Alma Fatara memiliki kisah masa bayi nan kelam. Kelam karena ia dibuang ke laut luas dan kelam karena belum diketahui ia anak siapa. Anak manusia atau anak ikan.
Setelah menuntaskan masa bergurunya di bawah asuhan Pemancing Roh dan Pangeran Kumbang Genit, Alma Fatara memulai perjalanan keduanya, yaitu pergi mencari orangtua kandungnya dengan hanya bermodal sebuah gelang emas.
Pusaka legenda Bola Hitam yang menjadi miliknya, justru memancing kedatangan orang-orang sakti untuk merebutnya, menciptakan ancaman kematian berkali-kali di dalam perjalanannya.
Kali ini, Alma yang dijuluki Dewi Dua Gigi, didampingi oleh lima sahabatnya yang setia dan kocak. Meski perjalanan mereka penuh bahaya dan maut, tetapi tawa dan bahagia melimpah dalam hidup mereka.
Kejutan besar menanti Alma saat ia akan bertemu dengan kedua orangtuanya. Siapkan diri Anda untuk terkejut dan tertawa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kerja Bu 10: Keris Pemuja Bulan
*Keris Pemuja Bulan (Kerja Bu)*
Plak!
Kembali satu tamparan didaratkan oleh Raden Gondo Sego ke wajah putri cantiknya, yaitu Wangiwulan.
Wangiwulan saat itu dalam kondisi kedua tangan terikat dan kedua kaki terikat. Ia digantung terbalik di teras rumah besar lagi luas itu. Rambut dan ujung bajunya menjuntai terbalik, sehingga seluruh perutnya yang putih bersih tersingkap.
Ketika ditampar oleh ayahnya, Wangiwulan tidak merintih, apalagi menjerit.
“Cukup, Gusti Raden! Jangan lukai anak kita seperti ini!” ratap seorang wanita berusia enam puluh tahun. Ia menangis sambil bersimpuh dan memeluk kedua kaki Raden Gondo Sego.
Wanita itu berpakaian bagus warnah kuning lengkap dengan perhiasan yang mentereng. Rambutnya menggunakan konde. Kulit putih bersihnya menunjukkan bahwa ia adalah wanita yang cantik di kala usia muda. Ia adalah Nyai Kandi, ibu dari seluruh putra dan putri Raden Gondo Sego.
“Perasaan dan kehormatanku lebih terluka akibat perbuatannya! Bagaimana bisa dia menyerahkan kesuciannya kepada anak lelaki musuh bebuyutan kita? Dan itupun dengan cucu Runok Ulung yang sampah!” kata Raden Gondo Sego marah.
“Wangiwulan, katakan sesuatu kepada ayahmu! Minta ampunlah kepada ayahmu!” kata Nyai Kandi, tapi masih memeluki kaki suaminya.
“Tidak! Aku tidak bersalah. Aku mencintai Kakang Rawil, Ibu!” tandas Wangiwulan dengan ekspresi menahan kegigihan dalam siksaan.
Perkataan Wangiwulan seolah menyiram bensin kepada api amarah ayahnya. Raden Gondo Sego merasa dibangkangi oleh anaknya sendiri, seolah sosoknya sudah hilang karisma.
“Anak durhaka tidak berbakti!” teriak Raden Gondo Sego sambil kembali layangkan tangannya dengan tenaga lebih besar dari sebelumnya.
Plak!
Wajah Wangiwulan yang sudah merah terhentak ke samping dengan air ludah bercampur darah terlempar dari dalam mulut. Tubuh Wangiwulan kembali terayun seperti samsak tinju.
“Cukup, Gusti Raden. Ampuni Wangiwulan!” jerit Nyai Kandi sambil menangis.
Saat itu, Dugalara dan Ragabidak datang dengan menunggang kuda, masuk ke halaman dengan dikawal sejumlah centeng yang tidak ikut mengejar Alma Fatara dkk.
“Ayahanda!” seru Dugalara sambil melompat turun dari kudanya. Ia lalu berjalan tergesa menemui ayahnya di teras.
Dugalara memandangi Wangiwulan sejenak sebelum berkata kepada ayahnya. Ragabidak datang menyusul.
“Bagaimana? Apa yang kalian lakukan terhadap bocah setan itu?” tanya Raden Gondo Sego cepat.
“Kami sudah menghajarnya sebelum kami serahkan kepada kakaknya. Narisantai berjanji akan menghukum adiknya dengan hukuman setimpal,” jawab Dugalara.
“Bodoh! Bagaimana kau bisa percaya dengan musuh?” maki Raden Gondo Sego gusar.
“Kami harus mengaku kalah jika berhadapan dengan Narisantai. Kesaktiannya tidak bisa kami kalahkan,” kilah Dugalara.
“Lalu, apakah dengan begitu kita harus menerima begitu saja penghinaan ini?” tanya Raden Gondo Sego dengan nada yang masih tinggi.
“Ayah, aku berpikir bahwa kita harus menemukan Keris Pemuja Bulan.” Kali ini yang berbicara adalah Ragabidak yang selama ini banyak diam. “Dengan memiliki keris itu, Keris Lidah Malaikat tidak akan ada apa-apanya.”
“Jika kita tahu di mana pusaka leluhur itu berada, sejak dulu keluarga kita akan berjaya dan lepas dari hukuman,” timpal Raden Gondo Sego.
