Pengorbanan seorang istri demi kebahagiaan sang suami, mengharuskan Hanum berbagi bukan cuma raga tapi juga hati. "Saya terima nikah dan kawinnya Amalia binti Ahmad dengan seperangkat alat sholat di bayar tunai."
"Sah.... sah"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 🕊R⃟🥀Suzy.ೃ࿐, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hamil
Mata Ilham membulat sempurna, menatap isi di dalam kotak yang tadi Amel berikan. Bukan ia tak tahu apa isi di dalam kotak itu, tapi garis dua yang tampak nyata yang membuatnya tak percaya.
Masih dengan mata yang mengerjap tak percaya, Ilham mengalihkan pandangan nya ke arah wanita yang kini duduk di samping dirinya, dengan senyum bahagia.
"I … ini apa?" tanya Ilham dengan bibir yang bergetar.
"Coba Mas tebak dan lihat lah ada kertas di bawah nya?" tunjuk Amel.
Ilham tak serta merta melakukan apa yang Amel katakan tadi, otak nya masih mencerna kejutan yang didapatkan, di saat prahara rumah tangganya bersama Hanum baru saja dimulai.
"Ayo Mas kamu buka lagi!" bujuk Amel.
Akhirnya dengan tangan yang masih bergetar, Ilham membuka lipatan kertas yang berada di bawah alat yang bergaris dua tadi.
Disitu tertulis jelas, jika Amel istrinya positif mengandung anaknya. Anak yang selama lima tahun ia tunggu kehadirannya. Ah seandainya Hanum yang memberikan kertas seperti ini, betapa bahagianya hidup Ilham.
Ilham sedikit menitikkan air mata, tepatnya air mata bahagia dan air mata duka di saat yang bersamaan.
Amel yang melihat air mata Ilham, terlihat sangat bahagia. Amel berfikir jika Ilham sangat menyukai kejutan yang ia berikan. Hingga bukan ucapan terimakasih atau sorak sorai kebahagiaan, tapi air mata yang mengungkapkan betapa bahagia nya Ilham sekarang.
"Mas kenapa nangis?" tanya Amel.
"Aku bahagia, sangat bahagia sampai-sampai hanya air mata yang keluar sebagai ungkapannya!" kilah Ilham.
"Aku juga bahagia Mas, tadi nya aku gak berpikir secepat ini akan diberi momongan tapi ternyata yang di Atas memberikan kesempatan ini datang lebih cepat." ucap Amel haru.
"Hm."
Ilham masih memandang surat dokter yang ada di tangannya. Rasa bahagia itu benar-benar membuncah di dalam dadanya, ingin sekali ia berteriak memanggil Hanum dan menunjukan betapa bahagia dirinya saat ini.
Flashback
"Saat Amel hamil nanti kamu akan jadi ibu sayang!" ucap Ilham kalau itu. Saat ia membicarakan tentang anak berdua dengan Hanum.
"Apa itu boleh Mas?"
"Kenapa bahkan Amel juga setuju. Jika kamu ikut merawat anaknya nanti!"
"Tapi seorang ibu dimana pun tak akan pernah mau membagi kasih sayang anak nya dengan orang lain, Mas?"
"Akan ku pastikan kalau Amel akan setuju dan kita bisa jadi orang tua yang utuh dengan kamu yang menjadi ibu dari anakku."
Flashback off
Kenangan itu kembali terlintas di ingatan Ilham dan kini kenangan itu hanya tinggal kenangan, saat hubungan nya dengan Hanum berada di ujung kehancuran.
Ilham menarik nafas panjang demi mengurangi sesak di dalam dada, yang semakin hari, semakin menghimpit rasanya.
"Mas?" panggil Amel
"Hm."
"Aku sekarang sedang hamil, ada yang ingin ku minta sebagai hadiah atas kehamilan ku ini!"
Ilham menatap Amel dengan alis yang bertaut, "Apa yang kau minta sebagai hadiah mu, hem?"
"Tapi Mas janji ya akan mengabulkan permintaanku ini?"
