NovelToon NovelToon
Maira, Maduku

Maira, Maduku

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Poligami / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Nikah Kontrak / Konflik etika
Popularitas:790
Nilai: 5
Nama Author: Tika Despita

Maira yang terbiasa hidup di dunia malam dan bekerja sebagai perempuan malam, harus menerima tawaran menjadi madu oleh seorang pemuda bernama Hazel Dinata, pengusaha ternama di kota tersebut.

Awalnya Maira menolak, karena baginya menjadi perempuan yang kedua dalam sebuah hubungan akan hanya saling menyakiti sesama hati perempuan. Tetapi karena alasan mendesak, Maira akhirnya menerima tawaran tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tika Despita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

“Pak Vincent?”

Maira mematung, tak percaya dengan sosok yang kini berdiri tepat di hadapannya. Jantungnya langsung berdegup tak beraturan. Di belakang pria itu, terlihat beberapa lelaki berbadan tegap dengan sorot mata dingin—jelas bukan orang sembarangan.

“Senang sekali melihat kamu bahagia seperti ini.”

Pak Vincent tersenyum, senyum yang sama seperti yang selalu membuat bulu kuduk Maira meremang. Tatapannya menyapu tubuh Maira tanpa rasa bersalah, licik dan menjijikkan.

Tanpa sadar, Maira mundur selangkah. Nyalinya menciut. Kali ini Pak Vincent tidak datang sendirian.

“A-anda mau ngapain?” tanya Maira, suaranya bergetar. Tubuhnya sudah bersiap untuk kabur kapan saja.

“Menjemput kamu, sayang.” Pak Vincent melangkah mendekat.

 “Ingat, tubuhmu sudah kubayar mahal pada mamamu.”

“Jangan mendekat!” Maira mengangkat tangannya defensif.

“Atau saya teriak!”

Pak Vincent tertawa kecil.

“Silakan teriak, cantik. Kamu kira saya takut?”

Ia malah memberi isyarat seolah mempersilakan.

“Ayo, lari,” lanjutnya sambil tertawa lebih keras.

 “Saya suka melihat ketakutan di wajah cantikmu itu.”

Maira menarik napas panjang, sedalam yang ia bisa. Begitu ia hendak berlari, tangannya lebih dulu dicekal kasar.

“Kali ini kamu tidak akan saya biarkan lepas.”

“Seret wanita itu!” perintah Pak Vincent dingin.

Beberapa anak buahnya langsung bergerak. Tubuh Maira ditarik paksa. Ia meronta, menendang, berusaha melepaskan diri meski pergelangan tangannya terasa nyeri.

“Tolong! Tolooong…!”

Teriakannya menggema di tepi pantai. Namun orang-orang di sekitar hanya menoleh sekilas, lalu kembali berpura-pura tak melihat apa-apa.

“Lepaskan wanita itu!”

Suara tegas itu membuat semua orang terhenti. Pak Vincent menoleh ke belakang, wajahnya langsung mengeras.

“Anda lagi…” gumamnya kesal saat menatap Hazel.

“Pak Hazel…” lirih Maira.

 Sakit di pergelangan tangannya membuat wajahnya memucat, tapi matanya langsung berkaca-kaca begitu melihat pria itu.

“Jangan ikut campur, Pak Hazel Dinata!” bentak Pak Vincent.

“Ini bukan wilayah kekuasaan Anda. Lebih baik biarkan saya berurusan dengan wanita ini!”

“Saya tentu harus ikut campur,” jawab Hazel dingin.

 “Dia istri saya.”

“Istri?”

Pak Vincent tertawa terbahak.

“Wanita kotor ini istri Anda?”

Ia menggeleng, seolah mendengar lelucon paling konyol.

“Pak Hazel, Anda kira bisa membohongi saya? Saya tidak bodoh. Tak mungkin ada pria waras yang mau menjadikan wanita pelacur ini sebagai istri. Makanya ibunya menjual dirinya ke saya!”

