Perang besar antar tiga benua mengubah segalanya. Ribuan nyawa melayang, jutaan orang kehilangan tempat tinggal.
Penculikan dan penindasan hampir terjadi di setiap sudut, tidak ada kata aman lagi.
Di dunia yang kacau inilah seorang anak kecil yang memiliki tubuh surgawi lahir namun sayang Ia tidak bisa berkultivasi.
Sampai akhirnya Ia bisa berkultivasi dan mengubah takdirnya sendiri dengan caranya.
Dimulai dari membantu sesama sampai membangun sebuah desa yang aman bagi para pengungsi yang tidak memiliki tempat lagi dan tidak tahu harus kemana.
Desa Ye, begitulah nama yang diberikan para pengungsi, mengikuti namanya, Ye Chen.
Ye Chen tersenyum kecil.
"Gawat! cepat menghindar!" teriak salah satu tetua, namun terlambat.
Ye Chen telah bergerak, cepat sekali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I Can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kawanan Macan Belang
"Tuan panglima, kata tuan muda anda memanggilku?" Panglima Du yang duduk sendiri cukup kaget melihat Xiao datang bertanya dengan wajah tertunduk.
"Oh itu... sebenarnya aku tidak ... , ah iya aku ingin menanyakan sesuatu, silahkan duduk nona...
"Xiao Yun." Ucap Xiao Yun mengenalkan dirinya kembali.
"Ah iya nona Xiao, silahkan duduk."
Situasi tidak jauh lebih baik setelah Xiao Yun duduk, justru duduk saling berhadapan begini membuat mereka lebih canggung lagi.
"Ah arak ini sungguh nikmat," suara panglima Du memecah kesunyian antara mereka. "Apa kau tau dari mana tuan muda memperoleh arak ini?" Tanyanya lagi.
"Oh itu tuan muda sendiri yang membuatnya." Jawab Xiao Yun masih terlihat sedikit canggung.
"Benarkah, hebat sekali. Oh ya nona Xiao sudah berapa lama nona ikut dengan tuan muda?"
"Tidak lama, baru beberapa tahun ini saja. Aku adalah salah satu pengungsi yang tinggal dan menetap di desa Ye." Xiao Yun lalu menceritakan sedikit kisahnya.
"Nona Xiao, dari ceritamu, sepertinya keadaan desa Ye sangat baik. Aku penasaran bagaimana tuan muda mengatur orang-orang dari berbagai kalangan sehingga begitu tertib."
"Tuan muda itu orangnya memang baik, tidak pernah membedakan status orang lain." Dengan singkat Xiao Yun menceritakan pribadi Ye Chen yang Ia tau.
Xiao Yun tau pria di depannya ini adalah panglima muda kekaisaran, tidak ada yang perlu Ia sembunyikan darinya. Entah kenapa Ia percaya begitu saja padanya.
Panglima Du jadi semakin kagum dengan Ye Chen setelah mendengar kisahnya dan apa yang telah dilakukannya untuk desa Ye.
"Oh jadi kalian semua dilatih sendiri oleh tuan muda? hebat, bahkan kultivasi kalian hanya setingkat dibawahku." Ucap panglima Du. Ia lalu berpikir untuk meminta petunjuk dari Ye Chen mengenai tehnik-tehniknya.
Setelah lama berbincang-bincang dengan panglima Du, Xiao Yun sedikit demi sedikit merasa nyaman.
"Nona Xiao tunggu sebentar, aku harus membubarkan pasukanku."
Panglima Du sudah membuat keputusan akan mengikuti Ye Chen di dalam dunia dimensi. Selain ingin meminta petunjuk tehnik beladiri, Ia juga penasaran apa yang Ye Chen dari di dunia dimensi ini.
"Kalian bubarlah, aku akan pergi bersama kelompok tuan muda." Kata panglima Du di depan pasukannya.
"Tuan muda...?" kata salah satu pasukannya bingung.
"Sudahlah, cepat pergi dan bergabunglah dengan kelompok panglima Kam. Katakan aku akan menemuinya nanti setelah keluar dari sini."
Meskipun masih penasaran, tapi sebagai bawahan tentu saja mereka semua harus patuh pada atasan.
"Baik panglima!" ujar mereka serempak, memberi hormat secara militer dan membubarkan diri.
Cukup lama juga panglima Du pergi menemui pasukannya, hingga saat Ia kembali, di sana telah ada Ye Chen yang duduk sendiri.
"Tidak usah memasang wajah begitu, nona Xiao hanya pergi memasak saja." Kata Ye Chen menggoda panglima Du yang terlihat mencari-cari sesuatu sejak kedatangannya.
