diam.
Mata Lara memerah. "Lihat. Kamu bahkan masih tidak mau bilang."
Senja ingin menjelaskan. Tentang lounge wangi parfum, tentang perempuan-perempuan yang tertawa pelan, tentang Serena yang menyentuh lengannya dengan kuku menekan kulit, tentang telepon Rayhan yang membuat semua orang mendadak berhenti mengejek.
Namun setiap kata terasa seperti membuka luka yang belum kering.
"Aku tidak ingin kamu ikut terbakar," katanya.
"Aku sahabatmu, bukan pajangan yang cuma kamu simpan waktu hidupmu rapi."
Kalimat itu membuat Senja seperti ditampar.
Lara mengusap bawah matanya cepat. "Dulu waktu kamu di rumah Liem, kamu cerita semuanya padaku. Sekarang kamu masuk Wijaya Mansion, ada Pak Hadi, ada mobil, ada aturan, ada Rayhan, dan tiba-tiba aku hanya tahu dari sisa cerita."
"Bukan begitu."
"Lalu bagaimana?"
Senja membuka mulut, tapi tidak ada suara.
Karena sebagian dari perkataan Lara benar.
Bukan karena Senja malu pada Lara. Tidak pernah. Tetapi sejak menikah, hidupnya seperti ruangan penuh pintu yang dikunci dari luar. Dia sendiri masih mencari jalan, masih belum tahu cerita mana yang boleh dibagi tanpa membuat orang lain terseret.
Dia takut Serena menyerang Lara.
Takut Rayhan menganggapnya membocorkan urusan rumah.
Takut Papa Liem memutar keadaan.
Akhirnya, karena terlalu banyak takut, dia membuat Lara merasa ditinggalkan.
"Maaf," ucap Senja.
Lara menatapnya. "Aku tidak butuh maaf saja."
"Aku tahu."
"Apa kamu percaya padaku?"
"Percaya."
"Kalau percaya, kenapa semua yang penting kamu simpan sendiri?"
Pertanyaan itu tidak punya jawaban mudah.
Di pintu pantry, Ko Jefri muncul. Dia melihat wajah Lara, lalu Senja, dan tidak langsung masuk.
"Latihan kedua mulai lima menit lagi," katanya. Suaranya lebih lembut dari biasanya. "Kalau perlu waktu, ambil."
Lara menggeleng. "Aku latihan."
Dia melewati Senja tanpa menyentuh bahunya.
Senja berdiri beberapa detik di pantry yang sempit, mendengar suara langkah Lara menjauh. Ponselnya bergetar di tangan.
Pesan baru.
Serena.
Serena: Sahabat juga bisa lelah, Senja. Apalagi kalau terus dijadikan tempat sampah.
Senja menatap layar, lalu mematikan ponselnya.
Dia tidak ingin Serena menang.
Tetapi saat kembali ke ruang latihan, jarak satu meter antara dirinya dan Lara terasa lebih panjang daripada lorong gereja di hari pernikahannya.
Ko Jefri memulai musik lagi. Kali ini bagian yang mereka latih adalah duet kelompok, gerakan saling mendekat lalu berputar menjauh. Biasanya Senja dan Lara bisa menemukan ritme satu sama lain tanpa bicara.
Hari itu, tangan mereka nyaris bertemu di udara.
Lara menarik tangannya setengah detik lebih cepat.
Gerakan itu kecil, hampir tidak terlihat oleh penonton biasa. Tetapi bagi penari, setengah detik bisa mengubah seluruh rasa.
Senja kehilangan keseimbangan sedikit. Kakinya bergeser, lalu berhenti.
"Ulang," kata Ko Jefri.
Mereka mengulang.
Sekali. Dua kali. Tiga kali.
Tetap tidak menyatu.
Setelah latihan selesai, Lara langsung mengambil tas. Senja mengejarnya sampai depan sanggar.
"Lar, tunggu."
Lara berhenti di bawah kanopi. Langit Jakarta mulai mendung, angin membawa bau aspal panas yang sebentar lagi basah.
"Aku tidak malu padamu," kata Senja. Suaranya keluar lebih cepat, takut Lara pergi sebelum dia sempat bicara. "Tidak pernah. Kamu orang pertama yang membuatku merasa punya keluarga di luar rumah Liem."
Wajah Lara goyah.
"Tapi aku memang salah karena diam. Aku hanya... tidak tahu bagaimana membagi hidup yang bahkan aku sendiri belum mengerti."
Lara memeluk tasnya di depan dada. "Aku bisa mengerti kalau kamu bingung. Tapi aku tidak bisa terus menebak-nebak posisiku."
"Kamu sahabatku."
"Kalau begitu perlakukan aku seperti sahabat. Jangan selalu melindungiku dengan cara meninggalkanku di luar."
Senja menunduk. "Aku akan coba."
"Jangan coba. Lakukan."
Lara berjalan menuju ojek online yang sudah menunggu di depan ruko. Sebelum naik, dia menoleh sekali lagi.
"Aku di pihakmu, Sen. Tapi aku tidak bisa berdiri di pihakmu kalau kamu sendiri tidak membiarkanku masuk."
Motor itu pergi, meninggalkan suara mesin yang makin jauh.
Senja berdiri di depan sanggar, hujan pertama sore itu mulai jatuh sebagai titik-titik kecil di lengannya.
Di seberang jalan, mobil Wijaya menunggu.
Untuk pertama kalinya, dia merasa tidak ingin masuk ke dalamnya.