Season 1:
Dena, gadis yang baru saja menginjak bangku sekolah menengah atas. Ia harus pasrah saat sang Papa mengirimnya ke perkampungan? ya, tepatnya kampung sang Kakek. Di sana ia akan bertemu dengan seorang pemuda yang terkenal di desanya. Terkenal bukan karena sifatnya yang kalem tapi nakal.
Diselingi kisah sang papa yang statusnya sebagai duda dipertemukan dengan seorang wanita yang juga sebagai karyawan di kantornya. Tidak disangka, putrinya lebih dahulu mengenal wanita itu. Dimulai dari perdebatan hingga berujung percintaan. Wira, sebagai papa Dena harus berjuang mendapatkan restu dari calon mertuanya. Statusnya sebagai duda yang menjadi permasalahan. Duda anak satu sedangkan sang wanita masih berstatus lajang.
Bagaimanakah Dena merajut kisah asmaranya dengan seorang pemuda dari kampung kakeknya?
𝗦𝗲𝗮𝘀𝗼𝗻 𝟮: (𝗠𝘆 𝗙𝗶𝗲𝗿𝗰𝗲 𝗕𝗼𝘀𝘀)
.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ¶`(₡ ฿úñgšù)ᵛⁱᵛⁱ•_•`FIIII, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
"Loh... Kakak? Udah sampai ternyata." seru Dena yang langsung datang mendekati Cahya.
"Iya, Dek. Pesanan kamu ada tuh di atas meja. Kalau gitu Kakak pulang dulu ya??"
"Lhaaa, baru juga nyampe udah mau pulang aja. Kakak belum duduk loh, belum juga minum. Bentar ya? Mungkin bibik lagi buat minum."
"Enggak usah, Dek. Kakak ke sini cuman mau nganterin pesanan kamu aja tadi. Yaudah, Kakak langsung pulang aja, ya?"
"Jangan dulu lah, Kak. Duduk dulu loh maksudnya gitu. Main-main kek sama Dena."
"Sayang." tegur Wira memperingati.
"Iya, Papa? Papa ke atas aja ya istirahat. Jangan banyak berdiri nanti pinggangnya encok."
"Astaghfirullah, punya anak satu." gumam Wira.
"Lha kan emang satu? Apa jangan-jangan Papa punya anak di luar sana? Hayo loh Papa?" tuduhnya.
"Nggak ada, Sayang. Cuman kamu anak Papa satu-satunya. Yaudah mending Papa ke atas aja. Bye, Sayang."
"Eh iya, Pa."
Dena menuntun mengajak Cahya duduk terlebih dahulu saat pelayan di rumahnya datang membawa minuman dan cemilan ringan.
"Kak, capek ya?" tanya Dena.
Cahya hanya menggelengkan kepalanya. "Nggak juga kok, Dek. Udah biasa."
"Ke atas yuk, Kak!"
"Atas mana?" beo wanita itu.
"Ke kamar Dena maksudnya. Temenin, yah yah yah?"
"Enggak deh, Kakak langsung pulang aja ya? Udah mau malam soalnya, belum bersih-bersih juga jadinya gerah."
"Iya, makanya itu kita ke atas. Biar Kakak sekalian bersih-bersih."
"Gak usah, Dek." tolak Cahya berulang kali.
"Ih! Ayo, Kakak..." rengek gadis itu tidak mau tau dan langsung menyeret tangan Cahya menuju kamarnya.
"Pelan-pelan lho, Dek. Nanti jatuh." peringat Cahya yang tidak susah menyeimbangi langkah kaki Dena.
"Maaf, Kak." balas Dena melambatkan laju jalannya.
Sesampainya di kamar, Dena langsung mengajak Cahya duduk di atas kasur. Gadis itu berjalan menuju lemari dan mengambil handuk bersih.
"Kakak mandi dulu ya! Soal baju ganti jangan khawatir, nanti Dena cariin." ujar gadis itu menyodorkan handuk.
"Gak usah, Dek. Kakak bentar lagi mau pulang kok. Gak enak sama orang rumah kalau pulang telat."
"Ayolah, Kak. Sekali ini aja beneran sekali aja, ya ya ya?" bujuk Dena mengeluarkan jurus andalan yang sudah dipastikan orang akan luluh.
"Haish! Iya deh." jawab Cahya pasrah lalu mengambil handuk dari tangan Dena.
Dena memegang bahu Cahya yang memiliki tinggi tinggi badan sekitar 162 cm, kemudian menuntunnya hingga sampai di depan pintu kamar mandi.
"Kakak bersih-bersih di sini. Dena mau nyari baju ganti bentar." ujar Dena langsung meninggalkan kamarnya dan pergi entah ke mana.
Kemudian gadis itu datang membawa pakaian dress sederhana berwarna biru muda, dan ia simpan di atas kasur sembari menunggu Cahya selesai bersih-bersih.
"Kak." panggilnya bertepatan pintu kamar mandi dibuka.
"Ini..."
"Cantik banget, Dek. Dapat dari mana?" tanya Cahya kagum. Jika dipakai sangat cocok dengan tubuhnya, pakaian itu menempel pas di tubuhnya dengan panjang di bawah lutut.
"Hehe, dari kamar Papa." jawab Dena menyengir.
"Jangan-jangan ini punya---"
"Yaps. Udah sana! Di pake dulu, Dena mau liatnya pasti cantik pas Kakak makainya."