"Tuan muda..." hais benar kata nona Xiao, tuan muda ini agak aneh memang, pikirnya.
"Silahkan duduk panglima Du, ada yang ingin kutanyakan."
Dengan muka masih sedikit merah karena godaan Ye Chen, panglima Du mengambil tempat disebelah Ye Chen.
"Eh panglima, apa kau kira yang duduk di sini masih nona Xiao? aku ini masih normal, ja... jangan di sini." Kata Ye Chen dengan wajah malu-malu yang di buat-buat.
"Haa...?!" Wajah panglima Du makin merah karena malu, dia memang tidak sengaja duduk di samping Ye Chen dan sejak tadi juga Ia tidal pernah duduk dekat Xiao Yun.
"Tuan muda, ini tidak seperti yang anda pikirkan... hais anda ini, aduuh..." Panglima Du tidak tau harus berkata apa. Baru pertama ini Ia digoda begini, kalau saja itu bukan Ye Chen, pasti sudah sejak tadi ada kepala menggelinding.
Panglima Du hanya bisa pasrah, mengambil duduk ditempatnya semula, di depan Ye Chen.
Ye Chen hanya senyum-senyum sendiri melihat tingkah panglima Du, tidak ada rasa bersalah sedikitpun yang terlihat darinya. Bahkan ada sedikit kekehan kecil yang jelas terdengar.
"Panglima Du, apakah anda pernah melihat macan belang di dimensi ini?" Tanya Ye Chen.
"Kalo aku sendiri belum melihatnya, tapi dari yang kudengar memang dimensi ini ada jenis macan belang. Aku mendengarnya dari cerita orang yang masuk saat dimensi ini dibuka dulu, hewan ini memang ada."
"Tuan muda, jangan-jangan bahwa anda ingin membuat kantung dimensi." Panglima ini bertanya tidak percaya sekaligus berharap Ye Chen bisa membuatnya.
Ini tentu sangat hebat pikirnya.
Setelah cincin dimensi menjadi barang mewah, kantung dimensi menjadi alternatif lain yang bisa digunakan.
Tapi jangan harap akan dengan mudah menemukannya. Selain bahan pembuatannya yang sulit ditemukan, ahli formasi yang bisa membuatnya juga sangat langka jika bisa dibilang tidak ada lagi.
"Kita liat nanti saja." Jawab Ye Chen datar yang semakin membuat panglima Du semakin penasaran.
Asik mengobrol, Xiao Yun datang mengajak mereka makan, enam orang yang lain sudah menunggu duluan.
Tidak terasa hari telah berganti malam. Ye Chen yang seperti biasa menyantap habis semua hidangan meninggalkan panglima Du dan yang lainnya.
"Panglima Du aku undur diri dulu, hari ini aku sangat lelah waktunya istirahat." Kata Ye Chen.
"Baik tuan muda, silahakan." Jawab panglima Du dengan sopan.
"Nona Xiao, apa tuan muda memang begitu, apa dia benar-benar lelah?"
"Lelah apanya, itu hanya alasannya saja, makan dan tidur adalah hobinya yang lain."
"Satu lagi, aku perhatikan sikapmu dan yang lain tampak biasa saja. Seperti tidak menghormatinya sebagai pemimpin."
Menurut panglima Du, sikap Xiao Yun dan enam rekannya bukan seperti sikap bawahan kepada pemimpin.
Terkadang mereka terlihat saling menggoda, sampai tertawa bersama. Bahkan Xiao Yun berani mengancam tidak akan membuat hidangan untuk Ye Chen, terakhir menyuruhnya berburu sendiri kalau mau makan. Mana ada pemimpin pergi berburu untuk mencari bahan makanan.
"Tuan muda tidak seperti itu, anda akan tau sendiri nanti," ucap Xiao Yun. "Meski begitu aku rela mati demi tuan muda." tambahnya lagi.
Rekan yang lainnya yang duduk bersama juga berkata sama.
"Tuan muda adalah tuan muda, aku siap menjadi tameng hidupnya." Kata salah satu dari mereka yang di iyakan oleh yang lain.
Xiao Yun menambahkan lagi bahwa bukan hanya mereka yang ada di sini yang rela berkorban nyawa, tapi semua penduduk desa juga siap.
Jawaban ini membuat panglima Du semakin kagum dengan Ye Chen. Benar-benar seorang pemimpin yang di cintai rakyatnya.
