Demi harta warisan, Gadhiata rela menikahi gadis cupu pilihan sang kakek. Pernikahan sandiwara yang akan mereka jalani apakah berjalan sesuai rencana? Apa Hanum sang calon istri akan diam saja saat mengetahui dia hanya dipakai sebagai alat? Bagaimana jika Hanum marah, apakah gadis cupu itu akan menjadi suhu? Hanya untuk membalas dendam pada perlakuan Arrogant Gadhiata selama ini padanya yang memandang sebelah mata.
Baca juga novel Sept yang lain :
Rahim Bayaran
Suami Satu Malam
Dinikahi Milyader
Suamiku Pria Tulen
Dea I love you
My boss my Husband
Pernikahan Tanpa rasa
Menikahi pria dewasa
Cinta yang terbelah
Wanita Pilihan CEO
The Lost Mafia Boy
Dokter Asha and KOMPOL Bimasena
KANINA yang Ternoda
IG Sept_September2020
Fb Sept September
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tambah
Crazy Rich Bagian 35
Oleh Sept
Mohon diskip, bisokop halu akan segera dimulai. Silahkan dilanjutkan untuk yang memengang KTP, dan yang sudah menikah sangat dianjurkan. Demi mendapat inspiration dan penambah imun.
Sekali lagi mohon untuk kesadarannya, yang masih pelajaran, sungguh buku pelajaran sangatlah jauh lebih baik. Mohon skip. Terima kasih.
***
Kawasan Ranjau
....
....
Hanum dan Gadhi, dua pengantin baru itu sedang dalam pengaruh obat. Meski beberapa waktu lalu keduanya sudah saling melakukan pelepasan, obat itu efeknya masih tersisa. Yang mana membuat Gadhi sedikit saja bisa langsung on fire. Seperti sekarang.
BYURRRR ...
Hanum tersentak, ia kaget saat Gadhi ikut masuk dalam bathtub bersamanya.
"Apa yang kamu lakuin?"
Hanum sudah tahu, tapi pura-pura bertanya. Sebab ia bisa merasakan Hering sudah menyentuh bagian belakang tubuhnya.
'Astaga!'
Hanum semakin tidak berkutik ketika lengan Gadhi langsung melingkar di perutnya. Dan tidak sengaja menyentuh apa yang tidak seharusnya disentuh tersebut.
"G-Gad!!!"
Hanum mencoba menghindar ketika Gadhi kembali memainkan sesuatu yang bukan mainan tersebut. Pria itu malah semakin menjadi, memutar dan terlihat gemas.
"Gaddd!"
Tubuh Hanum sampai membungkuk karena tidak tahan. Sedangkan Gadhi, darahnya sudah mendidih sejak tadi di ubun-ubun. Apalagi melihat Hanum yang sekarang, sangat membuatnya gelap mata.
'Sepertinya aku sudah gila malam ini!'
Pria itu kemudian mengangkat tubuh Hanum, membiarkan Hanum duduk di atas pangkuannya.
"Gadhiii!" protes Hanum.
'Akan sulit kalau seperti ini!' batin Gadhi. Pria itu kemudian memutar tubuh Hanum hingga menghadap padanya.
"Seperti tadi ... Ayo lakukan," pinta Gadhi dengan sorot mata yang sudah buram. Tidak sejelas biasanya, mungkin karena pria itu sudah kehilangan akal sehatnya.
Hanum menggeleng, tapi tangan Gadhi mencengkram kedua bahu wanita tersebut.
"Aku gak tahan ... Hanum!"
Hanum mengigit bibir bawahnya, sungguh ia juga gelisah. Antara ingin tapi juga menolak.
"Ayo baby!" bujuk Gadhi. Mulutnya yang selalu pedas tumben merayu Hanum dengan panggilan manis. Sudah pasti itu hanya modus agar Hanum mau naik turun di atas pangkuannya.
"Aku gak tahan!"
Hamppp
Gadhi langsung melahap sesuatu yang bukan makanan yang bisa dimakan. Tangan satunya lagi memainkan yang lain.
Hanum meringis, sedikit sakit dan kebas karena sejak tadi Gadhi sudah mengigit itu itu lagi. Kesal, Hanum lantas menjambak rambut Gadhi.
Semakin terbakar, Gadhi mengangkat sedikit tubuh Hanum kemudian ia tepatkan pada sasaran.
Hanum seketika menutup mata rapat-rapat, ada rasa perih yang meyiksa. Akan tetapi dengan lembut Gadhi membuatnya hanyut. Pria itu menuntunnya mendapat sesuatu yang semula perih menjadi legit.
'Jooo! Berapa obat yang kau berikan pada kami?'
Gadhi merutuk, karena ia sangat menikmati permainan ini.
"Num ... sepertinya aku mau keluar lagi!"
DEG
...
Hanum tersadar, ia mencoba berdiri ingin memisahkan diri. Akan tetapi Gadhi malah mencengkram pundaknya.
"Tahan ... aku mau keluar!"
Hanum panik, bisa-bisa ia akan hamil kalau dimasukkan berkali-kali.
