Nevan Roderick. Seorang Mafia kejam berdarah dingin dan tidak pernah terlibat dengan wanita manapun tiba-tiba tertarik dengan seorang gadis yang tanpa sengaja ditemuinya saat berada dalam kejaran para musuhnya.
Revalina Ainsley. Gadis sederhana dan cerdas yang memilih hidup mandiri karena permasalahan orang tuanya. Terpaksa terlibat dengan Nevan, pria yang dengan paksa masuk dan mengobrak-abrik kehidupannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hoshiily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayo Menikah
"Will you marry with me?" Tanya Nevan menekuk lututnya dilantai sembari membuka kotak tersebut, memperlihatkan sebuah cincin berlian di tengahnya
"Kamu benar-benar melamarku?" Tanya Reva tanpa sadar sembari menutup mulutnya tak percaya dengan suasana yang begitu romantis ini
"Tentu saja. Ini bukan pertama kalinya aku mengatakannya. Kita memang tengah berpacaran, tapi yang benar-benar aku inginkan adalah hubungan pernikahan yang sakral" Tutur Nevan dengan raut wajah seriusnya
"Tapi aku masih kuliah Nevan.. " Balas Reva sedikit ragu
Hanya orang bodoh yang akan menolak saat dilamar sperti saat ini. Namun tetap saja, Reva tidak bisa begitu saja menerimanya disaat ia masih merasakan dilema akan masalah keluarganya dan fakta bahwa ia saat ini tengah kabur dari rumah dan masih berstatus seorang mahasiswi biasa.
"Apa kamu benar-benar akan menolakku saat ini?" Tanya Nevan menunduk ke bawah
Reva mengedarkan pandangannya ke sekitar ruangan "Dia sudah mempersiapkan semua ini untukku.. " Batin Reva mematap raut wajah sendu kekasihnya
Reva lalu meraih wajah Nevan dan memeluknya "Maaf.. Aku terlalu berfikir berlebihan. Aku bukannya menolakmu. Aku benar-benar senang setiap kali kamu menyatakan perasaanmu padaku. Bagaimana pun bukan hanya kamu yang mempunyai perasaan. Aku juga menyukaimu Nevan. Aku mencintaimu"
"Hanya saja, bagaimana dengan keluargaku? " Tanya Reva kemudian
"Paman yang akan mencari ibumu. Untuk ayahmu, aku serahkan padamu. Entah kamu mau bertemu dengannya atau tidak, aku tidak perduli. Karena satu-satunya keinginanku saat ini adalah menikah denganmu dan mendapatkan buku nikah"
"Kalau begitu ayo menikah.. " Ucap Reva pada akhirnya setuju "itu benar Reva.. Ketimbang hidup dalam kekangan keluarga, akan lebih baik untuk memiliki keluarga kecil sendiri" Ucap Reva dalam hati berusaha memantapkan dirinya akan keputusannya ini
Mendengar penuturan Reva, Nevan langsung berdiri memeluk tubuh Reva erat "Terima kasih karena bersedih menjadi bagian dari hidupku kelak. Aku janji, selama hidupku ini hanya akan setia dan mencintaimu kelak, tidak akan ada yang lain" Tutur Nevan penuh syukur
Nevan lalu melepas pelukannya dan mengeluarkan cincin dari kotak tadi, meraih dan memasangkan cincin berlian tersebut di jari tengah Reva.
"Hmm.. Aku juga.. " Balas Reva lalu menangkup dagu Nevan dan mengecup bibirnya sekilas
"Untuk kedepannya, kamu harus melakukannya seperti ini.. " Tutur Nevan tersenyum simpul lalu meraih dagu Reva, menyatukan bibirnya kembali
Nevan yang pada awalnya hanya mel*mat bibir Reva, kini mencoba masuk dengan memberikan gigitan kecil di bibir Reva. Mengabsen satu per satu gigi Reva sembari memainkan lidahnya disana.
"Emmgghhhhahh... Tunggu.. " Reva dengan paksa melepas ciumannya dan memundurkan kepalanya sembari mengatur nafasnya yang tersengal
"Aku lapar.. " Ucapnya kemudian, sembari memegang peritnya yang kini keroncongan
Nevan terkekeh kecil mendengar ucapan Reva "Maaf.. Saking senangnya, aku sampai lupa kalau kamu lapar" Ucapnya sembari mempersilahkan Reva duduk di kursi
Nevan juga ikut duduk di depan Reva. Lalu menepuk dua kali tangannya, sebagai isyarat pada pelayan agar masuk menghidangkan menu makanannya.
Pelayan lalu masuk dengan membawa nampan berisikan masakan yang dipesan oleh Nevan dan sebotol anggur berkualitas tinggi.