“Ulangi sekali lagi apa yang Anda katakan.”

Suara Hazel merendah, tapi justru terdengar lebih mengancam. Rahangnya mengeras, sorot matanya tajam menusuk.

“Anda berani menyebut istri saya wanita pelacur?”

Hazel melangkah maju satu langkah.

“Sekarang lepaskan Maira. Sebelum saya benar-benar marah.”

Ia berhenti tepat di depan Pak Vincent.

“Dan Anda tahu betul apa yang terjadi kalau Hazel Dinata marah.”

Pak Vincent terdiam. Tatapan Hazel membuat tenggorokannya tercekat. Ia cukup tahu seberapa besar pengaruh pria itu di dunia bisnis. Menghancurkan bisnisnya hanya perkara mudah bagi Hazel.

“Lepaskan wanita itu,” perintah Pak Vincent akhirnya, setengah terpaksa.

Cengkeraman di tangan Maira dilepaskan. Tubuhnya terdorong ke depan. Ia hampir jatuh jika saja Hazel tidak sigap menangkapnya.

“Kamu tidak apa-apa?” tanya Hazel, suaranya langsung melembut.

Maira menggeleng cepat.

“Saya… saya nggak apa-apa.”

Hazel menariknya lebih dekat.

“Ayo, kita kembali ke hotel.”

Maira mengangguk pelan, membiarkan Hazel menuntunnya pergi—meninggalkan Pak Vincent yang hanya bisa menatap dengan wajah penuh amarah dan kalah.

***

“Sini, saya lihat pergelangan tangan kamu.”

Hazel menarik pelan tangan Maira yang sedang duduk di tepi ranjang hotel. Sentuhannya hati-hati, seolah takut melukainya.

“Ini memerah karena cengkeraman anak buah Pak Vincent tadi?” lanjutnya sambil mengamati bekas merah di kulit Maira.

Maira mengangguk pelan. Ia membiarkan Hazel mengompres pergelangan tangannya dengan handuk kecil berisi air es. Rasa perih itu perlahan mereda, berganti dengan dingin yang menenangkan.

Tanpa sadar, tatapan Maira melembut. Ia memperhatikan Hazel yang begitu tenang, fokus, dengan rahang tegas dan wajah yang—jujur saja—terlalu tampan untuk diabaikan.

“Ternyata Anda tampan juga,” lirih Maira, nyaris tak terdengar.

“Kamu bilang apa tadi?”

Hazel menoleh.

Mata mereka bertemu. Jarak wajah mereka begitu dekat, terlalu dekat. Maira bisa merasakan napas Hazel yang hangat, begitu pula sebaliknya.

Wajah Maira seketika memerah. Ia buru-buru memalingkan wajah. Hazel pun refleks melepaskan genggamannya, berdiri agak menjauh seolah sama gugupnya.

“Hm…” Hazel berdeham kecil, berusaha menguasai diri.

“Bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar?” katanya akhirnya, mengalihkan pembicaraan.

 “Mumpung hari masih siang.”

“Baiklah… kalau Anda memaksa,” jawab Maira cepat, lalu berdiri dan meraih tasnya, berusaha menyembunyikan wajahnya yang masih terasa panas.

“Saya ganti baju yang agak santai dulu,” ujar Hazel. Ia segera mengambil pakaian dari dalam koper dan melangkah ke kamar mandi.

Begitu pintu tertutup, Maira menghembuskan napas panjang.

“Maira… kamu apa-apaan tadi?” gumamnya kesal pada diri sendiri.

“Bisa-bisanya kamu tersipu cuma ditatap Pak Hazel. Mana jantung pakai acara disko segala.”

Ia menepuk pipinya pelan, berharap rasa panas itu segera hilang.

