Kisah seorang gadis yang baru saja lulus SMA, namanya Dinda Kirana. Dari kecil ia di besarkan oleh sang nenek, karena orangtuanya meninggal yang disebabkan oleh kecelakaan. Selain nenek, ia juga memiliki kakak angkat yang bernama Anton.
Mereka tinggal bertiga, karena orangtuanya Anton juga meninggal karena kecelakaan bersama orangtuanya Dinda. Karena sudah 10 tahun lebih mereka tinggal bersama, Anton dan Dinda sudah seperti saudara kandung.
Tetapi, tiba-tiba sang nenek menjodohkan mereka. Awalnya mereka menentang perjodohan itu, tetapi karena sang nenek jatuh sakit. Akhirnya pernikahan mereka pun terlaksana.
Seperti apa kelanjutan ceritanya? Ikuti terus update setiap dan dukung Author dengan menekan hati yang berwarna biru. Biar gak ketinggalan keseruan mereka!
Terima Kasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arry Hastanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dinda Ulang Tahun
Bertambah satu tahun usianya, tapi bertambahnya usia tidak menjamin seseorang akan menjadi lebih dewasa. Mungkin itu kata-kata yang tepat untuk mendeskripsikan Dinda saat ini. Tepatnya jam 12 malam ini, Dinda genap berumur 19 tahun.
Tidak ada hal spesial bagi Dinda di umurnya yang bertambah. Perutnya mulai tidak rata lagi, usia kehamilannya sudah menginjak 14 Minggu atau tiga bulan lebih. Entah kenapa semenjak ia hamil, dia ingin selalu di manja. Untung ada Rizal yang selalu datang untuk memanjakannya.
Setelah pertama kali Anton datang ke rumah kontrakannya Dinda, dua Minggu lebih ia tak datang lagi. Rizal memberitahu Dinda, bahwa Anton pergi ke luar negeri untuk menjalankan bisnisnya. Yang membuat Dinda merasa heran terhadap dirinya sendiri, ketika ia malah menunggu kedatangannya Anton. Ia pun di buat bingung oleh dirinya sendiri.
"Karena hari ini aku libur, aku akan ajak kamu jalan-jalan!" Kata Rizal sambil memainkan tangan Dinda.
"Jalan-jalan kemana Zal?" Tanya Dinda semangat.
"Katanya kamu ingin pergi ke kebun binatang Ragunan!" Jawab Rizal tersenyum.
Dinda pun kegirangan saat Rizal berniat untuk mengajaknya ke kebun binatang. Entah karena keinginan si bayi atau memang Dinda yang suka ke kebun binatang, tapi melihat Dinda kegirangan membuat Rizal senang.
Inah yang mendengar percakapan mereka pun keluar dari kamarnya dan merengek minta di ajak pergi ke kebun binatang. Tentu saja Dinda tak melarangnya ikut, walau sebenarnya Rizal ingin berduaan saja dengan Dinda. Rizal sudah mempersiapkan semua, dari menyewa mobil dan membeli makanan ringan untuk mereka makan ketika di perjalanan.
"Kita perginya sekarang?" Tanya Inah bersemangat.
"Iya Mbak, cepetan ganti bajunya." Jawab Dinda yang juga bersiap-siap untuk pergi.
Selama Dinda dan Inah berganti pakaian, Rizal pergi untuk mengambil mobil yang ia sewa. Memang Rizal tidak punya mobil, tetapi ia bisa menyetir lantaran ia waktu masih sekola sering ikut pamannya menarik angkutan kota. Dari situ ia belajar menyetir hingga ia menjadi mahir.
Tak lama kemudian, Rizal pun datang dengan membawa mobil yang ia sewa. Dinda tampak terkejut melihat Rizal bisa menyetir. Ia kira, mereka akan pergi dengan menggunakan jasa taksi online. Begitupun dengan Inah, ia terkejut bukan karena Rizal bisa menyetir, melainkan Rizal tampak lebih menawan di bandingkan Anton maupun Dimas.
"Sejak kapan kamu bisa menyetir Zal?" Tanya Dinda terkejut.
"Dulu waktu masih sekolah suka pinjam angkotnya om ku." Jawab Rizal sambil melepas kaca mata hitamnya.
"Kamu benar-benar keren Zal, pantes saja Non Dinda tersem-sem sama kamu!" Canda Inah meledek.
Lalu mereka pun bergegas untuk pergi ke kebun binatang. Dinda duduk di jok depan samping Rizal, sedangkan Inah duduk di jok belakang sambil memainkan ponselnya. Entah apa yang membuat Inah senyum-senyum sendiri, ketika ia memandangi ponselnya. Sepertinya ia sedang chatting dengan seseorang.
Sekitar satu jam lebih, mereka baru sampai di pintu masuk ke kebun binatang. Sambil menyetir, Rizal membeli tiket masuk untuk tiga orang. Mereka menelusuri jalanan di dalam kebun binatang, bertemu dengan berbagai macam hewan.
*****
Selain ke kebun binatang, Rizal juga mengajak Dinda pergi ke Ancol. Berjalan-jalan mengelilingi pantai dan bersenang-senang di sana. Kebahagiaan mereka berdua terpancar dari raut wajah mereka yang tidak berhenti tersenyum.
Tetapi Inah tak sebahagia mereka, malah Inah merasa seperti obat nyamuk di tengah-tengah kebagian mereka berdua. Keputusan yang salah buat Inah ikut pergi dengan Dinda dan Rizal. Alih-alih ingin bersenang-senang, malah dapat galaunya saja.