"Selama aku bisa, aku akan mengabulkan apa yang kamu inginkan." ucap Ilham menyakinkan.
"Aku ingin pernikahan kita sah dimata negara bukan cuma agama, aku ingin semua orang juga tahu, kalau bukan cuma mbak hanum yang menjadi istrimu, aku juga ingin di akui Mas!" pinta Amel.
Ilham terpaku, lidah nya kelu permintaan Amel belum pernah sekalipun terpikir oleh nya, bagaimana ia akan menjelaskan ini kepada Hanum. Disaat hubungan nya sendiri dengan Hanum tidak sedang baik-baik saja.
Ilham memijat pelipisnya, pusing tiba-tiba datang melanda. Apa yang harus ia lakukan?
"Mas?" panggil Amel sembari menggoyangkan tangan Ilham.
"Hm, nanti ya Mas pikirkan dulu! bagaimana kalau Hanum tidak setuju?" ucap Ilham.
"Kalau mbak hanum gak setuju, gampang Mas. Tinggal kamu ceraikan saja, lagian kalian menikah selama lima tahun mbak hanum juga belum memberikan seorang anak kan, beda dengan diriku." ucap Amel menyombongkan diri."
Untuk kali ini, Ilham tidak membantah omongan Amel. Pikirannya sedikit teracuni dengan yang Amel katakan, itu memang benar tapi jauh di relung hati yang paling dalam Ilham belum sanggup berpisah dengan hanum, sang istri tercinta.
Ilham berdiri berniat meninggalkan Amel untuk menenangkan diri.
"Nanti Mas pikirkan, sekarang kamu istirahat dulu. Mas pulang ya?"
"Lho Mas gak mau menginap disini?" tanya Amel yang sedikit kecewa karena Ilham berniat untuk pulang.
"Hm, aku butuh waktu untuk berpikir."
"Ya sudah tapi Mas harus cepat memberi kepastian, jangan menunggu perut ku membesar Mas. Kasihan kalau anak ini yang nanti jadi korban."
Ilham mengangguk dan berlalu meninggalkan rumah yang Amel tempati. Pikiran berantakan ia butuh seseorang yang bisa di ajak bicara.
Ilham melajukan kendaraan beroda empat nya, membelah malam Kota Jakarta. Pikiran nya benar-benar buntu dan tak terasa ia mengemudi ke arah sebuah diskotik, tempat yang tidak pernah sekalipun ia datangi.
Ilham keluar dari mobil dengan langkah gontai, menuju sebuah meja yang ada di depan bartender yang sedang meracik minuman.
Ilham memesan minuman haram itu, demi membuat lega hati dan perasaan nya. Orang bilang saat kau banyak masalah, minuman mampu membuat mu melupakan nya. Dan Ilham sedang mencoba itu sekarang.
Tak jauh dari tempat nya duduk, ada seseorang yang sedang memperhatikan dari awal Ilham masuk ke dalam bar.
Saat sudah pasti yang di lihat nya bukan orang yang salah, ia berjalan menghampiri dan menepuk pundaknya.
"Ilham?" panggilnya.
Ilham yang mulai sedikit hilang kewarasan, menoleh saat namanya di panggil.
"R-rio, hai?" balas Ilham dengan cengiran.
Ya orang yang tadi menepuk dan memanggil Ilham adalah Rio, yang kebetulan juga berada ditempat yang sama dengan Ilham.
"Tumben lo disini, gak pulang nanti di cariin istri lo?" tegur Rio.
Ilham terkekeh, "Istri yang mana?" tanya Ilham balik.
"Gila lo ya, baru juga minum tiga gelas udah lupa sama istri di rumah." ejek Rio.
"Lo yang gak tau! istri gue ada dua jadi yang mana yang nungguin gue?" tanya Ilham.
"Hebat lo, gue satu aja belum! lo udah dua aja. Trus ngapain lo disini kalau punya istri dua?" tanya Rio setengah berteriak karena suara musik dilantai dansa.
