NovelToon NovelToon
Rempah Sang Waktu

Rempah Sang Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Cinta Istana/Kuno / Reinkarnasi / Cinta Beda Dunia / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author:

Seorang Food Vlogger modern yang cerewet dan gila pedas, Kirana, tiba-tiba terlempar ke era kerajaan kuno setelah menyentuh lesung batu di sebuah museum. Di sana, ia harus bertahan hidup dengan menjadi juru masak istana, memperkenalkan cita rasa modern, sambil menghindari hukuman mati dari Panglima Perang yang dingin, Raden Arya.

Season 2 : 12. Di Antara Sirine dan Hujan

KM 25 Tol Sedyatmo. 20 Menit Kemudian.

Hujan turun semakin deras, mengguyur jalan tol yang macet total. Cahaya biru dari lampu strobo mobil polisi dan ambulans memantul di aspal basah, menciptakan suasana mencekam.

Sebuah mobil city car berhenti mendadak di bahu jalan, menembus garis polisi.

Kirana melompat keluar tanpa memedulikan hujan.

“Mas Arya!” Teriaknya histeris.

Pemandangan di depannya membuat lutut Kirana lemas. Mobil sedan mewah hitam itu terbalik dengan kondisi mengenaskan. Atapnya penyok nyaris rata dengan kap mesin, kaca hancur total, dan serpihan body mobil berserakan hingga radius sepuluh meter.

Secara logika, tidak mungkin ada yang selamat dari kehancuran seperti itu.

“Mbak! Jangan mendekat! Bahaya bensin bocor!” Seorang petugas polisi menahan Kirana.

“Itu tunangan saya, Pak! Lepasin!” Kirana meronta, air matanya menyatu dengan air hujan.

Dimas muncul di belakang Kirana, merangkul bahunya kuat-kuat untuk menenangkannya, sekaligus memayunginya dengan jaket. Wajah Dimas pucat saat melihat bangkai mobil itu, tapi ia tetap tenang.

“Pak, kami keluarga korban. Di mana dia?” Tanya Dimas pada polisi.

“Sudah diangkat ke ambulans, Mas. Kondisinya kritis tapi sadar. Ajaib banget,” jawab polisi itu geleng-geleng kepala.

Kirana dan Dimas langsung berlari menuju ambulans yang pintu belakangnya masih terbuka.

Di dalam sana, para paramedis sedang sibuk memasang infus dan penyangga leher (neck brace) pada Arya.

Wajah Arya penuh darah. Kemeja putih mahalnya robek-robek dan merah pekat. Namun, matanya terbuka sayu.

“Ar…” isak Kirana, tangannya gemetar ingin menyentuh tapi takut menyakiti.

Mendengar suara itu, mata Arya bergerak pelan mencari sumber suara. Saat melihat Kirana, sudut bibirnya yang sobek sedikit terangkat.

“Na…” Bisiknya lemah, nyaris tak terdengar kalah oleh suara hujan. “Jangan…nangis…”

Kirana membekap mulutnya, mengangguk cepat. Ia menggenggam tangan Arya yang dingin dan berlumuran darah.

Lalu, tatapan Arya beralih ke sosok pria di belakang Kirana.

Dimas berdiri mematung, menatap sepupunya dengan nanar.

Mata Arya menyipit fokus. Di tengah pandangannya yang kabur, ia tidak melihat Dimas yang berkacamata dan berbaju modern. Ia melihat sosok pemuda dengan rambut disanggul dan pakaian kerajaan.

Tangan Arya yang satu lagi terangkat lemah, menggapai ke arah Dimas.

“Di…pa…” panggil Arya serak.

Dimas tersentak. Tubuhnya menegang. Itu bukan panggilan ‘Dimas’. Itu nama jiwanya yang lama.

Dimas segera maju, menyambut tangan Arya. Ia menggenggamnya erat.