"Gadd!!"
Hanum berusaha meronta, pria itu malah semakin mendekap dengan erat. Tubuhnya menegang memeluk Hanum, kemudian tiba-tiba ada sesuatu yang terasa hangat.
Hanum langsung lemas, bukan karena rasa lelah, tapi karena burung Hering kembali menyemburkan sesuatu dalam dirinya.
"Kamu melangar perjanjian itu, Gadhi!" gumam Hanum tidak berdaya.
Gadhi yang masih mengatur napas, matanya kemudian menatap kanan Kiri. Mungkin ia mulai mendapatkan kesadaran lagi.
"Ehem ...! Kita bahas nanti."
Hanum sedikit kecewa. Sedangkan Gadhi, pria itu sebenarnya sedang berpikir.
"Sebaiknya Kita mandi!" ucap Gadhi kemudian.
Di dalam bathtub yang sama, mereka membersihkan diri. Sama-sama merasakan perih di bagian tubuh yang berbeda. Hanum pada pusat tubuhnya, sedangkan Gadhi, punggungnya penuh dengan cakaran hasil kuku-kuku Hanum.
Setelah membersihkan diri dengan sabun, keduanya turun dari bathtub. Mereka mandi di bawah guyuran shower yang sama. Tanpa suara, keduanya sama-sama terdiam. Merasa situasi ini sangat membingungkan.
"Pakai ini!"
Gadhi menyelimuti tubuh Hanum, agar istrinya itu tidak kedinginan. Dilihatnya Hanum melangkah seperti penguin. Alhasil, ia langsung saja membopong tubuh Hanum. Padahal dia sendiri belum memakai apapun.
Kruek kruek
Gadhi menatap wajah Hanum yang masih dalam gendongan ala bridal style.
"Kau lapar?" tanya Gadhi mendengar suara perut Hanum.
Hamum malu, ia langsung memalingkan wajah. Sedangkan Gadhi, ia menatap makanan miliknya yang masih utuh.
"Jangan makan itu! Akan aku hubungi Jonathan!"
Gadhi pun meletakkan Hanum di atas ranjang. Kemudian meraih ponselnya. Sialnya sekretaris Jo masih mematikan ponselnya.
Pria itu menghela napas panjang, kemudian menelpon nomor sang Kakek. Malam-malam ternyata kakek Mahindra mengangkat telpon darinya.
"Ada apa?" tanya Kakek dengan suara tenang.
"Kek, tolong katakan pada Jonathan. Tolong buka kamar kami."
"Ini sudah malam, Jonathan pasti sudah tidur."
"Kek!!!!"
"Sudah malam, tidurlah!" titah kakek.
"Kek ... kakek! Jangan tutup telponnya! Hanum ... Emm ... Hanum!"
"Kenapa Hanum?" kakek yang mau menutup telpon, seketika kembali memasang telinga.
'Kalau aku bilang Hanum lapar, pasti mereka meminta kami makan makanan yang tersedia!' batin Gadhi.
"Hanum terluka!" jawab Gadhi akhirnya berbohong.
"Apa yang kau lakukan?"
Gadhi langsung menoleh, dan langsung menyentuh kismis yang hanya berbalik selimut. Membuat Hanum menjerit karena kaget.
"Kakek dengar, kan? Jadi tolong buka pintunya!" pinta Gadhi.
Hanum yang marah, langsung memukul bamper Gadhi. Menimbulkan suara yang cukup keras.
"Gadhi!!! Suara apa itu?" teriak kakek di seberang telpon.
'Ish!' Gadhi mendesis karena rasa panas akibat pukulan Hanum. Mana dia sedang tidak memakai apa-apa. Mungkin telapak Hanum sudah meninggalkan bekas pada bamper belakangnya.
"Kau ini!" desisnya kesal.
"Gad ... Gadhi!!!" panggil kakek yang malah diabaikan.
"Hallo ... iya, Kek. Tolong katakan Jonathan, segera membuka kamar kami."
"Hanum kenapa?" tanya Kakek.
"Dia ... !" Gadhi menoleh, dilihatnya Hanum melotot tajam ke arahnya. Tapi saat dia berbalik secara sempurna hingga kini keduanya saling menatap, Hanum yang melotot tadi langsung panik.
Burung Hering mulai terangkat, membuat Hanum ketakutan. BERSAMBUNG
Pengaruh obat bisa sampai 4 sampai 10 jam ya bestie. Siap-siap sesek napas. Hehehehe
Maaf bestie. Ambil yang baik buat pengalaman, buang buruknya yaa. Terima kasih.
eh, konspirasi..
.....
si sulung aku umur 8 th baru punya adek.
aku menyaksikan sendiri,walau bukan aku yg mengalami.ada keluarga yg boleh dikata mampu dan berkecukupan tapi masih juga resahndan ingin menguasai harta saudaranya yg lain.padahal sdh dibagi rata oleh orangtua mereka dulunya.sampai memutuskan tali silaturahmi dg saudara2nya yg lain.