Seorang pria dewasa dengan Depresi Pascatrauma. Ia selalu menolak perjodohan dengan berbagai alasan. Hingga suatu hari, sebuah berita buruk memaksanya untuk menikah.
Siapa yang akan Ia pilih?
Akan menyembuhkan, atau membuat Depresi itu semakin menjadi-jadi dan tak akan pernah sembuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selamat menjadi Nyonya Abizar
Dita keluar dengan perasaannya yang berantakan. Marah, kesal, dan hatinya begitu sakit saat ini. Perih, bagai tersayat oleh pisau yang begitu tajam, tepat di ulu hatinya.
"Mending kau tusuk aku sekalian, Bi." tangisnya, dalam kamar mandi.
Berita yang begitu mendadak, bahkan Abi tak merundingkan itu sama sekali pada kedua sahabat dekatnya. Mereka bahkan tak mengenal baik, wanita yang telah Ia pilih sendiri itu. Siapa dia, bagaimana asal usul dan kehidupan nya sebelum ini. Bahkan, hanya dengan data lamaran kerja pun tak akan bisa meyakin kan data diri seseorang.
"Abi! Kamu jahat! Kenapa memilih dia? Padahal aku yang selalu di dekat kamu!" Dita serasa frustasi, ingin mengamuk di dalam kamar mandi yang sepi itu. Rasanya ingin mencakar apapun yang ada di hadapanya, menghancurkan semua meski Ia pun harus merasa sakit dengan apa yang Ia lakukan. Karena sakit itu tak seberapa, dengan sakit dalam hatinya.
Akhirnya Dita menegakkan kepala, mempertajam tatapannya pada kaca dan menatap bayangan nya sendiri.
"Baiklah... Itu keputusanmu, aku akan mengikuti mau mu. Tapi, jangan sampai kau menyesal, karena kau tak tahu benar siapa dia." ucapnya, mengusap air mata lalu melangkahkan kaki nya keluar.
Dita masuk ke dalam ruangan nya. Ia. Membuat sebuah surat pengunduran diri untuk Nisa. Padahal, itu harusnya tak berguna. Apalagi, Ia akan menikahi bosnya sendiri. Nisa hanya tinggal pergi, tanpa harus merepotkan dirinya demi sebuah surat resign yang hanya memperlelah dirinya.
" Nih,," Dita memberikan surat itu pada Nisa. Gadis itu pun terperanjat kaget, nyaris tersedak dengan minumannya. Namun, Dita sama sekali tak perduli. Rasanya begitu enggan, bahkan hanya untuk menatap gadis itu meski sejenak. "Selamat resign dari kantor ini. Selamat datang, sebagai Nyonya kami. Ibu Abizar," tatapnya begitu dingin.
Semua mata terbelalak, mendengar ucapan Dita pada Nisa. Apalagi Feby, yang memang dari awal menyukai Bos barunya itu. Ia menyipitkan mata, berusaha mencerna yang dikatakan Dita. Lalu, menatap Nisa dengan wajah kecewa, dan mata yang berkaca-kaca dengan berita yang telah Dita ucapkan. Ya, Dita tak mungkin bohong dengan berita seperti itu.
Dita pun segera pergi. Tak ingin berlama-lama disana dengan segala kebencian yang hadir di depan matanya.
" Feby, aku bisa jelasin."
" Ngga usah, Sa. Cukup tahu aja. Aku merasa sakit, Sa. Sakit banget rasanya," Feby memegangi dadanya yang sesak.
"Feb, minum dulu. Aku ngga bermaksud..." tawar Nisa, dengan memberikan segelas air putih yang ada dimeja.
"Udah lah. Sedari awal, aku cukup sadar diri. Jika memang ngga berbalas, aku cukup sadar, Sa. Selamat buat kamu, semoga langgeng." ucapnya, dengan suara yang tertahan, terdengar begitu perih Ia rasakan. Bahkan, untuk minum air saja rasanya tak tertelan.
Semua orang hanya bisa menatap keduanya. Mereka tak faham, mana yang salah dan mana yang benar. Apalagi, motif Nisa hingga akhirnya dinikahi sang Bos besar.
Feby meninggalkan Nisa, dan Nisa disana hanya bisa kembali merenung, dengan segala kegalauan di hatinya.
"Nisa, ayo pergi." panggil Abi, yang keluar dari ruangannya. Nisa baru ingat, jika setelah ini adalah kunjungannya ke Rumah sakit, untuk sang nenek.
"Iya, Pak." jawab Nisa, lalu membereskan segala barang yang ada di meja kerjanya. Ia pamit, pada semua rekan barunya. Senior, atau bahkan yang masuk bersama dengannya seminggu yang lalu.