“Aku disini, Kakang,” jawab Dimas, suaranya bergetar haru. Ia tidak lagi memanggil ‘Arya’, melainkan menjawab panggilan persaudaraan masa lalu. “Adikmu ada disini.”

Arya tersenyum lega. Matanya mulai meredup karena efek obat bius yang disuntikkan paramedis.

“Jaga…dia…” wasiat Arya sebelum kesadarannya hilang. “Jangan sampai…Dyah Ayu…mendekat…”

Kepala Arya terkulai. Monitor detak jantung berbunyi stabil namun lemah.

“Kita harus jalan sekarang! Pasien butuh operasi segera!” Teriak paramedis, menutup pintu ambulans.

“Ikuti ambulansnya,” perintah Dimas pada Kirana, menariknya kembali ke mobil.

Di dalam mobil, Dimas menyetir dengan kecepatan tinggi membelah hujan, mengikuti sirine ambulans di depan. Wajahnya keras, rahangnya mengeras.

“Kamu dengar itu, Kirana?” Tanya Dimas tanpa menoleh.

“Dengar apa, Mas?” Kirana masih sesenggukan mengelap rambutnya yang basah.

“Dia manggil saya Dipa. Dan dia nyebut Dyah Ayu,” kata Dimas dingin. “Ingatannya bukan cuma kembali. Tapi dia sudah sadar sepenuhnya siapa musuhnya.”

Dimas mencengkeram setir mobil hingga buku jarinya memutih.

“Mulai detik ini, Arya bukan lagi sepupu saya yang seorang arsitek. Dia Panglima Perang. Dan saya…” Dimas membetulkan letak kacamatanya yang berembun. “Saya ahli siasatnya (strategi).

“Kita bawa dia ke Rumah Sakit mana, Mas?”

“Bukan ke RS langganan keluarga Dyandra,” jawab Dimas tegas. “Saya sudah kontak teman lama di RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat). Disana penjagaannya ketat. Dyandra gak akan bisa masuk sembarangan buat nyuntik macem-macem.”

Mobil mereka melaju menembus badai Jakarta. Di depan sana, ambulans membawa tubuh seorang ksatria yang baru saja lolos dari maut, siap untuk menyusun serangan balik yang mematikan.

Pukul 14.00 WIB. Private Lounge Bandara Halim Perdanakusuma

Dyandra baru saja mendarat dengan jet pribadi sewaan. Ia duduk santai di sofa kulit, memutar-mutar gelas champagne di tangannya. Wajahnya berseri-seri, seolah baru saja memenangkan lotre.

Di layar TV besar di depannya, berita Breaking News mulai tayang.

“Kecelakaan tunggal terjadi di Tol Sedyatmo. Sebuah sedan mewah terbalik dan hancur…”

Dyandra tersenyum lebar. Rencananya berhasil. Arya pasti terluka parah. Dengan begitu, Arya akan dirawat berbulan-bulan, dan Dyandra bisa menjauhkannya dari Kirana dengan alasan ‘kesehatan’.

Ponselnya berdering. Nama ‘Bimo’ muncul.

“Halo, Bimo. Kerja bagus,” sapa Dyandra riang. “Gimana kondisinya? Patah kaki? Koma?”

Hening sejenak di seberang sana. Hanya ada suara napas berat dan panik.

“Bu…ada masalah,”

Senyum Dyandra lenyap seketika. Ia meletakkan gelasnya kasar. “Masalah apa? Jangan bilang dia mati! Saya bilang jangan bunuh dia!”

“Enggak, Bu. Dia hidup. Tapi…” Bimo terdengar ketakutan. “Kondisi mobilnya hancur total, Bu. Harusnya dia mati atau minimal koma. Tapi pas kami cek dari jauh…dia sadar, Bu.”

“Sadar?” Teriak Dyandra. “Kamu gila? Mobil kebalik gitu dia sadar?!”

