Aira Wibisono, Baru Kehilangan Seluruh Keluarganya, Kisah tragisnya di mulai saat Kakaknya Arya meninggal karena kecelakaan, Ayahnya sangat terpukul dengan kepergian Arya, Arya merupaka ke banggan keluarga, Arya baik, pintar, dan tampan, Arya kuliah di FK UGM Orang tua Aira menaruh harapan yang besar kepada Arya, Cinta mereka sangat besar kepada Arya, Semenjak kepergian Arya Ayahnya Aira jadi sakit sakitan dan tak lama Ayah Aira meniggal, Setelah itu Ibu Aira mulai defresi dan meninggal satu tahun kemudian. Akhirnya Aira memutuskan tinggal di rumah Tante Mala sahabat ibunya, Tante Mala mempunyai anak Laki-laki bernama Damar, dia populer di sekolah, pintar, tampan mirip dengan kakaknya Aira di sana lah kisah Aira di mulai...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Pertama Di Rumah Tante Mala
Setelah kehilangan kakaknya keluarganya runtuh, Aira memutuskan untuk pindah ke rumah Tante Mala di Luar Kota.
Di sana, ia bertemu Damar, dingin, jenius, dan terlalu mirip dengan Kakaknya arya.
Bagi Aira, rumah baru ini bukan hanya tempat tinggal…
Tapi awal dari perasaan yang belum ia mengerti.
Aira berdiri di depan sebuah rumah dua lantai.
Tangannya menggenggam koper kecil. Isinya tidak banyak hanya beberapa baju, buku, dan sisa hidup yang ia tinggalkan di kota lama.
“Ini rumah Tante Mala,” gumamnya pelan.
Pintu terbuka sebelum Aira sempat mengetuk.
“Aira!”
Seorang wanita berambut pendek langsung memeluknya erat.
Hangat.
Terlalu hangat sampai Aira nyaris lupa rasanya dipeluk.
“Kamu makin kurus,” kata Tante Mala sambil menatap wajahnya cemas.
“Pasti capek di jalan. Masuk, Nak.”
“Akh, lumayan Tante…"
Suara Aira terdengar kecil.
Begitu masuk, rumah itu terasa asing tapi terasa hangat. Wangi teh hangat menyambutnya.
"Tante seneng Aira tinggal di sini,” Ujar Tante Mala. “Jangan sungkan, Anggap rumah sendiri yaa,”
Aira mengangguk, meski dadanya terasa sesak, Kata itu terdengar sangat menenangkan.
“DAMAR!”
Tante Mala menaikkan suara.
“Turun! Aira sudah datang!”
Tak ada jawaban.
Aira melirik ke arah tangga,beberapa detik kemudian, langkah kaki terdengar.
Seorang laki-laki turun dengan santai, tinggi, rambut hitam agak berantakan.
Wajahnya… dingin.
Matanya menatap Aira sebentar, hanya sebentar.
“Ini Aira,” kata Tante Mala ceria.
“Mulai sekarang dia tinggal di sini.”
Dia mengangguk tipis.
“Damar.”
Satu kata,tanpa senyum.
Aira membalas anggukan itu gugup.
“Maaf ya,” Tante Mala tertawa kecil.
“Dia memang begitu. Jarang ngomong.”
“Enggak apa-apa, Tante,” jawab Aira cepat
Malam itu, Aira berbaring di kamar tamu, dari balik pintu, ia mendengar suara halaman buku dibalik.
Aira membuka pintu perlahan.
Damar duduk di ruang tengah, membaca. Lampu redup. Wajahnya serius.
Untuk sesaat, Aira terpaku.
"Kakak?"
Aira menggeleng cepat, bukan, tentu saja bukan.
Namun saat Damar menengok ke arahnya mata mereka bertemu.
“Kenapa?” tanya Damar dingin.
“Eugh… maaf,” Aira buru-buru menutup pintu.
Jantungnya berdebar keras, malam pertama di rumah ini. Dan Aira sudah tahu, hidupnya tidak akan Sama lagi.
**ORANG YANG TAK PERNAH KEMBALI**
Hujan turun pelan hari itu, tidak deras.tidak juga berhenti.
Seperti tau, hari itu tidak butuh suara keras cukup dingin yang perlahan masuk ke tulang.
Aira berdiri di antara orang-orang berbaju hitam tangannya dingin, kakinya kaku.
Di depannya, sebuah liang terbuka.
Nama kakaknya tertera jelas di nisan yang masih bersih.
"Arya Wibisono Bin Suryo Wibisono"
Aira membaca nama itu berulang kali dalam hati, seolah kalau dibaca cukup sering,orangnya akan keluar sambil tertawa dan berkata,
“Ngapain pada serius amat?”
“Kak…”
Suara Aira tenggelam oleh doa-doa.
Ibunya berdiri tak jauh darinya, tatapan kosong, bibirnya bergerak tanpa suara.
Ayahnya duduk di kursi lipat, napasnya pendek-pendek.
Sejak kecelakaan itu, ayahnya tidak pernah benar-benar sehat lagi.
“Aira,” bisik seorang kerabat.
“Kuat ya.”
Aira mengangguk, padahal ia tidak merasa kuat.
Dia hanya… putus asa,peti itu diturunkan perlahan,
Aira refleks melangkah maju.
“Kakak…”
Suaranya bergetar. “Katanya cuma pergi sebentar.”
Aira ingat pagi itu.
Kakaknya Arya, berdiri di depan pintu, rapi seperti biasa,tas di bahu.
Senyum tipis.
“Belajar yang rajin,” kata Arya
“Nanti kalau Kakak lulus jadi dokter, Kakak ajak Aira jalan-jalan ke Jepang.”
Aira mendengus.
“Sok hebat.”
Kakaknya tertawa kecil.
“Mending sok hebat daripada sok cantik.”
Itu hari terakhir, Aira melihat Arya tersenyum.
Tanah mulai menutup peti, Ibu Aira tiba-tiba menjerit.
“Anakku…”
Tubuhnya hampir jatuh kalau tidak ditahan orang-orang.
Ayah Aira menutup wajahnya,tangannya gemetar.
Aira berdiri diam, tidak menangis,tidak bergerak.
Seseorang berkata,
“Kasihan, adiknya masih kecil.”
Aira ingin berteriak, Aira masih butuh kakaknya?
Malam setelah pemakaman, rumah mereka sunyi seperti kuburan kedua.
Tidak ada suara langkah kaki.
Tidak ada suara buku dibalik.
Tidak ada suara seseorang mengingatkannya makan.
Aira duduk di depan kamar kakaknya, pintu tertutup. Aira tidak berani membukanya.
Sejak hari itu,ibunya sering melamun.Ayahnya sering batuk.
Dan Aira… perlahan jadi tidak terlihat.