"Non, sudah sore nih.. kita pulang yuk! Non Dinda kan sedang hamil muda, gak boleh capek-capek." Ajak Inah menasihati.
"Bentar lagi Mbak, aku masih pengen jalan-jalan." Sahut Dinda menolak.
"Bener kata Mbak Inah Din, kamu gak boleh kecapekan. Lain kali kita jalan-jalan lagi." Tutur Rizal setuju dengan Inah.
Akhirnya Dinda pun mau pulang, Rizal pun kemudian mengantar Dinda dan Inah pulang. Sementara Rizal berpamitan untuk mengembalikan mobil sewaannya dan pulang ke rumah.
Kemudian Dinda dan Inah masuk rumah untuk menunaikan Sholat Ashar. Setelah selesai Sholat, Dinda masuk ke kamarnya untuk istirahat. Sedangkan Inah sibuk dengan ponselnya, tersenyum sambil membalas pesan dari seseorang.
Tok Tok Tok
Inah mengetuk pintu kamar Dinda.
"Masuk!" Teriak Dinda yang sedang berbaring di ranjangnya.
Inah masuk ke dalam kamar Dinda. Ia berpamitan kepada Dinda untuk pulang ke rumah Anton untuk menemui sang Ibu. Dan Inah mengatakan bahwa malam ini akan minap di rumah Anton, dengan alasan dia sangat merindukan sang Ibu.
Tentu saja Dinda mengijinkan Inah menemui Ibunya. Itu artinya, malam ini Dinda sendirian di rumah kontrakannya. Sebenarnya Dinda takut, tetapi dia tidak mau egois melarang Inah menemui Ibunya.
"Tenang Non, aku pagi kesini lagi kok!" Ujar Inah menenangkan Dinda.
"Beneran ya Mbak, aku takut nih sendirian di rumah." Sahut Dinda.
Sebelum Inah pergi, ia terlebih dahulu memasak untuk makan malam Dinda. Dia juga terlihat bahagia, mungkin karena akan bertemu dengan sang Ibu, makanya dia terlalu bahagia.
Setelah selesai memasak, Inah pergi mandi dan langsung berpamitan kepada Dinda untuk pulang ke rumah Anton. Dinda pun merasa kesepian setelah Inah pergi. Dia mencoba menelpon Rizal, tetapi panggilannya tidak di angkat. Mengirim pesan singkat pun tak di balasnya.
Hari semakin malam, terdengar suara Adzan berkumandang. Setelah makan malam, Dinda langsung menunaikan ibadah Sholat Maghrib. Kemudian dia hanya diam di kamar, bermain dengan ponselnya hingga tertidur lelap.
*****
Dinda terbangun dari tidurnya, ternyata sudah jam sepuluh malam. Dia ingat, bahwa dirinya belum Sholat Isya. Dengan perasaannya yang merasa takut, ia pun keluar dari kamarnya memberanikan diri untuk mengambil air wudhu. Dinda sengaja menyalakan semua lampu yang ada di ruangan, agar tidak gelap. Karena dia takut kegelapan.
Setelah selesai Sholat, Dinda mencoba untuk tidur lagi, tetapi matanya tak bisa terpejam. Tiba-tiba ia terdengar suara pintu depan di ketok seseorang. Ia pun merasa takut, tetapi setelah ia dengar-dengar lagi, seperti suara Anton memanggil namanya.
"Dinda!"
"Dinda!"
"Din, ini kakak Din, bukain pintunya!"
Hatinya pun merasa lega setelah mendengar suara sang kakak. Ia pun dengan buru-buru membukakan pintu untuknya.
"Kakak! Ngapain malam-malam kesini?" Tanya Dinda Heran.
"Kakak baru pulang dari luar negeri. Aku ingat kalau besok hari ulangtahun mu, jadi aku mampir sini mau kasih kamu ini." Jawab Anton sambil membawa bingkisan untuk Dinda.
Dinda pun menyuruh sang kakak masuk sambil membawa koper besar miliknya. Karena Anton belum mandi, dia pun segera pergi mandi, sedangkan Dinda masuk ke kamarnya membuka bingkisan yang di beri oleh Anton.
Dinda tersenyum lebar, karena yang di bawa Anton adalah sebuah paket baju bayi untuk bayi baru lahir. Karena baju itu terlihat lucu, Dinda pun merasa gemas dan mengelus perutnya. Dia menjadi tak sabar ingin segera melahirkan janin yang ia kandung.
Anton pun masuk ke kamar Dinda dengan melilitkan handuk di pinggangnya tanpa memakai atasan. Ia melihat Dinda yang sedang melihat baju-baju yang di bawanya.
"Kamu suka gak Din? Tadi aku lihat itu di airport dan langsung suka!" Kata Anton memberitahu.
"Suka banget kak! Tapi kita kan belum tahu jenis kelamin bayi kita." Sahut Dinda.
Dinda pun berdiri dari duduknya, ia hendak mengambil ponselnya yang ia letakkan di atas meja makan, tetapi tangannya di raih oleh Anton. Dengan sekejap, Anton mencium bibir mungil milik Dinda. Tanpa penolakan, Dinda pun membalas ciuman sang kakak dengan penuh gairah.
Ketika Anton dan Dinda sedang larut dalam kenikmatan berciuman, tiba-tiba ada orang masuk ke rumah dan mereka berdua pun tidak menyadari kedatangan orang itu. Anton dan Dinda malah semakin panas dan agresif saling berciuman. Kebetulan pintu kamar tidak di tutup, sehingga orang yang masuk kerumah pun melihat apa yang mereka berdua lakukan.
Bersambung...
sukses
semangat
mksh