Nevan hanya diam memperhatikan Reva menikmati makanannya, sembari tersenyum manis ke arah Reva. Dengan Reva menerima lamarannya, membuat Nevan tak berhenti memikirkan berbagai hal yang bisa dilakukannya kelak dengan Reva setelah menikah nanti termasuk mengurus anak-anaknya nanti. Dan itu membuatnya benar-benar tidak sabar menantikan hari itu.
"Aku lupa memberitahumu, aku sudah memesan tiket pesawat untuk besok" Ucap Reva tiba-tiba teringat akan tiket yang di pesannya kemarin
"Hah? Kapan kamu memesannya? Kenapa tidak memberitahuku?" Tanya Nevan tidak menyangka
"Kemarin. Aku terlalu kesal denganmu dan pada akhirnya aku memesan tiket pesawat" Balas Reva menatap Nevan kesal jika mengingat kejadian kemarin saat ia meninggalkannya sendiri
"Tapi aku melakukan itu untuk mempersiapkan semua ini, bagaimana mungkin aku memberitahumu" Ucap Nevan berusaha membela dirinya
"Yeah.. Aku bisa melihatnya.. " Ucap Reva tersenyum simpul memperhatikan seisi ruangan itu "Karena itulah, aku akan membatalkannya jika kamu tidak setuju" Tuturnya kemudian
"Kamu serius? Bagaimana kalau lusa?" Tanya Nevan yang hanya menundanya sehari saja
"Terserah kamu. Kebetulan aku juga bisa membeli beberapa hadiah untuk Regan dan yang lainnya"
"Kalau begitu kita pulang lusa"
....
Setelah makan malam romantis itu, Nevan dan Reva kembali pulang ke rumah. Dengan Reva yang kini tertidur lelap karena terlalu lelah setelah seharian menemani Nevan.
Nevan membaringkan Reva di kasur, melepas heels yang digunakannya dengan hati-hati. Lalu berjalan ke lemari, mengambil kotak p3k, mencari salep untuk mengobati tumit Reva yang memar karena heels tadi.
Bukan hanya mengobati memar di kakinya, Nevan juga membersihkan make up yang dipakai Reva lalu mengganti pakaiannya menjadi piyama agar tidak mengganggu tidurnya.
Setelah selesai, ia lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya sebelum ikut berbaring dan tidur di samping Reva yang sudah terlelap pulas.
***
Selama Reva di luar negeri, Regan tak berhenti datang berkunjung ke rumah Nevan. Tak sabar untuk menunggu kedatangan Reva dari luar negeri karena oleh-oleh yang sempat disebut oleh Reva.
Setelah berkunjung beberapa kali, Regan akhirnya terbiasa datang dan bermain dengan beberapa pengawal Nevan khususnya Rehan yang juga merupakan pengawal pribadi Reva.
Keduanya sering menghabiskan waktu bersama, karena Regan yang meminta untuk diajari beladiri padahal selama ini ia tidak pernah tertarik barang sedikit pun akan bela diri.
Dihari libur, sabtu dan minggu, Regan datang menginap di rumah Nevan. Menghabiskan waktu dari pagi hingga sore bersama dengan Rehan dan yang lainnya. Dari mulai lari bersama dengan pengawal lainnya di pagi hari, hingga belajar bela diri bahkan menembak.
"Sekali lagi.. " Pinta Rehan memegang kedua kaki Regan yang tengah melakukan sit up setelah lari beberapa putaran
"Eegghjjj... Ahhh.. Aku tidak bisa lagi.. " Ucap Regan berbaring di lantai dengan keringat yang membanjiri tubuhnya
"Ini baru 8 kali.. Masih kurang 2 lagi" Ucap Rehan menghitung sit up yang dilakukan Regan tadi
"Sudah cukup.. Aku sudah tidak kuat lagi, ini bukanlah keahlianku" Tutur Regan berusaha menetralkan nafasnya kembali
"Baiklah Tuan Muda.. Kamu bisa beristirahat, aku akan melanjutkannya bersama dengan yang lainnya " Ucap Regan bangkit berdiri lalu meninggalkan Rehan di ruangan itu
Sementara Rehan kini menghampiri yang lainnya di rumah sebelah yakni ruangan menembak.
"Bagaimana dengan Tuan Muda?" Tanya Rangga sembari mengarahkan pistolnya ke sasaran di depannya
"Dia sedang istirahat. Dia benar-benar berbeda dengan kedua kakaknya" Ucap Rehan membandingkan ketiga bersaudara itu
"Hmm.. Tuan muda ketiga memang tidak pernah diajari beladiri. Ia selalu menghindar dan membuat berbagai alasan untuk tidak melakukannya. Tapi sepertinya, ia mulai tertarik sejak bertemu dengan Reva.. " Tutur Rangga
"Hmm.. Dia benar-benar sesuatu karena bisa membuat putra dari keluarga ini tertarik padanya" Gumam Rehan sebelum melepas tembakannya