“Iya. Dan bukan cuma itu. Tadi saya lihat ada orang yang jemput dia sebelum ambulans jalan. Cewek sama cowok berkacamata.”

Darah Dyandra mendidih. Kirana. Dan si kutu buku Dimas.

“Dan satu lagi, Bu…” suara Bimo bergetar. “Pas dia merangkak keluar dari mobil…tatapan matanya, Bu. Dia sempet liat ke arah mobil saya. Tatapannya…bukan kayak orang kesakitan. Tapi kayak orang yang siap membunuh. Saya…saya ngeri, Bu.”

Dyandra terdiam. Jantungnya berdegup kencang. Bukan karena takut, tapi karena firasat buruk.

Jika Arya sadar…dan jika dia melihat mobil Bimo…

“Bimo, dengar saya,” suara Dyandra berubah dingin dan cepat. “Musnahkan mobil operasional kamu. Bakar kalau perlu. Buang HP ini. Pergi keluar kota sampai saya panggil lagi.”

“Ta..tapi Bu, bayarannya…”

“Saya transfer sekarang! Lakukan perintah saya atau kamu yang saya bikin kecelakaan!”

Dyandra mematikan telepon, lalu membanting ponsel mahalnya ke lantai hingga layarnya retak.

“Sial! Sial! Sial!” Teriak Dyandra, menendang meja kopi hingga terguling.

Rencananya berantakan. Arya selamat. Dan parahnya, Arya sekarang bersama Kirana dan Dimas.

Dyandra menarik napas panjang, berusaha menenangkan dirinya. Ia berjalan ke cermin, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Ia menatap pantulan dirinya.

“Tenang, Dyan. Kamu artis terbaik,” Bisiknya pada diri sendiri. “Belum ada bukti yang mengarah ke kamu. Kamu masih tunangannya. Kamu punya hak legal menemuinya.”

Ia mengambil tas Hermes-nya. Wajah marahnya perlahan berubah sendu, matanya dibuat berkaca-kaca. Ia memasang topeng ‘Calon Isteri yang Histeris dan Khawatir’.

“Aku akan ke Rumah Sakit,” gumam Dyandra sambil memulas ulang lipstiknya agar terlihat pucat. “Aku akan jadi orang pertama yang menangis di samping tempat tidurnya. Dan kalau perlu…aku akan cabut selang infusnya sendiri.”

Dyandra melangkah keluar ruangan VIP itu dengan langkah anggun namun mematikan.

1
Roro
yeee ketemu lagi arya sama kirana
Roro
keren sumpah
NP
Makasih banyak ya kak 🥰🔥
Roro
wahhh ternyata nanti berjodoh di masa depan 😍😍😍
NP: 🤣🤣 tadinya mau stay di masa lampau kirana nya galau 🤭
total 1 replies
Gedang Raja
tambah semangat lagi ya Thor hehehe semangat semangat semangat
Roro
akan kah kirana tinggal
Roro
ayo thor aky tungu update nya
Roro
gimana yah jadinya, apa kita akan bakal pulang atau bertahan di era masa lalu.
NP: Hayoo tebak, kira kira Kirana pilih tinggal di masa lalu atau masa depan?
total 1 replies
Roro
Arya so sweet
Roro
panglima dingin.. mancair yah
NP
Ditunggu ya kak hehehe.. makasih udah suka cerita nya😍
Roro
aku suka banget ceritanya nya Thor, aku tunggu lanjutan nya
Roro
lanjut thor
Roro
kok aku suka yah sama karakter Kirana ini
Roro
ahhhsetuju Kirana
Roro
bagus ceritanya aku suka
Roro
keren thor
Roro
keren jadi semngat aku bacanya, kayak nya tertular semangat nya Kirana deh
NP: Makasih banyak kak Roro😍🙏
total 1 replies
Roro
fix Kirana berada di abad ke 14
Roro
jangan jangan Kirana sampai ke abad 14
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!