Di dalam kamar mandi, Hazel pun tak jauh berbeda. Ia membasuh wajahnya berulang kali dengan air dingin. Detak jantungnya masih terasa kencang, pikirannya dipenuhi bayangan wajah Maira yang tadi begitu dekat—terlalu dekat untuk diabaikan begitu saja.

***

Mereka keluar dari hotel tak lama kemudian. Matahari masih tinggi, tapi anginnya sejuk. Aroma laut langsung menyambut begitu kaki mereka menginjak pasir pantai.

Maira berjalan lebih dulu, sandalnya sedikit tenggelam di pasir. Matanya berbinar melihat laut yang membentang luas di depannya.

“Pantainya bagus,” ucapnya pelan.

Hazel mengangguk dengan ekspresi datar seperti biasa.Ia berjalan di samping Maira, sesekali melirik ke arahnya. Wanita itu tampak lebih rileks sekarang, senyumnya muncul lagi, senyum yang sejak tadi tanpa sadar terus ia perhatikan.

Mereka menyusuri bibir pantai. Beberapa pedagang aksesori berjejer rapi, menawarkan gelang kerang, kalung manik-manik, hingga gelang kaki dengan lonceng kecil.

“Silakan, Mbak. Cocok ini buat dipakai ke pantai,” ujar seorang pedagang sambil menyodorkan gelang.

Maira berhenti. Ia mengambil salah satu gelang, memutarnya di jari.

“Lucu,” gumamnya.

Hazel memperhatikan dari samping.

“Kalau mau saya belikan,” katanya singkat.

Maira menoleh.

“Serius?”

Hazel mengangguk. “Hmmm.”

Tanpa banyak pikir, Maira membelinya lalu langsung mengenakannya. Ia tersenyum puas, memperlihatkan pergelangan tangannya yang kini dihiasi gelang kecil berwarna cokelat muda.

Beberapa langkah kemudian, alunan gitar terdengar. Sekelompok pengamen duduk melingkar di pasir, menyanyikan lagu ceria. Beberapa pengunjung berhenti menonton, ikut bertepuk tangan.

Maira melambat. Kakinya berhenti, matanya terpaku pada mereka.

Hazel menyadarinya. “Kamu mau kemana?” tanyanya.

Maira tersenyum lebar. “Saya mau gabung dengan mereka!”

Tanpa menunggu jawaban Hazel, Maira mendekat. Awalnya ia hanya bertepuk tangan mengikuti irama. Namun satu lagu berganti lagu lain, dan entah bagaimana, Maira mulai ikut bernyanyi pelan.

Tak lama, seorang pengamen mengajaknya bergabung. Maira tertawa kecil, lalu ikut menari sederhana mengikuti irama gitar dan ketukan kaleng.

Hazel berhenti melangkah.

Ia berdiri sedikit menjauh, memperhatikan Maira yang kini tertawa lepas, rambutnya tertiup angin laut, gaunnya bergerak mengikuti langkah kecilnya. Suaranya menyatu dengan musik,tidak sempurna, tapi jujur dan penuh rasa.

Untuk sesaat, Hazel lupa dengan keramaian sekitar dan bahkan dia melupakan sejenak beberapa beban yang akhir-akhir ini menghimpitnya.

Bahkan dia lupa dengan masa lalu Maira,untuk apa Maira bersamanya dan Lupa dengan alasan awal ia membawa wanita itu ke hidupnya.

Yang ia lihat hanya seorang perempuan yang hidup, bebas, dan… memikat.

Tanpa sadar, sudut bibir Hazel terangkat. Matanya tak lepas dari Maira sampai lagu itu berakhir dan tepuk tangan bergema.

Maira menoleh, mencari Hazel di antara kerumunan. Saat pandangan mereka bertemu, senyumnya melebar dan entah kenapa, jantung Hazel kembali berdetak lebih cepat dari seharusnya.

1
Qhaqha
Jangan lupa bintang dan ulasannya ya... 😊😊🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!