"Aku yakin kekaisaran ini akan sampai di puncak jika nanti tuan muda menjadi kaisar." Kata panglima Du tapi tiba-tiba Ia menutup mulutnya dengan media tangan sambil memandang seolah menyesali ucapannya.
"Hais kenapa aku begitu ceroboh." Umpatnya dalam hati.
"Hehe panglima, kami semua sudah tau siapa tuan muda sejak lama. Sejak kaisar kalian mengirim utusan ke desa kami dulu." Kata Xiao Yun.
Terlalu banyak kejutan, panglima Du hanya diam tidak tau harus berkata apa.
Keesokan harinya, tiga hari sebelum dunia dimensi kekaisaran tertutup.
Ye Chen baru saja selesai berkultivasi bersama Xiao Yun dan rekannya dikagetkan dengan sekelompok orang yang berlarian ke arah mereka.
"Hei apa yang terjadi?" Tanya Xiao Yun yang berdiri menghadang orang yang berlari paling depan.
"Gawat, cepat selamatkan diri kalian tempat ini sudah tidak aman." Kata orang ini dengan wajah ketakutan.
Sraak... Sraak..
Sepuluh macan belang muncul dari balik semak. Rupanya hewan inilah yang mengejar sekelompok orang ini.
Macan belang ini tubuhnya tidak terlalu besar, hanya sebesar anak kambing saat dewasa.
Kulitnya tebal tidak mudah ditembus senjata dan tahan api, empat taring dimulutnya mencuat keluar dan yang paling aneh dari hewan ini adalah napsu makannya sangat besar.
Satu macan belang dewasa sanggup melahap habis seekor sapi dewasa.
"Memang kalau sudah rejeki tak akan kemana." Ucap Ye Chen, berdiri di dekat Xiao Yun.
"Tuan muda, ada apa?" Panglima Du yang mendengar suara teriakan ketakutan juga melesat cepat, berdiri di dekat Ye Chen.
Melihat ke arah yang Ye Chen tunjukkan, panglima Du mau tidak mau merasa kuatir juga.
Bagaimana tidak, macan belang di depan mereka ini meskipun hanya sepuluh ekor tapi semuanya setara di tingkat Bumi puncak, dua tingkat di atas kultivasinya.
Pantas saja orang-orang ini berlarian menyelamatkan diri, bukannya gentar tapi menyelamatkan diri adalah pilihan yang tepat. Saat Ia akan berkata seperti ini pada Ye Chen dan kelompoknya, Ia kembali menelan kata-katanya ketika melihat Ye Chen dan yang lain berdiri sejajar dengan tampang serius.
Lalu dengan serempak seperti dikomando mereka mengikuti Ye Chen mencabut senjata masing-masing.
"Jangan memaksakan diri, kalian mengambil satu dan ingat jangan melukai tubuhnya. Terserah mau potong kaki atau kepala atau apa saja selain badannya."
"Baik tuan muda...!"
Ye Chen lalu membagikan sepuluh pil pemulih kepada kelompoknya.
"Panglima Du, ambil ini." Tanpa menoleh Ye Chen juga memberikan pil pemulihnya pada panglima Du yang hanya diam.
Mau tidak mau Ia juga harus maju, ini adalah pertarungan pertamanya melawan musuh yang kekuatannya di tingkat di atasnya.
Reputasinya sebagai seorang panglima muda benar-benar di uji kali ini.
"Langkah angin kedua.. "
Belum hilang rasa kagetnya, lagi-lagi Ia dikejutkan dengan gerakan cepat Ye Chen dan yang lain melesat langsung menghadapi kawanan macan belang. Kecuali Xiao Yun yang mengambil jarak jauh untuk melepaskan panah.
"Inikah pasukan desa ye, pasukan tuan muda..? kalauvtidak melihat sendiri, rasanya aku tidak akan percaya." Ucapnya dalam hati.
Siapa yang akan percaya, kultivator tingkat Bumi awal bertempur melawan macan belang yang setara dengan tingkat Bumi puncak. Kalau bukan cari mati lalu apa namanya.
Pasukan khusus kekaisaran mungkin tidak ada yang seperti mereka ini.
Blaamm...
Ledakan besar terdengar dari arah pertempuran Ye Chen, panglima Du yang masih saja bergelut dengan pikirannya tersadar lalu bergerak ikut menyerang satu macan belang yang menjadi targetnya.
Xiao Yun yang melihat ledakan yang dibuat Ye Chen segera melepaskan panahnya ke arah salah satu macan belang yang terpental akibat ledakan ini.
Traakk..
Anak panah yang dilepaskan Xiao Yun patah begitu mengenai kepala macan belang yang terpental ini.
Craasss...