Ilham menatap minuman nya sendu, sebelum kembali menenggak minuman haram itu. "Gue lagi pusing, istri pertama gue marah dan istri kedua gue lagi hamil. Gue harus gimana?"
Rio yang mendengar Amel hamil, langsung mengepalkan kedua tangan nya. Rencana nya akan berantakan jika Amel hamil! tapi bisa juga rencana nya akan berjalan lebih mulus karena kehamilan nya.
Tak terasa Rio tersenyum licik, mendengar kabar itu. Tiba-tiba banyak rencana yang muncul di dalam kepalanya untuk membuat Amel lebih menderita.
"Pulang lah, lo udah mabuk berat nih kasian istri lo yang sedang menunggu dirumah." ucap Rio prihatin.
Ilham menatap Rio, benarkah hanum nya akan khawatir jika ia pulang dalam keadaan seperti ini.
***
Sementara dirumah lain, Hanum baru menyelesaikan kewajiban nya, setelah seminggu lamanya ia libur karena kedatangan tamu bulanan, yang untuk pertama kalinya tidak teratur seperti bulan sebelumnya.
Hanum terkejut saat pintu di ketuk dengan kasar, "Siapa malam-malam tidak sopan mengetuk pintu seperti itu?" gumam Hanum.
Hanum bergegas membuka pintu dan saat pintu terbuka, alangkah terkejutnya Hanum mendapati Ilham pulang di antar orang lain dengan keadaan mabuk parah.
"Assalamualaikum, benar ini rumah pak ilham?" tanya lelaki yang mengantar ilham pulang.
"Iya Mas saya istrinya?" jawab Hanum.
"Saya supir yang di sewa pak ilham untuk mengantar nya pulang Bu, tadi pak ilham sempat terjatuh saat ingin pulang, saya takut terjadi apa-apa jadi saya antar beliau pulang kerumah."
"Oh iya Mas, terima kasih. Sampai disini saja saya ambil alih pak ilham nya?" ucap Hanum sembari menangkap tubuh lunglai ilham.
"Baik Bu, terima kasih saya pamit dan ini kunci mobilnya pak ilham." pamit sang sopir sembari menyerahkan kunci mobil ilham.
"Iya, terima kasih ya Mas maaf kalau merepotkan?"
"Iya Bu sama-sama kalau begitu saya pamit ya?"
Hanum menganggukan kepala sebelum menutup pintu dan membawa ilham masuk kedalam kamar mereka.
"Kamu kenapa jadi begini sih mas?" ucap Hanum pelan.
Hanum mengambil air dan membersihkan badan Ilham dengan air agar bau alkohol yang ada di tubuhnya sedikit hilang.
Saat tengah membuka seluruh pakaian Ilham dan membersihkan badannya, Ilham terbangun dan menarik Hanum dalam pelukan nya.
"Maafkan aku sayang, aku sungguh minta maaf. Tak taukah dirimu kalau aku sangat merindukan mu selama ini. Aku tersiksa melihatmu diam, aku terluka melihatmu menangis! Aku mohon jangan tinggalkan aku." gumam Ilham.
Hanum sempat terenyuh mendengar permintaan maaf Ilham, tapi hatinya sudah terlanjur membatu susah untuknya kembali memaafkan ilham.
Dan tanpa di sadari Hanum, Ilham mulai menarik jilbab yang di pakainya, mencium dan ******* paksa bibir yang selama ini dirindukan nya, Hanum mencoba memberontak tapi lagi-lagi tenaganya kalah dengan ilham.
Dan malam ini Hanum pasrah saat Ilham kembali meminta kewajiban nya, Hanum berjanji dalam hati kalau ini akan menjadi terakhir untuk nya sebelum ia benar-benar pergi dari hidup Ilham.
"Aku melayani mu untuk terakhir kalinya Mas, karena kewajibanku yang masih menjadi istrimu. Semoga setelah ini kamu akan bahagia dengan hidupmu tanpa aku disisimu."
***
itu anak siapa?