"Dek, nanti Papa kamu marah."
"Gak bakalan. Dena janji itu, Papa gak berani marah sama Dena."
Akhirnya Cahya pasrah, ia memasuki ruang ganti dan memakai dress itu. Begitu keluar, ia mendapati Dena yang menatapnya tanpa berkedip membuatnya malu.
"Kok gitu natapnya?"
"Gak pa-pa, Kak. Kakak cantik, pake banget. Ditambah makai baju itu, perfect pokoknya."
Dena terus memandangi Cahya dengan mata tidak berkedip sedari tadi. Seolah-olah rasa rindu dan penasaran itu melebur. Dena rindu belain lembut dari surganya. Ia penasaran bagaimana wujud sang Mama yang kini mungkin telah bahagia di atas sana. Karena selama ini ia hanya melihat melalui foto dan beberapa video yang sempat direkam. Bayangkan saat umurnya kurang lebih satu tahun, ia sudah ditinggalkan. Dan selama itu juga ia dirawat oleh seorang laki-laki yang begitu tegar dan selalu sabar. Memperlakukannya bak putri raja.
Tidak terasa matanya berkaca-kaca. Ia sedikit terharu. Tiba-tiba Dena memeluk Cahya begitu saja.
"Loh loh... kenapa, Dek? Kok malah nangis. Apa ada yang sakit, atau karna Kakak makai baju ini? Yaudah biar Kakak ganti aja sekarang..."
Dengan cepat Dena menggelengkan kepalanya. Ia hanya butuh sebuah pelukan dari wanita dewasa. Umurnya masih belia, jadi wajar saja kalau perilaku seperti kanak-kanak. Dena harus menerima keadaan. Di saat anak seumurannya memiliki kedua orang tua yang lengkap dan sehat walafiat, tapi Dena harus menerima kenyataan. Memang banyak wanita dewasa di luaran sana yang bisa ia jadikan Mama tiri. Tapi, semuanya tidak termasuk kriterianya.
"Pengen peluk aja, Kak. Bentar aja ya?" izin Dena.
"Jangankan sebentar, selamanya aja kamu boleh kok meluk Kakak. It's okay, anggap Kakak ini Kakak kamu."
"Makasih, Kak."
"Huumm iya."
Sekitar 5 menit pelukan itu terlepas. Dena segera menyeka air mata di sudut matanya.
"Sekarang cerita sama Kakak. Apa ada yang nyakitin kamu?"
"Nggak ada kok, Kak. Dena cuman kangen aja dipeluk."
"Meluk Papanya kan bisa?"
"Papa kan beda, Papa itu sosok Ayah. Yang Dena butuhin itu sosok Ibu."
Tidak memungkinkan ia juga ingin memiliki sosok wanita yang akan menjadi ibu sambungnya. Ia ingin dimanja, saat pagi dibangunkan dengan suara lembut. Sarapan ada yang nyiapin, siang ada yang menyambutnya sepulang sekolah. Dan malam ada yang menemaninya tidur.
"Mamanya?"
"Mama udah tenang di sana, Kak. Kata Papa, Dena gak boleh sedih. Uuhuuu, Dena boong kan buktinya sekarang aja Dena nangis. Ih! Cengeng banget kan, Kak?" Dena langsung tertawa.
"Maaf, Dek. Udah ya? Jangan nangis lagi." ujar Cahya langsung mengusap kepalanya lembut.
"Sekarang dan nanti gak lagi kok."
"Bener ya?"
"Iya, kalau boong, Kakak boleh kok jewer Dena."
"Yaudah percaya, kalau ingkar siap-siap ya?"
"Siapa takut?"
Keduanya tertawa bersama-sama. Sebentar, Dena sudah lupa dengan apa yang ia rasakan sekarang.
"Kak, Kakak bisa masak gak?" tanya Dena.
"Dikit sih." jawab Cahya ragu.
"Masakin Dena ya? Laper lagi, hehe."
"Ih! Baru juga tadi makan udah lapar aja. Mau makan apa?"
"Apa ya? Mie goreng aja, Kak, simpel."
"Huum iya. Temenin Kakak?"
"Let's go!" pekik Dena dengan riang. Jarang-jarang ia pergi ke dapur kecuali kalau ingin makan masakannya sendiri saja.
"Dek, ini tangga kok ada dua? Banyak amat perasaan." bingung Cahya menyadari.
"Yang ini kan tangga ke kamar Dena. Trus yang satunya tangga ke kamar Papa."
"Kok pisah, Dek? Emangnya gak ribet?"
"Enggak sih, Kak. Kata Papa biar mandiri aja. Oh ya. Nanti sekalian buatin bubur ya buat Papa?"
"Bubur? Papanya sakit, Dek?"
"Iya, Kak. Makanya tadi pulang duluan."
"Oalah, oke deh."
.
.
.
harusnya ini kemarin ya, tp masalah ny review ny lama bangett🙃🙃
kykny keluar dr judul ya,Thor...
🥰😊😊
Semangat tetap& Ttp semangat,Kak Thor!!!!💪💪🤺
udh dong mewek ya.
skrg bhgian ya plk dong thor
kok melo ya eps yg in
lain judl pun gak ap2 thor.
yg pnt arel sma dena
Disini aj laaa Ampe habis cerita Dena&Fairel..