“Aku curiga pusaka itu ada di dasar Mata Air Pahit. Sebab, beberapa kali nelayan Sungai Hijau melihat jelas warna air yang hijau dan mengalir. Aku berkeyakinan kuat bahwa itu adalah warna yang dikeluarkan oleh Keris Pemuja Bulan,” kata Ragabidak.
“Tidak ada salahnya kita mencoba mencari ke dasar Mata Air Pahit,” dukung Dugalara.
“Baiklah. Tapi jangan sampai Keluarga Runok Ulung yang tahu bahwa kalian sedang mencari Keris Pemuja Bulan. Jika mereka tahu, mereka akan menertawakan kita,” kata Raden Gondo Sego.
“Lalu bagaimana dengan Wangiwulan?” tanya Dugalara sambil memandang kepada adiknya yang digantung.
“Wangiwulan tidak hamil,” jawab Raden Gondo Sego datar.
“Lalu kenapa dia mengaku hamil kepadaku?” tanya Dugalara seraya kerutkan kening.
“Aku pikir Kakang akan mengasihani Kakang Rawil dan aku, tapi Kakang ternyata sangat jahat!” teriak Wangiwulan tiba-tiba.
“Jika kau ternyata hamil, aku akan robek perutmu dan mengeluarkan janinmu itu, Wangiwulan!” bentak Raden Gondo Sego kembali marah.
“Apakah Suriga belum kembali dari berburunya, Ayah?” tanya Ragabidak.
“Belum. Jika lelaki, masih bisa menjaga diri. Percuma aku mengirim Wangiwulan berguru jika pulang hanya untuk menghancurkan kehormatan keluarga ini,” ucap Raden Gondo Sego lemah.
Tiba-tiba terdengar suara keramaian orang-orang mengerang-erang kesakitan. Sontak mereka semua memandang ke luar halaman.
Mereka menyaksikan centeng-centeng yang mereka miliki pulang dalam kondisi seperti kalah perang. Beberapa orang dalam kondisi digotong beramai-ramai, termasuk Warga Sengko selaku kepala centeng. Beberapa orang berjalan terpincang dan sebagian lainnya menderita luka berdarah.
Raden Gondo Sego dan kedua putra tertuanya melangkah keluar sebatas depan teras, menunggu ketibaan para anak buah itu. Sementara Nyai Kandi bangkit berdiri dan menangis lirih sambil memeluki kepala putrinya.
“Ibu, tolong lepaskan ikatan di tanganku,” bisik Wangiwulan sangat pelan kepada ibunya.
Buru-buru Nyai Kandi bergerak meraih tangan Wangiwulan dan hendak membuka ikatan tali yang mengikat kedua pergelangan tangan putrinya. Lebih baik ia yang disalahkan daripada putri satu-satunya itu menderita dan kian dilukai oleh suaminya.
Nyai Kandi memberi isyarat kepada centeng yang berjaga agar tidak mengadu kepada sang majikan.
“Apakah ketiga wanita itu yang membuat kalian seperti ini?!” tanya Dugalara membentak Warga Sengko yang baru diturunkan ke tanah.
“Ampun-ampun, Gusti. Mereka pendekar sakti!” ucap Warga Sengko sambil meringis dan menjura hormat.
“Benar-benar tidak bermanfaat!” maki Dugalara.
“Siapa tiga wanita yang kalian maksud?” tanya Raden Gondo Sego.
“Mereka pendekar asing yang membuat ulah di sini, Ayah,” jawab Dugalara.
“Panggilkan tabib untuk megobati mereka!” perintah Raden Gondo Sego.
“Baik, Gusti!” ucap seorang centeng yang sehat wal afiat sambil menghormat. Ia lalu bergegas pergi.
“Aaak!” jerit Nyai Kandi tiba-tiba, sambil ia melempar tubuhnya sendiri ke dinding rumah.
Pada saat itu, sosok Wangiwulan telah berkelebat cepat menuju pagar halaman samping.
“Wangiwulan! Berhenti!” teriak Dugalara yang melihat adik perempuannya itu sudah melompati pagar.
“Dasar anak tidak tahu diri!” maki Raden Gondo Sego.
“Biarkan aku mengejar dan menangkapnya, Ayah,” kata Dugalara.
“Biarkan saja. Dia pasti pergi ke kediaman musuh kita untuk menyelamatkan Rawil Sembalit. Keluarga Runok Ulung pasti akan memberinya pelajaran. Kau pergi saja temui pamanmu agar mau membantu kita. Harus aku akui, kita kalah kesaktian jika harus bentrok langsung dengan Keluarga Runok Ulung,” kata Raden Gondo Sego.
“Baik, Ayah. Aku akan langsung pergi ke rumah Paman Rawe Sego,” kata Dugalara. Ia lalu pergi mendapati kudanya lagi.
“Ragabidak, kau aturlah pencarian Keris Pemuja Bulan bersama beberapa orang!” perintah Raden Gondo Sego.
“Baik, Ayah.”
Raden Gondo Sego lalu melangkah menghampiri istrinya yang masih terduduk meringis kesakitan.
“Kau coba-coba mengelabuiku, Nyai!” desis Raden Gondo Sego dengan tatapan sinis kepada istrinya. Namun, dia kemudian melalui istrinya begitu saja. (RH)